Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.1


__ADS_3

Manfaat apa yang didapatkan, bukankah sudah jelas? Mengapa masih perlu ditanya lagi.


"Kamu bisa belanja sepuasnya dan enggak perlu takut dibatasi lagi. Ini adalah manfaat terbesar yang akan kamu dapatkan kalau dekat sama kak Dimas." Ujar Dira menjelaskan berapi-api.


Dimas adalah target yang paling diincarnya. Sejak tahu Dimas berpatroli di kantin sekolah, Dira tiba-tiba mengembangkan sebuah semangat juang dan sering berpikir keras bagaimana caranya mengelola Dimas agar berpihak kepadanya. Tak disangka Allah langsung mengirim solusinya. Aish kebetulan sedang galau dan alangkah baiknya ia segera berpindah hati, membangun hati yang baru lagi-


"Ada razia! Ada razia! Semuanya, sembunyikan semua barang-barang berharga kalian sebelum diseret pergi sama staf kedisiplinan asrama!"


Tiba-tiba semua orang langsung menjadi panik. Mereka buru-buru menyembunyikan makanan dan buah-buahan yang masih tersisa ke tempat rahasia-rahasia yang mereka miliki. Sedangkan Aish, Dira, dan Gisel terbengong di tempat mengapa reaksi semua orang sangat besar. Menurut mereka hal yang harus disembunyikan bukanlah makanan, tapi barang-barang terlarang seperti ponsel atau perangkat pintar lainnya. Namun mengapa reaksi semua orang sangat berbeda di sini?


"Kamu tahu darimana kalau ada razia sekarang?" Ditengah-tengah kepanikan, seorang teman menghampiri anak yang baru saja berteriak barusan.


Muka anak itu sangat merah dan berkeringat. Sepertinya dia banyak berlari untuk memperjuangkan 'keamanan' teman-teman kamarnya.


"Aku lihat sendiri tadi. Tahu enggak kali ini yang mimpin razia siapa?" Tanyanya kepada yang lain.


Yang lain tidak tahu.


"Ustad Fadlan?" Tanya yang lain menebak.


Biasanya Ustad Fadlan yang akan memimpin razia ke asrama mereka. Karena ustad Fadlan terlalu sering, anak-anak pondok jadi terbiasa dengan operasinya sehingga mereka dengan mudahnya menyembunyikan barang-barang penting ke tempat-tempat yang tidak dilihat oleh ustad Fadlan.


"Bukan." Kata anak terengah-engah, sebelum teman-temannya bertanya lagi, dia langsung menyambung ucapannya.


"Kali ini yang memimpin razia adalah habib Thalib!" Semua orang langsung menahan nafas.


Habib Thalib, orang yang paling tegas soal hukuman dan baru-baru ini dianggap sebagai guru killer. Tidak ada yang berani membuat masalah kepadanya karena setiap hukuman diputuskan olehnya tidak pernah semanis senyumannya yang hangat. Yang menjadi korban sang habib tidak hanya satu atau dua di pondok, karena senyumannya yang hangat sehangat musim semi dan selembut musim gugur, orang-orang jadi salah paham dengan sang habib. Tidak ada yang mengira jika setiap vonis yang keluar dari mulut sang habib adalah cambuk tak kasat mata yang bermandikan duri, tak semanis madu yang di rindukan-rindukan mereka.


"Habib Thalib?! Kamu serius?" Mereka sontak terkejut.

__ADS_1


Jika habib Khalid sudah turun tangan maka habislah mereka. Semua makanan cadangan mereka akan dikeruk dari tempat-tempat penyimpanan. Ini adalah cobaan yang sangat berat. Pasalnya makanan adalah harta yang paling berharga di dalam pondok. Bukan rahasia lagi kalau makanan dibatasi di sini. Jangankan makan di kantin, belanja saja para santriwati tidak boleh lebih dari batasan yang ditetapkan. Kecuali saat Aish membeli banyak makanan di kantin pondok pesantren, ia memang mendapatkan izin namun atas nama teman-teman kamarnya. Jika ia membeli makanan hanya untuk dirinya sendiri, pondok tidak akan mengizinkan.


"Demi Allah, aku enggak bohong. Aku lihat dengan kedua mataku sendiri saat habib Thalib dan rombongannya masuk ke dalam kamar santriwati. Aku juga sempat ngeliat kak Nasha mengeluarkan seember makanan dari kamar itu dan dijejerkan ke lorong asrama. Jika kalian enggak percaya, silahkan keluar dan lihat sendiri betapa kacaunya orang-orang yang sedang dirazia. Udah yah, aku juga harus nyembunyiin barang-barang ku." Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi menggeledah lemarinya sendiri untuk mengevakuasi makanan yang belum beberapa jam tinggal di dalam lemarinya.


