
Aish tersenyum dingin. Ternyata bibi menginginkan uangnya.
"Tidak, aku tidak akan meminjamkannya kepada bibi." Tolak Aish dingin.
"Bibi dan paman pasti akan mengembalikannya kepadamu." Bujuk bibi di seberang sana.
Aish kukuh,"Tidak, aku tetap tidak akan meminjamkan uang ini kepada kalian." Tolaknya.
Bibi kehilangan sabar. Dari suara deru nafasnya Aish tahu jika bibi pasti sangat marah di seberang sana.
"Jangan keterlaluan, Aish! Kami adalah keluargamu. Apa kamu pikir kami tidak akan mengembalikan uangmu?!"
"Tidak," Sebenarnya iya, tapi Aish berbohong.
"Aku hanya tidak ingin meminjamkannya kepada siapapun." Kata Aish lagi.
"Lalu apa yang kamu takutkan? Kami adalah keluargamu dan bukan orang asing! Tidakkah kamu seharusnya membantu keluarga mu?"
Aish tertawa lucu. Bibinya sangat aneh. Siapapun pasti takut meminjamkan uang kepadanya bila ditekan seperti ini?
Mengapa dia tidak memiliki kesadaran ini di dalam dirinya?
"Aku tidak takut apapun. Ini adalah uangku jadi aku punya hak menolak untuk meminjamkan uang kepadamu. Lagipula identitas bibi sebagai keluargaku tidak cukup untuk meyakinkan ku. Sudah ya, bi. Bibi tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk berbicara denganku. Aku tutup, assalamualaikum."
"Aish! Aish! Bibi masih ingin berbicara denganmu! Aish tunggu-"
Aish tidak mau mendengar suaranya lagi jadi dia langsung menutup telepon. Dia meletakkan gagang telpon ke tempatnya. Diam, matanya yang redup menatap telpon yang sudah sunyi tanpa suara menyebalkan itu. Menghela nafas panjang, dia menepuk pipinya untuk menyegarkan suasana hatinya sendu. Tersenyum, dia menghibur hatinya dengan bayangan habib Khalid yang telah membuat hatinya berbunga-bunga. Meyakinkan diri bahwa dia hanya butuh satu habib Khalid dan dunianya tidak akan menyedihkan lagi.
"Suatu hari nanti aku akan mengunjungi kakek." Bisiknya merindu ketika hatinya memikirkan wajah tua kakek.
Aish mengatur emosinya dan keluar dari ruang pribadi. Di luar dia melihat beberapa santriwati sedang mengantri untuk menarik uang di sebuah konter yang sengaja pondok siapkan untuk memudahkan santri mengambil uang.
Aish sudah tidak punya uang tunai lagi. Sebenarnya ada, tapi jumlahnya kurang dari Rp. 50.000. Uang sebanyak ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Gisel juga sudah kehabisan uang. Dia tidak punya uang untuk dibelanjakan dan tidak enak rasanya numpang jajan di Dira terus. Aish melihat bila Gisel sebenarnya tidak enak hati tapi tidak punya cara lain karena godaan makanan kantin tidak bisa ditolak.
__ADS_1
Merogoh sakunya, Aish menghela nafas lega karena disaat seperti ini dia masih ingat membawa dompetnya.
Jadi dia memutuskan untuk ikut mengantri bersama santriwati yang lain.
...****...
Aish menarik 2, 5 juta dari buku tabungannya sendiri. Sebelum kembali di pergi ke kantin yang sengaja pondok siapkan untuk memenuhi kebutuhan para santriwati. Barang-barang yang dijual lebih dominan kebutuhan pribadi daripada makanan.
Aish membeli sabun mandi, sabun cuci, dan kebutuhan pribadi wanita lainnya. Lalu dia juga membeli beberapa cemilan untuk anak-anak di kamar. Dalam sekali belanja Aish langsung menghabiskan Rp. 500.000.
Sayangnya tidak ada gorengan yang dijual, kalau ada Aish pasti membelinya karena Gisel dan Dira sangat suka makan gorengan semenjak membeli di kantin asrama.
"Aku tidak sadar telah membeli sebanyak ini." Gumam Aish nelangsa melihat tas belanjanya.
