
Ada banyak wanita yang jauh lebih baik dari Aish, jadi habib Khalid tak punya alasan yang kuat untuk memilihnya. Maka untuk menjelekkan nama baik Aish, mau tak mau dia mengambil langkah ini agar Aish tak dapat bersenang-senang di bawah perlindungan sang habib.
Ketika kesaksian Gadis jatuh, para santri dan santriwati dibuat kebingungan. Sebagian besar dari mereka tidak percaya tapi kesaksian Gadis membuat mereka heran sekaligus bertanya-tanya, benarkah yang dikatakan Gadis itu?
Aira terkejut. Dia tidak tahu siapa Gadis dan tidak mengenalnya, tapi saksi palsunya sungguh sangat membantu. Dia diam-diam berterima kasih atas bantuan Gadis.
Tubuh Aish langsung menjadi kaku. Dia mengepalkan tangannya marah. Saat menangkap tatapan kecewa Ayah di seberang sana, hatinya langsung menjadi dingin. Dia tahu bahwa Ayah lebih mempercayai kata-kata orang asing daripada bertanya dulu kepadanya.
"Sayang?" Sang habib mengusap kelopak mata Aish agar jangan memperhatikan Ayah.
Aish mengangkat kepalanya sedih.
Habib Khalid tersenyum,"Aku lebih percaya kepada kamu, istriku."
Bug
Bug
Bug
Jantung Aish berdebar kencang. Dia sontak memalingkan wajahnya tak berani melihat sang habib lebih lama lagi. Istri?
Lagi-lagi kak Khalid memanggilku sebagai istri. Apakah aku ini memang istrinya?
Tapi kapan kami menikah, kenapa aku tidak memiliki kesan apapun tentang pernikahan kami? Batin Aish bingung.
"Habib Thalib, jangan lindungi Aish. Sekarang ada saksi kuat yang telah melihat secara langsung bagaimana Aish memasukkan obat-obatan ke dalam air minum kalian berdua. Aku harap kamu dapat berpikir jernih karena berbagai manapun kamu adalah seorang habib. Jangan terlena oleh kecantikan Aish, kamu dapat memiliki wanita yang jauh lebih cantik dari dirinya. Jadi kenapa harus terpaku kepadanya?" Ucap Bunda dengan nada yang sangat lembut. Bunda sempat takut melihat tatapan dingin sang habib tadi.
__ADS_1
Tetapi ketika mendengar kesaksian Gadis, dia tiba-tiba memiliki keberanian berbicara dengan sang habib.
Bibi Rumi sangat kesal dengan perkataan Bunda. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi dihentikan oleh suaminya.
"Biarkan habib Thalib menanganinya. Ini adalah kesempatan untuk menilai seberapa pantas habib Thalib melindungi keponakan kita." Bisik suaminya mencegah.
Bibi Rumi menggigit bibirnya tak senang. Namun karena suaminya memberikan perintah, maka dia dengan enggan menyanggupi. Lagi pula dia juga ingin tahu dan melihat bagaimana keahlian habib Khalid menangani situasi ini.
"Apakah Tante sudah memastikan bahwa kesaksiannya palsu atau tidak?" Tersenyum ramah, dia melirik Gadis dari sudut matanya.
Gadis merasa sangat tidak nyaman dengan lirikan sang habib. Diam-diam dia mengecilkan lehernya mencoba mengecilkan keberadaannya di sini.
"Abah, tolong catat. Santriwati ini sedang berbohong. Dia telah memberikan kesaksian palsu dan menuduh istriku melakukan kejahatan." Lapor sang habib kepada Abah.
Abah mengangguk ringan terlihat sangat serius.
Gadis merasa tidak nyaman. Di satu sisi dia sangat ketakutan, mungkinkah kebohongannya dapat dibantah? Tapi di sisi lain dia berpikir bahwa tak ada saksi saat itu dan pelaku yang sebenarnya tak mungkin mau mengakui dirinya sendiri, jadi kesaksiannya seharusnya aman.
