
"Iya, sepupuku memang tidak terlalu menyukaiku semenjak aku tinggal di rumahnya. Dia bilang aku adalah beban di rumahnya karena semua kehidupanku di tanggung oleh orang tuanya. Padahal Paman dan Bibiku memegang uang hasil penjualan rumah orang tuaku setelah meninggal dulu. Kalian tahu kan harga rumah di kota itu tinggi, dan menurutku uang itu cukup besar untuk menghidupiku. Tapi baik Paman dan Bibiku selalu merasa bahwa aku menyeret mereka ke belakang. Aku menghabiskan banyak uang mereka sehingga saat dikirim ke pondok pesantren aku tidak diberikan uang sepeserpun." Cerita Gisel mengenang masa lalu, mengenang kehidupannya yang buruk di kota dulu.
Dira mendesah ringan, tangannya terangkat menepuk pundak sahabatnya sebagai penghiburan.
"Kalau begitu tunjukkan kepada mereka bahwa kamu bisa menjadi orang yang sukses. Terserah apa yang mereka katakan terhadap dirimu, Allah subhanahu wa ta'ala akan membalasnya. Begitu pula untuk uang orang tuamu yang ditelan oleh keluarga Paman dan Bibimu, suatu hari nanti Allah subhanahu wa ta'ala akan membuat mereka memuntahkannya. Jadi bersabarlah dan lapangkan hatimu." Dira bukan orang yang pandai berkata-kata. Dan dia juga bukan orang yang puitis. Hanya saja dia memiliki simpati yang tinggi dengan masa lalu kedua sahabatnya yang tidak jauh lebih buruk dari dirinya.
"Tentu saja aku sudah menyerahkan semuanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Gisel menepuk pipinya menyemangati diri sendiri.
"Ayo masuk, sebentar lagi kita akan pergi ke masjid."
Mereka bertiga lalu pergi kembali ke gedung asrama. Karena sebentar lagi mereka akan naik ke masjid, mereka bergegas membawa peralatan mandi mereka ke kamar mandi. Di kamar mandi sudah ada banyak orang yang akan mandi. Untungnya mereka masih mendapatkan kamar mandi kosong sehingga mereka bisa membersihkan diri. Karena jika telat sedikit saja maka kamar mandi penuh dan antrian akan panjang. Mengantri adalah yang sangat melelahkan.
Jadi mereka membiasakan diri pergi ke kamar mandi lebih awal dari yang lain.
...*****...
Beberapa hari kemudian dilalui dengan aktivitas monoton yang sama. Tidak ada lagi gerakan dari Leni setelah episode pertengkaran hari itu. Perlahan mereka mulai melupakannya. Setelah berapa hari menghafal juz amma, mereka bertiga pergi ke rumah Umi untuk setor hafalan. Ini sangat memalukan karena ada Nadira juga yang datang menyimak. Nama yang aneh adalah Nadira lebih sopan dan tersenyum terus ketika bertemu dengan Aish. Dia tidak bersikap sok atau palsu seperti terakhir kali. Ini sangat mengejutkan dan merupakan kabar baik. Jujur, Aish merasa senang karena dia tidak perlu menambah daftar musuh lagi. Meskipun dia curiga apa yang menjadi faktor perubahan sikap Nadira kepadanya yang notabene adalah rival cinta.
"Alhamdulillah, hafalan kalian cukup bagus dan lancar. Hanya saja untuk beberapa huruf kalian masih salah dalam pengucapan jadi aku harap kalian bisa memperbaikinya untuk setor hafalan minggu depan. Selain itu kalian bertiga berhasil menyelesaikan tugas ini, tapi kalian harus datang minggu depan untuk mengulanginya dan memperbaiki kesalahan pengucapan huruf kalian." Nadira berbicara dengan suara yang lembut dan penuh perhatian tanpa ada nada celaan di dalam suaranya.
Sikap yang rendah hati dan tulus membuat mereka bertiga tidak malu karena kesalahannya ditunjuk. Tapi malah membuat mereka semakin termotivasi untuk terus belajar.
Setelah hari itu beberapa hari lagi berlalu, dan terhitung tiga hari lagi akan menjadi dua minggu. Aish tersiksa menunggu, dan sudah tidak sabar. Berbagai macam kegiatan dilakukan untuk menenggelamkan kerinduannya, tapi semua upayanya sia-sia karena dia masih suka melamun. Memikirkan saat sang habib masih ada di sini.
"Sekarang hari minggu, aku tadi mendengar bila kantor staf pondok pesantren pagi ini sangat ramai. Banyak orang yang mengantri untuk menghubungi keluarga di rumah. Kalian berdua... Bagaimana?" Dira baru saja kembali dari luar.
Dira merindukan rumah, bohong jika dia tidak rindu. Hanya saja dia terlalu marah menghubungi orang tuanya sehingga tidak pernah menelepon ke rumah. Dia pikir orang tuanya akan mencari, tapi sampai dengan minggu ini tidak ada kabar dari orang tuanya. Ini membuatnya cemas dan ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menghubungi orang tuanya.
