Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 8.3


__ADS_3

Tepat saat adzan dzuhur berkumandang, Aish, Gisel, dan Dira izin pamit dari Umi. Mereka harus segera kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan bersiap-siap pergi ke masjid Abu Hurairah untuk melaksanakan sholat berjamaah.


Untungnya mereka sudah makan di rumah Umi barusan sehingga mereka tidak perlu mampir ke kantin pondok nanti saat turun dari masjid. Kata Umi tidak apa-apa langsung kembali ke asrama untuk beristirahat ataupun tidur siang sebab pondok masih dalam suasana libur dan akan kembali aktif dua hari kemudian.


"Haah...hari ini sangat menyenangkan. Walaupun kita tidak bisa memasak tapi pengalaman membantu Umi sangat berkesan di hatiku." Suasana hati Dira sangat santai.


Pengalaman di dapur hari ini memberikan Dira berbagai macam kesan terhadap Umi, habib Khalid, dan Danis. Namun diantara mereka semua hanya Umi lah yang paling berkesan karena baik habib Khalid maupun Danis hampir tidak pernah mengucapkan sepatah katapun kepadanya, ah!


Ini sangat menjengkelkan karena habib Khalid sesekali berbicara dengan Aish. Sedangkan Danis juga beberapa kali berbicara dengan Gisel. Dia, Dira Klarisa sungguh tidak kuasa menghadapi ujian ini.


Tapi... sebagai seorang teman, em...dia lega melihat kedua temannya memiliki hari yang baik dan senyum tulus di wajah masing-masing.


"Umi adalah orang yang baik. Aku seperti bertemu Ibu kembali." Kata Gisel mengenang.


Pantas saja banyak anak pondok yang sangat mengagumi Umi. Bukan karena kekuasaan atau jabatannya sebagai seorang istri habib, melainkan kehangatan hati dan senyuman tulus di wajahnya yang telah meninggalkan kesan paling dalam di hati semua orang.


Aish menundukkan kepalanya berpikir. Wajah cantiknya termenung memikirkan Mamanya. Bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah ini yang namanya kasih sayang seorang Ibu?


Apakah kehangatan yang dia rasakan tadi adalah kasih sayang seorang Ibu yang sangat melegenda?


Lalu, mengapa Umi yang hanya orang asing dapat memberikan kehangatan ini kepadanya, namun para Bibi maupun keluarganya yang tidak asing tidak bisa memberikannya perasaan ini?


"Aish, apa yang kamu pikirkan? Kok cuma diam aja dari tadi?" Dira merasakan keanehan Aish.


Aish tersenyum tipis. Menggelengkan kepalanya seraya mengangkat kepalanya menatap hamparan langit di atas sana.

__ADS_1


"Aku lagi mikirin acara besok. Katanya ada panen raya dan kita semua wajib berpartisipasi turun ke sawah." Kata Aish berbohong.


Sekarang perhatian Dira dan Gisel dengan mudahnya bergeser karena Aish.


"Yah, sebenarnya aku agak enggan harus panas-panasan di sawah. Dan kalau bisa, aku juga enggak mau pergi. Tapi nanti kita dihukum lagi kalau enggak pergi. Aku enggak mau ah, dihukum terus." Kata Dira enggan.


Kalau bisa jangan pergi. Sayang sekali perawatan kulitnya yang telah dibayar mahal-mahal akan jadi sia-sia jika dia berdiri seharian di bawah sinar matahari. Akan tetapi bila dia tidak pergi, pondok tidak akan pernah mentolerir nya. Pasti akan ada hukuman.


Gisel juga sama,"Aku juga enggak mau pergi, tapi daripada dihukum ya pergi aja."


Dulunya juga agak enggan tapi sekarang enggak. Karena dia bisa saja memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat Danis!


"Kita harus pergi." Kata Aish mendukung.


Siapa tahu kan dia bisa ketemu lagi sama habib Khalid!


"Aku tahu tujuan kalian berdua tidak murni. Melalui kesempatan ini kalian pasti ingin memanfaatkannya untuk melihat habib Thalib dan kak Danis, kan?!" Tebakan Dira memang sangat tepat sasaran dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah baik Aish maupun Gisel sama sekali tidak membantahnya.


