
"Apa?" Suara kompak Dira dan Aish sama kagetnya.
Gisel sudah memikirkan reaksi ini dari jauh sebelumnya. Menghela nafas panjang, dia tersenyum kecut.
"Tabungan ataupun uang pemberian kalian, semuanya hilang total. Jumlahnya 4 juta enam ratus ribu. Ditambah lagi 4 batang coklat ku, sekarang aku hanya memiliki dua batang coklat di dalam lemari." Gisel menjelaskan kepada kedua sahabatnya.
Uangnya mungkin tidak banyak untuk kedua sahabatnya, tapi baginya dan santriwati yang ada di sini, uang segini sudah banyak dan sangat menggiurkan. Jadi wajar saja Gisel merasa sedih kehilangan satu-satunya harta yang tersisa untuk dirinya yang tidak punya apa-apa.
"Kok bisa?" Aish masih belum mempercayainya.
Gisel menggelengkan kepalanya sedih.
"Aku juga enggak tahu. Semalam pulang dari kantin sekolah, aku tiba-tiba menemukan lemari ku berantakan dan uang serta beberapa coklatku hilang." Jawabnya bingung.
Sekarang mereka mengerti kenapa Gisel semalam tiba-tiba diam dan tampak pucat. Mereka pikir Gisel sakit tapi faktanya dia ternyata baik-baik saja. Mentalnya hanya shock tiba-tiba kehilangan barang yang berharga.
"Kamu kenapa enggak cerita semalam?" Tanya Dira puas.
"Iya, kalau kamu cerita kita pasti bantu nyari pelakunya semalam mumpung TKP lagi anget-angetnya." Kata Aish merasa jengkel.
Gisel tersenyum kecut.
"Aku bingung dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan semalam. Aku juga sebenarnya tidak ingin menceritakan kalian karena aku takut merepotkan kalian berdua. Kalian adalah orang yang sangat baik dan sama-sama musafir sama seperti diriku. Orang-orang seperti kita sangat membutuhkan belas kasih dari keluarga di rumah."
Siapa yang membuat kedua sahabatnya terlalu baik? Jika ada yang tahu bila dirinya kehilangan uang, baik Aish dan Dira pasti akan memberikannya uang lagi. Gisel tidak mau munafik, meskipun butuh uang dia juga tahu bila kedua sahabatnya juga sama butuhnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Dibandingkan Dira, aku adalah orang kaya yang sebenarnya. Aku tidak kekurangan uang sama sekali." Kata Aish acuh tak acuh.
Bukannya sombong tapi dirinya memang punya banyak uang. Ia punya banyak kartu tabungan dari orang tuanya, uang kirimkan dari keluarga Mamanya dan juga hasil dari kerja kerasnya sebagai model majalah selama ini. Dia punya banyak dan tidak masalah berbagi dengan sahabatnya. Lagipula kartu-kartu itu masih belum tersentuh hingga saat ini kecuali uang hasil kerja kerasnya sendiri yang didedikasikan untuk keperluannya di pondok. Meskipun jumlahnya kurang dari 300 juta, tapi uang sebanyak ini sudah sangat besar untuk mereka yang seusianya.
"Aku juga enggak kekurangan uang. Aku punya banyak uang, kok." Kata Dira tidak setuju.
Tapi diam-diam di dalam hatinya dia agak setuju dengan kata-kata Aish. Di sini mungkin Aish lah yang paling mampu dan paling bebas menggunakan uang.
__ADS_1
Gisel merasa lucu,"Kalian sangat kaya."
"Benar, jadi kami tidak masalah berbagi denganmu karena untuk kami berdua, kamu adalah sahabat sekaligus keluarga. Bukankah kita pernah berjanji sebelumnya untuk melihat surga bersama-sama? Jadi bagaimana harapan ini terwujud bila masalah sekecil saja kita tidak bisa kompak?" Ujar Aish semakin tidak puas saat memikirkannya.
Dengan kualifikasi persahabatan seperti ini, Allah mungkin tidak ridho melihat mereka masuk ke dalam jannah-Nya.
Kata-kata hangat ini segera menghantam hati mereka berdua. Memang benar mereka bertiga pernah berjanji untuk memasuki jannah Allah SWT bersama-sama. Menjalin persahabatan yang tiada putusnya hingga Allah ridho mereka bersama-sama sampai ke akhirat nanti. Namun jika persahabatan mereka diwarnai oleh keragu-raguan seperti ini, tiket itu mungkin tidak mudah didapatkan.
"Ya...aku tahu. Maaf, aku hanya bingung dan panik semalam. Aku tidak tahu harus melakukan apa karena uang itu adalah satu-satunya pegangan ku di sini." Katanya dalam suasana hati yang rendah.
Aish menghela nafas panjang. Mata aprikot nya melirik orang-orang di dalam kamar yang sibuk melakukan berbagai macam hal. Tapi satu-satunya yang paling menarik perhatiannya adalah Gadis.
Ia ingat bila Gadis hari ini tiba-tiba dikirimkan uang oleh orang tuanya. Bukan tak mungkin untuk mencurigainya karena bukankah ini terlalu kebetulan?
