Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.1


__ADS_3

"Sebagian besar Kakek sudah menceritakan semuanya kepada Aish. Tapi ada beberapa hal perlu kamu perjelas sendiri karena itu adalah hak kamu untuknya."


Melihat cucunya menunduk tersipu malu, Kakek merasa geli dan langsung menjawab pertanyaan sang habib. Dia kira cucunya tidak akan jatuh cinta kepada sang habib karena Aish memiliki temperamen yang kuat. Selain itu ada faktor eksternal di mana Aish dibesarkan di kota dan terbiasa dengan gaya hidup orang-orang kota. Dulu dia mengira bahwa Aish akan berakhir dengan laki-laki yang tidak baik karena gaya hidupnya yang mengkhawatirkan. Harus diakui bahwa Aira lebih polos di kota daripada Aish.


"Begitu," Sang habib sengaja melirik Aish dengan ekspresi main-main di wajahnya.


Aish semakin malu. Dia tidak tahu harus meletakkan tangan dan kakinya di mana, dan dia takut bila dia bergerak sedikit saja akan membuat kesalahan. Em... Sebut saja dia sedang salah tingkah. Entahlah mungkin saja ini benar atau tidak.


"Aku.. akan mengambil minuman di dapur. Kakek dan kak Khalid bisa berbicara dulu." Dengan alasan ini dia segera berdiri dari duduknya dan lari terbirit-birit keluar dari ruang tamu seolah-olah sedang melarikan diri dari kandang makhluk buas.


Aish P. O. V


Fiuh... Aku akhirnya bisa bernafas lega setelah kabur dari ruang tamu. Kenapa setelah mengetahui kebenarannya aku jadi semakin malu dekat dengan kak Khalid?


Padahal di malam kami saling mengungkapkan perasaan aku tidak seperti ini- ah, memang benar aku malu tapi tidak semalu sekarang. Dan lihatlah cincin yang ada di jari kelingking tangan kiriku, imut dan cantik. Meskipun kecil, tapi aku sangat menghargai cincin ini.


Em, ini adalah ketulusan hati kak Khalid kepadaku 5 tahun yang lalu tapi baru bisa sampai ke tanganku sekarang karena pada saat itu jari-jari ku masih kecil.


"Kakek belum menjelaskan kepadaku kapan habib Khalid datang saat itu dan kenapa aku tidak memiliki kesan apapun?" Bagian dari cerita ini masih kosong.


Sejujurnya aku belum cukup puas. Aku ingin mendengar versi dari kak Khalid. Sebenarnya bisa dibilang penasaran, saat mengetahui kak Khalid sendiri yang menawarkan diri untuk bertunangan denganku, aku penasaran apa yang membuatnya memutuskan untuk berjanji kepada Mama dan yang lebih mengagumkan adalah, kak Khalid masih bertahan hingga saat ini. Sebenarnya apa yang kak Khalid lihat dari diriku?

__ADS_1


"Masalah ini nanti saja aku tanyakan kepada kak Khalid. Dia pasti mau menceritakannya kepadaku. Um, ya Allah...ya Allah... Aku merasa bahwa semua ini bagaikan mimpi!"


Mulai dari siapa Mamaku- maksudku identitas apa yang dia pegang, hingga perjanjian di antara Mama, kak Khalid dan Kakek. Jujur, aku merasa sedang masuk ke dalam sebuah drama di TV. Karena ini terlalu... agaknya mustahil tapi benar-benar terjadi di dalam hidupku.


"Selamat siang, Aish? Apakah kamu membutuhkan sesuatu?"


Saat masuk ke dalam dapur aku langsung disapa oleh Nadira.


Nadira sedang membuat air es untuk para santriwati di luar. Anehnya tidak ada siapapun di sini kecuali dirinya.


"Siang, aku ke sini mau mengambil minuman untuk tamu di depan." Aku malu mengatakan kalau tamu itu adalah Kakek ku.


