
Aku sangat bersemangat mendengarnya. Kami akhirnya sholat berdua lagi. Eh, tapi bukankah laki-laki lebih baik shalat di masjid saja?
"Mas Khalid nggak pergi shalat ke masjid?" Orang seperti mas Khalid sangat suka pergi ke masjid, jadi heran melihatnya tidak pergi.
"Khusus hari ini aku tidak pergi ke masjid. Bagaimana mungkin aku meninggalkan kamu di rumah dengan keadaan seperti ini? Aku akan khawatir dan terus memikirkan kamu di masjid. Kalau keadaan kamu baik-baik saja, aku pasti pergi shalat ke masjid bersama paman Ali. Soalnya laki-laki memang sangat dianjurkan pergi shalat berjamaah ke masjid, sementara wanita atau para istri ada baiknya tinggal di rumah saja." Sambil berbicara, mas Khalid mengusap puncak kepalaku yang tidak menggunakan jilbab.
Rasanya begitu nyaman dan pada saat yang sama juga menghangatkan. Aku lega karena mas Khalid sangat perhatian kepadaku. Tapi... Emang sudah sewajarnya mas Khalid perhatian kepadaku karena aku begini juga gara-gara dia. Kalau dia tidak menyiksaku habis-habisan, mana mungkin aku terkapar tak berdaya di atas kasur.
"Kamu mikirin apa lagi sih, sayang? Muka kamu kok sembelit gitu?" Tanyanya sambil tertawa.
Aku memutar bola mataku malas. Masa iya sih dia nggak tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang? Oh, mungkinkah dia pura-pura tidak tahu!
Cemberut,"Mas Khalid kok enteng banget sih ngomongnya? Siapa yang pasang muka sembelit, jelasnya bukan aku! Lagian aku juga seperti ini gara-gara mas Khalid. Udah dibilang berhenti ya berhenti, mas. Tapi mas Khalid sama sekali nggak mau dengerin aku!" Duh gimana nih, padahal aku udah berusaha untuk terlihat cemberut tapi kok wajahku nggak mendukung banget, ya?
Kalau enggak kenapa dari tadi mas Khalid terus tersenyum dengerin aku ngomel?
"Iya, maaf sayang. Jujur aja, rasanya sulit karena itu adalah kamu. Karena asal kamu tahu aja, bagiku kamu adalah godaan terbesar dan yang paling penting lagi kamu halal lagi untukku, jadi mana rela aku melepaskan kamu, sayang. Lagian katanya semalam mau jadi istri solehah? Aku udah berusaha bantuin loh. Jadi jangan ngambek, ya, karena aku bahagia banget sama kamu."
Tuh kan, tuh kan, tuh kan!
Mas Khalid tuh pandai banget ngomong yang manis-manis. Gimana coba aku mau marah sama dia, kalau ngomong aja manis gitu!
"Udah ah...aku, eh, tadi malam kita nggak mau sholat malam' kan?" Rugi banget rasanya ya Allah.
"Aku sengaja nggak bangunin kamu shalat malam. Alasannya seperti yang aku bilang tadi, kamu-"
Sebelumnya mas Khalid membicarakan hal-hal yang aneh lagi, aku langsung memegang mulutnya agar dia berhenti berbicara. Ugh, jika dia terus membicarakan hal yang manis-manis, hatiku tak sanggup menerima gelombang lagi!
"Jangan ngomong lagi, mas. Aku...aku mau ke kamar mandi."
"Biar aku bantu." Dia memegang lenganku. Tapi sekarang aku tolak.
"Jangan, aku bisa sendiri, mas." Tapi saat aku mencoba bangun, aku ternyata tidak mampu karena pinggangku... sungguh tidak bisa diajak bekerja sama.
"Hahahah.." Mas Khalid tertawa lepas.
Jika sebelumnya, aku pasti akan mengagumi suara tawanya. Tapi untuk saat ini, aku sedang tidak mood karena objek yang sedang dia tertawakan, adalah diriku sendiri! Sungguh memalukan.
"Jangan keras kepala. Sini aku bantu."
Akhirnya aku menyerah dan membiarkannya membantuku berdiri. Tapi saat kami berada di depan kamar mandi, tiba-tiba dia ingin ikut masuk ke dalam.
