
"Aisha Rumaisha. Nama yang bagus. Nak, siapa yang mengajari mu membuat nama ini?" Suara lembut seorang wanita membangunkan Aish dari lamunannya.
Tiba-tiba Aish membuka kelopak matanya, melihat tempat di sekelilingnya hanya berupa hamparan rumput yang sangat luas. Aish tidak bisa melihat ujungnya.
Bingung, dia belum pernah datang ke tempat ini. Tidak ada pepohonan, rumah, pondok, ataupun hewan. Tempat ini malah dipenuhi hamparan rumput dengan beberapa hamparan bunga kecil yang menyenangkan mata.
"Hem...wangi yang familiar." Bisiknya mencium udara di sekitarnya.
Tapi dia tidak yakin pernah mencium wangi ini dimana.
"Bibi Arum, aku membuatnya sendiri. Untuk adil kecil ini, aku begadang semalaman memikirkan nama yang cocok untuknya. Uma dan Abah bilang nama yang kuberikan adalah doa untuknya dalam hidup ini jadi aku harus berhati-hati saat membuatkannya nama." Ini adalah suara seorang anak laki-laki yang masih sangat muda.
Bibi Arum? Terdengar tidak asing.
Aneh, meskipun kekanakan namun Aish merasakan sentuhan dewasa di dalam nada suara anak laki-laki itu. Apalagi mendengar suaranya yang lembut, ada getaran samar di dalam hatinya.
Bingung, Aish melihat ke sekelilingnya untuk mencari dimana arah sumber suara itu berasal. Sampai mata aprikot nya menangkap bayangan beberapa orang di dalam kabut.
Samar, Aish melihat seorang wanita memeluk bayi merah di pelukannya. Di depan wanita itu berdiri seorang anak laki-laki tinggi yang memiliki aura kekanak-kanakan di sekelilingnya. Aish tidak bisa melihatnya dengan jelas karena anak laki-laki itu membelakanginya. Jadi ia hanya bisa melihat rambut hitam dengan postur badan yang bagus milik laki-laki tersebut. Sedangkan untuk wanita itu, aneh... Aish tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi ia merasakan sentuhan intim yang belum pernah dirasakan selama ini.
"Siapa?" Aish bertanya tapi anak laki-laki ataupun wanita itu sama sekali tidak mendengar pertanyaannya.
"Masya Allah, Al-Khalid pintar banget. Aisha pasti bangga bila suatu hari dia tahu jika namanya ini diberikan oleh kamu, Nak." Tawa wanita itu sangat menyenangkan dan hidup, seakan wanita itu tertawa tepat di depannya.
Mata Aish tiba-tiba menjadi basah.
Siapa Al-Khalid?
Siapa bibi Arum?
Mengapa ia tidak tahu tentang kedua orang ini namun obrolan yang mereka bicarakan seperti mengalir ke dalam jiwanya.
"Bibi Arum, aku tidak memanggilnya Aisha." Anak laki-laki itu tidak mengoreksi.
__ADS_1
Wanita itu tertawa lagi,"Oh, lalu apakah Al-Khalid sudah menyiapkan nama panggilan untuknya?"
Anak laki-laki itu menjawab dengan percaya diri.
"Ya. Sejak aku memberikannya nama ini, aku akan memanggilnya Aish."
Deg!
"Aish?" Suara wanita itu terdengar tenang.
"Yah, Aish." Ulangi anak laki-laki itu lagi.
"Kalau begitu panggil saja namanya Aish." Suara wanita itu mulai menjauh. Bahkan sosoknya pun mulai mengabur dari pandangan Aish.
Aish terkejut. Tangannya tanpa sadar ingin mengejar wanita itu. Akan tetapi saat dirinya baru saja melangkah, anak laki-laki itu tiba-tiba berbalik menatapnya. Melihat wajah anak laki-laki itu, mata aprikot Aish langsung membola kaget.
"Aish."
"Heh..." Aish langsung terbangun tidurnya dan mengagetkan kedua sahabatnya yang selalu setia menunggu Aish bangun.
Lega bercampur haru karena sang sahabat akhirnya bangun. Sejak tadi pagi dia terus menyalahkan dirinya yang tidak becus. Karena jika dirinya tidak nekat, maka Aish dan Gisel tidak akan terluka.
