
"Tunggu sebentar, kak." Kata Dira malu.
Dia lalu menarik Gisel ke arah Aish. Terpaksa mereka mendatangi Aish.
"Assalamualaikum, habib" Sapa Dira dan Gisel sopan.
"Waalaikumussalam."
Perhatian Aish langsung ditarik oleh suara sahabatnya. Ia menoleh ke belakang. Mulutnya langsung berkedut tertahan menahan tawa yang akan meledak saat melihat ekspresi sembelit di wajah kedua sahabatnya.
"Kenapa?" Tanya Aish geli.
Dira gatal ingin mencubit pipi Aish. Mereka hanya berbelanja beberapa menit saja dan Aish langsung melupakan mereka tatkala bertemu dengan sang habib.
Cek, teman laknat!
"Itu...uang. Mau bayar."
"Oh. Aku lupa." Aish buru-buru memberikan 10 lembar kertas kepada sahabatnya.
Dira dan Gisel terkejut tapi mereka tidak menghentikan Aish. Toh, Aish punya banyak uang jadi tidak ada salahnya mencomot beberapa lembar.
"Nih." Kata Aish santai.
Wajah Dira dan Gisel langsung ceria. Mereka mengambil uang Aish dan memegangnya dengan erat seolah-olah ini adalah sedotan terakhir harapan hidup mereka.
"Terima kasih. Ayo pergi." Dira langsung menyeret Gisel pergi.
Mereka bahkan tidak mengucapkan salam saat pergi karena terlalu senang dengan segepok uang di tangan.
"Kamu mentraktir mereka?" Habib Khalid mengangkat salah satu alisnya.
__ADS_1
Sangat tampan.
Sambil mengeratkan genggaman tangannya, Aish berusaha menahan debaran jantungnya yang kembali menggila di dalam dada.
"Itu... suasana hati mereka sedang tidak baik. Em..." Aish ragu menceritakannya.
Ia bertanya-tanya di dalam hatinya, Apakah sang habib mau membantunya memecahkan masalah ini?
Setidaknya...ia harus punya bukti di tangan agar orang itu tidak mengulangi perbuatannya kembali.
Karena yah... orang itu mencuri pasti karena terdesak keadaan dan bukan karena keinginannya sendiri. Aish masih punya hati nurani, kok.
"Ada apa, kamu sepertinya sedang tertekan?"
Seolah melihat keraguan Aish, sang habib mengambil inisiatif untuk bertanya.
Ragu-ragu,"Kak Khalid masih ingatkan dengan temanku yang membutuhkan coklat kemarin?"
"Nah, itu dia, kak. Semalam dia kehilangan uang di dalam lemarinya. Pulang dari kantin dia tiba-tiba melihat jika lemarinya berantakan dan uang tabungannya juga raib. Jumlahnya lumayan besar karena uang itu adalah tabungan temanku selama mondok di sini. Tidak hanya kehilangan uang, tapi temanku itu juga kehilangan beberapa batang coklat hingga menyisakan dua batang saja di dalam lemari. Sekarang temanku tidak punya uang sepeser pun dan sisa coklatnya pun tidak banyak. Dia sangat sedih tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga agak kewalahan menghadapi kasus ini karena jumlah teman kamarku lebih dari 40 orang, kak. Pelakunya pasti tidak akan mau mengaku kalau aku tanya langsung dan kalaupun digeledah, aku takut pelakunya pasti sudah membuat langkah persiapan untuk menghilangkan bukti jadi aku benar-benar bingung cara menyelesaikan masalah ini. Semisal aku diam aja, aku takut kejadian ini terjadi lagi karena di sini semua orang sama-sama butuh, kak. Enggak adil dong namanya uang yang sudah susah payah dikumpulin main diambil aja sama orang lain? Aku enggak mau nerima hasil ini." Cerita Aish kepada sang habib.
Aish juga ingin menyelesaikannya, tapi sayang sekali ia tidak punya solusi yang cukup berarti untuk saat ini.
