
Habib Khalid tersenyum sopan, menoleh ke arah Ayah dan Bunda tanpa peduli memperhatikan Aira yang menatapnya dengan tatapan mendamba, dia lalu menjawab,"Aku merasa sungguh sangat muak."
Ah?
Ah?!
Ekspresi Bunda dan Aira langsung berubah drastis. Mereka tercengang mendengar jawaban blak-blakan dari sang habib. Namun yang lebih memalukan adalah suara gelak tawa orang-orang di dalam ruangan yang mendengar langsung apa yang sang habib katakan.
Aish sampai menutup mulutnya agar jangan kelepasan tawa karena biar bagaimanapun juga mereka adalah keluarganya. Jangan tertawa di depan tapi tertawalah di belakang.
"Bun~" Panggil Aira sedih.
Air mata kembali menghujani wajah pucat itu, menyentuh titik paling sensitif di dalam hati Bunda dan Ayah. Bunda langsung memeluk putrinya, buru-buru menghapus air mata di wajah Aira dengan sakit hati. Dia belum pernah melihat putrinya dianiaya, dan dianiaya tepat di depan matanya sendiri.
"Apa maksud habib Thalib mengatakan seperti ini kepada putriku? Setelah kamu menyentuh putriku itu, kamu segera memalingkan wajah. Mengapa kamu melakukan itu, apakah kamu enggan bertanggung jawab kepada putriku?" Tanya Bunda semarah-marahnya di depan semua orang.
Kedua matanya memerah, kulit wajahnya memucat kehilangan warna, dan bibirnya bergetar menahan luapan amarah dan rasa sesak di dalam dada. Dia sungguh sangat marah karena putri yang dia besarkan dengan susah payah disakiti oleh sang habib.
Sebelum sang habib membuka mulut untuk menjawab, bibi yang juga marah di samping ikut-ikutan membuka mulutnya.
"Jangan seperti inilah habib Thalib. Apakah kamu tidak malu dengan darah yang ada di dalam tubuhmu? Atau kamu merasa bangga hanya karena kamu merupakan keturunan orang yang sangat mulia? Habib, kita tahu bahwa apa yang telah kamu lakukan adalah perbuatan dosa sekalipun kamu berasal dari nasab yang mulia. Kamu tidak boleh melakukan itu, menggunakan identitas mu sewenang-wenang hingga tidak mau bertanggung jawab kepada putri kami. Aira adalah seorang wanita, dapatkah kamu membayangkan bagaimana kehidupannya nanti saat kamu menolak untuk bertanggung jawab kepadanya? Di mana hati nuranimu?" Bibi sangat fasih berbicara di depan semua orang.
Anehnya dia bingung melihat reaksi beberapa orang yang secara terang-terangan menertawakan dirinya. Dia paham bahwa habib Khalid adalah idola banyak orang di pondok pesantren, namun bukan berarti hati mereka buta melihat kejahatan.
Ayah pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba dia merasa seperti badut yang sedang melakukan atraksi di jalan dan ditonton oleh banyak orang. Seringkali orang-orang mengatakan bahwa anak-anak yang sekolah di pondok pesantren memiliki adab yang sangat dalam dan memiliki rasa sopan santun. Melihatnya sekarang entah mengapa dia meragukan apa yang orang-orang katakan. Sebaik-baiknya seorang idola, hati tak dapat menerima kejahatan apalagi bila mereka adalah sesama wanita.
Lalu, apa yang membuat orang-orang ini menertawakan keluarganya?
Ayah mengangkat kepalanya dan menatap habib Khalid, menanti apa yang dia katakan selanjutnya.
Habib Khalid masih tenang seperti sebelumnya. Senyuman ramah di wajah tampan itu tak pernah surut, senyum itu masih membuat hati banyak orang dan merasa dihargai.
