
Perjalanan menuju kota ditempuh selama beberapa jam tanpa adanya rasa bosan sedikitpun. Di sepanjang jalan Aish sempat memperhatikan jika jalan yang mereka lalui agak familiar. Akan tetapi dia ragu untuk menanyakannya karena bisa jadi habib Khalid tidak akan mampir di kota itu.
"Tidurlah. Aku akan membangunkan kamu saat kita sampai nanti." Bujuk habib Khalid ketika melihat wajah mengantuk Aish.
Aish memang kurang puas tidur semalam karena dibangunkan untuk sholat tahajud. Dia langsung merasa mengantuk jika berada di tempat yang nyaman apalagi di sampingnya ada habib Khalid, tubuhnya langsung tidak terkendali ingin tidur.
Aneh, harusnya Aish akan sulit tidur bila berada di samping laki-laki ataupun orang lain, tapi dengan habib Khalid dia malah semakin mengantuk. Ditambah lagi mereka sedang menempuh perjalanan jauh sehingga rasa kantuk Aish rasa-rasanya semakin berlipat ganda. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertidur.
"Hem..." Aish memalingkan wajahnya menatap sang habib, tak berselang lama kemudian matanya terpejam damai. Dia akhirnya jatuh tertidur.
...****...
"Aish?"
Samar, Aish merasakan sebuah usapan lembut di atas kepalanya. Bahkan dia juga merasa bila wajahnya sempat diusap-usap, aneh, jejak sentuhan lembut itu masih terasa jelas di wajahnya.
"Hem?" Aish bangun dan bertemu langsung dengan tatapan gelap sang habib.
Barulah Aish sadar jika dirinya sedang berpergian dengan habib. Dia sangat malu dan langsung memperbaiki cara duduknya. Rasa kantuk yang tersisa di dalam kepalanya langsung menguap entah kemana digantikan oleh perasaan malu.
"Maaf kak, aku ketiduran..." Kata Aish malu.
Dia tidak berani mengangkat kepalanya menatap habib Khalid. Takutnya wajah tidurnya jelek dan kotoran ada kotoran di matanya.
Buru-buru dia mengusap wajahnya. Syukurnya, Aish tidak menemukan kotoran di matanya.
"Eh, jaket kakak kok sama aku?" Atensi Aish tiba-tiba menangkap jaket yang sedang melilit tubuhnya.
Aish masih ingat dengan jelas saat masuk ke dalam mobil habib Khalid masih menggunakan jaket ini.
"Aku takut kamu masuk angin." Jawabnya singkat dan jelas.
Aish lagi-lagi merasa malu. Diam-diam hatinya bersorak senang karena habib Khalid sangat perhatian kepadanya.
"Makasih, kak. Maaf yah udah ngerepotin kak Khalid." Aish melepaskan jaket itu dengan enggan dan memberikannya kepada habib Khalid.
__ADS_1
Habib Khalid tersenyum simpul, matanya berkedip geli melihat ekspresi keengganan di wajah Aish.
"Ambillah. Kamu bisa memberikan ku saat di pondok nanti."
Dalam sekejap wajah Aish langsung berseri. Reaksinya terlalu cepat dan Aish menyadari jika dirimu terlalu berlebihan di depan sang habib.
Malu, dia memalingkan wajahnya ke samping seraya menarik jaket itu kembali ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, kak." Katanya tidak bersikeras mengembalikan jaket itu lagi.
Dia tidak mau munafik jika sudah menyangkut habib Khalid. Sebab habib Khalid adalah dambaan hati dan jiwanya, untuk Aish sendiri segala sesuatu yang menyangkut habib Khalid adalah masalah yang sangat penting dan pantang untuk dilewatkan.
Menggelengkan kepalanya geli,"Ayo turun. Kita sudah sampai." Kata habib Khalid seraya turun dari mobil.
Aish buru-buru menyusulnya sambil memeluk erat jaket sang habib. Begitu turun dari mobil mata Aish langsung terbelalak kaget karena kota ini tiada lain adalah kota kelahirannya. Aish bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan kakek jika dia mau karena tidak ada lagi batasan jarak untuknya.
