Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 10.1


__ADS_3

Penglihatannya sangat luar biasa. Dulu dia pikir hatinya terlalu putus asa untuk jatuh cinta gara-gara insiden Mamanya. Namun setelah dipikir-pikir dia bukannya terlalu putus asa tapi penglihatannya lah yang terlalu tinggi.


Dia menyukai tipe yang tinggi, tampan, bertubuh tegap, berkulit putih dengan harus wajah yang sangat jelas. Ah, tipenya terlalu sangat tinggi!


Iyon sama sekali tidak ada bandingannya.


"Kak Khalid adalah orang yang disukai banyak orang." Bisik Aish mengagumi pilihan hatinya.


Karena terlalu serius memandangi wajah sang habib, Aish tanpa sadar mengambil langkah yang salah dan tersandung batu.


"Hati-hati!" Dimas spontan memegang lengan Aish.


Dia hampir saja terjungkal ke depan. Untungnya Dimas bertindak cepat memegang lengannya.


Aish sangat malu. Wajahnya yang menawan di bawah cahaya redup matahari terlihat memerah. Aish merasa gerah. Dia ingin sekali mandi untuk menghilangkan gerah dan lembab ditubuhnya yang tertutupi keringat.


"Terima kasih, kak. Aku hampir saja jatuh." Kata Aish canggung.


Dimas tertegun, tersenyum tipis dia lalu melepaskan tangannya dari lengan Aish sembari menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Aish sangat menarik. Padahal mereka baru saja bertemu.


"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati." Peringat Dimas menasehati.


Aish mengangguk ringan. Bingung, dia mengusap tengkuknya tidak nyaman merasa ada sesuatu yang salah.


Saat mengangkat kepalanya melihat ke arah habib Khalid lagi, tubuh Aish langsung menegang. Dia tidak tahu sejak kapan habib Khalid menatapnya dan dia sangat berharap habib Khalid tidak melihat Dimas memegang lengannya tadi.


Aish takut meninggalkan kesan buruk kepada habib Khalid.


"Kak habib..." Bisik Aish hati-hati.


Mata gelap sang habib menatapnya dalam, beberapa detik kemudian dia mengalihkan pandangannya dari Aish bersikap seolah tak melihat apapun.


"Ada apa?" Tanya Dimas saat melihat kebisuan Aish.


Aish kecewa. Dia kira habib Khalid akan marah dan menghampirinya karena dekat dengan laki-laki lain.


Dia tersenyum kecut,"Bukan apa-apa. Ayo pergi."


Aish melanjutkan langkahnya dengan kepala tertunduk. Setelah kejadian tadi Dimas merasa ada sesuatu yang salah dengan Aish. Awalnya Aish selalu mengikuti topik apapun yang dia bicarakan tapi setelah tersandung tadi, dia jadi lebih pendiam dan merespon seadanya.


Terlihat sangat enggan.

__ADS_1


"Kak Dimas sampai di sini saja. Selanjutnya aku akan memanggil teman-teman ku untuk mengambilnya."


Asrama tidak terlalu jauh dan Aish harusnya bisa membawa semuanya sendiri dengan jarak sedekat ini. Kalaupun tidak bisa, dia bisa memanggil Gisel dan Dira untuk datang membantu.


Dimas dengan enggan melepaskan belanjaan Aish di tanah.


"Apakah tidak apa-apa?" Dimas enggan.


Aish mengangguk yakin.


"Tidak apa-apa di sini saja, kak."


Dimas tersenyum tipis. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi untuk membujuk Aish.


"Kalau begitu aku akan menjaga barang-barang mu di sini dan kamu bisa pergi memanggil teman-teman mu." Ide Dimas sangat membantu dan tidak masalah.


Tapi Aish sedang tidak mood sekarang. Hatinya langsung tenggelam ketika melihat ketidakpedulian habib Khalid tadi saat melihatnya. Dia merasa sangat sedih dan galau.


"Tidak perlu, kak. Aku bisa menanganinya sendiri."


Dimas menyayangkan penolakan Aish. Sebagai seorang laki-laki dia harus mengakui bahwa Aish adalah tipe yang dia inginkan, terlebih lagi setelah berbicara dengannya, Dimas merasa jika dia cukup nyaman.


