
Malam harinya setelah selesai shalat isya dan makan malam, semua orang langsung kembali ke asrama masing-masing. Namun di tengah jalan Aish tiba-tiba dipanggil oleh salah satu staf kedisiplinan asrama putri. Staf itu memintanya untuk segera ke kantor karena ada tamu yang sedang mencarinya di sana. Bingung, Aish kemudian pergi mengikuti staf itu berjalan sembari bertanya-tanya siapakah tamu gerangan yang mencarinya malam-malam begini. Dia percaya kalau itu bukan dari keluarga Ayahnya karena orang bilang keluarga itu sudah kembali dari tadi, lagi pula apa yang mereka cari darinya? Dia bukan Aira yang diharapkan oleh keluarga itu.
Oh, ngomong-ngomong tentang Aira sejak pulang dari pasar belum mendapatkan kabar apa-apa. Mungkin saja dia ada di rumah Umi. Karena pada saat pertama kali datang ke pondok pesantren ini Aish juga berada di rumah Umi sebelum dikirim ke kamar asrama untuk menetap menetap.
Jujur, Aish sama sekali tidak peduli dan malah berharap bila anak itu tidak bersekolah di sini. Juga akan sangat sial bila mereka terkurung di tempat yang sama lagi seperti di rumah dulu, ice kalkun bila kedatangan Aira akan mempengaruhi hidupnya seperti dulu lagi.
"Masuklah, di dalam orang itu sedang menunggumu." Setelah berkata begitu staf itu langsung berbalik pergi meninggalkan Aish seorang diri berdiri di depan pintu masuk kantor.
Aish melihat kepergian staf itu dengan cemberut. Lalu dia masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dengan sopan.
"Assalamualaikum, maaf mengganggu-" Suaranya langsung tercekat saat melihat siapa orang yang sedang menunggunya di dalam.
Ayah dan Bunda- Oh, sebut saja dia Ibu tirinya.
Melihat mereka suasana hati Aish langsung menjadi rumit. Terutama saat melihat wajah tua Ayahnya yang jauh lebih kurus dari sebulan yang lalu. Melihat Ayah tidak seperti melihat kedua bibinya tadi siang. Jika kedua bibinya meninggalkan rasa asam dan sakit di dalam hatinya karena kebencian, maka Ayah justru meninggalkan perasaan yang sepi dan sunyi, bohong bila Aish berkata bahwa dia tidak merindukannya. Faktanya Aish sangat merindukan laki-laki ini.
"Waalaikumsalam, Aish masuklah, Nak." Bunda langsung berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Aish duduk di samping Ayah.
Menahan perih di dalam matanya, Aish selanjutnya masuk ke dalam ruangan dan menolak duduk di samping Ayah. Dia membawa dirinya duduk di sofa seberang Ayah.
Ayah melihat tindakan Aish yang menjaga jarak, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk tidak berkomentar.
"Ada apa?" Tanya Aish acuh tak acuh.
Di depan Ayah dan Ibu tirinya dia berusaha bersikap normal dan menahan perasaan asam di dalam hatinya. Dia sama sekali tidak menduga bahwa orang yang datang mencarinya adalah mereka, orang-orang yang selalu mengabaikan keberadaannya.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Nak?" Tanya Ayah canggung.
Aish menundukkan kepalanya enggan melihat wajah Ayahnya- ah, tidak. Lebih tepatnya dia takut melihat wajah Ayahnya. Takut tidak bisa menahan diri dan akhirnya menangis karena kerinduan.
__ADS_1
"Baik-baik saja, di sini sangat menyenangkan." Jawab Aish seadanya.
Ayah menghela nafas lega.
"Syukurlah, Ayah senang mendengarnya."
Canggung, Ayah tidak lagi berbicara. Ayah meremas kedua tangan tuanya tampak terlihat gugup, sepertinya Ayah ingin mengatakan banyak hal namun karena satu alasan dia tidak mengungkapkannya kepada Aish.
Bunda sama sekali tidak tahan melihat pasangan Ayah dan anak itu seperti ini, dan langsung mengambil alih pembicaraan.
