Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.10


__ADS_3

Aira benar-benar marah tapi sayangnya Dira sama sekali tidak takut melihat ekspresi murka di wajahnya. Bukannya takut tapi dia malah sangat senang karena dia berhasil memancing kemarahan Aira. Menjijikan melihatnya setiap kali memasang ekspresi palsu itu, seolah-olah dia adalah teratai putih yang tumbuh dengan indah tanpa dosa sedikit pun, ah padahal hatinya sangat hitam.


"Kenapa, kamu marah? Lho, emang bener kan kalau kamu tuh lahir dari rahim seorang Ibu tiri, perebut suami orang. Kamu nggak malu apa bertindak seolah-olah kamu adalah orang yang teraniaya selama ini, padahal faktanya di mana-mana yang teraniaya adalah anak dari istri pertama. Sangat aneh." Balas Dira tidak takut.


Situasinya terlihat tidak baik, Aish berpikir bahwa situasinya semakin memburuk bukan karena dia takut tapi karena dia tahu bahwa di sini pasti mereka bertiga lah yang akan disalahkan oleh bibi. Apalagi orang yang datang ke sini mengirim Aira mungkin tidak hanya bibi tapi juga sepertinya Ayah juga Bunda ikut serta ke sini. Atau mungkin parahnya lagi orang yang datang ke sini lebih dari itu dan Aish tahu bahwa posisinya tidak akan pernah benar jika mereka melihatnya.


"Sudahlah Dira, ayo kita kembali ke asrama. Tidak ada gunanya berbicara dengan mereka." Ais menarik tangan Dira agar jangan berbicara lagi.


Namun bibi dan Aira sudah terlalu marah, mana mungkin mereka mau melepaskan diri pergi begitu saja. Tidak, mereka tidak akan melepaskannya.


"Mau pergi ke mana? setelah menghina keluargaku kamu ingin pergi begitu saja? Aisha...oh Aisha, bibi tidak tahu jika kelakuanmu bertambah buruk setelah pindah ke pondok pesantren. Padahal bibi sudah berharap besar di rumah tadi kalau kamu berubah menjadi gadis yang lebih baik, menurut, patuh cerdas dan sopan. Tapi sayangnya apa yang aku lihat dan dengar tadi, bukannya bertambah baik tapi kamu malah semakin mengecewakan." Seorang wanita tiba-tiba muncul dari belakang, setelah melihat siapa itu Aish merasakan sesak di dalam hatinya. Oh, siapa lagi yang datang kalau bukan bibinya yang lain.


Di rumah itu Aish memiliki 3 bibi. Bibi pertama tinggal di kota A dan jarang kembali ke rumah karena dia serta suaminya bekerja di kota A, sedangkan kedua bibinya yang lain tinggal di rumah Ayah beserta keluarga kecil mereka. Mereka berdua bukanlah orang yang baik sebab sekecil apapun kesalahan Aish di rumah itu pasti akan dibesar-besarkan. Sesungguhnya Aish sudah lelah sebenarnya. Tapi karena dia tinggal di tempat itu saat itu dia tidak bisa berkata apa-apa selain melawan dan karenanya dia dikecam sebagai anak yang pemberontak.


"Dia tidak menghina keluarga kalian tapi dia mengatakan yang sebenarnya. Bukankah itu fakta bahwa Aira lahir dari rahim orang yang menghancurkan pernikahan Mamaku?" Aish membalas dengan muram, menatap orang-orang yang mulai mengelilingi Aira.


Sungguh ironis, mereka mengelilingiku seakan aku adalah momok dan parasit yang harus segera dimusnahkan. Aneh, bukankah mereka keluargaku tapi mengapa sikap dan perlakuan mereka kepada ku sangat menyakitkan? Batin Aish menahan sesak di dada.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, Aish? Aira adalah adikmu dan Bundanya adalah Bundamu juga. Masa lalu memang menyakitkan tapi tidak seharusnya kamu membawa masa lalu ke sini. Lagi pula kamu hanya anak kecil, kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan orang-orang dewasa saat itu. Dan yang lebih penting lagi Aish, apa yang kamu maksud dengan keluarga kalian? Kami adalah keluargamu. Kenapa kamu mengatakan kata-kata tidak masuk akal itu? Mamamu pasti akan sangat marah jika mendengarnya dan Ayahmu pasti akan sangat kecewa karena kamu tidak menganggap kami sebagai keluargamu." Bibi berbicara tidak sekeras dulu, Aish pikir ini mungkin karena mereka sedang ada di pondok pesantren dan bukan di rumah. Jadi bibi mungkin malu berbicara terlalu kasar kepadanya seperti dulu sewaktu di rumah. Tapi setelah memprihatikan nada bicaranya yang kian lembut, kecurigaan mulai tumbuh di dalam hatinya.