"Logika saja, istri mana yang akan menjebak suaminya bersama wanita lain? Aku jauh lebih mempercayai istriku daripada dia ataupun kata-kata pembelaan dari orang lain. Dan untuk Tante, terima kasih atas saran Tante. Memang benar banyak wanita yang lebih baik dan lebih cantik daripada istri ku, tapi itu pendapat Tante. Karena jauh di dalam lubuk hati ini, aku hanya mengakui satu wanita di dunia yaitu Aisha Rumaisha. Dia adalah istriku, wanita terbaik di dalam hidup ku, dan rumah paling nyaman yang pernah kutemukan di dunia ini. Selain dari dirinya, aku tak bisa. Selain dari dirinya, Aisha Rumaisha, aku sungguh tidak bisa menerima wanita lain apalagi sampai berpaling. Bagiku istriku adalah dunia ku, maka tak mungkin aku melepaskan Aish di saat dia sendiri adalah duniaku." Ucap sang habib tegas seolah menegaskan bahwa dia tidak berbohong dan Aish memang istrinya, selain itu dia juga menegaskan bahwa dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Gadis dan lebih mempercayai istrinya.
Istrinya sudah banyak berubah semenjak tinggal di pondok pesantren, dia tidak mungkin melakukan itu apalagi sampai menjebak dirinya dengan wanita lain, Aish tidak sebaik itu. Dia adalah wanita yang pencemburu, dan sisi ini sangat disukai oleh sang habib.
"Habib Thalib, apakah ini serius?" Bunda sangat shock mendengar pernyataan sang habib langsung.
Habib Khalid tidak perlu mengatakan apa-apa. Sikap dominannya melindungi Aish adalah bukti yang paling valid bahwa apa yang dia katakan bukanlah kebohongan.
"Tidak mungkin...tidak mungkin..." Bisik Aira sakit.
__ADS_1
Pendengaran Aira hampir saja mati rasa dibuatnya. Mendengar kata-kata romantis nan tulus sang habib kepada Aish membuat Aira dan banyak wanita lainnya cemburu. Aira tak kuasa lagi mendengarnya. Hati tidak bisa menerima rangsangan apapun lagi dan imbasnya, tubuh kurusnya mulai bergetar kehilangan tenaga. Perlahan dia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri dan hampir saja jatuh ke lantai bila ayah tidak buru-buru menangkapnya.
Hati Ayah patah hati melihat putri tercintanya hancur sedemikian rupa. Dia tak tahan.
Dia mengangkat kepalanya menatap lurus ke arah sang habib.
"Apakah kamu adalah suami dari putriku? Aku adalah walinya tapi aku tak tidak merasa pernah menikahkan kalian berdua." Dia adalah seorang wali, dia memiliki otoritas tertinggi bila a
Aish ingin menikah. Tanpa dirinya, Aish tak bisa menikah.
Setidaknya sesempit inilah pikiran Ayah.
Aish juga mau mendengar langsung dari sang habib kapan mereka menikah dan siapa walinya.
Habib Khalid menundukkan kepalanya, menatap wajah penuh harap sang istri membuat hatinya segera melembut. Dia mengangkat tangan kanannya yang kosong untuk menyentuh puncak kepala sang istri dan mengelusnya lembut. Tindakan manis nan hangat ini segera membutakan penglihatan banyak orang. Mereka sangat iri!
"Menyediakan bukan? Kamu adalah Ayahnya tapi tidak tahu kapan kami berdua menikah. Mirisnya lagi, kamu bukanlah wali untuk Aish saat waktu aku menghalalkannya. Kamu bukanlah wali yang diharapakan Mama Arumi saat itu."
Arumi?
Bunda, bibi dan Ayah langsung tercengang mendengarnya. Sekilas mereka dapat menebak sesuatu tapi di saat yang sama mereka tidak dapat menebak apa itu.
"Arumi?" Ayah memanggil mantan istrinya yang telah lama meninggal.
Habib Khalid tersenyum ramah kepada Ayah- atau tepatnya Ayah mertua yang telah lama mengecewakannya.
"Benar, 16 tahun yang lalu Mama Arumi menyerahkan wali istriku kepada Kakek-"
__ADS_1
"Dan 5 tahun yang lalu aku sendiri yang menjabat tangan habib Thalib, menjadi wali untuk cucuku terkasih. Saat itu Aish sedang demam dan kamu serta istri juga Aira pergi ke luar kota untuk liburan. Kamu lupa terhadap putrimu yang lain. Awalnya aku ingin melibatkan mu ke dalam pernikahan mereka. Tapi kamu telah mengecewakan ku berkali-kali dan pada puncaknya, kamu melalaikan tugasmu sebagai seorang Ayah di saat putrimu tengah terkapar sakit di rumah sakit. Aku pikir tak ada yang bisa dibicarakan lagi dengan kamu, oleh karena itu aku menggantikan posisimu dan menjadi wali untuk mereka berdua." Tiba-tiba Kakek masuk bersama pengacara pribadinya.