
"Aira, ada apa denganmu?" Teman sebangkunya menyadari ada sesuatu yang salah dengan Aira.
Wajah lembut Aira tiba-tiba menjadi pucat pasi dan kehilangan warna seolah kekurangan darah.
"Itu...aku sepertinya sulit mempercayai apa yang kalian katakan tadi." Katanya malu-malu seraya menurunkan kelopak matanya, menutupi kilatan keserakahan di dalam matanya.
"Apa yang sulit dipercayai, Aira? Jika kamu bertemu dengan mereka bertiga, aku yakin pasti kamu juga akan mengagumi mereka dan ingin menjalin pertemanan." Kata teman sebangkunya aneh.
Aira tersenyum tipis, terlihat rapuh dan tidak berdaya pada saat yang bersamaan.
"Aku tahu.... Tapi alasan aku tidak mempercayainya adalah karena Aish merupakan saudaraku." Kata Aira langsung mengejutkan mereka.
Aira dan Aish adalah saudara?
Tapi kenapa mereka sama sekali tidak mirip?
Jika Aira memiliki garis wajah yang lembut dan memiliki sentuhan rapuh, maka Aish justru sebaliknya. Aish adalah kecantikan yang tidak mudah untuk didefinisikan. Dia cantik, tapi pada saat yang sama juga indah. Terlebih lagi sikapnya yang tidak mudah didekati sangat menarik. Aish tampak sangat mudah dijangkau namun anehnya ada perasaan bahwa mereka memiliki jarak terhadap Aish. Mereka tidak bisa menjelaskannya, tapi intinya Aish memiliki kecantikan yang seolah keluar dari dalam lukisan. Cantik, indah dan menarik. Semuanya terpadu pada Aish.
Sedangkan Aira hanya bisa digambarkan dengan satu kata yaitu cantik. Itu saja.
"Kalian bersaudara?" Tanya teman kelas yang lain kaget.
__ADS_1
Gara-gara ini, teman-teman kelas yang lain jadi berkumpul di bangku Aira.
Aira mengangguk malu.
"Lalu, kenapa kalian tidak mirip sama sekali?" Tanya yang lain ragu.
Aira tersenyum kecut dan berkata,"Mungkin karena Ibuku dan Ibunya berbeda. Maksudku... Kami lahir dari Ibu yang berbeda. Bunda menikah dengan Ayah setelah Mama Aish meninggal dunia." Katanya setengah berbohong.
Mereka memang lahir dari Ibu yang berbeda, tapi fakta bahwa Bundanya menikah dengan Ayah setelah Mama Aish meninggal adalah sebuah kebohongan.
"Oh pantesan. Aku baru mengetahuinya sekarang. Soalnya kami tidak pernah mendengar tentang ini dari Aish."
"Mungkin itu karena hubungan kami sangat buruk." Ujar Aira sedih.
"Maksud kamu..." Teman sebangkunya ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Aira mengangguk prihatin.
"Karena kami lahir dari Ibu yang berbeda hubungan kami tidak sebaik persaudaraan di keluarga yang lain. Kak Aish sangat membenciku. Dia membenciku dan tak mau mengakui ku sebagai saudaranya. Saking bencinya kepadaku..." Ragu-ragu, tapi dia tetap membicarakannya,"Kak Aish pernah memberikanku sebuah obat terlarang hingga masuk rumah sakit. Dia bilang aku seharusnya tidak lahir di dunia ini.." Kata-kata ini sungguh memilukan dan mengundang simpati mereka.
Mereka tidak menyangka bahwa dermawan asrama dulunya orang seperti ini.
__ADS_1
"Aira, menurutku Aish melakukan itu tidak sengaja dan terbawa suasana hati saja. Aku memahami bagaimana perasaan Aish di dalam keluarga kalian. Dan mungkin karena kalian lahir dari Ibu yang berbeda dia selalu menganggap bahwa hanya ada satu Ibu di rumah itu jadi tanpa sadar dia mengecualikan kamu sebagai saudaranya yang lahir dari Ibu yang berbeda." Seseorang tiba-tiba berkata.
Dia tidak langsung memakan mentah-mentah apa yang Aira katakan karena ini adalah pembicaraan satu sisi. Mereka belum mendengar pembicaraan dari sisi yang lain yaitu Aish. Akan tetapi mengingat sikap dan perilaku Aish saat pertama kali masuk ke pondok pesantren, rasanya agak mustahil Aish melakukan perbuatan itu jika tidak diprovokasi. Tapi ya sudahlah, itu adalah masalah keluarga orang lain dan mereka sebagai orang luar tidak boleh ikut campur.
