Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.12


__ADS_3

Dia memperbaiki duduknya dan menatap Leni dengan senyum sopan di wajahnya.


"Iya kak, aku baru pindah satu bulan yang lalu. Kakak juga sekolah di sini ternyata." Lanjut Gisel berbicara. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan seorang kenalan di sini.


Gadis yang dipanggil Leni itu tersenyum kecil, tampak dibuat-buat,"Aku dari dulu memang sekolah di sini. Beruntung bertemu kamu di sini. Saat pulang kemarin aku sempat mendengar jika kamu mengalami masalah besar di kota dan harus angkat kaki. Kupikir kamu tinggal di luar kota dan tidak melanjutkan sekolah lagi mengingat masalah mu. Tapi ternyata dugaanku salah karena kita bertemu lagi di sini. Dan ya.... Aku memang sempat curiga saat mendengar nama Gisel yang baru-baru ini dibicarakan banyak orang. Aku pikir Gisel itu bukan Gisel yang bukan yang aku kenal. Tapi lagi-lagi dugaanku salah, karena Gisel yang kudengar adalah Gisel yang ku kenal."


Akan bodoh jika mereka bertiga tidak bisa melihat ada celaan di dalam suaranya. Leni jelas sedang mencari masalah di sini dan sengaja mempermalukan Gisel. Gadis ini benar-benar sesuai dengan bentuk wajahnya yang menyebalkan. Tampak menyebalkan dan menjengkelkan pada saat yang sama.


"Kak Leni yah, boleh tahu nggak kakak pakai perawatan wajah apa?" Tanpa menunggu Gisel mengatakan apa-apa, Aish lebih dulu angkat suara.


Leni merasa tersanjung, tangannya sontak menyentuh kulit wajahnya yang mulus dan licin,"Aku nggak pakai perawatan apa-apa. Memang beginilah wajahku sedari kecil. Kenapa memangnya?" Kedua telinganya sudah berdiri siap mendengar kata-kata sanjungan atau pujian dari Aish.


Aish tertawa kecil. Dia menutup mulutnya sambil melihat Leni malu-malu,"Oh, pantesan aja. Soalnya warna kulit kakak agak kusam dan permukaan kulit kakak terlihat jelek, seperti orang yang kelelahan bekerja di sawah. Kak Leni, aku sarankan ya agar kakak segera merawat kulit wajah hitam kakak yang rusak serta jelek sesegera mungkin. Kalau tidak, laki-laki pasti takut dan melarikan diri ketika melihat kakak seperti ini." Aish berbicara dengan nada polos yang dibuat-buat, bertindak seolah-olah apa yang dikatakan itu merupakan kata-kata yang baik tanpa berniat buruk.


"Pftth.." Dira langsung menutup mulutnya menahan tawa. Sahabatnya ini sekali ngomong yang keluar bukan kata-kata, tapi pisau. Sakitnya sampai ke dalam jiwa, bisa dibayangkan betapa malunya Leni saat ini.


Wanita paling tabu soal kecantikan atau fisik. Mereka lebih suka dipuji daripada dikritik. Sama seperti Leni, setelah mendengar apa yang Aish katakan tadi, wajahnya langsung menjadi pucat pasti kehilangan warna. Dan kedua tangannya mengepal menahan amarah dengan bibir bergetar siap meledak kapan saja.


Tidak ingin tinggal diam, Dira langsung menyahut,"Aku punya solusi, kak? Kenapa kakak tidak ikut perawatan saja ke klinik Bnung's? Sekali perawatan harganya memang mahal, mungkin puluhan juta, tapi hasilnya luar biasa bagus, kak. Kalau kak Leni nggak percaya coba lihat deh kulit kami bertiga. Bagus dan cantik'kan? Ini semua adalah hasil perawatan kami di klinik Bnung's. Perawatan di sana sama sekali tidak membuang uang." Kata Dira sembari memamerkan kulit wajahnya yang cerah dan putih. Meskipun sedikit menurun karena tidak pernah melakukan perawatan lagi, tapi dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah melakukan perawatan, kulitnya jauh lebih baik.


