Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (4)


__ADS_3

"Masya Allah, semangat ya, Gisel. Semoga kamu diterima magang di sini bersama teman-teman yang lain. Aku harap saat kita semua bertemu nanti, kita semua sukses di bidang masing-masing." Dia terkejut mendengar kabar magang Gisel di sini. Tapi walaupun terkejut dia langsung mengucapkan selamat dan berdoa semoga Gisel diterima bersama teman-teman yang lain.


Mereka sudah tinggal di kamar ini berbulan-bulan lamanya dan dia cukup mengenal bagaimana keseharian Gisel. Menurutnya Gisel baik, sama seperti Dira dan Aish. Jadi dia berharap sesuatu yang tulus untuk Gisel.


Gisel tersenyum malu,"Terima kasih doa kamu. Aku juga berharap yang terbaik untuk kalian semua."


Setelah mengemasi barang-barangnya, bisa mengambil inisiatif untuk membantu teman-teman yang lain mengemas barang-barang mereka. Dia juga ingin mengantar mereka ke depan pintu pondok tapi mereka tidak mengizinkan entar malah ingin membantunya pergi ke asrama magang. Tapi Gisel juga menolak. Dia tidak ingin menunda teman-teman yang lain.


Mereka lalu mengalah satu sama lain. Saling berpelukan singkat dan mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengingatkan hati. Setelah itu yang akan pulang kampung pergi menuju depan pondok pesantren sebentar lagi saya sendiri pergi ke asrama magang.


Berjalan beberapa menit dia akhirnya sampai di depan gedung asrama magang. Lokasinya di belakang dapur umum jadi kalau Gisel bekerja di sini, dia tidak perlu meluangkan banyak waktu menebus perjalanan karena dia hanya perlu bolak-balik dari dapur umum menuju gedung asrama saja. Butuh 4 atau 5 menit yang sangat nyaman.


Di luar Gisel menatap gedung asrama magang. Orang-orang bilang ini adalah gedung staf pondok pesantren. Tapi Gisel lebih suka menyebutnya sebagai gedung magang karena dominan yang tinggal di sini adalah orang-orang yang magang di pondok. Pekerja tetap kebanyakan tinggal di gedung sebelah, yaitu jaraknya cukup dekat dengan asrama putra.


Ini adalah gedung magang khusus perempuan. Sedangkan gedung magang khusus laki-laki bercampur dengan asrama laki-laki. Berdiri di luar gedung Gisel perhatikan gedung ini tidak terlalu luas dan tidak terlalu tinggi. Hanya tiga lantai dan tidak memiliki terlalu banyak kamar.


Kebetulan Gisel mendapatkan kamar nomor 11. Staf yang mengarahkannya ke sini bilang kalau dia akan tinggal dengan satu teman kamar. Staf sudah memberitahu siapa orangnya tapi dia lupa namanya.


Pokoknya orang itu adalah senior Gisel. Sudah 2 tahun di sini dan mungkin akan berubah menjadi pekerja tetap di tahun ini.


Gisel pun berharap bahwa suatu hari nanti dia juga mengubah statusnya menjadi pekerja tetap. Soalnya kalau jadi pekerja tetap gajinya lumayan tinggi, fasilitas yang didapatkan juga jauh lebih bagus daripada gedung magang. Sejujurnya bekerja di pondok pesantren juga sangat menjanjikan. Dia sudah tidak sabar ingin mulai bekerja.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum?" Dia mengetuk pintu kamar nomor 11.


Beruntung dan mendapatkan lantai 1 karena Gisel tidak terlalu menyukai selain lantai ini. Alasannya sangat sederhana. Berada di lantai 1 dapat mempermudahnya mengakomodasikan diri sendiri misalnya seperti mengirim barang berat, membawa barang berat, ataupun hal-hal yang ribet. Selain itu lantai 1 jauh lebih aman daripada lantai di atas. Misalnya terjadi gempa, kalau dia di lantai 1 melarikan diri tidak membutuhkan banyak waktu. Berbeda dengan di lantai atas. Mereka harus berlari melewati tangga dengan keramaian yang sama-sama cemas dan panik. Kecelakaan tak jarang terjadi. Itu sangat mengerikan.