Nadira tersenyum manis. Sejak dia tidak lagi memikirkan kak Khalid, aku selalu merasa kalau Nadira adalah orang yang baik dan lembut. Aku berharap suatu hari dia dapat bertemu dengan laki-laki baik yang sangat mencintai dan perhatian kepadanya. Sama seperti yang kak Khalid lakukan kepadaku.


"Oh iya, tadinya aku mau ngantar ke sana. Tapi karena kamu sudah datang, kamu bisa membawanya sendiri. Di atas meja dekat kulkas, ada nampan makanan dan minuman yang sengaja Umi siapkan tadi. Ambillah dan bawa ke ruang tamu." Aku melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nadira.


Ternyata Umi sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk Kakek. Diam-diam hatiku bersyukur.


"Terima kasih." Lalu aku pergi ke sana untuk mengambilnya.


"Em, Nadira... apakah kamu tahu di mana Gisel dan Dira? Mereka tadi di sini untuk membantu Umi memasak, tapi kenapa setelah aku datang ke sini mereka tidak ada?" Inilah yang ingin aku tanyakan dari tadi.

__ADS_1


Ke mana mereka berdua pergi?


Aku harap mereka tidak meninggalkanku kembali ke asrama karena aku ingin memperkenalkan mereka kepada Kakek. Selain itu aku ingin membicarakan banyak hal kepada mereka berdua mengenai masa lalu Mama dan hubunganku sama kak Khalid yang sudah terjadi sejak 16 tahun yang lalu. Mereka pasti sangat terkejut mengetahuinya. Aku yakin mereka akan histeris karena cemburu setelah mendengarnya.


"Sama-sama. Dira dan Gisel pergi sama Umi ke halaman belakang untuk mengambil ikan lele. Sore ini kita akan memasak banyak ikan lele untuk menu makan jamuan para tamu. Kalau kamu ingin bertemu dengan mereka, tinggal jalan saja ke halaman belakang. Di sana ada kolam khusus ikan lele, dan kamu akan menemukan mereka berdua." Nadira menjawab dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya.


Begitu mendengar jawabannya, aku merasa lega dan tenang.


"Tidak usah. Aku pikir mereka pergi keluyuran makanya aku bertanya. Syukurlah mereka membantu Umi."


Dia tertawa,"Mereka tidak senakal itu. Kalau begitu aku akan membawa minuman untuk para santriwati di luar. Jika kamu membutuhkan apa-apa, ambil saja di dapur."


Aku mengangguk mengerti dan menyaksikannya pergi sambil membawa wadah air es di kedua tangannya.


Setelah dia pergi aku mengambil dua gelas baru lagi untuk diisi air putih dan teh hangat. Kakek sedang kurang sehat jadi dia tidak bisa minum kopi, maka aku mengisi gelasnya dengan teh hangat. Sedangkan kak Khalid memang tidak menyukai rasa kopi dan lebih suka minum air putih, jadi aku menyajikan keduanya air putih.


Saat sedang mengisi air putih, Aira tiba-tiba menghampiriku dan hampir saja membuat gelas yang ada di tanganku jatuh. Untungnya aku buru-buru meraih sisi gelas sehingga tidak jatuh ke lantai, tapi karena tindakan penyelamatan ku ini, air di dalam gelas separuhnya tumpah ke lantai.


"Kak Aish juga ada di sini?"


Aku meliriknya kesal, mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan kejengkelan di hati, perlahan rasa amarahku menghilang.

__ADS_1


Dengan masa lalu yang pahit aku harus mulai berdamai. Seperti yang Kakek bilang, sekarang aku sudah dewasa dan harus belajar berpikir dewasa. Jangan menggunakan ego anak kecil selamanya. Kak Khalid juga menyukai wanita yang penyabar, jadi aku harus belajar menjadi wanita sabar dan tenang sama seperti Nasifa atau Nadira.


"Umi memintaku untuk datang membantu." Jawabku tidak dingin atau tidak lembut. Intinya aku berusaha untuk tidak meledak-ledak di depannya.


__ADS_2