Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.10


__ADS_3

"Jangan marah, ini salahku. Kali ini aku berlebihan." Di tengah jalan Gisel membuka mulutnya berbicara.


Dada Aish kembang kempis menahan amarah. Sulit mengatakan apakah dia benar-benar marah atau sedih sekarang. Belum pernah selama hidupnya dia menumpahkan kata-kata kejam kepada Aira. Bila Ayah atau keluarganya tahu, bagaimana mengatakannya... Mereka semua pasti akan menyalahkannya karena membuka aib keluarga dan menuduh bila dia terlalu dendam akan masa lalu.


Memikirkannya saja membuat hidung Aish sakit.


"Tidak, Aira yang salah. Aku sangat membenci wanita itu, dia adalah orang yang sangat licik. Entah kata-kata licik apa yang dia katakan kepada habib Thalib, aku harap dia tidak mempercayai apa yang Aira katakan." Dira mengepalkan tangannya marah.


Mana mungkin ini salah mereka bertiga disaat Aira lah yang memprovokasi mereka pertama kali. Harusnya dia yang salah bukan mereka. Namun saat melihat aksinya tadi, dia benar-benar mengerti mengapa Aish selalu kehabisan sabar saat menghadapinya di kota dulu. Orang selicik Aira, lebih pantas berbicara dengan orang sakit jiwa yang lebih banyak memiliki emosi bahagia di hati.


"Aku-"


Tap


Tap


Tap


Kata-kata Gisel tersendat ketika mendengar suara langkah kaki berat di belakang. Heran, dia spontan menoleh ke belakang. Dan betapa terkejut dirinya. Mulutnya terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara melihat siapa yang datang.


"Siapa sih malam-malam begini yang lari- ah," Dira ikut menoleh ke belakang dan langsung menutup mulut serapat mungkin.


Lalu dia dan Gisel saling pandang, berkedip ringan, dan kemudian beralih melihat Aish yang berjalan dengan kepala tertunduk.


Aish sama sekali tidak tertarik dengan suara langkah berat itu karena fokusnya saat ini sedang memikirkan tanggapan sang habib saat berbicara dengan Aira. Mungkinkah sang habib lebih mempercayai Aira dibandingkan dengan dirinya?


Pertanyaan ini berputar-putar di kepala hingga tidak menyadari bila pemilik langkah berat itu sudah berada di depannya.


Bug


Hidung Aish sakit saat membentur tembok- ah, mana mungkin tembok ada di tengah jalan. Marah, tangannya mengelus hidungnya yang sakit sembari mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata gelap itu.


Deg

__ADS_1


Tangan yang sedang mengelus hidung membeku dengan kelopak mata terangkat tinggi menatap tidak percaya pada orang yang kini tengah berdiri di depannya.


Sejak kapan sang habib ada di sini?


"Kak Khalid?" Panggilnya terkejut.


Habib Khalid tersenyum dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman, melihatnya saja membuat Gisel dan Dira merinding disko diam-diam menjaga jarak.


"Kenapa? Kamu sekarang tahu bagaimana memanggil ku?" Tanya sang habib dengan salah satu alis terangkat.


Di bawah sinar rembulan yang redup, penampilan sang habib sangat bersinar dan mempesona. Tanpa menunggu lama Aish langsung tersihir dibuatnya.


"Ah...aku..." Otak Aish ngeblank tidak tahu harus mengatakan apa.


"Sambutan yang buruk, melanggar hukum, dan mengingkari janji. Dalam waktu satu hari kamu melakukan banyak hal yang membuatku terganggu. Maka dari itu malam ini kamu harus menjalani hukuman untuk menebus semua kesalahanmu." Sebelum Aish bisa berpikir jernih dan merenungi kesalahannya, habib Khalid merendahkan tubuhnya dan memeluk pinggang ramping Aish, lalu sedetik kemudian dia mengangkat Aish ke bahunya seperti sedang mengangkat karung.


"Akh!" Ini bukan suara teriakan Aish, melainkan kedua sahabatnya yang menatap ngeri.


Seorang habib, laki-laki yang diidolakan oleh banyak wanita di pondok pesantren, terkenal karena alergi terhadap wanita dan tidak suka berdekatan apalagi bersentuhan dengan seorang wanita. Tapi di sini, mereka berdua melihat dengan kedua mata kepala sendiri bagaimana sang habib memeluk sahabat mereka dan mengangkatnya ke bahu.


