
Perlahan satu demi satu mobil hitam dan putih masuk ke dalam halaman gedung yang telah diramaikan oleh banyak orang. Ketika melihat rombongan mobil datang dengan megahnya, orang-orang secara intuitif membuka jalan untuk memberikan jalan sebuah mobil Van hitam. Mobil itu tepat berhenti di depan gedung tempat acara dilakukan.
"Kamu sudah melakukannya dulu, jadi kenapa harus gugup?" Seorang laki-laki paruh baya di dalam mobil menepuk pundak pemuda tinggi di sampingnya.
Pemuda ini tak pernah menunjukkan ekspresi gentar dan gelisah semenjak kakak serta kakak iparnya meninggal. Dia kira itu karena rangsangan yang terlalu kuat sehingga membentuk keponakannya menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun beberapa hari ini telah mengubah tiga pandangannya sekaligus. Keponakan ini rupanya masih memiliki sisi ini. Dan dia tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk keponakannya.
Pemuda itu tersenyum malu.
"Paman, semuanya berbeda. 5 tahun yang lalu, dia sedang sakit dan tidak bisa melihat apa yang terjadi. Selain itu saksi tidak lebih dari 10 orang saat aku menikahinya. Namun sekarang berbeda. Ada lebih banyak orang baik dari kerabatnya maupun kita, di samping itu poin kuncinya adalah dia kini bisa menyaksikan langsung ketika aku menikahinya- sekali lagi. Maka bukankah wajar aku gugup dan gelisah sebab hari ini sangat istimewa untuk kami berdua?" Pemuda itu membalas dengan nada fasih dan serius.
Dia tidak tahu berapa kali dirinya membayangkan hari ini bertahun-tahun yang lalu. Dan setelah sampai ke titik ini, dia tidak tahu sudah berapa kali dirinya terbangun di tengah malam gara-gara memikirkan momen hari ini. Sungguh, hanya Allah yang tahu betapa excited dirinya untuk hari ini dan betapa gelisah dirinya untuk momen ini.
__ADS_1
Paman hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi tegas keponakannya.
"Khalid, paman senang kamu akhirnya memiliki hari ini. Sekarang, apakah kamu sudah siap menyempurnakan sebagian dari agamamu, menjalankan ibadah terpanjang di dunia ini, apakah kamu telah siap?" Paman bertanya serius kepada keponakannya.
Habib Khalid membawa pandangannya ke arah luar jendela. Orang-orang telah mengelilingi mobilnya tapi tepat di depan pintu keluar, sebuah jalan kecil di sisakan untuknya.
Lalu mengalihkan matanya menatap ke arah paman,"Bismillah, aku sudah siap, paman."
"Maka jemput lah bidadari dunia kamu sekarang."
Habib Khalid mengambil nafas panjang dan langsung keluar dari mobil. Saat keluar, dia segera disambut oleh salam hangat dari banyak orang. Bahkan setiap langkahnya masuk ke dalam gedung diiringi oleh shalawat dan pekikan takbir yang menggetarkan hati. Hari sanubarinya bergetar terus menerus, memperkokoh setiap langkah yang kakinya ambil hingga dia akhirnya sampai di depan pintu masuk gedung pernikahan.
__ADS_1
Di depan gedung, beberapa laki-laki paruh baya berdiri lurus menghadangnya. Mata tua mereka yang berkabut menatap lurus nan serius ke arah habib Khalid.
"Kakek, Ayah, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.." Dengan nada hangat dan penuh penghormatan, habib Khalid meraih tangan Kakek, menciumnya sopan sebelum beralih mencium tangan Ayah.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Nak." Suara Kakek dan Ayah gak tidak kompak.
Habib Khalid lalu menegakkan punggungnya kembali berdiri tanpa gentar dihadapan mereka berdua.
"Anakku, sebelum mengizinkan kamu masuk ke dalam, izinkan Ayah dan Kakek mengatakan sesuatu kepadamu."
Habib Khalid mengangguk mengerti apa yang ingin mereka katakan.
__ADS_1