Gisel kehilangan uang bertepatan dengan datangnya uang Gadis?
Aish tidak mau su'udzon tapi perasaan yang ia rasakan saat ini agak aneh saat melihat Gadis. Selain itu Gadis juga hari ini sangat boros. Orang yang awalnya sangat hemat menggunakan uang tiba-tiba jadi boros hari ini. Dia mentraktir anak-anak kamar dan membeli banyak makanan saat di sekolah tadi. Untuk tipe orang seperti Gadis, ia meragukan perubahan tiba-tibanya ini.
"Okay, apa kamu mencurigai seseorang di sini?" Tanya Aish setelah mengalihkan pandangannya dari Gisel.
Awalnya sama Gadis, tapi tanggapannya langsung berubah saat memikirkan betapa polos perilaku orang-orang di kamar ini.
"Kita bisa bertanya ke teman-teman di kamar." Kata Dira mengusulkan.
Aish langsung menepis ide ini.
"Tidak perlu, aku punya ide sendiri." Katanya tampak berpikir.
"Ide apa?" Tanya Gisel dan Dira berbarengan.
Aish tersenyum lebar.
"Kalian akan tahu sendiri. Ayo bangun, ikut aku ke keluar." Ajaknya seraya berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Dira dan Gisel bingung, tapi mereka sangat antusias dan penasaran dengan rencana Aish. Jadi mereka berdua tanpa ragu mengikuti Aish keluar dari asrama dan mengesampingkan acara tidur siang yang sudah direncanakan.
Mereka bertiga pergi ke kantor untuk menarik uang dari tabungan Aish. Untuk alasan ini, ia langsung menarik 10 juta dan sempat di nasehati oleh staf kantor agar jangan terlalu mencolok karena uang ini tidak sedikit. Aish menjawab dengan sopan bahwa ia sangat mengerti tapi tidak berencana untuk mendengarkan. Justru inilah tujuan sebenarnya, ia ingin terlihat sangat mencolok di depan banyak orang.
"Gila, Aish! Berapa banyak sih uang kamu? Bulan ini saja kamu hampir menarik 20 juta. Apa Ayah kamu enggak marah?" Tanya Dira heran sekaligus cemburu melihat betapa kaya sahabatnya ini.
Dira memang punya banyak uang tapi tidak sebebas Aish, apalagi mereka sekarang di dalam pondok pesantren dan tidak perlu ditanya lagi betapa hemat orangtunya kepadanya saat ini. Dia tidak bisa menghambur-hamburkan uang sebebas Aish di sini.
"Memarahiku?" Aish tersenyum dingin.
"Ini uangku, Ayah tidak bisa marah kepadaku. Uang ini aku hasilkan sendiri dengan berkerja keras sebagai model majalah remaja. Kalian bertiga pasti tahu dong dan enggak asing lagi sama muka ku di majalah remaja?" Aish sangat percaya diri saat mengatakan ini.
Tidak semua orang tahu, tapi setidaknya banyak orang yang tahu di sekolah bahwa dia adalah anak pekerja keras juga mandiri.
"Iya...kami tahu kamu bekerja sebagai model majalah, tapi yang aneh adalah kami tidak pernah melihat wajahmu tercetak di majalah edisi bulan apapun." Ujar Dira ragu-ragu.
Gisel juga tahu tapi heran karena dulu tidak pernah melihat wajah Aish tercetak di majalah tempatnya bekerja. Padahal Aish adalah bintang yang paling bersinar di studio dan harusnya sahabatnya ini memiliki banyak tempat untuk mencetak wajah cantiknya.
Tapi nihil, mereka tidak menemukannya.
"Kalian belum pernah melihat?" Aish merasa kepalanya agak lambat mencerna saat ini.
"Iya, Aish. Aku belum pernah melihat satupun wajah kamu di majalah, jadi...aku sempat ragu kamu beneran kerja sebagai model di studio atau enggak." Kata Gisel bingung.
Dibandingkan mereka, Aish lah yang paling bingung.
"Lho...aku serius kok jadi model di sana. Kalau enggak, kenapa studio ngasih aku gaji yang tinggi tiap bulan?"
Aish tidak tahu tentang ini karena ia tidak pernah berminat untuk membeli majalah dari studio tempatnya bekerja karena menurutnya tidak ada yang menarik. Toh, ini hanya pose saja yang tidak terlalu penting.
Tapi sekarang melihat kebingungan sahabatnya, ia menyesal tidak pernah membeli. Kalau tidak, ia pasti tidak akan sebingung ini.
"Aku enggak tahu tapi kenyataannya foto kamu enggak ada di sana, Aish. Kamu tahu sendirikan kita dulu musuhan, jadi untuk mengalahkan kamu, aku pasti menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang kamu." Kata Dira bercanda.
__ADS_1
Apa yang Dira juga benar. Untuk permusuhan ini, mereka harus lebih berdedikasi.
Tapi, bagaimana menjelaskan setiap waktu yang ia habiskan untuk berfoto dan kemana semua foto-fotonya pergi, Aish tidak tahu. Selain itu gaji yang masuk setiap bulan ke tabungannya, mengapa studio tidak pernah mengatakan apa-apa?