Ah, bila saja dia tahu hari ini ada razia, maka semua buah-buahan yang dibagikan oleh Aish tadi malam sudah pasti dia habiskan langsung. Sungguh, dia hanya bisa makan buah-buahan ini saat sedang di rumah saja dan di pondok pesantren, semuanya serba terbatas!


Kamar sangat hidup. Semua orang sibuk menyembunyikan makanan sementara Aish, Dira, dan Gisel lebih suka menonton. Seru saja melihat anak-anak kamar yang selalu tenang bersikap malu-malu kini sangat aktif ke sana kemari untuk menyembunyikan makanan.


"Tuh Aish, kalau sama mereka aku yakin kamulah pemenangnya. Tapi kalau sama Nadira, sulit untuk dikatakan." Kata Dira sambil bersedekap dada memperhatikan anak-anak kamar yang hiruk pikuk.


Aish memutar bola matanya jengah. Sahabatnya ini senang sekali membuatnya menderita.


Gisel tersenyum tipis,"Jangan gitu dong, Dir. Walaupun Aish minim peluang buat menang, kamu enggak boleh ngomong blak-blakan gitu di depan Aish. Dia kan jadi sedih."


Aish sama sekali tidak terbantu,"..."


Kalau tidak, mengapa mereka senang sekali menjatuhkan hatinya saat ini?


Seolah-olah kejatuhannya adalah kesenangan untuk kedua sahabatnya.


Buk


Buk


Buk


"Assalamualaikum, permisi." Nasha membuka pintu kamar mereka.


Seketika, anak-anak yang tadinya hiruk pikuk langsung menutup mulut dan berdiri di masing-masing kasur tampak berperilaku sangat baik. Jika Aish tidak melihat kepanikan mereka sebelumnya, maka mungkin ia akan berpikir jika anak-anak ini sangat polos dan berkelakuan baik.

__ADS_1


"Hari ini ada inspeksi mendadak dari kantor staf buat teman-teman. Jadi teman-teman dimohon untuk bekerja sama dengan para staf pengawas." Setelah mengatakan itu, Nasha memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan bila semua santriwati di kamar ini berpakaian lengkap dan tertutup.


Soalnya yang melakukan inspeksi bukan hanya perempuan saja namun juga laki-laki juga digabungkan yang terdiri dari para ustad serta habib Thalib.


Maka dari itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Nasha harus memastikan setiap kamar yang akan mereka masuki.


"Baik, silakan masuk." Nasha membuka pintu kamar selebar-lebarnya.


Semua orang yang ada di dalam kamar sontak menundukkan kepala mereka untuk menghindari pandangan dari lawan jenis. Bahkan Aish tidak membuat keributan. Ia dengan patuh menundukkan kepalanya sembari sesekali mengintip ke arah sang habib yang berdiri tertunduk di depan pintu masuk kamar.


Habib Khalid masih seperti biasa, tampan dan menyenangkan mata, melihatnya membuat suasana hati Aish langsung membaik. Namun hari ini habib Khalid sepertinya agak berbeda.


"Tapi apa yang berbeda?" Gumam Aish tidak bisa menebaknya.


Untuk sesaat Aish sibuk berpikir tanpa menyadari bila Nasha dan staf asrama putri yang lain sudah mulai bertindak melakukan razia. Mereka memuja lemari setiap santriwati, menggeledah tempat-tempat yang berpotensi menyembunyikan barang.


Razia kali ini sangat bersih. Tidak ada yang membawa ponsel ataupun barang-barang terlarang lainnya. Tidak ada barang terlarang bukan berarti mereka tidak mendapat apa-apa. Hanya dalam beberapa menit penggeledahan, ember yang dibawa oleh para ustad sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan. Mulai dari makanan ringan hingga buah-buahan, para staf panen besar di kamar ini.


Bahkan makanan simpanan Aish pun tak luput dari mata para pengawas. Mereka mengeluarkan semuanya dari dalam lemari Aish yang ditaruh asal-asalan tanpa niat untuk menyembunyikan.


"Ah... makanan ku." Gisel meringis tertahan saat melihat semua simpanannya dikeluarkan dari dalam lemari nya.


Cokelat-cokelat yang dibawa dari kota pun juga ikut diangkut. Melihat ini alis Aish mengernyit tidak senang. Pasalnya Gisel sangat membutuhkan coklat kemanapun dia pergi karena kondisi bawaannya.


"Kak, berhenti." Aish meraih tangan staf itu.


Staf itu berhenti dan melihat Aish.


Tersenyum ramah,"Kenapa, dek?" Sapanya ramah.

__ADS_1


__ADS_2