Tapi itu tidak penting sama sekali, Aish tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan karena saat ini dia merasa bahwa mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi.


"Aku akan mengatakannya secara jujur sekarang. Saat itu di rumah setiap kali aku berbicara kalian akan selalu mencari masalah kepadaku. Tapi sekarang tidak, aku tidak mengizinkan itu terjadi. Aku akui bahwa aku tumbuh besar di tempat itu tapi itu karena ada Kakek bersamaku. Dan menurutku satu-satunya orang yang ku anggap keluarga di rumah itu adalah Kakekku seorang dan bukan kalian. Sesungguhnya, keponakan yang kalian semua akui hanyalah Aira seorang dan bukan aku. Jadi selepas kalian mengirimku ke tempat ini, aku sudah menganggap bahwa aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan kalian, aku tidak perlu menghormati kalian lagi, mendengarkan kata-kata kasar kalian lagi atau tuduhan-tuduhan lainnya kepadaku. Aku sekarang bahagia di tempat ini dan ketika keluar nanti dari tempat ini, sudah pasti aku tidak akan mengunjungi tempat kalian. Seharusnya kalian senang mendengarnya karena sejak aku keluar dari rumah itu, kalian tidak akan lagi merasa terganggu dan kalian pasti sekarang puas dengan kehidupan yang kalian jalani tanpa diriku." Ais meluapkan isi hatinya.


Sejujurnya kata-kata ini sangat menyakitkan sebab jauh di dalam hatinya dia selalu menganggap bahwa keluarga Ayahnya adalah keluarganya juga meskipun sikap dan tindakan mereka selama ini membuatnya selalu sakit.


Tapi sudahlah, cukup sampai di sini. Jika suatu hari nanti Allah membuka hatinya memberikan ruang untuk memaafkan mereka maka dengan sendirinya dia akan datang menemui keluarga itu lagi, meminta maaf dengan tulus tapi tidak berniat terlibat dalam kehidupan mereka lagi.


"Aisha Rumaisha! Apa yang baru saja kamu katakan!"


Aish tidak bergeming dengan bentakan Bibi kepadanya.


Tapi melihatnya seperti ini, Dira dan Gisel sangat ketakutan. Mereka tidak menyangka Aish akan mengeluarkan kata-kata kejam itu walaupun sejujurnya itu adalah pilihan terbaik untuk sahabat mereka tapi mengeluarkannya secara langsung hati itu pasti sakit.


"Aku serius, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tenanglah, aku juga tidak akan meminta uang dari kalian karena Mamaku sudah menyiapkan tabungan yang cukup besar untuk menghidupiku sampai ke depannya."

__ADS_1


Begitu kata tabungan disebutkan ekspresi Bibi langsung berubah, jelas sekali bahwa mereka sangat tertarik dengan tabungan yang ada di tangan Aish.


Wajah bibi dan Aira sangat tidak sinkron dengan situasi sekarang. Ada binar terang di dalam mata mereka. Uang mungkin telah menyulut keserakahan di dalam hati mereka.


Wajah bibi sangat cemas, dia akan membuat suara untuk meluluhkan hati Aish, tapi sebelum itu terjadi, suara berat nan candu memanggil nama Aish.


"Aish, kemari lah." Habib Khalid memanggil.


Aish terkejut. Karena terlalu asik berbicara dia lupa jika habib Khalid masih ada di sini. Malu, dia buru-buru mengusap wajah sendunya dan berbalik menghampiri habib Khalid.


"Habib Thalib..." Aira langsung cemas melihat Aish menghampiri habib Khalid.


Kedua bibinya melihat laki-laki tinggi nan tampan yang mengobrol dengan Aish sekarang. mereka tidak menyadari itu adalah habib Khalid sebelumnya. Jika mereka tahu, perdebatan tadi pasti tidak akan meluas untuk menjaga harga diri Aira.


"Ayo samperin, ucapkan salam kepadanya." Bujuk salah satu bibi kepada Aira.


"Yo nenek lampir, tempat ini bukan rumah kalian jadi kalian bisa bertindak semau-maunya. Ini adalah pondok pesantren dimana orang yang jujur dan tulus selalu diutamakan. Sedangkan keponakan tercinta kalian ini...huh, bukankah dia terlalu munafik?" Dira kembali mengejek, menghalangi Aira untuk berbuat macam-macam apalagi sampai mengganggu acara pendekatan sahabatnya dengan habib Khalid.

__ADS_1


__ADS_2