Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 30.5


__ADS_3

"Kamu bisa menungguku di sini. Aku akan mandi sekarang." Sang Habib sesungguhnya ingin berlama-lama memanjakan matanya untuk menatap wajah cantik istrimu yang kian menawan setelah menghilangkan jejak make up di wajah. Tapi dia segera menahan diri.


Benar, niat hati harus ditahan dulu.


"Silakan, Mas."


Aish menyingkir dari depan kamar mandi.


Begitu Habib Khalid masuk ke dalam kamar mandi, Aish lalu pergi mencari koper pakaiannya. Tapi nihil, dia tidak menemukannya. Dia sangat panik ketika tidak menemukan koper itu karena di dalam koper itu dia telah menyiapkan barang-barang penting yang harus dimiliki oleh seorang istri untuk menyenangkan suami.


"Apa yang harus aku lakukan- ah, sejak kapan barang-barang ku ada di sini?" Aish hampir saja berteriak keras ketika melihat semua barang-barangnya sudah disusun rapi di atas meja rias.


Mulai dari pelembab bibir hingga pewangi yang telah dia persiapkan dengan hati-hati, semuanya lengkap ada di atas meja rias. Jadi tanpa menunggu waktu lama dia langsung menggunakan pelembab bibir perasa buah, kemudian menyemprotkan wewangian ke kain mukena dan tubuhnya. Wewangian ini non alkohol, jadi aman untuk dipakai shalat.


Lega, dia akhirnya tenang dan duduk di atas sajadah menunggu suaminya keluar dari dalam kamar mandi.


"Masha Allah.." Decak sang Habib takjub saat melihat wajah cantik istrinya yang sudah berhias dengan beberapa warna yang tidak mencolok.


Aish sangat malu ditatap dan dipuji secara terang-terangan oleh suaminya.


Sang Habib tersenyum dalam,"Kita akan memulai sholat sunnah dua rakaat."


Segera setelah suaminya berbicara, dia langsung berdiri di atas sajadah bagian Ma'mum. Menunggu dengan khusuk suaminya menggemakan takbir.


"ALLAHUAKBAR.." Setelah mengambil nafas panjang, suara takbir habib Khalid bergema indah dan lantang di dalam kamar mereka.


Menyulut perasaan syukur Aish di dalam di dada. Ingatan akan perjuangan dirinya hingga ke titik ini membuat hati Aish bergemuruh menyerukan rasa syukur yang tiada hentinya di dalam dada. Bagaimana dia tidak bersyukur? Semua ini dulu bagaikan mustahil untuknya. Dia dibesarkan tanpa seorang Ibu, besar dengan kasih sayang berat sebelah yang telah membebani hatinya. Karena kehidupan yang berantakan ini dan sakit hati di masa lalu, dia kurang mempercayai kekuasaan Allah. Malah, dia sempat tak mau mempercayainya. Rasa sangat luar biasa mustahil saat mengingat masa lalu, sungguh kuasa Allah itu nyata dan benar adanya. Dirinya yang dulu berada di titik suram kini bersanding dengan seseorang yang selalu menyertai Allah dalam segala urusan, mengadukan segala sesuatu kepada Allah, dan melibatkan Allah dalam hidupnya. Sungguh, semuanya bagaikan mimpi diberikan kejutan demi kejutan oleh Allah. Hingga detik ini, hatinya terus menerus mengucapkan rasa syukur atas anugerah nikmat yang dia rasakan hari ini.


Sholat Sunnah ini begitu mengesankan untuk mereka berdua. Seolah-olah Allah hadir diantara mereka berdua, memeluk mereka sembari mengeratkan sebuah benang merah yang terulur dari Lauhul Mahfudz ke tangan masing-masing.


Tidak akan pernah terputus sampai mereka kembali ke Jannah-Nya.


Setelah mengucapkan salam, kedua tangan sang Habib terangkat tinggi melantunkan sebuah doa yang amat sangat indah dan menenangkan kepada Sang Pencipta.


"اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ"


Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.


Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”


رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "


Robbanaa Aatinaa Fid Dun-Yaa Hasanah, Wa Fil Aakhiroti Hasanah, Wa Qinaa 'Adzaaban Naar.


(Artinya: “Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”)

__ADS_1


"آمِيْن اللّهُمَّ آمِيْن"


Sang Habib kemudian berbalik menghadap Aish, mengulurkan tangan kanan kepada sang istri.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai istriku." Suami dianjurkan memberi salam terlebih dahulu seperti yang Rasulullah Saw lakukan kepada istrinya.


Aish segera menyambut uluran tangan suaminya, meraih tangan itu sembari menundukkan kepala untuk menciumnya seraya menjawab salam dengan suara lembut.


"Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh, suamiku."


Sang Habib tersenyum lebar, menarik sang istri lebih dekat lagi dengan tempatnya duduk untuk berbicara sesaat agar mereka berdua tidak terlalu canggung.


"Apa kamu suka dengan semua pengaturan ku yang ada di dalam kamar ini?" Habib Khalid sangat menginginkan pujian dari istrinya. Ini adalah kerja keras.


Aish langsung menjawab dengan bersemangat bercampur rasa malu,"Kamar ini sangat indah, Mas. Aku sangat menyukainya. Apalagi bunga mawar merah yang kamu siapkan di setiap tempat kamar ini membuat kamar kita memiliki warna yang sangat mencolok dan harum, aku sungguh sangat menyukainya."


Dan semakin suka ketika mendengar dari mulut sang Habib langsung bahwa kamar ini dihias olehnya.


Sudah pasti sang Habib senang dan puas mendengar pujian istrinya.