"Mas Khalid mau ngapain di dalam?" Sebenarnya nggak apa-apa sih, tapi di dalam agama kita dilarang melakukannya di dalam kamar mandi.
Kamar mandi kan tempat jin dan syaitan tinggal.
"Ya mandi junub lah, sayang. Memangnya kamu mau ngapain lagi di dalam selain mandi?"
__ADS_1
Aku pikir mau berbuat yang tidak-tidak. Tapi ternyata mau mandi junub, toh.
"Ya..ya, aku kira mau ngapa-ngapain. Tapi...bukannya mas Khalid itu udah mandi ya?" Tanyaku heran.
Mas Khalid sudah berpakaian rapi, wajahnya segar seperti sudah mandi, jadi menurutku dia sudah mandi junub duluan.
"Aku belum mandi, sengaja nungguin kamu bangun biar kita mandi junub bersama-sama."
Duh, jantung ku ribut lagi.
"Lho, terus ngapain mas Khalid ganti baju dan berpakaian rapi seperti ini kalau ujung-ujungnya masih.... belum bersih?"
"Siapa yang ganti baju? Ini kan baju aku semalam yang dipakai shalat. Dan sembari menunggu kamu bangun, aku menyempatkan diri untuk mencuci muka dan membersihkan kamar kita. Hitung-hitung olahraga pagi." Jawabnya dengan senyum manis.
"Oh..." Aku tidak bisa berkata-kata dibuatnya.
Dan baru aku menyadari kalau kamar kami sudah bersih. Tidak ada lagi kelopak bunga mawar merah yang memanjakan mata. Kecuali bunga mawar di dalam vas, semuanya dibersihkan oleh suamiku.
Ya Allah, aku mau kepada suamiku. Sementara aku tertidur, dia membersihkan kamar kami dengan rapi tanpa membangunkan ku. Walaupun aku tidak bertanya kenapa dia melakukan itu, aku tahu bahwa dia sengaja membiarkanku tidur dan memilih untuk membersihkan kamar sendirian agar aku nggak kecapean. Suamiku memang selalu seperti ini, bahkan sebelum kami tinggal bersama.
"Mas Khalid lain kali ajak aku juga kalau mau ngapa-ngapain. Udah aku bilang kan mau jadi istri yang baik untuk mas Khalid."
Tiba-tiba dia merendahkan kepalanya, menarik daguku dan mencium bibirku sensual. Aku hampir jantungan gara-gara ciuman tiba-tibanya.
"Manis, aku tidak tahan lagi." Ucapnya setelah melepaskan bibirku.
Dia tertawa. Telingaku rasanya sangat panas.
"Aku bilang manis. Tepatnya, semua tentang kamu selalu terasa manis." Lagi!
Dia mencium bibirku lagi tanpa persiapan! Kepalaku langsung kosong. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan membiarkan suamiku melakukan apapun kepadaku. Aku sangat malu, namun aku tidak menolak sentuhannya.
Ah, aku rasa-rasanya dibawa melayang. Hingga kami berpisah kembali, benang saliva yang terjerat- aku buru-buru menghapusnya malu.
"Aku belum sikat gigi, mas. Jorok." Kata ku menekankan.
"Manis kok rasanya. Apanya yang jorok, lagian kamu kan istriku."
Tuh kan jawabannya gitu lagi. Paling bisa ngomong yang manis-manis!
"Jangan cium, lagi! Mas Khalid, waktu subuh itu pendek dan sangat berharga, jadi kita nggak boleh buang-buang waktu." Mas Khalid ingin mencium bibirku lagi, tapi dengan sigap aku menahan dadanya.
Aku bukannya tidak mau melayani suamiku, sungguh, malah aku sangat senang melayaninya dan ingin lebih memanjakannya lagi. Namun sayang sekali aku belum mandi dan belum sikat gigi, jadi aku malu melakukannya. Mungkin tidak apa-apa bagi suamiku, tapi bagiku... Ini belum cukup. Aku harus mempersiapkan diri jika ingin menyenangkan suamiku.
"Ya sudah, ayo kita mandi." Ajaknya kepadaku.
Tapi,
__ADS_1
"Haruskah kita mandi bersama-sama?" Soalnya aku malu.