Dada Leni terbakar amarah. Jantungnya bergerak kembang kempis memompa oksigen sebanyak mungkin seiring dengan kemarahan yang semakin memuncak. Marah, sangat marah hatinya. Kedua orang ini bekerja sama untuk menghina wajahnya yang tidak terlalu cantik? Sangat berani. Belum pernah dia merasakan serangan kejam seperti ini. Biasanya orang-orang tidak akan berani berbicara terlalu banyak kepadanya karena dia adalah senior di sini. Tapi kedua orang ini sama sekali tidak memberikan wajah kepadanya sedikitpun!


"Kalian berdua menghinaku?" Tanyanya dengan mata melotot.

__ADS_1


Aish menatap Leni aneh,"Siapa menghina kak Leni? Beraninya kami!" Aish menolak mengaku.


Dia bukan orang bodoh.


"Jika kamu dan temanmu tidak berniat menghinaku, lalu apa maksud dari perkataan kalian berdua tadi?" Tanya Leni semakin marah.


Dia tahu bila Aish dan Dira sedang mempermainkannya sekarang. Kedua orang ini- ah, mereka bertiga termasuk Gisel adalah orang-orang nakal yang telah menjadi bahan gosip di pondok pesantren. Terutama gadis yang bernama Aish. Sudah berapa kali santriwati dibuat cemburu olehnya karena terlalu dekat dengan sang habib. Bahkan semalam, sang habib secara terang-terangan mengiriminya sesuatu, perhatian yang banyak di angan-angankan oleh santriwati. Dia cemburu, kenapa tidak?


Jadi gunakan saja masalah ini untuk menyerangnya. Buat di kapok agar jangan bersikap sombong.


"Aneh kak Leni ini, dari mana dari kata-kata kami yang berdiri merendahkan kak Leni? Jelas-jelas kami berdua ingin memberikan solusi yang bagus untuk kak Leni, sebab kami berdua sangat prihatin dengan kondisi kulit wajah kak Leni yang sangat buruk."


Dira memasang ekspresi serius berpura-pura kecewa dengan reaksi Leni yang berlebihan. Seolah-olah dia memiliki tujuan yang sangat baik saat mengatakan 'solusi' perawatan wajah yang baik.


"Jangan bersandiwara. Aku bukan orang bodoh. Selama aku tinggal di sini bukannya aku tidak tahu kelakuan kalian bertiga yang sangat suka menciptakan masalah di pondok pesantren."


Aish tidak berpura-pura sok ramah dan baik lagi di depan Leni. Dia tidak pernah mencari masalah-ah, dia memang mencari masalah. Tapi bukan dia yang memulai duluan. Melainkan Leni lah. Jika gadis busuk ini tidak memulai pertengkaran lebih dulu dengan menghina Gisel, yaitu mengungkit rasa sakitnya, maka dia pasti tidak akan membuat keributan juga.


"Beraninya kamu berbicara seperti ini kepada seniormu sendiri! Tidak sopan. Lagi pula itu urusanku bila wajahku jelek atau tidak, kenapa kamu repot-repot mengurusnya?" Kata Leni mulai kehabisan nafas.


Berbicara dengan Aish dan Dira benar-benar menguras emosinya. Dia sangat ingin menampar wajah sok cantik itu dan membuatnya seburuk mungkin agar jangan bersikap angkuh hanya karena dia memiliki wajah yang cantik.