Setelah hampir satu bulan tinggal di pondok pesantren tanpa ada ruang untuk keluar, Aish benar-benar tidak menyangka dia mempunyai kesempatan untuk datang ke kota ini lagi. Kota yang telah menjadi saksi dirinya dilahirkan dan tumbuh besar di dunia ini. Untuk sejenak, kepala Aish memikirkan berbagai macam hal yang dia lewati di tempat ini sebelum dikirim ke pondok pesantren.
"Kak Khalid, untuk apa kita ke sini?" Tanya Aish menoleh ke habib Khalid.
"Aku ingin membawamu menemui orang tuaku." Kata habib Khalid tiba-tiba.
Aish terkejut. Jantungnya langsung berdebat kencang mulai panik. Berbagai macam pemikiran aneh langsung berseliweran di dalam otaknya.
"Menemui... orang tua kak Khalid?" Apakah ini mimpi?
Apakah ini mimpi?!
Aish tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia terlalu kaget mendengar perkataan habib Khalid karena informasi ini terlalu besar untuk kapasitas otaknya yang kecil. Ya Allah, tangan dan kakinya mulai gemetaran diluar kendali nya. Aish merasa bila tulang-tulangnya meleleh hingga membuat pijakan kakinya jadi goyah. Untungnya badan mobil ada di belakangnya jadi Aish langsung bersandar ke belakang agar tidak jatuh ke tanah. Ya Allah, apa yang sedang terjadi kepadanya?!
Kenapa Aish seolah-olah memiliki ilusi akan datang menemui calon mertuanya?
Yang benar saja!
"Benar, apakah kamu keberatan?" Tanya habib Khalid sambil tersenyum.
__ADS_1
Aish langsung menggelengkan kepalanya membantah. Bagaimana mungkin dia keberatan bertemu dengan orang tua yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkan laki-laki sebaik habib Khalid?
Tidak, Aish sama sekali tidak keberatan. Bukannya keberatan, dia malah sangat menantikannya.
"Itu benar, kak. Aku malah...cukup menantikannya." Bantah Aish dengan suara yang semakin mengecil.
Aish tersipu malu. Untuk menyamarkan fantasi hatinya, dia berpura-pura memalingkan wajahnya menatap bangunan di seberang jalan.
Melihat arah kemana Aish menatap, habib Khalid menduga jika Aish kelaparan setelah menempuh perjalanan jauh dari kota d ke kota c.
"Ini sudah siang dan sebaiknya kita makan siang dulu untuk mengisi tenaga, bagaimana?"
Makan siang bersama?!
Mereka... mereka berdua kencan?
Hati Aish langsung berbunga-bunga memikirkannya. Salahkan dirinya yang terlalu mencintai habib Khalid sehingga apapun yang dilakukan dan apapun yang dikatakan sang habib pasti akan dengan mudahnya disalahpahami oleh Aish.
Okay, rata-rata orang yang sedang jatuh cinta pasti akan merasakan ini.
"Boleh jika kak Khalid enggak keberatan." Kata Aish tersipu malu.
Wajah Aish sangat merah. Rasa malu yang aneh perlahan menyusupi jauh ke dalam hatinya. Bahkan mengangkat kepala saja rasanya sungguh berat hanya untuk sekedar melihat wajah tampan sang habib. Lama tak bersuara, Aish cemas habib Khalid merasakan suasana hatinya yang tidak benar. Dia baru saja akan mengangkat kepalanya dan sebuah sentuhan lembut dia rasakan di atas kepalanya. Aish tertegun, mata aprikot nya terbuka lebar menatap sang habib. Sejenak, udara seolah membeku diantara mereka berdua.
Deg
Deg
Deg
Jantung Aish mulai membuat kerusuhan di dalam dadanya. Berdebar cepat dan kuat menyebarkan rasa manis yang sangat sulit digambarkan oleh kata-kata.
Mata habib Khalid berkedip lambat. Menunduk lebih rendah, mata gelapnya yang tajam menatap dalam wajah cantik Aish yang kembali mengembangkan warna merah di kedua pipinya yang agak gembil.
Sungguh, Aish semakin menawan dibuatnya. Bagaikan buah persik yang ranum dan harum, habib Khalid tergoda untuk menyentuhnya. Hanya saja dia masih memegang kewarasannya sehingga menjaga pikirannya untuk tetap jernih.
__ADS_1
"Maaf, ada daun di atas kepala mu tadi." Habib Khalid menarik tangannya dari atas kepala Aish.