Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.1


__ADS_3

Motor langsung terjun ke dalam sawah yang baru saja ditanami padi. Sawahnya masih becek dan berlumpur sehingga menyelamatkan mereka bertiga dari rasa sakit. Jatuh ke dalam lumpur, Aish tidur menyamping di dalam lumpur sedangkan Gisel jatuh menelungkup di dalam lumpur. Naas, dari mereka bertiga posisi Dira lah yang paling canggung. Tubuhnya yang kurus ikut berbaring bersama motor yang dikendarainya tapi untungnya tidak menindih kakinya sehingga tidak menimbulkan cedera besar. Kecuali beberapa luka lecet, mereka semua baik-baik saja.


"Ugh...surga?" Gisel mengangkat kepalanya dari lumpur karena tidak bisa bernafas.


Dengan nafas terengah-engah bola matanya berkedip melihat sekitarnya. Berpikir apakah dirinya sudah sampai surga atau belum.


"Kita di sawah, bukan di surga. Di surga mana ada sawah berlumpur kayak begini." Gerutu Dira tidak jauh darinya.


Badan Dira lemas. Kedua tangannya masih gemetaran parah mengingat kejadian beberapa detik yang lalu. Dia hampir saja menggadaikan hidupnya dengan motor butut ini. Sungguh, dia sangat menyesalinya dan ingin memutar waktu kembali.


"Oh, kita masih hidup." Respon Gisel biasa.


Dia lalu merubah posisi badannya hingga terduduk sambil melihat sekitarnya. Di antara mereka bertiga, Aish adalah satu-satunya orang yang tidak bersuara.


"Aish? Aish jangan-jangan udah dikirim ke neraka, Dir!" Teriak Gisel ngeri karena tidak melihat sahabatnya dimana-mana.


"Jangan asal ngomong, aku di belakang!" Suara sinis Aish mengaburkan imajinasi Gisel.


Gisel langsung menoleh,"Oh."


Mulutnya langsung berkedut begitu melihat penampilan Aish. Em, rasanya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata karena penampilan Aish.... sangat esentrik. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke samping melihat Dira yang masih betah berpegangan pada motor itu. Tidak usah dibicarakan lagi, penampilan Dira juga sangat lucu. Mulutnya gatal ingin tertawa.


Dira memutar bola matanya malas.


"Jangan tertawa. Di antara kita bertiga penampilan kamu adalah yang paling hancur. Dari ujung kepala sampai kaki, percayalah yang keliatan putih cuma mata dan gigi kamu doang. Selain itu semuanya hitam sehitam lumpur di hatimu."


Sebelum Gisel melepaskan tawanya, Dira buru-buru menyiramnya dengan air dingin. Gisel praktis kehilangan senyuman di bibirnya. Bebat saja, dia juga baru menyadari jika posisi yang paling ngenes tadi cuma dirinya seorang. Aish dan Dira baik-baik saja posisinya. Yang lain menyamping ke sana , yang lain lagi menyamping ke sini. Berbeda dengan dirinya yang tidur tertelungkup di dalam lumpur.


"Apa-"

__ADS_1


"Ini mereka!"


"Mereka semua selamat!"


Kata-kata horor itu terpaksa ditelan kembali ke dalam mulutnya ketika melihat sekelompok laki-laki yang mengejar mereka akhirnya datang. Dengan ngeri, Gisel memutar matanya dan hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat beberapa orang telah melorot sarungnya karena kebanyakan berlari. Bahkan yang paling menakjubkan adalah ada seorang laki-laki tersandung kain sarungnya sendiri dan terjun ke dalam sawah tanpa bisa dihentikan.


"Oh...aku sekarat." Dira tidak berniat bangun dan berpura-pura cedera.


Gisel juga ingin rebahan kembali untuk berpura-pura mendapatkan cedera tapi apa yang dilihat langsung membuatnya ketakutan.


"Habib Thalib...habib Thalib...kok di sini?" Gisel menatap horor laki-laki jangkung nan tinggi yang langsung terjun ke dalam sawah tanpa memperdulikan celana dibasahi lumpur.


"Apa..?" Aish merasa kepalanya tidak benar dan matanya pun mulai berat.


Ia tidak tahu apa yang terjadi sekarang karena badannya sangat lemas dan beberapa bagian ditubuhnya juga sakit. Seingatnya sebelum jatuh ke sawah tadi, ia merasakan ada benda tajam yang menabrak lengan kirinya.


Gisel tidak menjawab dan Dira pun tidak punya waktu untuk menjawab. Mereka berdua menatap kosong saat habib Khalid berlari kencang di dalam sawah dengan langkah yang begitu ringan dan mudahnya. Seolah-olah habib tidak berlari di dalam air berlumpur, tapi di tanah biasa yang bebas.


