
Rasanya seperti mimpi. Habib Khalid yang sudah 9 hari menghilang tanpa kabar muncul tepat pada hari ke 10.
Sosoknya yang tinggi dan jenjang sekarang berjalan tepat di depannya, hanya berjarak beberapa meter saja dengannya. Bila dia mau, tangan ini bisa menggapai pundaknya asalkan dia mau mempercepat langkahnya. Namun dia tidak berani melakukan itu karena dia sekarang akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang bisa mentolerir kesombongannya dan tidak semua orang bisa mengerti keegoisannya.
Itulah mengapa dia mulai menahan diri untuk dekat dengan habib Khalid dan berusaha menjaga sikap sebaik mungkin di sisinya.
"Assalamualaikum, Umi? Kami membawa ikan lelenya. Masih hidup dan segar. Sekarang apa yang harus kami lakukan setelahnya?"
Habib Khalid dan Danis masuk ke dalam dapur di susul oleh Aish sama Dira. Sesampai di dapur Aish langsung melarikan diri untuk mengerjakan tugas yang lain. Berpura-pura tidak menyadari keberadaan habib Khalid di dapur, padahal tangannya sudah gemetar tak fokus memegang beberapa ikat sayuran.
"Waalaikumussalam."
Umi melihat kedatangan mereka. Dia segera melepaskan apa yang dia kerjakan dan datang menghampiri habib Khalid. Berdiri di depan ember, mulut Umi tidak bisa lepas dari senyum kepuasan karena ikan lele yang ditangkap sangat besar-besar. Para tamunya pasti puas makan lele hari ini.
"Masya Allah, ikannya besar-besar. Habib sama Danis bantu saja bersihkan ikannya di sini. Umi tidak terlalu berani memegangnya bila masih hidup dan anak-anak yang lain pun juga pasti tidak bisa. Jadi tugas ini diserahkan kepada kalian berdua."
Habib Khalid dan Danis mengerti kekhawatiran Umi. Jadi mereka segera membawa ember ke meja dapur yang dekat dengan wastafel agar mudah membersihkannya dengan air saat dibersihkan.
Sebelum mulai memotong ikan lele, habib Khalid terlebih dahulu menyiapkan garam, kunyit, dan asam jawa untuk menghilangkan bau amis pada ikan lele.
Tindakannya sangat cepat dan gaya pisaunya pun tidak biasa, seolah-olah habib Khalid telah lama terbiasa dengan dapur. Ini sangat menarik. Diam-diam muncul kecurigaan di dalam hati Aish.
Jika habib Khalid memang telah terbiasa dengan dapur, maka mungkinkah makanan yang sudah beberapa kali seseorang berikan kepadanya adalah masakan habib Khalid?
Cek, aku berhalusinasi lagi. Batin Aish mengolok diri sendiri.
Dia menggelengkan kepalanya malu seraya menarik pandangannya dari punggung habib Khalid.
Meskipun sudah menggunakan beberapa bahan segar untuk menghilangkan bau amis, namun tetap saja tidak bisa menghentikan bau amis ikan lele menyebar sepenuhnya di dapur.
Baunya sangat tidak sedap. Membuat kening Aish mengernyit tidak nyaman ketika menciumnya. Dari kecil Aish memang tidak menyukai ikan lele, belut, ataupun ikan tawar lainnya. Bahkan ikan laut saja tidak terlalu menarik baginya sehingga dia jarang memakannya bila pergi ke tempat makan.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan kuat mengulurkannya sapu tangan abu-abu.
Aish sontak mengangkat kepalanya, dalam sekejap kelopak matanya bergetar ringan menatap langsung pemilik sapu tangan abu-abu itu begitu dekat dengannya.
"Ah.." Aish kesulitan berbicara, tidak, lebih tepatnya dia sangat gugup sampai-sampai kehilangan kata-kata untuk berbicara.
Mata gelap habib Khalid bersinar jernih, wajahnya yang tampan tanpa cela tersenyum lembut menatap tidak berdaya tingkah laku Aish yang menggemaskan. Tanpa sadar sikapnya langsung melunak di depan gadis ini.
"Baunya sangat amis. Pakai ini untuk menutupinya." Kata habib Khalid masih betah mengulurkan tangannya.
