Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.8


__ADS_3

"Masih setengah jam lagi, terus kalian ngapain bangunin aku, ya Allah!" Rasanya ingin menari rambut mereka saja.


Dira menguap di sampingnya,"Oleh-oleh, bagi sekarang." Jawabnya datar.


Demi oleh-oleh, Dira dan Gisel memaksakan diri untuk bangun pagi. Kalau bukan karena oleh-oleh, mereka juga ogah bangun. Sebenarnya semalam mereka udah ngiler ngeliat oleh-oleh yang Aish bawa dari kota semalam- oh, bukan cuma mereka berdua aja tapi mata-mata teman kamar yang lain juga ikut ngiler kok. Cuman karena Aish pulang kemalaman dan kelihatan capek banget, mereka semua secara sadar enggak ngomong apa-apa dan membiarkan Aish langsung beristirahat.


Tangan Aish gatal ingin mencubit lambung kedua sahabatnya.


"Kan bisa nanti pagi." Kata Aish heran.


Gisel memutar bola matanya malas.


"Besok pagi? Enggak ada waktu. Habis sholat subuh langsung mandi dan beres-beres, terus pergi sarapan dan berangkat sekolah. Menurut kamu kapan kita bisa bagi oleh-olehnya kalau enggak sekarang?" Dia sudah menghitungnya dengan baik semalaman sebelum tidur.


Setelah mengevaluasinya dengan serius, menurut mereka satu-satunya waktu yang paling baik dan bagus adalah setengah jam sebelum bangun sholat tahajud. Yup, hanya kamar mereka yang bangun dan kamar lain tidak akan mendapatkan bagian apa-apa. Huh, ide yang sangat cemerlang!


Anehnya Aish sependapat dengan mereka.


"Fine, nyalain lampu dan bangunin anak-anak yang lain." Putus Aish.


Dira dan Gisel langsung bersorak, mereka kemudian menyalakan lampu dan mengejutkan teman-teman kamar yang lain. Awalnya banyak yang protes karena masih mengantuk, tapi saat Gisel menjelaskan tujuannya mereka semua secara kompak menyingkir dari kasur.


Sudut mata Aish berkedut tertahan melihat betapa antusiasnya semua orang.


"Okay, semalam aku beli buah di jalan. Jumlahnya cukup untuk kita semua jadi kalian semua jangan berebutan yah karena semua orang pasti kebagian kok." Kata Aish mengingatkan semua orang.

__ADS_1


Awalnya ia ingin pamer kepada mereka semua bahwa ia ke kota pergi bersama dengan sang habib. Namun setelah dipikir-pikir ia tidak bisa melakukan itu karena dapat menimbulkan rumor jahat lagi untuk sang habib. Tidak ingin membuat masalah untuk sang habib, Aish lalu memutuskan untuk tidak menyebutkan nama sang habib atas oleh-oleh ini.


Setiap orang mendapatkan satu buah apel, satu buah jeruk, dua buah salak, dan satu buah pir. Semua orang sangat senang menerimanya dan berterima kasih kepada Aish. Mereka tidak langsung memakan buah-buahan itu dan menyimpannya ke dalam lemari sebagai cadangan.


"Dira, Gisel." Aish memberikan Gisel satu juta dan Dira setengah juta.


"Uang belanja yang kemarin masih ada." Gisel malu menerimanya.


Aish sangat perhatian kepadanya, sudah seperti kakaknya sendiri. Dulu di rumah paman dan bibinya, dia tidak pernah diperlakukan sehangat ini oleh para sepupunya. Bukannya berbagi, mereka malah iri terhadap barang-barang yang dia miliki dan seringkali menjadi bahan pertengkaran.


Kenapa, pikirnya. Aish adalah orang asing tapi jauh lebih baik dan hangat daripada sepupu-sepupunya.


Aish dalam suasana hati yang baik.


"Simpan aja buat jaga-jaga." Kata Aish santai.


Dira mengambil uang itu dan memegangnya dengan erat-erat. Uang pemberian Aish masih tersimpan di dalam lemarinya dan dia juga tidak bermaksud menggunakannya. Uang itu adalah pemberian sahabatnya, hati yang tulus dari sahabatnya. Dulu dia lah yang memberikan uang atau barang-barang kepada temannya di kota tapi sekarang dirinya lah yang diberikan barang-barang oleh Aish.


