
"Benar, kak. Kak Aish dan kedua teman-temannya mengalami kecelakaan. Mereka tidak terluka parah dan hanya cedera kecil di beberapa tempat jadi mereka langsung dilarikan ke rumah sakit." Kata junior itu sekali lagi menerangkan.
Yang lain ikut berbicara,"Tapi kecelakaan tadi pagi membuat banyak orang panik, kak. Terutama habib Thalib. Kata orang-orang yang ada di TKP, mereka melihat habib Thalib sangat panik ketika kecelakaan itu terjadi. Apalagi saat melihat kak Aish pingsan dengan lengan terluka, habib Thalib langsung mengangkatnya secara pribadi dari genangan lumpur dan membawanya masuk ke dalam mobil."
Junior ini tidak sadar telah menggoreskan luka di dalam hati idolanya. Nadira memikirkan seribu macam skenario dan tebakan samar saat mendengar informasi ini. Wanita mana yang rela melihat laki-laki yang disukai menyentuh wanita lain, apalagi jika wanita itu adalah saingan cintanya?
Nadira sama sekali tidak rela. Hatinya berdegup kencang karena cemburu dan marah. Perasaan ini campur aduk di dalam dadanya. Diam-diam diri ini menyalahkan Aish atas rasa sakit dihatinya.
"Hush, ini hanya rumor dan belum jelas kebenarannya." Junior yang lain melihat ketidaknyamanan di wajah Nadira dan langsung menegur temannya agar tidak berbicara lagi.
Temannya tidak peka terus saja berbicara.
"Enggak kok, kakak ku sendiri yang jadi saksi saat kecelakaan itu terjadi." Katanya bersikeras yang lagi-lagi menggores luka di dalam hati Nadira.
Temannya kesal dengan kebodohan junior ini. Dia mengangkat tangannya meraih bahu junior ini dan meremasnya kuat agar jangan berbicara lagi.
"Iya, tapi ini masih rumor. Habib Thalib enggak mungkin menyentuh wanita yang bukan mahramnya." Katanya tertekan.
Junior itu akhirnya menyadari apa kesalahannya dan menatap Nadira dengan pandangan bersalah. Dia menggigit bibirnya malu tidak berani berkata apa-apa lagi. Sementara temannya sangat puas dengan sikap diam junior ini.
Nadira berusaha mempertahankan senyumannya,"Lalu dimana mereka sekarang?" Dan habib Thalib?
Apakah sang habib masih bersama Aish atau tidak?
Dia ingin memuntahkan pertanyaan ini namun untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, rasanya sangat berat di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kak Nadira lihat keramaian itu, kan? Mereka baru saja dikirim pulang dari rumah sakit. Rencananya akan ada sidang, tapi karena waktu sudah tidak mendukung maka sidangnya ditunda hingga besok." Salah satu orang menjawab.
Tidak perlu dijelasin sidang apa itu karena Nadira bisa menebaknya langsung. Lagipula ulah ini tak bisa dimaafkan dan dia sangat bersyukur Aish mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dilakukan hari ini. Setidaknya dengan hukuman besok, Aish bisa berpikir panjang lagi untuk membuat masalah dan menarik perhatian sang habib.
"Iya kak, sayang banget tahu enggak. Kita pengen banget ngeliat sidang ini tapi enggak bisa karena besok kami semua kembali bersekolah." Kata yang lain menyesalkan waktu sidang yang ditunda.
Jika malam ini ada sidang, mereka bisa ikut menonton tapi kalau besok, mereka mustahil melakukannya karena sekolah. Ini sangat disayangkan.
"Ini demi kebaikan kalian sendiri. Sidang ini mungkin sangat pribadi karena menyangkut beberapa hal yang sangat penting sehingga kita tidak bisa ikut campur. Selain itu, masalah ini juga menyangkut nama baik pondok pesantren kita jadi sebaiknya ikuti saja apa yang pondok mau dan dengarkan hasil akhirnya. Pondok pesantren pasti berharap jika masalah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran oleh semua orang."