"Uang teman mu dicuri? Sudah dicari dengan baik di dalam lemari? Mungkin saja uangnya di lupa disimpan di tempat lain?" Tanya habib Khalid berturut dengan kening mengernyit.
Kasus pencurian tidak sekali atau dua kali di sini, tapi selalu diselesaikan secara pribadi karena pondok pesantren punya kuncinya.
"Enggak, kak. Teman ku ingat dengan jelas naruh uangnya dimana. Lagipula barang-barang di dalam lemarinya juga berantakan jadi bisa dipastikan bahwa lemarinya pernah digeledah." Kata Aish yakin.
Habib Khalid merenung. Dia mungkin bisa memecahkan masalah ini untuk Aish karena masalah ini bisa dikatakan cukup mudah selama terjadi di dalam pondok pesantren.
"Habib ..habib Thalib?" Pikiran habib Khalid tiba-tiba terganggu.
__ADS_1
Seorang pengawas menghampiri habib Khalid dan membisikkannya sesuatu. Aisha tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena bisikan orang itu sangat kecil.
Ia juga cukup mengerti dan berpura-pura menatap ke arah lain agar tidak menggangu diskusi sang pujaan hati. Em, ia harus memberikan kesan sebagai wanita yang cerdas juga pengertian agar nilainya di mata sang habib naik sedikit.
"Okay, kamu atur saja." Kata sang habib menyelesaikan diskusi. Dia lalu melihat ke arah Aish dengan senyuman lembut di bibirnya.
"Masalah ini kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan membantu kamu untuk menyelesaikannya setelah urusan hari ini diselesaikan dengan cepat. Baiklah, sepulang dari sini tetaplah di dalam asrama dan jangan kemana-mana. Paham?"
Meskipun kecewa karena habib Khalid akan segera pergi, tapi kekecewaannya tidak bertahan lama setelah mendengar perhatian sang habib. Ugh, habib Khalid adalah laki-laki yang sangat baik dan pengertian. Hatinya tidak salah saat memilih sang habib menjadi kekasih impiannya.
"Paham, kak. Aku akan tetap di asrama." Kata Aish berjanji.
Habib Khalid tersenyum simpul menatapnya. Setelah mengucapkan salam, mereka berdua pun berpisah di sini.
Aish tersenyum sumringah melihat kepergian habib Khalid yang semakin jauh dari pandangannya. Diam menatap, kedua mata aprikot nya seolah enggan berpaling dari pemilik punggung tegap itu. Tidak rela sejujurnya melihat orang ia sukai pergi karena sejujurnya ia masih ingin dekat dengan sang habib.
Sungguh, ia masih ingin berbicara sebentar saja dengan sang habib.
"Ck...ck, masih belum puas ngeliatnya, mbak? Konyol banget sih senyum-senyum sendiri kayak orang gila." Dira tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suara cemoohan kepada Aish.
Sahabatnya ini kayak orang gila senyum-senyum sendiri di pinggir jalan. Untung cantik, kalau standar kan, orang jadi mudah berpikiran negatif.
"Apaan sih, ganggu aja." Dengus Aish.
"Kalian udah bayar?" Tanya Aish setelah melihat tiga kantong plastik belanjaan mereka.
"Udah. Balik yuk, di sini panas, nih." Ajak Gisel sambil mengipasi wajahnya.
Aish anehnya baru menyadari panas setelah sekian lama berdiri di luar. Sebelumya ia merasa anteng-anteng saja berdiri dengan habib Khalid tadi.
"Okay, kita balik. Aku juga ingin tidur siang di asrama." Kata Aish setuju.
__ADS_1
Karena ada tiga kantong plastik, maka setiap orang membawa satu kantong plastik. Perjalanan kembali ke asrama dilalui dengan suasana yang sangat baik, berbanding terbalik saat datang ke kantin. Terutama untuk Aish sendiri yang telah mendapatkan kepastian untuk kasus ini tapi tidak berniat menceritakannya kepada sahabatnya. Jika sudah lebih jelas, kedua sahabatnya pasti akan tahu.