Selain itu suasana habib Khalid saat ini sedang buruk, jadi sulit mengatakan apakah sahabat mereka akan melewati malam romantis atau justru sebaliknya, mereka gemetar hanya dengan memikirkannya saja.


"Jika ada yang bertanya di mana Aish, katakan saja dia tinggal di rumah Umi karena suatu urusan. Mengerti?" Habib Khalid langsung mengalihkan matanya kepada Gisel dan Dira yang masih diam membatu di tempat.


"Kami.. kami mengerti habib. Lalu bagaimana dengan sahabat kami, dia mau dibawa ke mana? Habib Thalib tahu kan... Kalau ini masih malam jadi jangan minta dia mencari belut di sawah..." Di sela-sela ketakutannya, Dira masih saja bercanda. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Gisel yang diam-diam memutar bola mata di samping.


Habib Thalib tidak akan gila meminta Aish ke sawah malam-malam begini apalagi sampai mencari belut.


"Jangan khawatir. Kalau gitu permisi, assalamualaikum." Lalu dia dia berbalik dan berjalan menuju arah yang berlawanan dari asrama santriwati. Dilihat dari rute yang diambil oleh sang habib, mereka berdua curiga jika Aish akan dibawa ke asrama laki-laki. Tapi untuk apa?


"Kalian berdua adalah teman laknat!" Ini adalah kata-kata terakhir yang mereka dengar sebelum Aish dibawa menghilang di bawah gelapnya malam.


Dira menggosok hidungnya malu.

__ADS_1


"Ini habib Thalib, master mawar berduri. Kita mana bisa melawan dia. Lagian Aish juga yang nyari penyakit hari ini."


Kali ini Gisel sefrekuensi dengan Dira Dan menganggap bahwa Aish sendiri yang menggali kuburannya sendiri.


"Ayo pergi. Doakan saja dia malam ini baik-baik saja. Aku yakin besok dia akan kembali dan tidak marah kepada kita. Lagi pula siapa yang tidak senang berduaan dengan orang yang kita suka?"


Mereka berdua tidak ambil pusing melihat kepergian Aish. Soalnya yang pergi bersama Aish bukan orang lain melainkan sang habib sendiri. Dan mereka juga tidak khawatir membiarkan Aish pergi bersama sang habib karena orang yang paling bisa dipercaya di pondok pesantren ini adalah hanyalah habib Khalid. Jadi kenapa harus pusing-pusing memikirkan keadaan sahabat mereka bersama sang habib.


...*****...


"Kak Khalid... Aku tahu aku salah, tolong jangan marah kepadaku." Mohon Aish kepada sang habib.


Kepalanya sangat pusing tapi anehnya dia menolak untuk meminta turun karena dia merasa sangat senang dipeluk langsung oleh sang habib.


"Huh, kamu tahu kalau dirimu salah, lalu di mana salahnya?" Suara sang habib dingin tanpa berniat menurunkan Aish dari bahu.


Kakinya yang jenjang melangkah cepat di bawah cahaya bulan yang redup. Melewati jalan setapak yang ditumbuhi oleh banyak semak-semak. Aish tidak memperhatikan habib Khalid akan membawanya ke mana. Kepalanya terlalu pusing dan diam-diam memanfaatkan kesempatan untuk menghirup wangi pakaian sang habib sepuas mungkin. Habisnya dia terlalu rindu dan pada saat yang sama juga merasa cemburu karena sang habib pulang membawa wanita lain.


Punggung kak Khalid sangat kuat. Batinnya kagum.


"Kenapa diam saja?"


"Ah aku..." Aish bingung jawab apa.


Dia tidak merasa telah melakukan kesalahan kecuali perdebatannya dengan Aira tadi.


"Itu bukan salahku. Kalau Aira tidak memprovokasi kami lebih dulu, kami tidak akan memalukan mempermalukannya di depan banyak orang." Gumam Aish sedih.


Itu memang bukan salahnya. Sungguh, tapi karena terlalu marah dia jadi terpanjang emosi dan mengatakan semua isi hatinya.


"Bodoh. Bukan itu." Anehnya sang habib tidak mempermasalahkan masalah tadi.


"Lalu apa?" Aish bertanya bingung.

__ADS_1


"Jika kamu saja tidak menyadari kesalahan yang kamu buat sendiri, lalu kenapa aku harus mengatakannya?" Ucap habib Khalid tidak ramah.


__ADS_2