"Alhamdulillah..aku senang mendengarnya." Lalu sang Habib tiba-tiba terdiam.


Dia ingin mengatakan sesuatu namun agak ragu.


"Mas Khalid, apa aku boleh bertanya?" Karena sang Habib diam, maka Aish memberanikan diri untuk berbicara.


Sang Habib menjawab dengan bijak. Membuat Aish merasa nyaman berinteraksi dengannya.


"Em.. apa yang membuat Mas Khalid tergerak untuk menikahi ku? Aku..mas Khalid tahu sendiri kan kalau aku kurang dalam hal ilmu dan aku...juga besar dengan banyak kekurangan." Aish sungguh cemas memikirkannya.


Apa yang membuat habib Khalid tergerak?


Mengulum senyum, sang Habib meraih tangan istrinya, menyatukan jari jemari mereka dan menggenggamnya erat namun begitu lembut.


"Bukankah jawabannya sudah jelas?" Tanyanya lembut.


Aish diam tidak mengatakan apa-apa.


"Aku mencintaimu, Aisha Rumaisha. Demi Allah perasaan ku ini murni dari dalam hatiku, terlepas dari kelebihan maupun kekurangan di dalam dirimu, aku menikahi kamu karena ridho Allah. Dia meridhoi apa yang aku rasakan untukmu dan memberikan jalan agar aku bisa menghalalkan mu. Sekarang apakah kamu masih meragukan sumpah suamimu?"


Aish tertegun, genggaman tangannya tanpa sadar mengerat menahan gejolak kejutan dan perasaan senang di dalam hati.


"Mas Khalid.." Mata Aish berkaca-kaca.


Tak kuasa menahan kebahagiaan di dalam hati, cairan hangat yang dibendung di dalam pelupuk mata akhirnya keluar, mengalir tanpa tertahan melewati pipi merahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis, istriku?"


Apa Aish tidak menyukai pengakuan perasaannya?


"Mas Khalid..demi Allah aku..." Aish berusaha berbicara, tapi itu sungguh sulit.


"Apa kamu tidak senang mendengarnya?" Tanya sang Habib kian cemas dan mulai berpikir negatif.


Aish langsung menggelengkan kepalanya panik membantah. Dia malah sangat menyukainya.


"Tidak, Mas! Aku..aku juga mencintai, mas Khalid, aku sangat mencintaimu, wahai suamiku. Aku sungguh bahagia menikah dengan dirimu, suamiku. Menikah denganmu merupakan anugerah terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku. Sungguh aku sangat bahagia.


Ini bagaikan mimpi untuknya.


Mendengar pengakuan bersungguh-sungguh istrinya, sang Habib akhirnya bisa bernafas l lega. Dia menarik Aish masuk ke dalam pelukannya, mengusap aliran air mata di wajah istrinya dengan sapuan lembut dan perasaan manis. Istrinya adalah wanita yang berhati lembut.


"Aku juga bahagia, Aish. Aku sungguh bahagia karena Allah mau mengabulkan doa ku untuk memiliki dirimu. Kau tahu, perjuanganku untuk memiliki kamu sungguh tidak mudah, oleh sebab itu aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi bagaimana pun caranya." Ungkap sang Habib penuh akan kasih sayang, lalu mengecup kening Aish penuh kasih sebagai ungkapan rasa syukur di dalam hatinya. Dia bahagia.


"Lalu sekarang, apakah kita bisa memulai ibadah kita yang lain?" Wajah sang Habib memerah.


Aish tersipu malu, baru saja dia menangis keras dalam pelukan suaminya dan kini dia harus melakukan sesuatu yang lebih intim lagi.


Dia mengangkat kepalanya, menatap wajah tampan sang suami yang menggetarkan jiwa. Tatapan matanya yang lembut dan basah adalah persetujuan yang dipahami sang Habib.


"Semoga Allah meridhoi ibadah kita malam ini. Menjadikan malam yang paling berkesan untuk kita berdua seumur hidup." Bisik sang Habib mengangkat Aish dan memindahkannya di atas ranjang yang telah ditaburi ribuan kelopak bunga mawar merah yang harum.


Tampak indah dan menggairahkan.


"Apalagi kamu sudah siap?" Bisik sang Habib perhatian penuh kelembutan.


Aish tersenyum, menganggukkan kepalanya malu-malu sebagai jawaban.


"Bismillah,"


Sang Habib kemudian merendahkan kepalanya sembari menangkup kepala Aish dan berdoa tepat di atas puncak kepala Aish.


"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." Setelah membaca doa tersebut, sang Habib mengecup puncak kepala Aish sembari mengharapkan ridho Allah atas istri yang akan mendampinginya di dunia ini. Berharap bahwa Allah senantiasa menjaga hati Aish hanya untuk dirinya seorang.


Sang Habib lantas menunduk lebih rendah lagi sehingga bisa sejajar dengan wajah istrinya. Memegang wajah sang istri agar bersama-sama membaca niat ibadah mereka malam ini.


"Bersama-sama.." Bisik sang Habib kepada sang istri.


Aish mengangguk ringan.


"Allahumma jannibnasy wa jannibisy syaithon maa rozaqtanaa." Bisik mereka bersama-sama sebelum terhanyut dalam ibadah manis nan candu. Hati mereka bergetar hebat mengharapkan ridho Allah melewati malam manis yang mereka lewati. Sungguh, tiada yang lebih penting di dunia ini selain mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala.

__ADS_1


Bersambung...


Karena agak ribet buka dokumen yang lain jadi saya mengambil penggalan doa dari bab Ali dan Safira. Mungkin akan sedikit familiar untuk para pembaca Aku Bukan Perawan Tua🍃


__ADS_2