
Dengan langkah kaki hati-hati, perlahan ku hampiri kak Khalid di samping pintu. Mungkin satu meter jarak darinya, aku sengaja berhenti. Mengintipnya dari sudut mataku, lalu diam-diam menundukkan kepala menatap lantai. Entah sejak kapan kedua tanganku saling melampiaskan gugup di hati, karena saat aku menunduk, aku baru menyadarinya.
Bug
Bug
Bug
Ah, jantungku terus-menerus membuat keributan di dalam dada. Aku sangat takut bila kak Khalid mendengar debaran jantungku sekarang. Em, ini sungguh sangat memalukan ya Allah. Tiba-tiba aku tidak tahu harus bereaksi apa atau melakukan apa setelah berada di samping kak Khalid, laki-laki yang selalu ku kagumi ini telah berubah menjadi suamiku.
"Sudah selesai?" Telingaku menangkap suara gemerisik yang berasal dari kak Khalid.
Tak berani menatap wajahnya, aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Sudah."
__ADS_1
"Pulang sekarang?" Tanyanya kepadaku.
Jantungku sekali lagi membuat keributan di dalam dada. Tak bisa ku gambarkan apa yang aku rasakan sekarang. Intinya aku sangat bahagia bercampur gugup. Kami akan pulang bersama, apakah apa yang aku pikirkan sama persis dengan apa yang kak Khalid pikirkan?
Soalnya kami sudah menjadi pasangan suami istri yang sah. Jadi tidak apa-apa tinggal di tempat yang sama'kan?
"Em...iya, kak." Jawabku masih betah menunduk menatap ke arah bawah.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi kak Khalid ketika melihatku sekarang. Rasanya lumayan canggung, ah, lebih tepatnya lebih canggung daripada sebelum aku mengetahui hubungan kami berdua. Tapi lebih dari semua kecanggungan itu, rasanya sangat manis. Seperti sepanci madu ditumpahkan ke dalam hati ku. Lumer selayaknya karamel yang meleleh di dalam suhu yang tinggi.
Tiba-tiba sebuah tangan besar terulur di depanku.
"Ayo pergi." Katanya.
Ragu, aku meremat kain bajuku gugup.
__ADS_1
"Katanya mau pulang?"
Lagi-lagi aku mengangguk dengan pasif. Mengangkat tanganku dan dengan ragu-ragu menyentuh telapak tangan besar itu. Sedetik setelah jari jari ku menyentuh telapak tangannya, tanpa mengatakan aba-aba aku tertangkap basah, tangan besar itu segera menangkap dan menggenggam tanganku sepenuhnya.
"Ah?" Mataku membulat kaget melihatnya
Namun yang kudapat adalah senyuman lebar dan manis di wajah tampan tanpa cela suamiku. Em, suamiku.
"Takut?" Tanyanya kepadaku sambil tersenyumin geli.
Aku belum sempat menjawab dan suamiku sudah berbicara lagi.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu takut kepada siapapun lagi sekarang. Kalaupun ada orang yang melihat kita, mereka tidak bisa mengatakan apa-apa kepada kita karena semua orang sudah tahu apa hubungan kita berdua." Katanya kepadaku.
Apa yang perlu ditakutkan, aku sama sekali tidak takut. Sebelumnya aku cemas dengan identitas suamiku yang seorang habib. Tak pantas seorang habib bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram, sebenarnya aturan ini berlaku untuk semua orang di dunia ini yang tidak memiliki hubungan mahram. Aku juga tahu ini. Tapi hatiku egois. Dengan berpura-pura bodoh aku sering kali mengabaikan aturan ini. Kupikir selama tidak ada manusia yang melihat, nama baik suamiku tidak akan hancur. Dan anehnya lagi saat itu perasaanku mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan bersentuhan bersama kak Khalid. Ku pikir itu karena keserakahan hati, tapi ternyata itu karena Allah tahu bahwa kami sudah halal bersama.
__ADS_1
"Aku mendengarkan kak Khalid." Pipiku terasa panas hanya dengan melihat senyuman manis suamiku.
Ini sangat memalukan.