Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.7


__ADS_3

"Is-istri? Habib Thalib sudah menikah dengan Aish?!" Seketika pondok pesantren gempar dengan berita ini.


Banyak asumsi beredar mengenai hubungan mereka setelah sang habib memeluk Aish. Ada yang mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan darah entah jauh atau dekat yang penting mereka berasal dari satu keluarga. Kalau tidak bagaimana mungkin seorang habib memeluk wanita yang bukan mahramnya?


Banyak santriwati setuju dengan pendapat ini. Mau tak mau hati mereka berharap bahwa sang habib masih lajang, sehingga mereka masih memiliki kesempatan untuk mengejar sang habib. Tapi setelah mendengar pengakuan langsung dari sang habib, semua orang saling menatap tak percaya. Ada yang shock karena terkejut, ada pula beberapa orang yang pasrah dan menolak menerima kenyataan ini.


"Bagaimana mungkin habib Thalib menikah dengan Aish?" Suara-suara keraguan mulai bermunculan.


"Bukankah itu mungkin saja, Aish adalah seorang Syarifah. Mereka memiliki nasab yang sama jadi itu wajar-wajar saja habib Thalib memutuskan untuk menikah dengan Aish." Namun di antara mereka masih ada orang yang berpikir jernih dan positif.


"Tapi... Menurutku Nadira jauh lebih baik..."

__ADS_1


"Hush, apa bedanya? Mereka sama-sama seorang Syarifah. Jika Aish masih belum cukup dalam ilmu agama, habib Thalib tak akan membiarkannya begitu saja. Dia pasti akan membantu Aish memperdalam ilmu agamanya."


Abah dan Umi juga sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa gadis yang telah menguasai hati sang habib hingga menolak kedua putri mereka ternyata tiada lain adalah santriwati di pondok pesantren mereka sendiri. Dan mereka sama sekali tidak menyangka bahwa gadis ini telah dinikahi oleh sang habib tanpa sepengetahuan mereka.


"Jadi dia orangnya." Gumam Umi heran. Pantas saja sang habib memiliki perhatian yang sangat besar kepada gadis ini pikirnya.


"Selain cantik dan menawan, identitas Aish sangat spesial. Pantas habib Thalib menolak kedua putriku." Gumam Abah mulai mengerti. Sekarang dia tidak terkejut melihat kegigihan sang habib mempertahankan gadis misterius itu, jika gadis itu adalah Aisha Rumaisha, seorang gadis yang lahir dari seorang Syarifah terpandang, maka semuanya tidak salah dan wajar saja. Abah akhirnya mengerti.


Sebagian besar orang berdiskusi namun ada juga beberapa orang yang tak bisa berkata-kata. Lidah mereka seolah kelu tak mampu mengucapkan satu patah katapun. Rasanya hati ini seolah tercabik-cabik orang yang dikagumi secara diam-diam telah memiliki seorang istri tanpa sepengetahuan mereka.


"Ya Allah, apakah habib Thalib tidak berbohong? Jika dia tidak berbohong, ya Allah sungguh sangat kuasa dan tak terduga skenario yang telah Engkau siapkan untuk kami. Tak kusangka bahwa jawaban yang kucari ternyata tepat berada di depanku sendiri. Ya Allah sungguh munafik bila diri ini mengatakan tidak sakit hati. Engkaulah saksinya betapa sakit hati hamba saat ini, betapa hancur yang hamba rasakan sekarang. Ketika mengetahui bahwa habib Thalib memiliki seorang gadis di dalam hatinya, hamba berusaha untuk melepaskan habib Thalib dari hati. Hamba pikir butuh waktu lama dipertemukan dengan gadis itu. Namun yang hamba tak sangka adalah Engkau pertemukan kami dalam jarak waktu yang sangat singkat. Bagaimana mungkin hati ini tak sakit mengetahui kebenarannya?" Monolog Nadira bergumam pada dirinya sendiri. Dia sangat, sungguh sangat terkejut.

