Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.15


__ADS_3

Hari ini Habib Khalid memberikan Aish uang 500.000 tapi ia tidak berniat menggunakannya. Uang itu disimpan dengan baik di dalam saku pakaian dan menukarnya dengan uang yang sudah ada di dalam saku sebagai ganti untuk membeli barang. Ia membeli beberapa barang seperti kebutuhan pribadi wanita untuk mandi, untuk sehari-hari, dan beberapa makanan ringan yang akan dibagikan kepada teman-temannya sebagai bentuk syukur atas dukungan mereka kepadanya tadi malam. Tadi malam sebagian dari teman kamarnya mengatakan bahwa mereka percaya kepadanya dan kedua sahabatnya bahwa mereka sama sekali tidak berniat melarikan diri dari pondok pesantren. Ia lega karena orang-orang itu tidak memandangnya dengan sebelah mata seperti yang dilakukan oleh keluarga Ayahnya.


Dan betapa leganya ia sekarang karena hatinya tidak sesepi dulu dan hidupnya lebih damai dari sebelumnya.


Mereka menghabiskan waktu di dalam toko serba ada lebih dari satu jam yang dijanjikan oleh sang habib. Untungnya sang habib memiliki urusan dan segera keluar dari toko untuk menyelesaikannya sehingga dia tidak bosan menunggu mereka bertiga berbelanja.


"Sudah selesai?" Habib Khalid masuk dari luar.


Mereka bertiga sekarang sedang duduk di tempat habib duduk sebelumnya bersama dengan barang-barang belanjaan mereka di atas meja dan di lantai. Dira dan Gisel menaruh barang-barang belanja mereka di atas meja sedangkan Aish membawa belanjaannya di atas lantai tepat di samping kakinya.


Aish menjawab,"Sudah, kak. Apa kita sekarang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan buat besok?"


Habib Khalid menggelengkan kepalanya dan lantas membuat mereka bertiga bingung.


"Apa yang dibeli? pondok pesantren sudah punya semuanya dan kalian hanya perlu mengerjakannya saja." Ujar habib Khalid.


Mereka bertiga lagi-lagi bingung. Jika semuanya sudah ada di pondok pesantren, lalu mengapa habib Khalid mengajak mereka keluar dengan menggunakan alasan untuk membeli barang-barang kebutuhan sawah besok?


Dira dan Gisel tidak ragu bahwa alasan sang habib membawa mereka keluar adalah karena ingin menghibur hati Aish. Sebab sejak awal mereka melihat interaksi habib kepada Aish, mereka berdua memiliki intuisi bahwa habib Khalid sebenarnya memiliki perasaan kepada Aish, namun Aish nya saja yang tidak terlalu percaya diri dengan dirinya sendiri dan selalu meragukan apa yang mereka berdua katakan. Padahal faktanya memang seperti itu.


Tapi ya sudahlah, mereka juga senang kok begini saja. Biarkan waktu yang menjawab seiring dengan kepercayaan diri Aish yang semakin tumbuh tinggi dan mereka berharap pada saat hari itu tiba harapan mereka benar-benar terjadi bahwa habib Khalid memang menyukai sahabat tercinta mereka.


"Jadi...kenapa kak Khalid membawa kami ke sini?"


Gisel dan Dira langsung tepuk jidat, mengapa sahabat mereka ini tidak terlalu peka? Jelas-jelas habis Khalid melakukannya demi dirinya.

__ADS_1


Tapi mereka berdua adalah penonton di sini dan sejatinya mereka hanya bisa diam.


"Masih belum jelas? Ini untuk kamu." Jawaban yang sangat singkat tapi mengena langsung dalam hati Aish.


Bom


Bom


Bom


Jantung Aish langsung berdegup kencang!


Tercengang, tanpa menunggu Aish bereaksi habib Khalid langsung berbalik sambil membawa belanjaan Aish keluar dari toko serba ada. Meninggalkan Aish yang masih berdiri membeku menatap punggung tegak tinggi itu menjauh dari pandangannya. Sampai akhirnya kedua sahabatnya tidak tahan lagi. Mereka berdua menerkam Aish dan memeluknya hangat ikut bahagia.


"Alhamdulillah Aish aku senang banget dengernya." Bisik Gisel bahagia.