Aish tertegun. Sejenak hatinya menghangat mendapatkan perhatian kecil dari habib Khalid. Dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa habib Khalid begitu peka pada dirinya padahal mereka baru saja bertemu, sedangkan keluarganya sendiri yang selalu merawatnya dari kecil tidak seperhatian habib Khalid.
Ini... mungkin kebetulan saja, kan?
"Aku...bisa menahannya." Aish ingin sekali mengambilnya tapi dia takut bercampur malu.
"Kamu tidak menyukainya. Ambil saja. Aku yakin, kamu pasti akan menyukainya setelah itu." Desak habib Khalid tetao kukuh mengulurkan tangannya.
Aish kewalahan menghadapi desakan habib Khalid dan jantungnya juga langsung menggila membuat keributan. Manis dan hangat, Aish perlahan merasakan pipinya kembali menghangat dan ia pun tahu bila saat ini wajahnya mungkin sangat merah. Malu, dia menundukkan kepalanya menghindari pandangan mata gelap sang habib, matanya aprikot nya yang basah diam-diam melihat sapu tangan abu-abu di tangan habib Khalid. Lalu tangannya yang sudah lama basah dan gemetar bergerak ragu-ragu menjangkau sapu tangan abu-abu itu dari tangan habib Khalid.
Hangat!
Aish merasakan jejak suhu yang ditinggalkan habib Khalid di atas kain sapu tangan abu-abu itu. Jejaknya masih hangat, Aish sungguh tidak rela melepaskannya. Diam-diam tangannya meremat kuat sapu tangan abu-abu itu seolah berusaha menyerap semua suhu yang habib Khalid tinggalkan di sana.
"Terima kasih, habib. Aku akan mengembalikan sapu tangan ini besok setelah mencucinya." Katanya enggan.
Seperti di drama, Aish pikir habib Khalid akan menolak tapi tebakannya salah besar karena habib Khalid justru menantikan sapu tangannya kembali!
"Luangkan waktumu. Ngomong-ngomong ini kesalahan, Aish, aku lebih suka kamu memanggilku 'kak Khalid' daripada habib." Kata habib Khalid mengingatkan.
"Oh," Aish juga tahu dia salah memanggil tapi mau bagaimana lagi, di sini ada Umi jadi setidaknya dia harus bersikap sopan, kan?
__ADS_1
"Aku melakukan kesalahan." Aish sangat malu.
Tidakkah habib Khalid menghitung keberadaan Umi di dapur ini?
Habib Khalid mengangguk dengan rendah hati.
"Yah, ini adalah kesalahan. Kali ini aku akan memaafkan kamu tapi ceritanya akan beda diwaktu berikutnya. Jika kamu membuat kesalahan lagi," Berbicara samar,"...aku akan menghukum mu." Lalu pergi meninggalkan Aish yang linglung di tempat.
Sirkuit kepala Aish langsung mendapatkan masalah. Seolah-olah ada virus yang tiba-tiba menyerang sehingga membuat kemampuan berpikir kepalanya menjadi lambat.
Tapi...tapi, habib Khalid tadi bilang apa?
Aku akan menghukum mu...
Ah, wajah Aish langsung panas!
Dia sangat malu dan langsung berjongkok di balik meja, menyembunyikan sosoknya dari pandangan siapapun untuk menyamarkan rasa malunya.
"Ada apa denganku?" Gumamnya bertanya aneh namun bibirnya telah lama membentuk garis senyum.
"Hem?" Ada wangi yang manis melayang lembut dari sapu tangan abu-abu pemberian habib Khalid.
Wanginya sangat manis, tapi tidak berminyak dan terkesan menyegarkan. Wangi ini sudah sangat familiar bagi Aish karena dia sering menciumnya dari tasbih yang habib Khalid berikan padanya malam itu.
"Bunga mawar," Aish menghirupnya sambil menutup mata, tampak sangat mabuk.
Benar saja yang dikatakan habib Khalid. Dia pasti akan menyukainya, tapi...
"Mengapa benda-benda yang kak Khalid berikan kepadaku selalu memiliki wangi bunga mawar?" Aish merasa heran sekaligus manis.
Mau tak mau hati ini diam-diam menebak sebuah pikiran, mungkinkah...
__ADS_1
Hem, pasalnya bunga mawar selalu melambangkan cinta jadi siapa yang tidak salah paham, coba?