
Nasha tidak kehilangan sabar atas provokasi yang disengaja Aish kepada dirinya. Sebab dia sudah dijelaskan dengan baik oleh Umi dan Abah mengenai tempramen Aish serta teman-temannya yang masih belum ikhlas tinggal di pondok pesantren. Dan karena pengingat Umi dan Abah lah dia meyakinkan hatinya bahwa dia harus lebih bersabar dalam menghadapi mereka. Ini adalah misi yang Umi serta Abah berikan kepadanya, maka bagaimana mungkin Nasha melalaikan tugas ini?
Malah dia senang karena mendapatkan kepercayaan Umi dan Abah untuk menyelesaikan tugas ini.
"Pondok pesantren memiliki penjelasan yang jelas untuk semua hukuman yang diberikan. Pertama, kalian sudah lebih dari tiga hari di sini, jadi aturan sedasar ini tak mungkin kalian tidak mengetahuinya. Oleh karena itu kalian tak seharusnya bingung dengan aturan pondok yang mengharuskan setiap orang untuk segera bangun melaksanakan sholat tahajud bersama. Kedua, selain mengetahui aturan dasar ini kalian juga tentunya mendengar sanksi apa yang kalian dapatkan ketika melalaikan kewajiban ini, jadi tak seharusnya kalian marah karena akhirnya merasakan sanksi kecil ini, kan? Dan ketiga, kami memercikkan air kepada kalian karena tidak mau bangun, ini adalah pelanggaran pertama. Pelanggaran kedua, jika kalian terus seperti ini dan tidak mau bergegas pergi ke masjid, maka bersiaplah untuk menerima hukuman yang lainnya. Pondok pesantren, terutama pondok pesantren kita memberikan hukuman untuk setiap pelanggaran bukan karena ingin membuat kalian menderita tapi untuk mendisiplinkan kalian semua agar segera memperbaiki diri. Kalian sudah besar, bukan anak kecil lagi jadi aku tidak khawatir mengenai kinerja kepala kalian saat memahami semua kata-kata ku. Sekarang berhenti membuat masalah untuk diri sendiri dan bersiaplah pergi ke masjid." Nasha memiliki suara yang lembut tapi diwarnai ketegasan saat mengulas kata-kata ini kepada mereka bertiga.
Dia tidak marah tapi bukan berarti dia berhati lembut, terutama untuk orang-orang yang suka bersikap arogan seperti Aish.
__ADS_1
"Kamu adalah pembicara yang baik, tidak sia-sia kamu-"
"Aish, sudahlah. Kita pergi saja. Kamu enggak kapok apa sama hukuman yang kita dapatin beberapa waktu ini." Sela Gisel langsung tidak tahan lagi.
Dia juga tidak mau bangun sepagi ini dan dia masih sangat mengantuk, jika bukan karena ancaman hukuman dari pondok, mana sudi dia meninggalkan kasur hangatnya.
"Iya, Aish. Ingat lho kita masih punya hukuman nanti pagi." Pengingat Dira dipenuhi perasaan jengkel.
__ADS_1
"Ish, pengecut kalian berdua." Gumam Aish tidak puas tapi diam-diam ikut khawatir jika hukumannya bertambah.
"Ayo pergi." Aish langsung turun dari kasurnya, mengambil mukena dan mushaf Al-Qur'an dengan ogah-ogahan tanpa menyapa Nasha ataupun staf kedisiplinan asrama putri lainnya.
Melihat Aish pergi, Gisel dan Dira juga langsung mengambil barang-barang mereka, lalu pergi mengejar Aish di depan.
"Kak Nasha terlalu berhati lembut. Jika aku jadi kakak, air di ember ini pasti sudah aku siramkan kepada mereka semua." Ujar Meri, salah satu staf kedisiplinan asrama putri yang sangat tidak puas dengan keputusan Nasha.
__ADS_1
Sikap tiga anak kota itu sangat kurang ajar dan tidak mudah diatur jadi memberikan mereka hukuman yang berat adalah solusi terbaik untuk menurunkan ego mereka bertiga yang tinggi.
Masa iya mentang-mentang mereka berasal dari kota jadi bisa bertindak semaunya?