
Mendengar perkataan habib, tubuhnya tanpa sadar menegang. Pekerjaan terlalu padat dan mereka jarang bersantai. Jika habib Khalid menambahkan lagi maka waktu senggang mereka tidak akan pernah datang!
"Tidak, tidak sama sekali. Maaf, habib." Mohon ustad malu sekaligus gugup.
Habib Khalid mengangguk ringan tanpa suara. Ia melirik wajah ingin tahu Aish di seberang sana sebelum berbalik pergi meninggalkan stan makanan. Saat habib berjalan, dia langsung diikuti oleh pengawas yang lain untuk segera melaksanakan patroli malam. Sedangkan sisanya tetap di pinggir stan makanan mengawasi para santri dan santriwati.
"Lain kali berhentilah membicarakan rumor di depan habib. Ustazah saja yang perempuan tidak banyak bicara, lalu kenapa kamu yang laki-laki justru lebih banyak bicara?" Tegur salah satu pengawas.
Pasalnya ustad ini terlalu banyak bicara dan mengganggu kedamaian sang habib. Gara-gara mulutnya yang banyak bicara, habib Khalid jadi tidak nyaman.
Faktanya, habib Khalid sejujurnya memiliki tempat yang istimewa di pondok ini. Dia bukan pemilik, tapi perlakuannya hampir sama seperti pemilik dan dia juga bukan kerabat pemilik, tapi keberadaannya di sini sangat dibanggakan semua orang seolah-olah dia adalah keluarga Abah.
Posisi habib di sini tidak dekat juga tidak jauh. Semua masih diraba-raba, tapi rumit. Semua orang hanya tahu bila habib Khalid sangat dihormati oleh Abah dan Umi, selaku pemilik pondok pesantren.
"Maaf, ustad. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi." Janjinya bersungguh-sungguh di depan ustad senior.
...****...
Habib Khalid pergi, Aish jadi kecewa. Ia belum puas melihat laki-laki pujaan hatinya itu. Bila saja di sini tidak terlalu ramai atau mereka tidak sedang di stan makanan, Aish pasti akan menghampiri sang habib untuk menyapa.
"Masya Allah, habib Thalib tadi ngeliatin Nadira terus. Pasti habib Thalib pangling lihat kecantikan Nadira." Suara-suara menyebalkan itu memasuki pendengaran Aish lagi.
Apa-apaan melihatnya? Habib Khalid jelas-jelas sedang melihatnya tadi, pikir Aish.
"Kamu jangan bicara omong kosong..." Mulutnya berbicara seperti itu tapi rona merah diwajahnya adalah petunjuk bahwa dia menyetujui perkataan gadis ini.
__ADS_1
"Apaan sih. Mata habib Thalib tadi ngeliatin Aish bukan orang lain. Kenapa dia jadi salah tingkah sendiri?" Ucap Dira jengkel dengan suara-suara itu.
Orang-orang itu tidak jauh dari tempat duduk mereka, jadi mereka bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kayaknya Nadira suka sama habib Thalib." Bisik Gisel kepada mereka berdua.
Dira tersenyum simpul,"Jadi apa? Habib Thalib sukanya sama Aish kita dan bukannya dia, jadi dia ataupun yang lain enggak bisa berbuat apa-apa."
Sikap Dira agak kasar tapi Aish dan Gisel sangat menyukainya. Biasanya Dira akan bermain bodoh sama mereka, bersikap konyol dan aneh, Aish hampir mengira jika inilah kepribadian sahabatnya itu.
Tapi melihatnya sekarang, itu sepenuhnya tidak benar.
"Dir, kamu benar. Tapi jangan ucapin kata-kata ini ke orang lain karena mereka mungkin tidak bisa menerimanya." Kata Gisel mengingatkan.
Dira juga tahu.
Dira tidak membenci Nadira, tidak, sebagai seorang wanita dia malah sangat mengaguminya. Nadira masih muda tapi prestasinya luar biasa, ilmunya luas, dan yang lebih penting lagi dia adalah keturunan Rasulullah Saw.
Ya, bagi Dira, yang terakhir jauh lebih penting.