Cklak


"Waalaikumsalam, Gisel, yah?" Wanita yang membuka pintu adalah wanita berkacamata dengan penampilan biasa.


Dia tidak cantik tapi juga tidak jelek. Wajahnya bersih dengan kacamata besar di pangkal hidung. Ketika dia tersenyum orang langsung akan langsung mendapatkan kesan yang baik dan berpikir kalau dia adalah wanita yang menyenangkan. Setidaknya itulah yang Gisel rasakan ketika pertama kali melihat wanita ini.


"Benar, kak. Ini saya, Gisel. Staf pondok pesantren bilang saya akan tinggal di sini sementara menunggu pengumuman dari kantor." Gisel memperkenalkan diri dengan rendah hati dan sopan. Jika dia diterima maka mulai hari itu juga dia akan tinggal di kamar ini. Tapi jika dia ditolak maka dia harus angkat kaki. Setidaknya dia punya tempat untuk tidur untuk beberapa hari ke depan sampai pengumuman dari kantor datang.


"Silakan masuk. Aku sudah menunggu kamu dari tadi pagi sejak mendapatkan kabar dari ustadzah. Sebenarnya aku tidak suka tidur sendirian makanya waktu mendapatkan kabar kalau aku akan punya teman kamar aku sangat excited dan langsung bersih-bersih kamar. Nah, Ini kasurku. Kamu bisa tidur di sebelah jendela." Wanita itu dengan bersemangat membawa Gisel masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Seperti yang dia jelaskan barusan. Khusus untuk menyambut kedatangan Gisel, dia membersihkan kamar ini dan merapikan barang-barang yang sempat berantakan. Menyingkirkan barang-barangnya dari beberapa tempat untuk ditempati oleh Gisel.


Kamar ini memiliki dua ranjang. Satu di sisi tembok dan satunya lagi di sisi jendela. Di dalam kamar ini juga ada dua meja rias sederhana, sama seperti yang Gisel dapatkan di asrama. Lalu ada juga lemari pakaian satu pintu. Tidak ada kamar mandi di dalam kamar ini. Sama seperti kamar di asrama, jika mereka ingin ke kamar mandi maka mereka harus keluar. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Agak berdekatan dengan kamar mereka.


Saat Gisel menaruh barangnya, dia mencium wangi makanan. Ketika dia menoleh ke samping, ada meja kecil lipat di tengah-tengah ruangan. Di atas meja itu terdapat semangkuk besar mie rebus dengan aneka ragam topping. Lalu ada dua gelas air putih di masing-masing sisi. Wanita itu jelas sengaja mempersiapkan makanan ini untuk menyambut Gisel.


"Maaf ya aku menyiapkan makanan seadanya. Stok makanan di kantin terbatas dan mereka belum pergi ke pasar untuk membeli lagi, jadi aku hanya membeli seadanya saja. Untung saja masih ada sosis dan kawan-kawan, meskipun tidak banyak tapi cukup untuk kita berdua." Kata wanita itu sambil membantu Gisel mengatur pakaian di dalam lemari.


Gisel merasa terharu. Ini adalah pertemuan pertama mereka tapi wanita ini sangat baik kepadanya. Sungguh dirinya bersyukur mendapatkan teman kamar sebaik wanita ini. Dan dia berharap memiliki hubungan yang baik dengan wanita ini.


"Masya Allah, kakak jangan repot-repot membuat makanan. Aku tidak ingin menyusahkan kakak." Kata Gisel malu.


Wanita itu melambaikan tangannya tidak setuju. Dia jelas melakukannya murni karena keinginan hatinya sendiri.


"Apa yang perlu direpotkan. Aku malah senang melakukannya. Ayo pindahkan barang-barang mu agar kita segera memakannya sebelum minyak jadi mengembang." Wanita itu mendesak Gisel untuk segera memindahkan semua barang.


