Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.15


__ADS_3

"Jangan banyak bicara, lain kali aku ogah ketemu lagi sama kamu." Kata Dira cemberut karena diledekin oleh Khalif.


Khalif pasti menertawakan kekonyolannya sekarang. Dia juga menyesalinya. Betapa bodohnya dia tidak menyadari kalau waktu sudah siang. Mungkin karena terjebak dalam kesedihan membuatnya lupa akan segalanya. Tapi ngomong-ngomong berbicara dengan Khalif membuatnya lupa akan rasa sedihnya sejenak. Padahal dari tadi dia terus menangis meskipun ditahan sekuat tenaga, tapi di depan Khalif air matanya enggan keluar. Apa air matanya pemalu?


Ada-ada saja.


"Terserah. Bukan niat aku juga bertemu denganmu di sini." Khalif mengangkat bahunya tidak peduli. Tanpa sadar nada suaranya tidak keras seperti biasanya ketika bertemu dengan Dira.


Bagaimanapun dia juga seorang laki-laki. Mana tega hatinya terus bersikap keras kepada wanita yang sedang bersedih dan menangis. Karena dia mengerti jadi dia tidak membuat keributan dengan Dira lagi. Tapi episode ini hanya berlaku hari ini saja karena jika mereka bertemu lagi di lain waktu, dia tidak akan sebaik ini.


"Oh ya ngomong-ngomong, kamu dan habib Thalib berasal dari nasab yang sama. Apakah kalian satu keluarga?" Dira murni bertanya karena penasaran.


Ketikan mendengar nama habib Khalid disebutkan, Khalif langsung mendengus tak senang. Mereka mungkin berasal dari nasab yang sama tapi bukan berarti mereka berasal dari keluarga yang sama. Selain itu Khalif sama sekali tidak suka dibanding-bandingkan atau disandingkan dengan habib Khalid, saingan cintanya.


"Kami nggak satu keluarga cuma satu nasab. Apa harus kami satu keluarga karena kami berasal dari nasab yang sama?" Katanya judes.


Dira bingung mendengar perubahan ada suaranya. Dari suaranya Dira menebak bahwa Khalif mungkin tidak terlalu menyukai habib Thalib. Bukankah ini aneh?


Disaat banyak orang mengidolakan sang habib di pondok pesantren, bocah ini malah tidak menyukainya.

__ADS_1


"Ya nggak harus. Tapi bisa nggak ngomong biasa aja, jangan ngegas gitu. Lagian aku cuma penasaran karena kalian memiliki perbedaan yang sangat besar. Lihatlah habib Thalib, dia bersinar kemanapun dia pergi. Sedangkan kamu, kenapa aku tidak pernah melihatmu bersama orang lain setiap kali kita bertemu?" Kata Dira tanpa sengaja menusuk titik sakit di hati Khalif.


Khalif hanyalah seorang sayid. Ilmunya masih belum tinggi dan disamping itu juga dia memiliki kesan buruk di depan banyak santri. Sebenarnya Khalif terbiasa hidup santai di kota dulu. Dia tidak terlalu mendalami ilmu atau belajar kitab seperti saudara-saudaranya yang lain. Zaman sudah maju jadi dia beranggapan bahwa ada baiknya mengikuti zaman daripada menggunakan celana cingkrang atau sarung kemana-mana. Hidupnya yang terlalu santai membuat kedua orang tuanya khawatir sehingga mereka memutuskan untuk mengirim Khalif ke pondok pesantren ini. Harapan mereka Khalif akan berubah dan melepaskan kehidupan bebasnya saat di kota dulu.


Pada dasarnya Khalif tidak pernah hidup sebebas anak-anak lainnya. Dia tidak minum minuman keras, tidak berpacaran, menyentuh wanita, ataupun bermain dengan wanita. Dia masih mengerti batasannya sebagai seorang laki-laki dan dia juga malu dengan darah mulia yang mengalir di tubuhnya. Jadi dia berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol pergaulannya. Hanya saja keluarganya tidak setuju dan tidak senang dengan gaya hidup ini. Keluarganya mengira bahwa Khalif butuh pendidikan yang ketat agar tidak melenceng ke jalan yang sesat. Maka jadilah dia dikirim ke sini.