"Benar Aira, kamu nggak boleh ambil hati itu karena kalian berdua adalah saudara. Maafkan dia dan berusahalah untuk rukun kembali. Tapi yang paling penting sekarang adalah Aish sudah berubah. Dia menjadi gadis yang sangat baik dan rajin belajar. Aku yakin kamu dan keluargamu pasti senang melihatnya sekarang. Karena perubahan yang telah dia lalui dikagumi oleh banyak orang di pondok pesantren." Teman sebangku Aira juga ikut berbicara.
"Aish sudah berubah, sekarang dia membantu banyak orang dan berhasil menarik perhatian habib Thalib, idola di pondok pesantren kita." Yang lainnya ikut berbicara membela sekaligus menghibur suasana hati Aira yang tertekan.
Tidak ada yang memberikan ulasan negatif, baik teman sebangkunya ataupun teman-teman kelas yang lain membicarakan Aish tentang hal yang baik-baik kepada Aira. Ini membuat hati Aira langsung menjadi hancur.
Di dalam hati Aira bertanya-tanya apakah orang-orang ini bodoh atau polos?
Kenapa mereka selalu mengambil sisi positif, berbicara seolah-olah mereka adalah orang-orang yang mulia dan lembut hatinya.
"Aku berharap juga begitu. Inilah alasan kenapa aku pindah ke pondok pesantren juga. Selain ingin menambah ilmu agamaku yang minim, aku juga ingin memperbaiki hubungan persaudaraan ku dengan kak Aish. Oh ya, tadi kalian sempat ngomong kalau kak Aish dekat dengan habib Thalib?" Aira sebel dan langsung mengganti topik lain.
"Iya, rumor ini sempat beredar selama beberapa waktu. Habib Thalib sering terlihat memberi perhatian kepada saudaramu. Dilihat dari sikapnya, mereka berdua seperti cukup dekat sebelumnya. Apakah kalian berdua mengenal habib Thalib di kota dulu?" Tanya teman sebangku Aira.
Habib Khalid sebelum pindah ke pondok pesantren pernah tinggal di Mesir dulu atau di timur tengah negara bagian lainnya, dia tahu bahwa habib Khalid kecil kemungkinannya sehingga di kota lain tapi tidak ada salahnya bertanya karena dia juga penasaran melihat habib Thalib yang selalu perhatian kepada Aish.
"Kami memang saling mengenal karena habib Thalib sempat tinggal di kotaku dulu. Tapi dia cuma tinggal dua minggu di sana dan kebetulan dia berada di kompleks perumahanku. Karena kami bertetangga seringkali kami bertemu dan mulai mengobrol seperti kenalan pada umumnya. Kalian tahu, habib Thalib lah yang memintaku datang ke pondok pesantren ini untuk sekolah. Padahal sekarang aku sudah di akhir semester kelas 12 dan agaknya sulit untuk pindah karena ujian semakin dekat. Namun karena habib Thalib yang memintaku pindah maka aku dan keluargaku memutuskan untuk memindahkan ku pondok pesantren berhubung kakakku juga ada di sini." Katanya berbohong.
__ADS_1
Habib Khalid memang tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan rumah Ayah akan tetapi jarak mereka cukup jauh sehingga tidak dapat disebut sebagai tetangga. Dan di saat tinggal di sana habib Khalid jarang bertemu dengan Aira karena dia lebih banyak berada di luar rumah. Meskipun mereka bertemu habib Khalid tidak berbicara kepadanya tetapi dialah yang mencoba berbicara dengan habib Khalid. Selain itu habib Khalid juga tidak pernah merekomendasikan Aira masuk ke pondok pesantren ini melainkan ini adalah kemauannya sendiri.
Jadi apa yang diucapkan tadi adalah sebuah pembohongan untuk mengelabui teman-teman pondok pesantrennya. Dia terbakar cemburu mengetahui Aish dan habib Khalid memiliki kedekatan di sini. Dia tidak rela dan ingin membuat rumor tentang dirinya. Dia ingin menunjukkan bahwa gadis yang spesial untuk habib Khalid bukanlah Aish namun itu adalah dirinya, Aira.