Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 5.3


__ADS_3

Melihat Dira tidur kembali, Gisel juga langsung merebahkan dirinya di atas kasur berniat kembali memasuki alam mimpi.


Gadis langsung tidak berdaya melihat mereka seperti ini. Dia berusaha membangunkan mereka, tapi mereka menutup telinga dan tetap tidur.


Cemas, Gadis takut bila mereka tertangkap basah dan dihukum oleh staf kedisiplinan asrama putri. Tidak apa-apa jika itu orang lain tapi bila itu Aish, Gisel, dan Dira, maka ceritanya akan berbeda. Mereka pasti menolak kalah dan kembali bertengkar.


"Aish, Aish...ayo bangun. Kita harus segera pergi ke masjid sebelum para senior menemukan kita." Kini Gadis beralih membujuk Aish yang sedang tertidur pulas.


Sama seperti dua lainnya, Aish mengabaikan panggilan Gadis. Tidak hanya itu saja, tapi dia juga memperbaiki posisi tidurnya senyaman mungkin tanpa menyadari ada beban tambahan di tubuhnya.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan jika para senior datang-"


"Mengapa kalian masih di sini dan tidak pergi ke masjid menyusul teman-teman yang lain?" Suara lembut Nasha memasuki gendang telinga Gadis.


Gadis menghirup udara dingin dengan wajah kaku, gugup, lehernya dengan gerakan kaku menoleh ke belakang. Di pintu masuk kamar kini tengah berdiri Nasha dan beberapa staf kedisiplinan asrama putri lainnya.


"Itu...itu Kak..." Gadis tersenyum canggung kepada Nasha.


Nasha melirik tiga orang yang masih asik di dunia mimpi. Dia mengangguk samar tanda mengerti. Tanpa bertanya kepada Gadis lagi, dia memberikan aba-aba kepada teman-temannya agar ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


Gadis meremat tangannya gugup melihat Nasha dan staf yang lain datang menghampirinya atau mungkin lebih tepatnya, dia datang untuk menghampiri ketiga orang yang masih tidur.


"Dimana airnya?" Tanya Nasha kepada orang di belakangnya.


Gadis yang ditanya segera memberikan setengah ember air dingin yang selalu dia tenteng kemana-mana untuk berjaga-jaga. Biasanya air ini akan berakhir menyiram tanaman karena tidak mendapatkan target, tapi malam ini kasusnya berbeda. Mereka akhirnya menemukan target untuk disiram.


"Kak Nasha, mereka masih tidur dan tidak mau bangun, tapi aku...aku akan mencoba membangunkan mereka." Tidak ada yang salah dari apa yang Gadis katakan.


Hanya saja, kata-kata ini sepertinya menyimpan makna tertentu- entahlah, ini hanya perasaan Nasha saja dan dia langsung mengesampingkannya sebab Nasha tidak terlalu mengenal Gadis dengan baik.


"Diam lah. Biarkan mereka diurus oleh kami sedangkan kamu sebaiknya pergi ke masjid." Tegur Nasha dengan tegas.


Gadis langsung menutup mulutnya rapat. Dia melihat wajah tertidur Aish dalam diam, sinar matanya bergejolak terang sebelum dia akhirnya menarik pandangannya. Tanpa bantahan ataupun perlawanan apapun, dia langsung mengambil mukena dan mushaf Al-Qur'an dari dalam lemari, dan langsung pergi ke masjid tanpa menoleh ke belakang.


Gerakan lembut Nasha sontak membuat kecewa beberapa orang di belakangnya. Padahal mereka ingin sekali menyiram langsung wajah songong ketiga anak kota itu karena masih teringat dengan tindakan kurang ajar mereka kemarin sore. Tapi karena Nasha sudah mengambil tindakan maka mereka tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Aduh!" Aish menyentuh wajahnya yang basah.


"Bangun!" Kata Nasha sambil memercikkan air ke wajah mereka bertiga.

__ADS_1


"Ish, siapa sih yang mainin air?!" Bentak Dira tak senang seraya bangun dari tidurnya dan menatap sang pelaku- Nasha dengan tatapan kesal.


"Ini aku, ketua kedisiplinan asrama putri. Apa ada masalah?" Tanya Nasha kalem.


Melihat siapa pelakunya, Dira langsung meneguk ludahnya bungkam. Dengan amarah tertahan dia bergegas membangunkan kedua teman seperjuangannya agar tidak kalah mental saat menghadapi Nasha.


"Apaan sih?!" Gisel ikut bangun sambil menyentuh wajahnya yang ditepuk oleh Dira.


Aneh, biasanya dia tidak ngiler saat tidur tapi kenapa wajahnya tiba-tiba basah.


"Hem, sudah pagi, yah?" Tidak seperti Dira dan Gisel yang bangun dalam keadaan jengkel serta bingung, Aish malah santai-santai saja seolah tak memperhatikan keberadaan Nasha dan staf kedisiplinan asrama putri yang lain.


"Bangunlah dan segera pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat tahajud berjamaah. Jika tidak cepat-cepat pergi, kalian bertiga akan mendapatkan hukuman dari pondok." Kata Nasha lembut mengingatkan mereka bertiga.


Setelah Nasha berbicara barulah Gisel sadar bila ada orang asing di sekitar mereka. Dia tercengang dan menatap Dira dengan kebingungan.


"Oh, apa pondok pesantren kalian hanya tahu memberikan hukuman saja di sini?" Tanya Aish malas sambil menatap Nasha dengan wajah mengantuk nya.


"Kalian sudah menyiram kami dengan air, bukankah itu hukuman? Tapi kenapa masih mengancam dengan hukuman yang lain lagi setelah kami bangun?" Tanya Aish dengan nada memprovokasi.

__ADS_1


Bersambung...


Nanti malam up Muhasabah Cinta 💚


__ADS_2