"Semuanya, terima kasih atas masukan kalian. Tapi sayang sekali kalian menuntut kepada orang yang salah karena aku tidak ada hubungannya dengan tuduhan kalian. Malah justru sebaliknya aku datang ke sini untuk menuntut keadilan. Jika masalah ini belum terang hari ini, maka aku bersedia membawa masalah ini ke meja hukum." Habib Khalid berbicara dengan santai namun apa yang dia katakan membuat keluarga Ayah bingung dan heran.
Apa maksud sang habib mengatakan ini?
__ADS_1
Mereka menuntut kepada orang yang salah?
"Apa..." Aira melihat ke sana ke mari dan menemukan bahwa orang-orang sedang menertawakan dirinya.
Abah dan Umi pun tidak membantah apa yang habib Khalid katakan. Hatinya langsung terasa dingin. Apakah dia telah melewatkan sesuatu?
Atau apakah dia telah melupakan sesuatu?
Dia panik namun berusaha terlihat sangat normal untuk menutupi betapa gugup hatinya sekarang.
"Inilah alasan kenapa sidang hari ini dilakukan." Abah akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara.
Setelah Abah berbicara semua orang tidak membuat suara lagi. Mereka menutup mulut kompak mendengarkan apa yang Abah katakan dengan sikap tunduk sangat menghormati Abah selaku guru sekaligus pengurus pondok pesantren mereka. Tidak ada yang tidak mengagumi sosok Abah, bagi mereka Abah adalah orang tua mereka selama di pondok pesantren yang akan selalu mengayomi dan menjaga mereka hingga kembali ke kampung halaman masing-masing.
"Sebagai pengurus pondok pesantren kami sangat lalai memberikan celah kepada beberapa orang yang memiliki motif tersembunyi atau memiliki niat yang buruk di pondok pesantren. Karena kelalaian ini, pondok memiliki dua korban atas kejadian kemarin. Bapak dan Ibu tahu bukan bahwa baik Aira ataupun habib Thalib dilarikan ke rumah sakit kemarin setelah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Obat-obatan terlarang ini tidak dapat dikonsumsi oleh sembarang orang apalagi sampai menggunakan dosis yang berlebihan, efeknya akan sangat berbahaya. Kami bahkan berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit tentang masalah ini. Mereka sangat mendukung kami untuk segera menemukan siapa pelaku yang membawa obat-obatan terlarang ke pondok pesantren. Soalnya obat-obatan terlarang ini sangat berbahaya dan tidak boleh dikonsumsi."
Dug
Dug
Dug
"Benar Abah, kami sudah mendengar semuanya dari dokter semalam tentang obat-obatan terlarang yang diminum oleh putri kami. Kami pikir obat-obatan itu diberikan oleh habib Thalib untuk membuat Aira tidak berdaya dan tidak bisa melakukan pembelaan diri ketika akan disentuh oleh habib Thalib." Ayah dan istri serta adiknya berasumsi bahwa habib Khalid sengaja melakukan ini agar Aira tak dapat berkutik setelah jatuh ke tangan sang habib.
Mereka mempercayainya begitu saja dan ditambah lagi Aira tidak membantah apa yang Ayah katakan. Justru karena diam Aira membuat mereka berpikir bahwa habib Khalid memang sengaja melakukan itu.
"Bila mendengarkan dari satu pihak mungkin kebenaran tidak akan ditemukan karena masing-masing pihak merasa benar sendiri. Untungnya pada saat kejadian itu terjadi habib Thalib sempat membuat rekaman video untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Rekamannya sudah ada di sini, kita bisa menontonnya bersama-sama agar kita dapat melihat kejadian yang sebenarnya dan tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman di antara semua pihak." Abah lalu meminta staf kepercayaannya untuk menyiapkan video yang sengaja diambil dari ponsel habib Khalid.
"Vi-video apa?" Aira sangat bingung dengan perkembangan situasi sekarang.
Dia tidak hanya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh habib Khalid tentang tuntutan yang salah, tapi dia juga tidak memahami atau bahkan tahu soal video. Gisel dan Abah tidak mengatakan apa-apa soal video semalam saat di rumah sakit.