__ADS_1


Sementara itu situasi Aira jauh lebih buruk dari Nadira. Dia merasa tertampar, hatinya diremukkan oleh kecemburuan yang telah mendarah daging entah sejak kapan. Dia bingung mengapa kakaknya sangat beruntung. Tidak, apakah yang dikatakan oleh sang habib tadi itu benar?


Sejak kapan Aish menikah dengan habib Khalid dan mengapa dia ataupun keluarga yang lain tidak tahu menahu soal masalah ini?


Tidak, ini tidak benar. Ini pasti sebuah kebohongan.


"Tidak, ini tidak benar. Habib Thalib tolong jangan berbohong. Aku tahu seperti apa kakakku. Jangan berbohong untuk melindunginya. Semakin kamu melindunginya, maka dia akan terus menyakitiku. Baginya kehidupan ku adalah sebuah permainan. Dia mengintimidasi aku semenjak kecil karena kecemburuan yang tak pernah padam. Asal habib Thalib tahu, dia cemburu melihatku berprestasi di sekolah, cemburu melihatku disayangi oleh keluarga, dan iri melihat Ayah lebih menyukaiku dari pada dirinya. Aku sangat yakin bahwa dialah yang memberikan kita obat-obatan terlarang. Jadi kumohon habib Thalib, jangan melindunginya. Dia adalah pelaku dari semua masalah ini dan aku ingin melihatnya bertanggung jawab!" Kesabaran Aira sudah habis.


Mungkin karena dipicu oleh pengakuan sang habib, dia berteriak menyalahkan Aish. Bersikeras bahwa Aish adalah pelaku yang membuatnya terjebak dalam masalah ini. Dia bahkan tak segan mengungkit masa lalu. Menuduh bahwa Aish selalu cemburu kepada dirinya, menganggap bahwa Aish iri hati melihat kasih sayang Ayah lebih condong kepada dirinya. Sungguh, dia tidak sadar bahwa apa yang telah dia katakan membuat mata sang habib kian dingin. Jelas bahwa sang habib sangat marah sekarang.


Tiba-tiba di balik keramaian, Gadis dengan percaya diri berbicara dengan suara lantang.

__ADS_1


"Itu benar, aku adalah saksinya. Aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri bagaimana Aish menaruh sebuah obat ke dalam gelas air minum. Aku tidak tahu apa yang dimaksudkan dan aku sama sekali tidak berpikir yang aneh-aneh. Tapi setelah kejadian kemarin, aku akhirnya tahu bahwa itu adalah obat-obatan. Dan apa yang dikatakan Aira sangat masuk akal. Aish punya alasan yang sangat jelas untuk mencelakai Aira. Mengapa aku sampai berkata seperti ini? Itu karena aku sering melihat mereka berdua bertengkar. Lebih tepatnya aku sering melihat Aish mencari masalah kepada Aira lebih dulu di pondok pesantren. Sepertinya Aish tidak suka melihat Aira datang ke pondok pesantren sehingga dia terus-menerus mencari masalah kepada adiknya sendiri. Aku tidak terkejut melihat kejadian hari ini karena aku tahu betapa bencinya Aish kepada Aira. Kebenciannya tidak dapat disangkal." Ucap Gadis memberikan kesaksian palsu.


Gadis awalnya tak berniat ikut campur dalam masalah ini dan ingin berperan sebagai penonton, menonton drama yang ingin ditunjukkan oleh Aira. Sejujurnya dia juga sangat marah kepada Aira karena berani-beraninya menuduh sang habib. Tapi ketika dia mendengar pengakuan sang habib dan saat matanya menangkap pelukan perlindungan sang habib kepada Aish, tiba-tiba dia membuat keputusan yang sangat berani. Dia cemburu dan tak rela, tidak mau menerima kenyataan bahwa habib Khalid menikah dengan Aish. Itu sangat konyol, kan?


__ADS_2