"Aku tidak akan menelpon." Aish jawab tugas.
"Aku tidak punya siapapun yang aku hubungi di rumah." Sahut Gisel juga tidak berniat menelpon ke rumah.
Dira menghela nafas panjang, kedua sahabatnya mana mungkin menghubungi orang rumah di saat orang-orang rumah itu enggan menghubungi mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pergi sendiri. Aku ingin menghubungi orang tuaku."
"Jangan pergi sendiri, kami akan ikut." Aish menutup buku pelajarannya dan ingin ikut pergi ke kantor staf menemani sang sahabat.
Dira segera menggelengkan kepalanya menolak. Aish baru-baru ini sedang belajar keras untuk ujian mereka beberapa hari lagi. Dia tahu ini karena sang habib. Demi sang habib sahabatnya ingin membuat perubahan besar dalam hidupnya dan salah satu caranya adalah mendapatkan nilai yang baik.
"Aku bisa pergi sendiri. Kalian tidak perlu repot-repot. Ya udah aku jalan dulu ya, kebetulan teman-teman yang lain juga mau pergi ke kantor jadi aku nggak sendiri."
Setelah mengatakan itu Dira lalu pergi menyusul teman-teman yang sudah menunggu di depan pintu kamar mereka.
10 menit kemudian mereka akhirnya sampai di depan kantor staf pondok pesantren. Dari jauh dia sudah bisa melihat keramaian yang memadati kedua kantor staf. Apalagi untuk barisan santriwati, panjang barisannya sudah seperti mengantri sembako, melihatnya membuat gigi Dira langsung ngilu.
Tapi untungnya ada pondok pesantren sudah menyiapkan banyak sekat telepon umum agar tidak membuang banyak waktu bagi orang-orang yang ingin menelpon keluarganya. Setengah jam menunggu, Dira akhirnya mendapatkan giliran. Dan secara kebetulan sekat teleponnya bersebelahan dengan Aira.
Aira hanya memberikannya senyuman tipis sebagai sapaan, tapi Dira mengabaikannya dan langsung masuk ke bilik telepon.
Waktu yang diberikan pondok pesantren adalah 7 menit. Jadi Dira harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baik mungkin ketika berbicara dengan orang tuanya.
Tidak ada yang mengangkat. Dia tidak menyerah dan mengulanginya dua atau tiga kali, tapi masih belum ada yang mengangkat.
Tak putus asa dia lalu menghubungi nomor ponsel Mamanya, tapi nihil, masih belum ada yang mengangkat. Hal ini membuatnya semakin cemas.
"Ya Allah semoga Papa mengangkat telepon dariku. Bismillah."
Beberapa detik kemudian Papa mengangkat telepon dari Dira.
"Halo, mau cari siapa?" Itu adalah suara wanita.
Wanita asing yang belum pernah didengar oleh Dira.
"Papa, aku ingin berbicara dengan Papa." Kata Dira berusaha berpikir positif.
Mungkin saja wanita itu adalah sekretarisnya di kantor.
__ADS_1
Karena Papanya adalah orang yang sangat sibuk.
"Oh, kamu anaknya. Sayang... Ada telepon dari putrimu."
Buk
Hati Dira langsung jatuh. Rasanya begitu sakit. Kepalanya berdengung, bingung dan merasa sulit dipercaya, dia bertanya-tanya apakah wanita ini adalah simpanan Papanya?
Jadi Papa berselingkuh di belakang Mamanya?
"Siapa yang menelpon sayang?" Itu adalah suara Papa.
Wanita di seberang sana menjawab malas,"Putrimu."
"Putri yang mana? Sania atau Askia?"
Dan Dira semakin linglung setelah mendengar informasi besar dari Papanya. Siapa Askia dan Sania?
Putri Papa yang lain?
"Bukan mereka, tapi putrimu yang bodoh itu. Dia menelponmu dan ingin berbicara denganmu." Mentahan wanita itu seolah mengkonfirmasi bahwa Papa memiliki putri yang lain.
Hati Dira serasa diremukkan. Sakit sekali.
"Dira? Berikan telepon itu cepat! Kenapa kamu terus menunda!" Suara Papa terdengar panik. Dia buru-buru meminta wanita itu memberikan ponselnya kembali.
Lalu suara gemerisik memenuhi pendengaran Dira diikuti oleh suara jejak kaki. Dira merasa bahwa kepalanya tidak kuat lagi menahan rangsangan selanjutnya. Dia takut mendengar kata-kata Papa, takut mendengar pengakuan Papa.
Jadi sebelum Papa berbicara, Dira langsung menutup telepon itu.
"Hiks..." Lututnya lemas.
Dia terduduk lemas di atas lantai berusaha mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar.
__ADS_1