Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 22.9


__ADS_3

Aira menatap langit berbintang di depan gedung asrama putri. Suasana hati sedang buruk karena kejadian tadi pagi. Dirinya tidak fokus melakukan apa-apa. Tidur juga rasanya tidak mudah. Bayangan kedua orang itu membayangi kepalanya terus menerus hingga membuat dia sangat muak. Sesak dan cemburu, pernah terlintas di dalam benaknya untuk mencari kepastian kepada Aish. Mungkin dia salah lihat tadi pagi, mungkin itu bukan Aish, atau mungkin gadis itu memang Aish tapi tidak dengan habib Khalid. Tentu, kemungkinan besar orang yang bergandengan tangan dengan Aish tidak mungkin habib Khalid.


"Jika aku bertanya kepada kak Aish, dia tidak akan mau memberikan jawaban yang sebenarnya. Aku yakin dia akan berbohong kepadaku untuk memanas-manasi aku. Memang seperti itulah kak Aish..." Dia menopang dagunya di atas lutut seraya bermonolog kepada dirinya sendiri.


Teman-teman kamarnya pergi entah kemana. Aira tidak terlalu memperdulikan mereka. Saat ini dia tidak mood menjalin koneksi atau jaringannya di pondok karena pikirannya sudah disita oleh perasaan asam di hati.


Huh, buat apa membentuk koneksi? Sebentar lagi dia akan hengkang dari pondok pesantren setelah ujian akhir diselesaikan.

__ADS_1


Gila, kan?


Dia hampir dua bulan lebih di sini dan pendidikannya hanya menunggu surat kelulusan. Ini adalah hasil kerja keras Ayah sehingga dia bisa masuk ke pondok pesantren. Tanpa bantuan Ayah, dirinya tidak akan bisa masuk karena seluruh sekolah di negeri ini sedang menghadapi banyak ujian untuk mereka yang berada di tahun terakhir.


"Aku harus memikirkan cara untuk mendapatkan habib Thalib. Waktu ku tidak banyak lagi di sini. Target yang aku kejar harus segera diselesaikan di sini karena setelah keluar dari pondok, aku akan kesulitan bertemu dengan habib Thalib." Dia bergumam lirih memikirkan banyak kemungkinan atau skenario di dalam hati.


"Pikirkan cara yang dapat membuat habib Thalib menjadi milikku seutuhnya. Pikirkan Aira...pikirkan." Matanya terpejam erat memikirkan beberapa cara menantang dan masuk akal, hingga beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar antara bersemangat juga gugup.

__ADS_1


"Kayaknya aku bisa mencoba cara ini. Tapi aku butuh peluang dan kesempatan! Setelah berhasil menemukan cara, kenapa aku tidak mendapatkan sebuah momen untuk melaksanakan rencana ini?!" Dia akhirnya menemukan satu cara, agak beresiko tapi sangat berguna. Sekali rencana ini dilaksanakan maka siapapun tidak akan bisa menghalangi dirinya bersama dengan habib Khalid, bahkan Aish pun tidak bisa mengatakan apa-apa!


Tapi mendapatkan peluang atau kesempatan di pondok pesantren amat sangat mustahil setelah dipikir-pikir. Inilah yang membuat Aira frustasi.


"Besok sore ada tamu dari kota. Umi mengatakan kalau para tamu akan mampir ke rumah Umi dan Abah untuk makan malam. Jadi Umi memintaku untuk mencari beberapa orang untuk acara besok. Tugas kita akan membersihkan rumah dan membantu Umi memasak di dapur, jadi Umi membutuhkan banyak orang." Nasha berjalan melewati gerbang asrama dengan beberapa teman kamarnya.


Sebagai ketua kedisiplinan asrama putri, dia tidak bisa pulang ke rumah walaupun dia menginginkannya. Dia harus menjalankan tugasnya hingga masa jabatannya selesai. Dan kebetulan hari ini Umi datang memanggilnya. Besok sore pondok pesantren kedatangan tamu dari luar. Untuk menjamu mereka, Umi meminta Nasha membawa beberapa santriwati ke rumah besok agar acaranya berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2