Tapi tidak apa-apa, bukankah aku dan habib Thalib terjebak di kamar yang sama kemarin? Batin Aira berusaha menenangkan suasana hati yang tengah gelisah.
"Lihat dan nonton saja. Kamu tidak perlu khawatir, keadilan akan selalu berpihak kepadamu." Bisik Bunda tidak gentar.
__ADS_1
Dia percaya, sangat mempercayai retorika putrinya. Dia yakin bahwa Aira tidak berbohong karena dia sendiri yang telah membesarkan putrinya. Dia sangat mengenal dengan baik bagaimana putrinya hidup.
Aira mengangguk mengerti. Matanya melirik ke arah sang habib. Habib Khalid berdiri tegak tanpa panik di wajahnya. Dan yang lebih membuatnya sakit hati adalah Aira yang memperhatikan bahwa sesekali sang habib akan mencuri pandang ke Aish. Membuat gadis itu tersenyum malu-malu dengan pipi merona merekah, tampak sangat pemalu.
Hati Aira tersengat. Sungguh sakit rasanya. Di dalam posisi ini pun habib Khalid masih memikirkan Aish, bahkan memperhatikannya.
Aku benci kak Aish! Batin Aira sakit hati.
Beberapa detik kemudian perhatian Aira ditarik oleh sebuah video yang sedang ditayangkan di depan. Samar, dia bisa mendengar nafas berat seseorang. Orang itu bernafas berat seakan-akan tubuhnya sedang menanggung beban yang sangat besar.
Jantung Aira kembali berdebar kencang ketika mengenali latar belakang video itu adalah ruang tengah di rumah Umi. Di ruang tengah terdapat beberapa ruangan, salah satu ruangan yang paling mencolok adalah pintu coklat yang paling dekat dengan layar.
"Tuan~" Tak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam dan langsung menghampiri orang yang sedang merekam video.
Bagi beberapa orang di dalam ruangan ini, laki-laki paruh baya itu terlihat tidak asing. Namanya pak Man, orang yang selalu menemui habib Khalid selamat tinggal di pondok pesantren.
"Bantu aku berdiri." Suara habib Khalid sangat serak nomor masih bisa dikenali.
"Astagfirullah, habib Thalib, apa yang sedang terjadi kepada mu, Nak?" Umi datang bersama Abah setelah dihubungi oleh pak Man.
Pertanyaan Umi mengkonfirmasi bahwa habib Khalid yang sedang merekam video. Sementara Aira, yang dituduh berduaan atau disentuh oleh sang habib, masih belum menunjukkan keberadaannya.
Baru saja pertanyaan ini terbersit di benak semua orang, pintu coklat itu terbuka dan yang keluar dari ruangan itu adalah Nadira... Bersama Aira.
Lebih tepatnya Aira dengan keras kepala memeluk kaki Nadira hingga membuat mereka kesulitan bergerak. Ekspresi Nadira di dalam video tak dapat di definisikan dengan kata-kata. Pahit, asam, kesal, jengkel semuanya bersatu dalam satu kata yaitu cemberut. Dia sangat cemberut, berkali-kali menarik kakinya dari tangan Aira, tapi masih tak bisa melepaskan diri.
Di dalam video Aira terlihat kebingungan. Matanya sayu seperti orang yang sedang mabuk. Mulutnya juga tak berhenti memanggil nama habib Khalid sampai sebuah teriakan mengguncang telinga seketika membuat banyak orang tercengang.
Sampai di sini video dihentikan. Sebenarnya masih ada durasi beberapa detik lagi tapi tak dibutuhkan. Karena sepenggal video ini saja sudah cukup menjelaskan semuanya.
Ruangan tiba-tiba menjadi sunyi.
Bersambung...
******* besok siang. Sekarang enggak ada embel-embel insyaa Allah ya jadi pasti,😶
__ADS_1