"Itu bonus." Aish berkata polos.


Gisel setuju,"Ya, ini bonus kerja keras."


Dira tidak bisa tidak memutar bola matanya malas. Kedua temannya ini dulu berteriak-teriak ingin kabur dari sini, tapi setelah mengenal cinta suara mereka langsung menguap entah kemana.


"Ha, enak banget hidup kalian. Setelah menzolimi kak Khalisa sampai jatuh sakit di klinik, kalian malah asik ketawa-ketawa di sini. Aku sampai heran deh, kalian bertiga kok kebangetan banget jadi manusia. Enggak ada hati nuraninya, apa?"

__ADS_1


Kebetulan mereka berpapasan dengan Meri dan teman-temannya. Seperti biasa, Meri tidak akan melepaskan mereka dengan mudah apalagi setelah kejadian itu.


Aish ataupun yang lainnya enggak takut sama mereka berdua. Di pondok ini, selain hukuman yang membayangi, mereka sama sekali tidak takut dengan anak pondok. Bahkan mereka sanggup kok tauran bertiga doang selama enggak dibayangi hukuman.


"Kalau emang teman kamu itu orang baik dan enggak berniat jahat, maka pondok pasti tidak akan menghukumnya. Tapi faktanya apa? Bukannya membela, pondok malah ngejatuhin dia hukuman berat biar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama pula." Ujar Aish langsung membuat kepala Meri terasa panas.


Meri tentunya tidak terima idolanya yang murni dan berkharisma lembut dituduh sebagai pelaku kejahatan.


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?! Kalau bukan karena hasutan kalian, pondok pasti enggak akan menghukum kak Khalisa atas kesalahan yang tidak dia lakukan." Meri sangat keras kepala dan tetap bersikukuh bila Khalisa bukanlah pelaku, melainkan korban yang sebenarnya.


"Oh, kamu sangat naif. Apakah kamu pikir pondok pesantren bisa dibodohi semudah itu? Jika iya, maka kamu sudah mencemarkan nama baik pondok. Hati-hati jika orang pondok mendengarnya, yakinlah mereka pasti enggan menahan mu di pondok pesantren ini lagi." Balas Aish tidak mau kalah.


Kata-kata Aish terbukti membuat Meri kewalahan. Dia bimbang dengan apa yang dia ucapkan sendiri dan terlihat sangat marah.


"Ayo pergi. Kalau dilayani terus nanti dia makin ngelunjak." Kata Dira jengkel.


Aish dan Gisel mengangguk mengerti. Mereka bertiga langsung pergi tanpa menunggu kata-kata provokasi Meri selanjutnya lagi karena percuma saja, Meri tidak akan pernah menyukai mereka meskipun mulut mereka mengucapkan banyak kata-kata bantahan atau menunjukkan sebuah bukti, bahwa idola bermuka duanya adalah seorang gadis munafik.


Jadi baiknya, hindari saja dia kalau bisa.


...****...


Malam harinya di ruang kerja Ayah, seorang gadis bercadar sedang duduk di depan Ayah. Dialah Aira Naira, sang adik yang lahir dari rahim Ibu tiri Aisha Rumaisha. Usia mereka hanya berbeda beberapa bulan saja yang menunjukkan bahwa Ayah telah lama berhubungan dengan Ibu tiri Aish, bahkan ikatan pernikahannya dengan Mama Aish tak mampu menghalanginya untuk menumbuhkan cinta kepada wanita lain.


"Ayah mau ngomong apa sama Aira?" Suara gadis itu begitu lembut.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya di depannya itu menghela nafas berat sambil menatap putri keduanya.


"Ayah ingin mengirim kamu ke pondok pesantren tempat kakak kamu bersekolah. Ayah pikir rasanya tidak adil hanya mengirim kakak kamu seorang ke sana. Dia pasti kesepian dan membutuhkan teman bicara. Dan Ayah rasa dengan datang ke sana kamu bisa lebih dekat lagi dengan kakakmu. Kamu bisa memperbaiki hubungan persaudaraan dan juga membantu kakakmu belajar agama, bagaimana?"


__ADS_2