Memang mas Khalid sudah melihat semua bagian tubuhku semalam, tapi sekarang lain cerita.
"Harus, mengapa tidak harus? Kamu tidak mau?" Tanyanya kepadaku.
Rasanya sangat rumit. Dibilang nggak mau aku mau, tapi dibilang mau aku juga ragu-ragu. Soalnya situasi aku lagi berantakan.
"Mandi bersama suami juga dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat bersama Bunda Aisyah. Mereka menggunakan satu bejana dan satu gayung bersama-sama. Masa iya, kita yang katanya ingin mengejar ridho Allah subhanahu wa ta'ala tidak mau melakukan apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lakukan bersama istrinya? Denger lho Aish, melakukan hal kecil ini dapat membuat seorang suami bahagia. Lagi pula apa yang ditakutkan mandi berdua? Pertama aku tidak akan menyentuhmu karena tempat itu diharamkan untuk melakukan hal-hal yang memiliki nilai kebaikan seperti berhubungan intim, kedua aku mengerti apa yang kamu rasakan dan aku memahaminya jadi aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu kembali merasa baik."
Ya Allah aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada suamiku. Dia sangat memahami ketakutan dan keraguan di dalam diriku. Jadi apa lagi yang harus aku ragukan?
Suamiku adalah laki-laki yang baik, dia tidak akan ingkar terhadap janjinya dan dia tidak akan melanggar apa yang Allah larang. Lantas mengapa diriku masih bersikap bingung, seolah meragukan suamiku sendiri?
"Maaf, mas. Aku sebenarnya mau, tapi jujur aku malu kepadamu. Karena hari ini aku sangat berantakan." Um, belum lagi darah- oh, astaghfirullah!
Noda darah di sprei. Aku harus segera membersihkannya nanti.
"Sudah aku bilang apa yang kamu membuat malu dihadapan ku? Aku sudah melihat semua bagian dari tubuhmu semalam, sayang. Dan aku menyukainya. Selain itu situasi ini akan terjadi berulang kali di masa depan nanti, jadi biasakan saja dari sekarang." Sebelum aku bisa mengatakan apa-apa, mas Khalid sudah menyeret ku masuk ke dalam kamar mandi.
Akhirnya tanpa perlawanan, aku dengan patuh mandi bersamanya.
Setengah jam kemudian kami keluar dari kamar mandi dan segera mendirikan sholat. Pertama-tama kami akan shalat fajar, lalu setelah itu baru melaksanakan shalat subuh. Selesai shalat, suamiku memimpin dzikir dan doa, kemudian membaca Al-Qur'an sebentar saja.
"Mas aku akan mencuci sprei nya." Begitu melepas kain mukena, aku buru-buru mengambil kain sprei yang telah dinodai oleh darah merah.
Warnanya sangat mencolok di atas kain sprei putih. Melihatnya membuat ku tersipu malu.
"Biarkan aku saja yang melakukannya." Mas Khalid mengambil kain sprei itu dari tanganku.
"Jangan, mas. Pakai saja mesin cuci untuk membersihkannya."
Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu menggunakan mesin cuci. Biarkan aku mencucinya dengan kedua tanganku sendiri. Karena ada jejakmu di sini yang kutinggalkan."
Kalau mas Khalid sudah berkata begini, aku tidak tahu harus merespon apa.
"Sudah, lebih baik kamu beristirahat saja di sini. Tunggu aku selesai mencuci sprei ini dan kita akan turun bersama-sama ke bawah. Ngomong-ngomong kamu masih bisa jalan kan?" Kenapa mas sekali kalau ngomong suka blak-blakan?
Dan kenapa aku tidak pernah menyadarinya dari dulu?
"Mas Khalid ngomong apa sih? Aku masih bisa kok jalan. Memangnya aku habis ngapain sampai nggak bisa jalan." Suaraku mencicit.
Dia tertawa lagi,"Okay, istriku sangat pemalu. Aku tidak akan menggodanya lagi."
Kemudian dia menarik ku dan memaksaku duduk di pinggir kasur. Sebelum pergi ke kamar mandi, dia mengecup bibir ku singkat dan langsung melarikan diri. Senyum lebar di wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat puas menggodaku hari ini.
__ADS_1
"Ya Allah..." Bibirku terasa aneh setelah dikecupnya.