
Namun melihat gesture laki-laki jangkung ini, Gisel memiliki sedikit kesan. Dia mungkin pernah melihatnya di pondok tapi tidak yakin juga karena suaranya cukup asing.
"Aku tidak tahu apa kesalahan yang pernah kamu lakukan dalam hidup ini hingga membuat dirimu jadi putus asa dan mempertanyakan kelayakan diri sendiri dihadapan Allah SWT, aku tidak tahu dan tidak mau tahu sebab itu adalah urusan mu dengan Allah SWT, Sang Maha Kuasa. Namun yang ingin aku beritahu adalah bahwa Allah SWT tidak pernah menutup pintu taubat terhadap hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Ingat, sebesar apapun dosamu, kecuali menyekutukan Allah SWT, kamu masih memiliki jalan untuk terus melangkah lebih dekat kepada-Nya." Suara laki-laki jangkung itu dipenuhi oleh sentuhan kedewasaan yang hangat tapi pada saat yang sama memiliki rasa jarak yang tidak disamarkan.
Siapakah dia, Gisel belum pernah merasa begitu tunduk ketika berbicara dengan seseorang. Dia ingin tahu tapi pada saat yang sama tidak memiliki keberanian. Dan sayang sekali malam ini langit hanya dipenuhi lautan bintang tanpa ada cahaya sang rembulan. Oh rembulan, kemana dia pergi?
Jika saja ada di sini, maka dia bisa membantunya menerangi seperti apa wajah laki-laki jangkung terasing ini.
"Apakah Allah benar-benar tidak marah denganku?" Tanyanya ragu-ragu.
Laki-laki jangkung itu lalu menjawab dengan nada yang sama,"Kuncinya kesungguhan. Bila kamu bersungguh-sungguh bertaubat, menyesali semua yang terjadi maka Allah SWT senantiasa akan menerima taubat mu. Namun jika kamu tidak bersungguh-sungguh bertaubat, maka hasilnya tidak perlu ditanyakan lagi. Kamu tidak akan akan mendapatkan nikmatnya sebuah iman dan manisnya sebuah kerinduan kepada Sang Maha Kuasa, Allah SWT."
Gisel menundukkan kepalanya sendu. Tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya merindukan apa yang orang-orang rasakan ketika merindukan Sang Maha Kuasa. Dan dia bahkan cemburu melihat betapa taat wanita-wanita di sekelilingnya. Mereka dibesarkan tertutup, menggunakan kain panjang yang menghalangi pandangan kawan jenis dengan akhlak yang sangat terpuji. Gisel cemburu, bertanya-tanya apakah dia juga bisa berdiri di posisi ini?
__ADS_1
"Tapi aku merasa diri ini tidak layak.." Bisik Gisel sedih.
Laki-laki jangkung itu mengernyit tidak senang saat mendengar Gisel lagi-lagi merendahkan dirinya. Ini adalah keragu-raguan yang dibisikkan oleh setan kepada para hamba Allah yang ingin bertaubat atau hijrah. Tidak jarang manusia akan terjebak di dalam.
"Allah SWT adalah Maha Pengampun. Tidak perduli seberapa besar dosa yang telah kamu perbuat, Allah SWT akan selalu memberimu kesempatan untuk bertaubat. Kuncinya hanya ada di dalam dirimu sendiri. Seperti yang ku bilang tadi, apakah kamu bersungguh-sungguh atau tidak adalah titik yang paling penting di sini. Dan tahukah kamu bahwa Allah sangat senang dengan hamba-Nya yang bertaubat. Dibandingkan dengan hamba Allah yang tidak pernah berbuat dosa, Allah lebih senang dengan seorang pendosa yang berbalik bertaubat kepada-Nya. Dan apakah kamu tahu apa alasannya? Itu karena Allah SWT selalu mencintai hamba-Nya dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian. Allah SWT selalu ada dan hadir di setiap langkah hamba-hamba-Nya. Ingatlah, Allah SWT berfirman dalam hadis Qudsi bahwa, 'apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati- Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta.'' (HR Bukhari dan Muslim). Jadi apalagi yang kamu ragukan? Allah SWT telah membentangkan jalan seluas-luasnya untuk hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat juga bertakwa. Lalu melangkah lah, kejar dan terus dekatkan diri kepada Allah SWT hingga suaramu di dengar oleh-Nya. Bayangkan betapa luar biasanya perasaan itu saat Allah SWT membalas tangis penyesalan mu? Aku pastikan, kamu tidak akan pernah menyesalinya."
Gisel tercengang. Bulu matanya yang basah entah sejak kapan berkedip ringan ikut terhanyut dalam kata-kata indah yang laki-laki itu sampaikan. Betapa manisnya, Gisel tanpa sadar menangis dalam kebisuan yang terikat perasaan rindu yang begitu manis.
Jangan ragu, jangan takut. Allah... tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Kata-kata ini terus bergema di dalam kepalanya seolah menekankan bahwa dia tidak boleh berputus asa.
"Papa...Papa, dimana?!" Suara manis seorang anak perempuan tiba-tiba menginterupsi ucapan Gisel.
Gisel sontak menutup mulutnya sambil mengarahkan matanya menatap ke arah sumber suara. Tak berselang lama kemudian, anak perempuan itu benar-benar muncul di sini dan langsung berlari cepat seolah ada pegas di kakinya sebelum melemparkan diri ke dalam pelukan laki-laki jangkung itu.
__ADS_1
"Papa!"
Gisel langsung melongo di tempat. Dari sekian banyak tebakan, dia tidak pernah menyangka jika laki-laki ini adalah Ayah dari anak perempuan ini?
Gisel tertipu- dia sendiri lah yang beranggapan jika laki-laki jangkung ini masih lajang!
"Sina kenapa ke sini? Mama mana dan kenapa enggak temenin Sina dulu?" Nada laki-laki jangkung itu tanpa sadar menghangat saat berbicara dengan putrinya.
"Mama ada di luar ngomong sama bibi, Pa. Pa..ayo pulang. Sina sudah mengantuk ~"
Laki-laki jangkung itu tersenyum lembut dengan tangan terangkat menyentuh puncak kepala putri terkasihnya.
"Baiklah, ayo pulang. Papa juga sudah mengantuk." Lalu tubuhnya miring ke samping dan berbicara kepada Gisel,"Kalau begitu kami pergi, assalamualaikum." Salamnya sopan sebelum membawa langkah panjangnya perlahan menjauh dari Gisel.
__ADS_1
Gisel termenung,"Waalaikumussalam." Bisiknya menjawab.
Aneh, hatinya tiba-tiba terasa tidak nyaman.