Namun meskipun begitu, Dira masih merasa jika Nadira agak menyebalkan. Sekali lagi bukan karena garis keturunannya, tapi karena kesan yang dia rasakan saat ini.
Yah, melihat Nadira langsung mengingatkan Dira pada Aira. Gadis bermuka dua yang telah menghantui kehidupan sahabatnya selama ini. Jujur, Dira menyayangi Aish dan Gisel. Dia sangat mencintai mereka berdua sebagai saudara ataupun sahabat. Sungguh, sejak merasakan perasaan kasih sayang ini dia berharap mereka tidak sakit atau pun terluka lagi. Menurutnya sudah cukup tahun-tahun itu mereka mengalaminya.
Sementara di sini dan di tempat ini, dia ingin mereka hidup bahagia tanpa kegelisahan lagi.
__ADS_1
"Aku dengar setiap keturunan memiliki kelebihannya sendiri yang Allah anugerahkan kepada mereka." Kata Gisel hati-hati.
Aish mengangguk tahu. Ia juga sempat mendengarnya.
Lagi-lagi Dira hanya bisa tersenyum.
"Allahu'alam, mungkin saja benar. Namun mereka yang benar-benar patut dikagumi adalah keturunan yang meluaskan ilmunya dan membagikannya kepada kita semua yang membutuhkan. Jujur, aku merasakan kekaguman dan sebuah rasa hormat saat berhadapan dengan Abah ataupun habib Thalib karena mereka mungkin menjalankan tugas mereka sebagai keturunan Rasulullah Saw. Mereka memiliki dua aura yang tidak ku mengerti namun yang pasti, hatiku jadi nyaman ketika bertemu dan aku benar-benar menghormati mereka. Dan aku juga pernah bertemu dengan keturunan yang lain tapi aku tidak merasakan apa-apa saat berhadapan dengan mereka. Aku tidak tahu mengapa tapi yang pasti, rasa kagum dan hormat itu tidak tumbuh di hatiku."
Dira dulu pernah bertemu dengan beberapa orang yang katanya keturunan Rasulullah Saw. Dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak karena pada saat itu dia tidak terlalu memperdulikannya. Tapi yang pasti apa yang dia rasakan saat itu memang cukup datar seolah sedang berhadapan dengan manusia pada umumnya.
"Baiklah, berhenti membicarakannya. Tentang bagaimana perasaan kita terhadap mereka, cukup Allah SWT yang tahu. Selama kita tidak menggangu ataupun menjatuhkan, aku rasa Allah SWT tidak akan marah kepada kita." Kata Aish menghentikan topik pembicaraan ini.
Menurutnya topik pembicaraan ini terlalu sensitif apalagi untuk mereka yang tergolong masih jauh dari agama.
Makanan akhirnya datang dan secara alami perhatian semua orang teralihkan dari topik pembicaraan tadi. Saat makan beberapa kali Dimas melihat Aish dari stan seberang untuk menarik perhatian. Tapi Aish sama sekali tidak memperhatikannya karena perutnya sudah keroncongan dari tadi dan sangat lapar.
Namun berbeda dengan Dira. Dari tempatnya duduk dia bisa melihat secara langsung betapa menggelikannya sikap Dimas di seberang sana. Dimas sering mengangkat kepalanya dan bahkan memanggil nama Aish, tapi Aish tidak bisa mendengarnya.
Tiba-tiba aku merasa Aish lebih cocok sama habib Thalib. Batin Dira teralihkan.
Jika Aish sama habib Khalid, maka tidak ada orang yang akan memandang rendah sahabatnya itu. Termasuklah keluarga Ayah yang telah mengabaikan Aish sejak kecil, Dira yakin Aira pasti sangat marah dan cemburu bila habib Khalid dapat bersama dengan Aish.
Yah, bagaimana dengan ini saja? Pikirnya mendukung.
"Aish, kamu sangat serasi dengan habib Thalib. Aku pikir kamu lebih pantas bersamanya." Kata Dira tiba-tiba.
__ADS_1
Aish tertegun. Ia menatap Dira aneh sekaligus senang karena mata sahabatnya sangat bagus!
"Dira, tumben mata kamu bagus!"