Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.1


__ADS_3

Di kantor staf pondok pesantren, ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk tamu ataupun acara rapat. Karena ruangannya memang sengaja dibuat besar dan luas, terkadang ruangan ini sering digunakan untuk sidang di pondok pesantren bila menghadapi kasus serius. Sama seperti hari ini, ruangan ini sudah dipenuhi oleh banyak orang. Tidak perduli laki-laki atau perempuan, mereka berkumpul di dalam ruangan tanpa bercampur.


Untungnya sidang dilakukan pagi ini dan hanya mengumpulkan orang-orang staf saja. Jika dilakukan setelah pulang sekolah, tempat ini pasti sudah sesak dipenuhi oleh para santri juga santriwati.


Sidang pagi ini memang sangat menakutkan, bohong bila Aish tidak merasa takut atau gugup. Tidak, reaksinya sama seperti kedua sahabatnya. Namun ia berusaha mengorganisir suasana hatinya agar tidak dilihat oleh kedua sahabatnya, mengontrol dirinya untuk tetap tenang. Ia juga sudah menyiapkan rencana untuk sidang ini. Jelas saja, di depan sang habib mana mungkin dirinya mau kehilangan martabat. Ia harus menunjukkan bahwa ia adalah santriwati yang baik dan berbudi di sidang ini.


"Masuklah."


Mereka bertiga di bawa masuk ke dalam ruangan.


Aish memperhatikan ruangannya cukup luas. Di dalam yang duduk hanya Umi dan Abah, sedangkan lainnya berdiri mengitari ruangan.


"Lho, inikan si monyet?" Dira menatap aneh saat melihat laki-laki nakal itu ada di sini.


Aish dan Gisel langsung mengenali punggung laki-laki itu. Berdiri di tengah-tengah ruangan menghadap Umi dan Abah, punggung anak laki-laki itu terlihat lemah.


Melihat anak laki-laki itu, Aish tersenyum miring,"Dia adalah orang yang mengadu ke pondok pesantren kemarin. Dia bilang kita kabur dari pondok pesantren, makanya kita dikejar-kejar kemarin." Bisik Aish kepada mereka berdua.


Mendengar ini, ekspresi Dira langsung muram.


"Sial, beraninya dia berbicara omong kosong tentang kita. Siapa yang ingin kabur? Jelas-jelas dialah yang ingin kabur dari pondok! Kalau enggak kenapa dia membawa motor orang lain?" Gumam Dira murka.


Matanya melotot menatap tajam ke arah punggung anak laki-laki itu, sayid Khalif, dialah yang membuat laporan palsu sehingga mereka bertiga dikejar-kejar oleh banyak orang kemarin.


Karena panik mereka bertiga mengalami kecelakaan, untungnya itu hanya kecelakaan kecil sehingga tidak memiliki dampak besar. Jika Dira tidak berhati-hati, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami kecelakaan besar.

__ADS_1


"Okay, jangan marah. Kita bisa membicarakannya di sini sekarang." Gisel menggoncang lengan Dira agar menutup mulutnya.


Mereka dibawa ke tengah-tengah ruangan, berdiri sejajar dengan Khalif dengan jarak xua meter jauhnya.


"Semua orang sudah datang?" Tanya Abah di hadapan mereka.


"Sudah, Abah. Pihak-pihak yang terlibat sudah datang. Tapi kami tidak bisa menemukan pemilik motor itu sehingga kami tidak bisa membawanya ke sini untuk bersaksi." Jawab seorang ustad muda berbicara di samping Abah.


Mereka sudah mencari dari kemarin, bertanya-tanya ke warga siapa pemilik motor ini. Namun warga tidak mengetahuinya sehingga untuk sementara motor masih ditahan di pondok pesantren karena belum diketahui siapa pemiliknya.


Abah mengangguk ringan,"Cari terus sampai ketemu. Ini adalah barang berharga." Kata Abah menginstruksi.


Ustad mengangguk ringan penuh akan rasa hormat,"Aku telah membuat pengaturan dan meminta para santri untuk terus mencari."


Setelah berbicara, ustad muda itu kembali menegakkan punggungnya dan berdiri lurus di samping kursi Abah. Rupanya ustad itu adalah orang kepercayaan Abah di pondok pesantren.


Entah doa apa yang Abah ucapkan, karena baik Aish dan dua sahabatnya sama sekali tidak mengerti. Mereka hanya berdiri patuh di depan semua orang menunggu masalah ini dibahas.


"Kemarin terjadi sebuah kecelakaan di dekat pondok pesantren kita. Orang yang mengalami kecelakaan adalah tiga santriwati yang berasal dari pondok pesantren kita. Seseorang melapor bila mereka ingin melarikan diri dari pondok pesantren dengan motor seorang warga di daerah ini." Mata tuanya beralih melihat ke arah Khalif.


"Nak Khalif, tolong jelaskan apa yang terjadi kemarin." Abah menginstruksikan Khalif mengulangi apa yang terjadi kemarin.


Khalif langsung menegakkan punggungnya setelah dipanggil Abah. Wajahnya yang tampan kini semakin menawan saat bibirnya membentuk sebuah senyuman meyakinkan.