Jelas aja kesan wanita itu kepada Gisel sangat baik. Ternyata Gisel orang yang ramah.


"Terima kasih, kak. Ngomong-ngomong nama kakak siapa? Tadi cuma aku aja yang memperkenalkan diri." Sambil memindahkan barang ke dalam lemari, Gisel menanyakan nama wanita itu.


Wanita itu menepuk jidatnya lupa. Karena terlalu asik berbicara dengan Gisel dia sampai lupa memperkenalkan dirinya.


"Namaku Larasati, panggil saja aku Laras. Aku adalah senior kamu di pondok pesantren. Cuman aku tidak melanjutkan sekolah dan memilih magang di sini. Staf pasti sudah bilang sama kamu kalau ini tahun kedua aku magang dan mungkin akhir tahun aku akan resmi menjadi pekerja tetap. Doakan saja ya, aku berharap bisa resmi bekerja di sini." Ternyata namanya Laras.


Di samping itu Laras berpikir ke depan. Jika dia lulus dari sini dia tidak tahu harus ke mana untuk mencari pekerjaan. Karena tidak mau ambil pusing maka begitu lulus dia langsung melamar untuk menjadi magang. Alhamdulillah gajinya bisa menutupi kehidupan sehari-hari keluarganya di kampung. Sedangkan dia di sini tidak perlu lagi risau soal makanan karena pondok sudah menjaminnya.


Setelah sekian lama penantian bekerja di sini, dia akhirnya mendapatkan kabar gembira dari kantor. Jika dia bisa menyelesaikan magangnya dengan baik tahun ini, maka dipastikan tahun depan dia sudah resmi menjadi pekerja tetap di pondok pesantren. Ini adalah kabar yang sangat penting untuk Laras.


"Masya Allah selamat ya, kak Laras. Aku memang sudah mendengar kabar itu dari staf pondok. Dan aku ikut berbahagia untuk kakak." Gisel ikut senang melihat senyum lebar di wajah Laras.


Setelah mengobrol sebentar, tidak terasa semua barang-barang Gisel sudah masuk ke dalam lemari pakaian. Dan barang-barang seperti perawatan kulit serta sejenisnya ditaruh di meja rias. Mereka bukanlah santriwati di sini jadi mereka bebas menggunakan perawatan kulit. Selain itu tidak akan ada petugas yang datang merazia sebab mereka adalah pekerja bukan siswa.


Beres menaruh barang, mereka berdua akhirnya bisa makan. Mie nya tidak lagi sepandai sebelumnya tapi masih bisa dimakan. Rasanya enak dengan berbagai macam toping yang kaya. Gisel sangat menikmati makanan ini. Sudah berbulan-bulan lamanya dia tidak menyentuh makanan seperti ini karena pondok pesantren sudah menyediakan mereka makanan tiga kali sehari.


"Enak, kak." Gisel menatap rindu makanan berkuah di depannya.


Dia makan banyak hari ini. Tanpa sadar sebagian besar makanan masuk ke dalam perutnya. Sedangkan Laras sudah bosan makan mie jadi dia tidak terlalu lahap.


"Aku senang dengarnya. Kapan-kapan kita buat makanan ini lagi. Tapi setelah kantin mengisi stok kembali. Soalnya kios udah bolong-bolong di beberapa rak, kita tidak puas memilih makanan. Dan sebenarnya kakak tidak suka dengan mie rasa ini. Rasanya terlalu ringan buat kakak." Kata Laras sambil mengambil bungkusan mie instan yang telah masuk ke dalam bak sampah dan menunjukkannya di depan Gisel.


Mereka di sini memang tidak punya dapur. Alasan kenapa Laras bisa memasak di dalam kamar adalah karena dia memiliki panci listrik. Jadi kalau ingin memasak sederhana, gunakan saja panci listrik kapan pun mau. Toh, tidak akan ada orang yang tahu.

__ADS_1


"Okay, kak. Sebenarnya aku suka makan mie apa aja. Tetap enak." Apalagi setelah berpuasa berbulan-bulan lamanya, makan mie rasanya sangat nikmat.