"Aish, kamu berdarah!" Kata habib Khalid panik seraya mengusap wajah berlumpur Aish.


Di dalam kesadaran yang mulai menipis, samar, Aish mendengar suara panik sang habib di dekatnya. Suaranya begitu jauh tapi anehnya rasanya sangat dekat. Aish linglung mencari asal suara sampai dirinya merasakan sebuah pelukan hangat dari seseorang- ah, ini tak mungkin salah lagi. Dari wanginya Aish tahu bila orang yang sedang memeluknya adalah sang habib, sang pujaan hatinya.


"Kak... Khalid..." Dan ia pun kehilangan kesadarannya.


Aish jatuh pingsan dan mengagetkan kedua sahabatnya. Dira dan Gisel ketakutan melihat lengan kiri Aish berdarah. Darah merah dan segar mengucur dari lengan yang terluka, bergerak turun mengikuti arus hingga berjatuhan dari jari jemari ramping Aish yang indah.


"Ya Allah... Aish.." Dira langsung berdiri cemas melihat sahabatnya kehilangan banyak darah dan pingsan.


"Aish...huhu... Aish.." Gisel mulai menangis terisak di atas lumpur.

__ADS_1


Melihat keadaan Aish seperti ini, badannya langsung lemas dan tak memiliki kekuatan ekstra untuk berdiri.


Habib Khalid mengangkat Aish yang pingsan ke dalam pelukannya dan memerintahkan yang lain untuk segera mengurus motor dan sisanya.


"Masalah ini akan diselesaikan setelah Aish bangun." Kata habib Khalid dingin sebelum membawa langkahnya ke pinggir sawah.


Di pinggir sawah, setelah menurunkan Aish ke pangkuan, habib Khalid lalu merobek lengan bajunya yang bercampur dengan lumpur. Membilasnya dengan air botol putih dari salah satu sebelum mengikatnya ke lengan kiri Aish.


"Jangan salahkan aku bertindak kejam setelah ini." Bisik habib Khalid dingin tanpa menyadari ekspresi kebingungan beberapa orang yang mengitarinya.


Untungnya ada mobil pondok pesantren di depan jadi Aish dan kedua sahabatnya bisa di bawa ke rumah sakit untuk dirawat. Keadaan mereka bertiga butuh penanganan dari dokter profesional di rumah sakit langsung sehingga habib Khalid tidak membawanya ke klinik pondok pesantren. Selain itu Aish adalah orang yang terluka parah di antara mereka bertiga dan kehilangan banyak darah. Itulah sebabnya habib Khalid lebih mempercayakan rumah sakit daripada klinik di pondok pesantren.


Untuk luka Aish, dia yakin membutuhkan penanganan dari peralatan canggih di rumah sakit. Sedangkan klinik pondok, hanya berupa klinik biasa dan ada satu dokter yang tidak bisa menangani Aish dengan cepat.


"Aish... enggak apa-apa kan, Dir?" Bisik Gisel kepada Dira.


Sejak mengetahui Aish pingsan, wajah Dira sangat muram. Jelas dia marah dan kecewa dengan dirinya sendiri karena tak mampu menjaga sahabatnya itu.


"Aku berharap... Allah menjaga Aish agar dia baik-baik saja..." Bisiknya lemah.


Gisel memiliki harapan yang sama dengannya. Mereka berdua melirik Aish di kursi belakang. Di sana habib Khalid tidak pernah melepaskan Aish dari pelukannya yang sangat baik dan membahagiakan untuk sahabatnya itu. Yah, jika saja Aish tidak pingsan saat ini maka dia pasti akan merasa sangat bahagia dipeluk sehangat ini oleh sang habib.


Hanya saja, mereka memandangi kursi belakang yang sepenuhnya di monopoli oleh sang habib dan melihat ke kursi yang mereka berdua duduki. Mau dilihat dari manapun, semuanya terlihat tidak etis. Meskipun mereka ramping, tapi duduk di kursi yang sama dan kecil, agaknya kurang...


Benar, mereka dipaksa naik ke dalam mobil dan duduk di kursi depan, berdua, berhimpitan di tempat yang sama!


Badan mereka juga sakit-sakit dan lemas, teganya korban kecelakaan diperlakukan buruk. Mereka mengeluh di dalam hati tapi tak mampu mengatakannya karena mereka berdua tidak gila mengundang kemarahan sang habib.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Bisik Dira menenangkan Gisel yang kedinginan.

__ADS_1


"Hem." Gisel memiringkan kepalanya di pundak Dira dan perlahan memejamkan matanya lelah.


__ADS_2