"Yo, kamu tahu apa artinya jangan mengurusi urusan orang? Lalu kenapa kamu begitu bangga mengurusi urusan Gisel? Tidak peduli hubungan apa yang kalian miliki, kamu tidak memiliki hak itu kawan. Jadi sebelum menasehati orang, coba kembalilah ke kamarmu dan bercermin dengan baik. Lihat dirimu di cermin baik-baik dan perhatikan! Apakah kamu sudah sempurna? Apakah kamu adalah manusia yang suci? Dan apakah kamu tidak memiliki dosa di dunia ini hingga begitu pandai mengurusi urusan orang lain. Bahkan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kekasih Allah subhanahu wa ta'ala, orang yang sudah pasti masuk ke dalam surga-Nya tidak sebangga dirimu yang jauh dari kata sempurna. Dia mulia tapi dia tidak pernah mengurusi urusan orang lain atau menyibukkan kekurangan orang lain, sedangkan kamu? Kamu hanya senior di pondok pesantren ini tapi lagak mu salah sudah pasti saja masuk ke surga. Apakah kamu tidak malu dengan dirimu sendiri yang penuh akan kekurangan? Dan apakah kamu tidak mau mengurusi urusan hidup orang lain di saat kamu sendiri penuh akan kekurangan?" Aish mencercanya dengan segala macam pertanyaan tajam.

__ADS_1


Gadis seperti Leni ingin sekali dia permalukan agar orang ini sadar bahwa di atas langit masih ada langit. Hanya karena dia adalah seorang senior di sini dia bisa memandang rendah orang lain dan hanya karena dia tidak melakukan dosa yang dilakukan oleh Gisel, dia menjadi manusia suci. Logika macam apa ini?


Jika benar begitu, maka mengapa moral itu dibutuhkan dalam hidup ini?


Mengapa akhlak di nomor satukan di dalam hidup ini sedangkan ilmu di nomor dua kan?


"Kamu!" Leni dibuatnya langsung bungkam.


Bagaimana mungkin mereka yang minim ilmu agama memberikannya sebuah ceramah? Ini tidak bisa diterima. Tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membalas perkataan mereka. Harga dirinya diinjak-injak di sini, dan dia tidak percaya diri lagi semenjak Aish dan Dira mengatakan bahwa dia jelek.


"Apa? masih belum jelas?" Dira membusungkan dadanya tidak takut.


"Udah...udah, jangan terpancing emosi." Setelah Leni menyiramkan seember air dingin ke kepalanya, Aish dan Dira tiba-tiba datang bagaikan mentari pagi yang menghangatkan jiwa.


Jauh di dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki Aish dan Dira, orang-orang yang selalu siap berdiri di depannya ketika ada orang yang menyakitinya.


"Kita nggak emosi, malah kita menghadapinya dengan kepala dingin karena dia lebih dulu mencari masalah. Lihat aja mulutnya bergetar, saat ini dia sangat marah karena tidak bisa berkata apa-apa lagi." Bantah Aish sembari mengejek.


"Awas kalian bertiga! Tunggu saja!" Leni lalu berbalik melarikan diri masuk ke dalam gedung asrama.


"Dasar pengecut. Giliran gak bisa ngomong apa-apa malah kabur." Cibir Dira melihat kepergian Leni.


"Jangan dipikirin. Dia memang orangnya gitu." Ucap Gisel lemah.

__ADS_1


Gisel lalu menceritakan siapa Leni kepada kedua sahabatnya. Leni adalah tetangganya di kota dulu, dan kebetulan dia memiliki hubungan persahabatan dengan sepupu perempuannya. Karena tidak pernah nyambung satu sama lain, hubungan mereka tidak terlalu baik. Tidak jarang mereka sering berdebat hingga berujung bertengkar, pada saat itu Gisel tidak pernah mau kalah. Sampai dia melakukan kesalahan besar itu dan dikirim ke sini. Dia kehilangan kepercayaan diri dan tidak memiliki keberanian seperti dulu lagi. Itulah alasan kenapa dia tadi tidak terlalu banyak bicara. Sebab Leni memegang rahasianya.


"Oh, jadi dia sahabat sepupumu? Nggak heran sih." Dira menebak jika sepupu Gisel juga bukan gadis yang baik.


__ADS_2