Dia tidak bisa mengangkatnya sendirian tapi dia tidak bisa meminta bantuan kepada orang lain karena dia tidak mengenal satupun dari mereka. Lagian semua orang sibuk dengan belanjaan masing-masing jadi Aish tidak enak meminta tolong.
"Afwan, apakah kamu membutuhkan bantuan?"
Aish terkejut. Dia tiba-tiba dihampiri oleh laki-laki.
"Oh, apakah aku bisa meminta bantuan kepada kakak?" Tanya Aish sopan.
Anehnya Aish refleks melakukannya kepada laki-laki ini tapi saat bersama habib Khalid, dia sama sekali tidak merasakannya.
"Tentu saja bisa. Kebetulan aku di sini sedang melakukan patroli di kawasan kantin." Ini memang tugasnya di sini dan tidak sekali atau dua kali dia membantu orang lain.
Aish lega.
"Terima kasih. Kalau begitu tolong bantu aku membawa semua barang-barang ini ke depan asrama putri." Kata Aish meminta tolong.
Sikapnya sangat sopan. Melihat sekilas laki-laki ini, Aish menebak jika dia adalah kakak seniornya di pondok pesantren.
"Ayo. Ngomong-ngomong namaku adalah Dimas, aku adalah salah satu staf kedisiplinan asrama putra yang bertugas menjaga keamanan kantin." Kata Dimas memperkenalkan dirinya kepada Aish.
Dimas adalah orang yang ramah dan berhati hangat, orang-orang yang berbicara dengannya secara alami akan merasa nyaman. Begitu pula yang dirasakan oleh Aish.
__ADS_1
Aish tidak merasa risih dan cukup nyaman selama berbicara dengannya. Aish kira Dimas adalah pembicara yang manis sebab dia mudah bergaul dengan wanita.
"Jadi kakak seangkatan yah sama kak Nasha?" Aish memiliki kesan yang cukup baik tentang Nasha.
Dimas tersenyum mengiyakan.
"Kami masuk di tahun yang sama, jadi kami seangkatan."
"Maka ini tahun terakhir kalian di sini?" Tanya Aish menghitung.
"Benar tapi juga tidak." Aneh.
"Kok?" Aish bingung.
"Benar ini adalah tahun terakhir ku belajar di sini tapi juga tidak karena aku berencana magang di sini. Jadi mungkin saja ini bukan tahun terakhir ku." Dimas menjelaskan dengan nada yang sangat sabar.
Aish mengangguk mengerti. Pendidikan pondok agak berbeda dengan sekolah umum. Jika sekolah umum hanya 12 tahun, maka pondok pesantren lebih dari ini. Mungkin bisa juga disebut langsung masuk pendidikan perkuliahan karena setelah lulus beberapa orang pasti memutuskan untuk magang di pondok pesantren tempat belajar sebelumnya atau pergi mencari pengalaman ke pondok pesantren yang lain.
Ini sudah biasa terjadi di pondok pesantren makanya banyak bertebaran ustad ustad muda nan tampan yang mengelabui hati para santriwati.
"Oh, begitu." Aish merespon seadanya.
Berbicara dengan Dimas membuatnya sangat santai berjalan kaki. Biasanya dia akan kelelahan setiap kali bolak-balik dari asrama ke kantor staf atau kantin. Tapi kali ini dia tidak terlalu merasakannya karena asik mengobrol.
"Eh, kak Khalid." Kaget Aish tiba-tiba ingin berlari bersembunyi.
Tapi ini hanya pikirannya sesaat saja karena dia langsung teringat jika dia dan habib Khalid tidak punya hubungan apa-apa jadi tidak ada salahnya berjalan dengan laki-laki lain.
Toh, Dimas hanya berniat membantunya saja dan tidak berniat apa-apa.
"Habib Thalib adalah orang yang luar biasa." Kagum Dimas melihat habib Khalid sedang dikerumuni banyak santri.
Para santri itu tidak menganggur sama sekali. Mereka masing-masing memegang buku di tangan dan meminta arahan kepada sang habib untuk setiap pertanyaan yang mereka tanyakan.
"Tentu saja..." Orang yang ku cinta bukanlah orang biasa. Batin Aish bangga.
__ADS_1
Bersambung...
Mahram Untuk Azira meminta dikunjungi 😀