"Aish beberapa waktu yang lalu adalah hari kematian Mamamu. Aku tahu kamu tidak bisa datang ke sana untuk menjenguknya jadi aku menggantikanmu pergi menemui Mamamu." Bunda mulai pembicaraan dengan nada yang ramah dan senyuman yang lembut, kata-katanya sebenarnya baik dan bernilai positif tapi di dalam pendengaran Aish dia merasa sangat terhina.
"Kamu salah, hari itu aku pergi ke sana untuk menemui Mamaku. Dan kamu, bahkan jika aku tidak dapat datang ke sana Mamaku tidak akan pernah sudi melihatmu mendatanginya. Kamu tidak akan lupa kan' apa yang kamu dan Ayah lakukan kepadanya?" Ucap Aish sinis.
Kemarahan di dalam hatinya sungguh tidak disembunyikan. Ini bukan rahasia umum lagi dan Ayah seharusnya mengerti alasan kenapa dirinya sangat marah saat ini.
"Dia bukan Bundaku tapi dia Bunda Aira, Bundaku hanya satu di dunia ini yaitu Mamaku!" Balas Aish tak mau kalah.
Melihat betapa keras kepalanya Aish saat ini, kayak tahu bawang tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan ini karena akhirnya tidak akan pernah selesai.
"Nak, berhenti berhenti mengungkit masa lalu lagi. Kasihan Bundamu, dia juga berjasa membesarkanmu hingga tumbuh sebesar ini." Kata Ayah lemah.
Aish memalingkan wajahnya sedih dan tidak berkomentar apa-apa.
Jika bukan karena kesalahan kalian kepada Mamaku dulu, kalian berdua tidak akan perlu bersusah payah membesarkanku. Aku sama sekali tidak berterima kasih untuk setiap rasa sakit yang kalian torehkan hingga aku sebesar ini. Batin Aish sedih.
Melihat Aish tidak berbicara lagi, Ayah pikir bahwa pembicaraan ini akhirnya berhenti. Dia lalu mengganti topik yang lain dan tidak berniat membahas topik tentang perdebatan tadi siang. Membahasnya kemungkinan akan semakin memperkeruh suasana.
"Apakah kamu kekurangan uang?" Tanya Ayah lembut.
__ADS_1
Aish menggelengkan kepalanya dengan jujur, dia tidak kekurangan uang sama sekali.
"Aku punya banyak uang." Ujarnya bangga.
"Uang itu..." Ayah menatap Aish ragu.
Ada tebakan samar di dalam hatinya tapi Aish enggan mengungkapkannya.
"Paman dan bibimu sedang memulai sebuah usaha baru. Mereka kekurangan dana-"
"Maaf, tapi aku menolak untuk memberikannya. Uang itu Mama berikan kepadaku untuk diriku sendiri. Terserah untuk apa aku memakai uang itu, siapapun tidak bisa mengintervensinya sebab uang itu adalah milik Mamaku untuk diriku sendiri." Potong Aish dengan tegas.
Di dalam hati dia bertanya-tanya apakah bibinya itu mengalami masalah di dalam kepalanya? soalnya setelah semua yang dia lakukan kepadanya di rumah itu dan semua penghakiman yang dilakukan kepadanya selama tinggal di rumah itu, apakah Aish masih berniat memberikannya uang?
Itu adalah logika yang gila.
"Ayah mengerti apa yang kamu maksud." Ayah tidak bertanya lagi.
Aish rasa tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi jadi dia segera berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku akan pergi."
"Tunggu, Nak." Ayah menghentikan Aish.
Aish kembali duduk dan menunggu Ayah berbicara.
"Adikmu Aira sudah pindah ke pondok pesantren dan mulai dari besok dia akan resmi masuk ke sekolah yang sama tempatmu belajar. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke pondok pesantren dan pasti sangat sulit beradaptasi dengan tempat yang asing ini jadi Ayah mohon jagalah adikmu dan bantulah dia jika dia mengalami masalah. Kamu juga tahu kan bila Aira mudah sakit dan kelelahan? Dia membutuhkan-"
Selain daripada itu Aish tidak kuasa lagi menahannya. Dia memejamkan matanya berharap kedua telinganya tidak berfungsi pada saat ini. Dan berharap semua kata-kata perhatian Ayah tidak pernah masuk ke dalam kepalanya.
__ADS_1