Aish langsung ditarik dari dalam lamunan. Dia tersadar menatap kedua sahabatnya dengan berbagai macam pikiran tak menentu. Jadi ia tidak salah dengar tadi?


Maka apa yang habib Khalid katakan sebelumnya memang benar bahwa tujuan habib Khalid membawa mereka keluar adalah untuk Aish?


Manis, tapi mengapa matanya terasa perih?


"Jangan menangis! Jangan menangis, Aish! kamu tidak akan cantik kalau menangis." Tangan Gisel mengusap sudut mata Aish yang mulai berair.


Sahabatnya ini pasti sedih karena masih ada orang di dunia ini yang mau menyayanginya sepenuh hati, sama seperti Aish, dirinya pun merindukan perasaan itu.

__ADS_1


"Aku tidak, aku tidak menangis, kok." Aish membantah malu.


Dira dan Gisel tidak keras kepala, mereka juga tahu kalau Aish pasti malu sekarang.


"Kalian berdua jangan ngomong aneh-aneh, deh. Nanti kalau di dengerin sama orang lain nama habib jadi buruk. Aku nggak mau ngerusak reputasi habib Khalid." Berisik Aish berusaha menenangkan hati.


Dia tidak setuju karena menurutnya, apa yang dia lihat selama ini adalah bahwa habib Khalid lah orang yang sering mencari dan menghampiri Aish. Dalam artian habib Khalid lah yang berusaha mendekat kepada Aish di pondok pesantren. Dan jika habib Khalid emang benar-benar peduli dengan reputasinya maka dia pasti sudah lama menjaga jarak dari Aish. Tapi justru sebaliknya, bukan menjaga jarak habib Khalid malah semakin mendekat kepada Ais seolah-olah mereka selalu dipertemukan dengan cara yang tidak disengaja. Yah tidak disengaja, sekilas itu terlihat tidak disengaja tapi bagi orang yang bermata tajam mereka merasa janggal karena pertemuan itu tidak sekali atau dua kali namun berkali-kali.


Fyi, rumor yang beredar selama ini di kalangan para santriwati adalah habib Khalid orang yang paling sulit ditemui di pondok pesantren karena habib adalah orang yang sangat sibuk. Yah, sangat sulit ditemukan kecuali habib Khalid sendiri yang keluar.


"Aish, ayo percaya diri dan jangan lemah." Dira mengguncang pundak Aish.


"Bila dia memang sangat menjaga reputasinya maka dia pasti telah menjaga jarak darimu sejak awal pertama kali kalian bertemu, tapi nggak, kan? Dia nggak mau jaga jarak dari kamu. Sesekali kalian pasti akan bertemu lagi dan lagi. Coba jujur, di pondok pesantren kamu merasa nggak kalau kamu adalah satu-satunya gadis yang selalu beruntung bertemu dengan habib Khalid berkali-kali?"


Ya, Aish akui bahwa dia selalu merasa jika dirinya di spesialkan oleh habib Khalid. Karena mungkin dia adalah satu-satunya gadis yang ditemui sang habib di tengah malam, berbicara ataupun mengobrol dan bahkan pernah menyentuh tangan serta wajahnya. Selain dari dirinya, Aish belum pernah mendengar rumor apapun dari orang-orang bahwa habib Khalid pernah menyentuh ataupun mengobrol lama dengan seorang gadis di pondok pesantren. Tidak, tidak pernah sama sekali mendengarnya.


Dan Aish juga belum pernah mendengar ada satupun gadis yang diberikan makanan oleh sang habib. Terkadang Aish berpikir mungkin karena mereka pernah bertemu di kota dulu atau karena habib Khalid adalah seorang kenalan dari almarhum Mamanya dulu, makanya sikap sang habib kepadanya sangat baik. Tapi ini terlalu berlebihan dan Aish tidak yakin.


Perhatian habib Khalid kepadanya terlalu lembut, memberikan ilusi seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih.


"Apakah mungkin?" Wajah Aish memerah terang.


"Jadi kamu merasakannya kalau habib Khalid ada sesuatu sama kamu?" Bukannya menjawab Gisel malah balik bertanya balik.


Aish menundukkan kepalanya malu dan diam-diam mengangguk di bawah pengawasan mata kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sering merasakannya."


__ADS_2