Nadira menjelaskan dengan suara lembut dan lambat kepada junior-juniornya agar lebih mengerti situasi saat ini.
Apa yang Nadira katakan juga diketahui oleh junior-junior itu tapi mereka tetap senang mendengarnya langsung dari bibir Nadira.
"Baiklah, kalian bisa kembali ke asrama dan kakak akan pulang ke rumah Umi dulu. Ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan dengan Umi." Nadira buru-buru memutuskan pembicaraan.
Kepergian Aish sama artinya dengan kedamaian di pondok pesantren ini jadi siapapun tidak akan bisa menolak gagasan ini. Lagipula sejak awal Aish juga enggan tinggal di sini jadi keputusan ini tidak akan membuatnya berat.
Toh, orang seperti Aish, tinggal di kota jauh lebih baik daripada tinggal di dalam pondok pesantren yang serba ketat juga banyak aturan.
...*****...
Nasifa pulang ke rumah dan langsung masuk ke dalam ruangan kerja Abah. Duduk di sofa, tubuh lelahnya bersandar dengan mata terpejam menunggu Abah kembali. Dia sangat lelah hari ini. Lelah karena perjalanan jauh, lelah memikirkan kemarahan habib Thalib kepadanya, dan yang lebih melelahkan lagi adalah menghadapi adiknya yang keras kepala.
Dulu dia berharap adiknya segera pulang ke rumah agar bisa menghabiskan banyak waktu bersama di pondok pesantren. Sebab sebagai gadis yang telah bertunangan, dia akan segera menikah dan tidak mudah bersama lagi dengan adiknya bila sudah menikah nanti.
__ADS_1
Tapi setelah melihat betapa keras kepala adiknya sekarang, dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk mendorong adiknya kembali ke Mesir untuk belajar.
Ini lebih baik daripada membuat masalah di sini.
"Assalamualaikum." Abah masuk ke dalam ruangan dan terkejut melihat putri tertuanya duduk lemas di sofa.
"Ada apa, nak?" Tanya Abah lembut.
Nasifa membuka matanya, melihat Abah datang menghampiri dengan senyuman lembutnya yang menghangatkan. Seketika rasa lelahnya langsung menjadi ringan.
"Abah... Nasifa ingin membicarakan sesuatu kepada Abah." Kata Nasifa seraya memperbaiki duduknya lebih sopan.
Abah duduk di sampingnya.
"Mau membicarakan apa sama Abah? Apakah ini masalah pelajaran?" Tanya Abah menebak.
Nasifa tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Akan lebih baik semudah itu.
"Abah, adikku sepertinya menyukai habib Thalib. Sejak pulang ke sini dia...telah melakukan beberapa tindakan untuk mengejar habib Thalib. Menurut Abah, apakah adikku memiliki peluang bisa bersama habib Thalib?"
...****...
"Assalamualaikum, Nadira pulang- eh, malam ini agak spesial yah karena semua orang berkumpul di rumah. Ada apa? Nadira juga mau ikut diskusi sama kalian." Nadira tersenyum cerah melihat Abah, Umi, dan Nasifa sudah berkumpul di ruang tamu.
Biasanya rumah selalu kekurangan beberapa orang karena ada yang tinggal di asrama dan ada pula yang sibuk di kantor pondok hingga pulang larut. Alhasil hanya Nadira dan Umi saja yang sering tinggal di rumah.
__ADS_1
"Kebetulan kamu ada di sini. Duduklah." Kata Abah serius.
Nadira tanpa ragu langsung duduk di kursi yang sama dengan Nasifa. Semua orang terdiam. Tidak ada ekspresi apapun di wajah Nasifa maupun bahkan Abah, hanya Umi yang duduk lesu di pojok tanpa mengangkat kepalanya. Melihat ini, Nadira akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah di sini.