Orang setulus dan seperhatian kayak Aish, mungkin tidak akan Dira temukan lagi di dalam hidupnya ini.


"Terima kasih, lain kali jumlahnya dibanyakin, yah." Canda Dira tidak serius.


Aish tersenyum lembut,"Jangan khawatir. Itu mudah."


Ia punya banyak uang di tangannya. Uang tabungannya sendiri saja belum digunakan semuanya, apalagi uang tabungan dari Ayah dan Bunda yang belum tersentuh?

__ADS_1


Aish sama sekali tidak khawatir akan uang.


"Aish, terima kasih...kamu adalah orang yang sangat baik." Bisik Gisel tidak tahu harus mengatakan apa.


Aish dan Dira, mereka adalah sahabat yang sangat baik. Bersama mereka, Gisel merasakan betapa manisnya sebuah pertemanan. Dan menghabiskan banyak waktu dengan mereka membuat Gisel tidak lagi terlalu merindukan rumah, yah...rumah yang sama sekali tidak merindukan kehadirannya.


"Jangan berbicara seperti itu. Aku ini sahabat mu di dunia tapi saudaramu di surga, sudah sepantasnya kita saling membantu di sini karena aku ingin Allah tidak hanya melibatkan kita di dunia ini tapi juga diakhirat nanti. Tentu saja...jalan yang Allah ridhoi, aku berharap kita semua selalu berada di jalan ini." Ucap Aish malu.


Kata-kata manis dan penuh harapan ini, ia belum pernah mengucapkannya. Canggung rasanya. Ia selalu berpikir kata-kata manis adalah ironi yang tak mampu diwujudkan. Namun di tempat ini Aish belajar bahwa segala sesuatu di dunia ini mudah bagi Allah untuk mengubahnya. Harapan yang tinggi mungkin terbilang tidak masuk akal, tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Namun dengan syarat, berserah diri kepada-Nya dan teruslah mendekat kepada-Nya.


Rumus sederhana yang selama ini banyak umat manusia tinggalkan.


"Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah, aku berharap kita bertiga tidak akan saling meninggalkan di dunia ini maupun di akhirat kelak." Dira memegang tangan Aish dan Gisel dengan harapan yang tidak tersamarkan di dalam matanya.


Tinggal di tempat yang sangat indah dan tidak pernah terbayangkan bersama orang-orang yang dicintai, ya Allah, itu adalah nikmat yang tak mampu digambarkan dengan kata-kata.


Hati Gisel tersentuh. Dia memegang tangan Dira dan Aish seerat mungkin untuk melampiaskan betapa bahagianya hati ini,"Semoga ya Allah, kita bertiga tetap bersama hingga ke tempat itu. Tempat dambaan seluruh umat manusia di dunia ini. Aku harap Allah ridho terhadap kita bertiga, aamiin?"


Dira dan Aish saling melihat, sedetik kemudian sebuah senyuman lebar terbentuk di wajah mereka berdua.


"Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah." Ucap mereka melambungkan sebuah harapan bersama-sama.


Dulu pikiran mereka terbatas pada dunia. Seringkali mereka meremehkan adanya kehidupan akhir, surga ataupun neraka. mereka tidak sejauh itu sebab hidup mereka selalu berputar pada dunia, dunia, dan dunia.


Tapi di tempat yang awalnya mereka benci ini, semua pandangan dan kebiasaan mereka perlahan berubah. Perlahan-lahan hati mereka mulai merindukan kehidupan akhirat yang dulunya mereka acuhkan keberadaanya. Merindu sembari terus belajar untuk dekat dengan Sang Maha Kuasa. Sekalipun langkah mereka lambat, namun Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

__ADS_1


Kalau tidak, mereka tidak mungkin berada di tempat ini, pondok pesantren Abu Hurairah.


Entah mengapa suasana hati mereka begitu lembut dan manis saat ini, seolah-olah ada perasaan lembut yang menghangatkan hati mereka, merangkul hati mereka dan menyebarkan kebahagian di dalamnya. Rasanya seperti Allah menyambut doa yang mereka lambungkan dalam rasa syukur mereka ini. Entahlah, tidak ada yang tahu hingga hari itu benar-benar tiba.


__ADS_2