Dia bertanya-tanya apakah perilakunya terlalu jelas?


Mengapa Dimas merasa bila tidak ada yang salah dengan sikapnya selama ini. Atau jangan-jangan Aish tersinggung dengan sentuhannya tadi?


Tapi...dia benar-benar tidak sengaja melakukannya, sungguh.


"Aish, tidakkah kamu marah aku menyentuh lenganmu tadi?" Tanya Dimas hati-hati.


Aish tertegun. Kenapa dia harus marah?


Jika Dimas tidak memegangnya maka mungkin dia sudah terjengkal ke depan. Sakitnya mungkin tidak seberapa, tapi malunya pasti tidak tertahankan karena semua orang yang ada di sana akan memperhatikannya. Dan Aish paling tidak mau habib Khalid melihat momen paling memalukannya.


Dia tidak tahu harus menaruh wajahnya dimana jika itu terjadi.


"Tidak, aku tidak marah, kak. Kenapa kak Dimas tiba-tiba bertanya begitu?"


Mendengar nada suara normal Aish yang meyakinkan, Dimas langsung menghela nafas lega.


Dia merasa tenang.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya kepikiran saja." Tersenyum lega.


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantin lagi. Jika kamu membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk mencari ku." Kata Dimas serius dan bersungguh-sungguh.


Aish tidak berjanji. Dia hanya tersenyum sopan sebagai balasan.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Aish mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat barang belanjaannya dan membawanya pergi ke asrama.


Dengan barang sebanyak dan seberat ini, langkah Aish jauh lebih lambat. Jarak yang seharusnya ditempuh beberapa menit menjadi lebih lama dari biasanya.


Aish hampir saja berteriak putus asa sampai sebuah tangan kuat mengambil semua beban yang ada di tangan Aish dan membawanya pergi.


Kaget, Aish menatap shock ke arah punggung tegap yang baru saja mengambil barang belanjaannya.


"Kak Khalid..." Aish rasanya ingin menangis melihatnya tiba-tiba datang membantu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Aish merasa gembira. Dia lantas mengejar langkah cepat sang habib dengan riang dalam suasana hati yang cerah. Awan gelap dihatinya segera tersapu bersih oleh uluran tangan sang habib.


"Kak Khalid kenapa ada di sini?" Tanya Aish malu-malu.


"Kenapa? Apakah aku tidak bisa ke sini?" Tanya habib Khalid datar.


Aish terkejut. Apa habib Khalid sedang marah?


"Tidak, tidak seperti itu, kak. Soalnya aku tadi sempat lihat kak Khalid sibuk mengajar beberapa santri." Kata Aish buru-buru menjelaskan.


Langkah habib Khalid sama sekali tidak mengendur meskipun dia tahu bila Aish kewalahan mengejarnya.


"Oh." Respon habib Khalid terlalu dingin.


Aish mau tak mau merasa heran dengan sikap dingin habib Khalid. Tak biasanya habib Khalid bersikap sedingin ini kepadanya dan selama Aish bertemu dengannya, habib Khalid selalu memandanginya dengan senyuman lembut. Lalu kenapa dia tiba-tiba bersikap dingin kali ini?


"Sudah sampai. Aku akan menaruhnya di sini. Assalamualaikum."


Setelah meletakkan barang di samping tembok gerbang asrama, habib Khalid langsung pergi tanpa menunggu jawaban salam Aish.


Aish terdiam. Hatinya langsung menjadi sedih. Nyatanya ada banyak hal yang ingin Aish bicarakan dengannya. Namun respon habib Khalid yang datar segera membatasi niat hatinya.


Dia sangat kecewa dan bertanya-tanya apakah habib Khalid sedang dekat dengan wanita lain?


Mengapa tidak, toh mereka hanya sebatas kenalan saja.

__ADS_1


Hanya saja, Aish tidak rela bila itu terjadi. Dia tidak rela melihat habib Khalid dengan wanita lain, berbicara lembut dengan wanita lain dan memberikan wanita itu senyuman yang lembut, Aish merasa sakit hati saat memikirkannya.


"Hah... Aish, apa yang kamu pikirkan?! Dasar aneh." Bisiknya mencela diri sendiri.


__ADS_2