Pada awalnya dia menolak keras dikirim ke sini tapi saat mengetahui bahwa cinta pertamanya ternyata putri dari pemilik pondok pesantren ini, dia akhirnya mau dengan sukarela pergi ke sini. Tak disangka begitu datang ke sini dia bertemu dengan saingan cintanya, habib Khalid, pesona yang dia miliki membuat Khalif merasa cemas takut bila Nadira terlena.


Dan dia semakin cemas saat mendengar banyaknya rumor yang beredar di pondok pesantren mengenai kedekatan sang habib dengan Nadira. Tidak hanya itu saja, mereka berdua juga di jodoh-jodohkan oleh banyak orang dan berhasil membuat Khalif marah.


"Setiap manusia diciptakan memiliki karakter yang berbeda. Kenapa aku harus mengikutinya hanya karena dia bersinar kemanapun dia pergi? Dan wajar saja dia bersinar ke mana pun pergi karena pendidikannya tinggi dan dia juga terlahir tampan. Ya, aku benar-benar tidak peduli sebenarnya." Meskipun marah, dia tidak pernah membohongi dirinya sendiri bahwa sang habib memang lebih unggul dari dirinya.


Lihat saja reaksi dingin Khalif yang tampak enggan membicarakan masalah ini. Rasanya akan tawar jika diteruskan. Mengalihkan pandangannya melihat punggung kaku Khalif, sekilas Dira menilai jika punggung Khalif mengalami masalah. Dan dia tiba-tiba teringat jika satu minggu yang lalu Khalif sudah menjalani hukumannya. 30 kali cambuk, bukanlah hukuman yang ringan. Dia dengar dari para santriwati di kamar, selama hukuman dijalankan Khalif sama sekali tidak pernah pingsan dan punggungnya tidak pernah kendur seolah-olah cambuk yang menimpa punggungnya tidak sesakit yang orang-orang pikirkan.


"Kamu..." Suaranya ragu-ragu,"Baik-baik aja kan?" Tanya Dira hati-hati.


Khalif menurunkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi pulih." Katanya dingin.

__ADS_1


Melihat ini Dira merasa sangat bersalah. Meskipun ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh Khalif untuk memfitnah mereka bertiga, tapi sesungguhnya dia tidak tega melihat Khalif mendapatkan hukuman yang sangat keras. Karena rasa bersalah ini dia mencoba untuk mengabaikan setiap kabar yang tersiar di pondok pesantren tentang Khalif. Tapi karena beritanya terlalu digembar-gemborkan oleh para santriwati dan santri, mau tak mau tidak mendengar kabarnya juga. Padahal sebenarnya dia tidak ingin.


"Oh..." Dira terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Maafkan aku." Tiba-tiba Khalif mengatakan ini.


"Apa?" Dira kaget.


"Aku minta maaf. Tolong sampaikan maaf ku kepada dua temanmu lainnya." Khalif mengulangi apa yang dia katakan dengan rendah hati.


Setelah merenunginya beberapa hari ini, dia menyadari bahwa tindakannya telah merusak reputasi baik mereka bertiga. Dia juga menyadari bahwa merusak reputasi mereka sama artinya dengan merusak masa depan mereka bertiga. Bahkan Uminya sampai menangis mendengar semua tindakan jahatnya kepada ketiga santriwati itu. Untuk membuatnya sadar, Umi bertanya bagaimana perasaannya jika salah satu gadis yang difitnah adalah adiknya sendiri?


Jelas rasanya sakit. Mana mungkin dia mau menerimanya. Dia pasti akan sangat marah.


Dan sekarang dia menyesalinya. Tapi untung saja kejahatannya dibongkar sehingga nama baik ketika santriwati itu tidak tercemar.


"Masalah itu..." Dira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, canggung saja rasanya mendengar Khalif tiba-tiba meminta maaf. Di antara semua skenario, dia tidak pernah menduga jika suatu hari nanti Khalif meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


"Jangan terlalu dipikirkan karena kami sudah memaafkan kamu. Aku juga ingin minta maaf karena telah mempermalukanmu di depan banyak orang."

__ADS_1


Khalif tersenyum tipis,"Itu bukan masalah besar. Aku sudah melupakannya."


__ADS_2