Setelah selesai makan, Gisel mengambil inisiatif untuk mencuci peralatan makan yang telah mereka gunakan tadi. Baru kemudian beristirahat di dalam kamar.


Begitu kepalanya menyentuh kasur, dia langsung jatuh tertidur. Mungkin karena terlalu lelah ke sana kemari untuk mengemas dan memindahkan barang-barangnya, atau mungkin karena terlalu lelah menangis karena tadi pagi Dira sudah berangkat ke luar kota.


Dira meninggalkan amplop yang cukup besar untuknya. Kira-kira isinya 25 juta. Ketika memegang uang sebanyak itu jantung Gisel langsung berdebar kencang. Dia tidak tahu menaruh uang sebanyak ini dimana. Takut dan cemas, rasa-rasanya dia ingin segera berlari keluar untuk menabung uangnya di bank. Dia takut kalau memegang uang ini, tragedi kehilangan akan terulang kembali.


Dia terus mengingatkan dirinya untuk segera mencari peluang keluar dari pondok dan pergi menyempatkan diri ke bank untuk menabung uang. Dia harus mengamankan uang ini agar lebih aman.


Sore harinya ketika adzan ashar berkumandang, Laras membangunkan Gisel dan mengajaknya pergi sholat ke masjid.


Semua orang baik santri ataupun tidak harus pergi shalat berjamaah di masjid. Mereka tidak diizinkan shalat di kamar kecuali untuk beberapa alasan yang dapat ditoleransi.


Kamar mandi tidak terlalu ramai jadi Gisel mandi sebentar sebelum pergi ke masjid.


Di masjid dia dan Laras mengambil saf belakang karena di depan sudah dipenuhi oleh para santriwati. Begitu shalat selesai, dia dan Laras kembali gedung asrama sementara para santriwati atau santri diam di dalam masjid untuk membaca Alquran atau menyerahkan hafalan.


Setelah menaruh mukena di dalam kamar mereka berdua bergegas menuju dapur umum. Di sana sudah ada banyak orang. Dari pekerja tetap sampai beberapa magang.


Gisel awalnya canggung. Tapi Laras terus mengajaknya berbicara dan memperkenalkannya ke beberapa orang sehingga perlahan dia mulai nyaman.


"Hari ini kita akan memasak apa, kak?" Ada banyak tumpukan sayur dan daging di atas meja.


Untuk daging dia tidak berani memegangnya. Daging diproses oleh orang-orang yang sudah berpengalaman. Sementara dia dan magang lainnya disuruh memotong sayur, mengupas bawang putih dan bawang merah, mencuci sayuran, mencuci peralatan yang kotor.


Pekerjaannya relatif ringan. Tapi untuk menyiapkan porsi ribuan orang, pekerjaan ringan langsung menjadi berat dan melelahkan.


Misalnya seperti mengupas bawang merah dan bawang putih sekarang. Karena terlalu banyak, mata Gisel jadi memerah.


"Kalau kamu nggak sanggup, serahin aja pekerjaannya kepada yang lain. Kita harus bergilir agar jangan menghambat proses memasak." Laras segera mengambil tugas mengupas bawang merah sementara Gisel mengambil pekerjaan yang dia lakukan tadi, yaitu mengupas bawang putih.


"Ya, kak. Nanti aku akan bergilir dengan kakak mengupas bawang merah." Gisel tersenyum terima kasih.


Untung saja Laras mendampinginya sehingga dia tidak bingung.


Setelah membantu dapur di sana-sini, Gisel akhirnya bisa beristirahat karena sekarang sudah memasuki proses akhir. Sebagian besar makanan sudah matang dan sebagiannya lagi hanya perlu memanaskannya di atas kompor.


"Siapa yang sudah merendam bihunnya?" Seorang juru masak dapur bertanya.


Kebetulan Gisel ada di dekatnya.

__ADS_1


Gisel melihat sekeranjang besar bihun di atas meja yang masih belum direndam.


__ADS_2