"Baik, Abah. Kemarin aku izin keluar untuk membeli kebutuhan di luar pondok pesantren. Rencananya aku ingin membeli sarung tambahan lagi karena ada beberapa sarungku sudah terlalu usang dan tidak layak pakai lagi. Saat berjalan ke salah satu toko di depan pondok pesantren, aku melihat beberapa santriwati bersikap aneh. Mereka berjalan mengendap-endap di pinggir jalan seolah takut dilihat oleh orang-orang pondok. Karena curiga, aku lalu mengikuti mereka dari belakang dan sangat terkejut saat melihat mereka mengambil motor yang terparkir di pinggir jalan. Aku tidak tahu siapa pemilik motor itu karena saat motor itu diambil, pemiliknya tidak ada di sana. Namun satu hal yang pasti bahwa aku tahu bahwa motor itu bukan milik mereka. Aku sangat ketakutan dan buru-buru pergi meminta bantuan ke orang-orang pondok pesantren-"

__ADS_1


"Bohong!" Teriak Dira tak tahan lagi mendengar kesaksian palsunya.


Motor orang?


Benar, itu milik orang! Tapi orang pertama yang memakainya adalah Khalif! Tapi mengapa dia bercerita seolah motor itu ditemukan pertama kali oleh mereka bertiga?


Sangat palsu!


Sungguh sangat palsu!


"Umi dan Abah, anak monyet- maksudku laki-laki ini memberikan kesaksian palsu kepada kalian semua. Memang benar kami menggunakan motor itu, tapi kami tidak berniat mencurinya! Faktanya motor itu pertama kali digunakan olehnya kemarin. Aku pikir dia mencuri motor orang karena itulah aku berpura-pura mengancamnya di jalan kemarin. Dan inilah yang aku tidak mengerti dari kesaksiannya. Dia langsung pergi begitu ku ancam, meninggalkan motor itu dipinggir jalan. Saat itu kami sedang terburu-buru ingin ke pasar dan tak ada satupun taksi yang lewat jadi aku memutuskan untuk meminjam motor itu. Motor itu sungguh hanya ingin kami pinjam ke pasar saja, tapi kenapa dia bersaksi bahwa kamu mengambil motor orang lain di saat dirinya sendiri yang membawa motor itu duluan? Dan juga Abah, darimana dia mendapatkan kesimpulan bahwa kami ingin kabur dari pondok pesantren? Fine, kami memang mengakui bahwa kami adalah anak-anak baru yang belum mengerti agama dengan serius. Sejak datang ke pondok, sudah banyak masalah yang kami sebabkan. Tapi itu satu bulan yang lalu saat kami baru-baru datang ke sini. Mungkin kalian akan sulit percaya, walaupun terpaksa kami bertiga sangat nyaman tinggal di sini sekarang, jadi mana mungkin kami melarikan diri dari pondok pesantren? Kami merasa sangat marah mendengarnya. Jelas-jelas kami ingin pergi ke pasar untuk membeli sesuatu tapi disalahpahami kabur dari pondok pesantren, ini adalah fitnah!" Dira berbicara lantang dengan semangat yang menggebu-gebu.


Dia sangat tertantang dengan kesaksian palsu Khalif dan berambisi untuk menjatuhkannya. Enak saja, pikirnya. Dosa apa yang dia miliki kepada Khalif sehingga membuatnya memberikan kesaksian palsu. Apa karena dia memergoki Khalid mengintip di sekolah santriwati?


Iyakah?


Terlalu kekanak-kanakan!


Khalif melirik Dira tajam, terlihat sangat marah,"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?!"


Dira sangat terkejut dengan nada bicaranya yang tajam. Sejenak, mulutnya mengkerut tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.


"Omong kosong? Kamu jelas tahu apakah yang dia katakan ini omong kosong atau tidak. Umi dan Abah," Aish beralih mengambil kotak pembicaraan.


Ia mengalihkan perhatiannya menatap Umi serta Abah dengan ekspresi yang tenang. Secara alami sikapnya yang ringan dan tenang ini mendapatkan poin yang baik di dalam hati orang-orang.

__ADS_1


"Kecelakaan kemarin memang salah kami. Tanpa izin dari pondok, kamu bertiga nekat ke pasar dengan motor orang lain. Tapi percayalah, motor itu bukan kami curi melainkan dipinjam. Hanya saja kami tidak tahu pemiliknya saat itu karena motor itu ditinggalkan begitu saja oleh laki-laki ini. Karena panik dan terdesak waktu, kami bertiga nekat menggunakannya. Kami tidak tahu bahwa laki-laki ini sudah memanggil banyak orang untuk mengejar kami. Abah dan Umi bisa membayangkan betapa terkejutnya kami saat mengetahui ada segerombolan orang-orang yang berlari juga mengejar kami tanpa alasan. Kami sangat ketakutan hingga akhirnya berakhir mengalami kecelakaan. Untungnya kami hanya jatuh ke sawah sehingga tidak membahayakan nyawa kami bertiga ataupun orang-orang di jalan. Umi dan Abah, tuduhan ini tidak benar. Kami bertiga tahu kesalahan ini, dan kami juga bersedia memperbaiki motor dan sawah yang kami rusak, tapi kami sama sekali tidak bersedia menerima tuduhan darinya karena kami benar-benar tidak ingin melarikan diri dari pondok pesantren. Tolong berikan kami bertiga keadilan."


__ADS_2