Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 28.5


__ADS_3

Keesokan harinya rumah tiba-tiba dipenuhi oleh banyak orang. Orang-orang itu datang berbondong-bondong setelah mengetahui Aish kembali ke rumah. Mereka ingin berkenalan dengan Aish ataupun mengucapkan sepatah dua patah sebagai simbol silaturahmi. Selain itu maksud dari kedatangan mereka adalah karena hari pernikahan Aish sudah ditentukan. Bila dihitung dari hari ini, dua hari lagi akan segera dilaksanakan pernikahan. Terkesan tergesa-gesa, tapi pihak laki-laki sudah mengkonfirmasi bahwa mereka siap bekerja keras dan tidak akan memberikan hasil yang mengecewakan. Dari gedung dan segala macam persiapan pernikahan sudah mulai berjalan di pihak laki-laki. Sedangkan mereka para pihak perempuan, hanya perlu menyiapkan beberapa hal yang tidak terlalu urgent.


"Aisha, ayo turun." Bibi Rumi memanggil dari luar.


Panggilan bibi Rumi berhasil menarik Aish dari lamunannya.


"Baik, bibi." Meletakkan pakaian pengantin di atas kasur dengan hati-hati, dia kemudian keluar dari kamar.


Begitu keluar tangannya langsung ditarik oleh orang-orang. Membawanya ke ruang tamu yang dipenuhi oleh banyak wanita bercadar ataupun tidak bercadar, namun tak satupun dari mereka yang melepaskan jilbab. Hari jadi adem melihat pemandangan ini.

__ADS_1


"Ayo, pilih warna Henna yang ingin kamu gunakan." Bibi Rumi menunjukkan beberapa warna Henna di atas meja.


Tidak banyak, ada 4 jenis Henna yang tidak diketahui namanya. Ada warna merah bata, coklat bata, hitam, dan coklat gelap. Semuanya sangat indah dan menarik.


"Kalau kamu bingung telepon saja habib Thalib. Tanyakan referensi warna apa yang disukai olehnya, sebab kamu menggunakan Henna untuk menyenangkan hati suami kamu saat kalian menikah nanti." Salah satu bibi menyela pikiran Aish.


Sontak saja apa yang bibi itu katakan membuat para wanita tertawa riuh. Mereka menggoda hingga membuat Aish tersipu malu dengan kepala tertunduk.


Namun Aish menggelengkan kepalanya. Dia percaya apapun warna yang dia pilih pasti akan disukai oleh habib Khalid. Toh, siapapun di dunia ini pasti akan memiliki pikiran yang sama bahwa orang yang dicintai akan selalu terlihat menarik apapun yang digunakan ataupun kenakan. Jika tidak terlihat cantik maka terlihat imut, atau terlihat manis, mungkin juga memiliki sentuhan lucu. Intinya, selama itu bernilai kebaikan, semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Enggak perlu, bibi. Aku udah tahu kalau kak Khalid nanti ujung-ujungnya menyerahkan pilihan kepadaku. Dia tidak keberatan warna apapun yang ku pilih nantinya." Tolak Aish malu yang lagi-lagi mengundang tawa jenaka dari para perempuan di ruang tamu.


Jangan tanya seberapa merah warna pipi Aish sekarang. Rasa-rasanya dia belum pernah semalu ini di depan banyak orang. Yang menggelikan di sini adalah semua orang tidak mengejek ataupun mengatakan kata-kata masam tentang hubungannya dengan habib Khalid. Bukannya kesal, tapi mereka malah mendukung hubungan ini. Dari sorot mata mereka yang jernih, Aish dapat melihat nilai ketulusan di dalamnya. Inilah yang membuatnya sangat puas di dalam keluarga ini.


"Masya Allah, suami idaman memang lain yah..."


"Berhenti... berhenti, lihatlah wajah Aisha. Sangat merah. Jika kalian menggodanya terus, wajahnya lama-lama akan mengeluarkan uap panas." Bukannya membantu bibi Rumi malah semakin membuat Aish salah tingkah.


Ugh, dihadapan para wanita yang telah menikah ini, dia sama sekali tidak bisa membuat perlawanan.

__ADS_1


"Baiklah Aisha, ayo ulurkan kedua tanganmu. Kita akan mulai menghiasinya dengan Henna."


Aish menganggukkan kepalanya ringan,"Um."


__ADS_2