Aish mengerjap ringan memandangi tembok putih di sekelilingnya. Jika bukan karena bau disenfektan khas rumah sakit, maka Aish akan mengira jika dirinya ada di klinik pondok.
"Aish..." Dira dan Gisel memeluknya erat.
Aish terharu. Dia lalu membalas pelukan mereka dengan sayang. Sejenak, perasaan hangat ini mengingatkannya pada tawa wanita itu ketika menatap bayi merah di pelukannya.
Bibi Arum?
Mata Aish bergetar ringan. Beberapa detik kemudian sebuah cairan hangat meluncur dari sudut matanya. Sekarang ia akhirnya ingat siapa wanita itu.
Bibi Arum, nama Mamanya adakah Arumi. Pantas saja ia merasa sangat nyaman saat mendengar suaranya dan pantas saja ia tidak rela melihatnya pergi. Ternyata alasannya karena wanita itu adalah Mamanya.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan apa yang aku lihat di dalam mimpi itu? Al-Khalid, mengapa nama dan wajahnya agak mirip dengan kak Khalid? Kecuali Al-Khalid lebih muda dan kak Khalid lebih dewasa, aku berpikir jika mereka mungkin adalah orang yang sama. Tapi... apakah yang aku lihat di dalam mimpi itu benar adanya? Atau mungkin saja mimpi ini hanya bunga tidur saja. Pasalnya kak Khalid... mungkin tidak akan iseng memikirkan nama untuknya hingga sampai begadang semalaman. Yah, aku... tidak tahu...Batin Aish terjebak dalam kebingungan.
Sejenak mimpi itu membekas dalam di jiwanya. Ia merasa seakan mimpi itu memang pernah terjadi sebelumnya. Aneh, kan?
"Hist.." Aish meringis sakit.
Ia melihat lengan kirinya yang diperban dengan ekspresi rumit.
"Maaf Aish, aku enggak sengaja." Dira buru-buru menjauh dari Aish agar tidak menyentuh tangannya lagi.
"Hei, kenapa kamu menangis?" Tanya Aish heran.
Dira menghapus air mata di pipinya.
"Maaf." Ucapnya menyesal.
"Jika aku tidak mengajak kalian naik motor, maka kita semua tidak akan berakhir di rumah sakit ini dan Aish juga enggak akan terluka. Aku minta maaf. Lain kali aku enggak akan mengulanginya lagi." Kata Dira menyesal.
Faktanya luka Aish tidak parah. Ini hanya luka gores saja, tapi agak dalam sehingga mengeluarkan baju darah. Selebihnya Aish pingsan karena shock dan bukan masalah serius, jadi semua orang tidak terlalu khawatir setelah mendengar laporan dokter.
Aish melirik perban di lengannya, ini bukan luka besar dan tidak terlalu sakit.
"Apa yang perlu dimaafkan. Aku sendiri yang mau naik motor sama kamu. Lagipula pengalaman ini terbukti cukup menyenangkan dan menghibur jadi kapan-kapan kita naik lagi, yah-"
"Naik apa?"
Aish langsung tersedak air liurnya sendiri dan tidak berani mengucapkan kata-kata selanjutnya saat melihat sang habib masuk ke dalam kamar rawatnya. Wajah habib Khalid tidak bagus, sepertinya dia sangat marah kepada Aish.
"Enggak naik apa-apa, kak." Kata Aish malu.
Melihat habib Khalid masuk ke dalam kamar, Dira dan Gisel langsung menyusut ke sisi Aish untuk mencari perlindungan. Faktanya, Aish juga sama terancamnya seperti mereka.
"Bagus kalau kamu sadar. Lain kali kalian membuat masalah seperti ini lagi, aku sendiri yang akan mengirim kalian ke Arab." Ancam habib Khalid serius.
__ADS_1
Di pondok saja belajar mereka tidak becus dan belum bisa berbahasa Arab, apalagi di Arab nanti. Mungkin belum satu bulan belajar di sana, badan mereka pasti menyusut kehilangan banyak berat badan.
"Habib, kami enggak mau belajar ke Arab. Ilmu kami masih kecil dan belum setinggi itu untuk sampai ke Arab." Kata Dira cemas.