Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.9


__ADS_3

"Oh..." Wajah merahnya segera menjadi lega. Untungnya itu tidak seperti yang dia pikirkan. Tapi apa yang dikatakan habib Khalid memang benar bahwa seorang laki-laki tidak selemah perempuan. Aish tidak perlu terlalu cemas. Karena orang-orang yang ada di pondok pesantren berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kota. Orang yang tinggal di pondok pesantren begadang dengan sehat, sedangkan orang yang begadang di kota memiliki pola hidup yang tidak sehat. Minum kopi dan merokok, begadang terkadang dihabiskan dengan dua hal ini. Ditambah lagi sambil bermain game, maka pola hidup yang tidak sehat seperti inilah yang harus dicemaskan.


"Aku mendengar dari seseorang kamu mendapatkan masalah lagi." Habib Khalid mengganti topik pembicaraan. Namun tangannya tidak kunjung ditarik. Dia masih betah memegang wajah Aish. Jari jemarinya yang panjang bergerak ringan menyentuh permukaan kulit lembut wajah Aish. Mengingat desis'an lucu Aish sebelumnya, habib Khalif gatal ingin meremasnya lagi. Tapi tidak sekarang, masih banyak kesempatan.


"Masalah.... Aku tidak punya masalah apa-apa, kak. Kakak diberitahu sama siapa?" Aish bingung dan berpikir dengan keras, masalah apa yang dimaksud oleh sang habib. Sampai akhirnya dia teringat dengan pembicaraannya tadi malam.


Aira datang menangis di depannya. Mungkin ingin menjebaknya, sehingga orang-orang memiliki kesan buruk kepadanya.


"Rahasia. Aku harus melindungi narasumber." Habib Khalid menolak mengatakannya.


Lagi-lagi bermain rahasia, pujaan hatinya ini suka sekali bermain rahasia. Ini membuat Aish semakin penasaran. Butuh banyak waktu meluluhkan hati sang habib agar mau mempercayainya dan berbagi rahasia. Tidak apa-apa, Aish bersedia menunggu. Lagi pula ini juga tantangan dari pengajarannya kepada sang habib.


"Kak Khalid mah suka banget main rahasia-rahasia'an." Gerutu Aish pura-pura merajuk.


Tapi ketika matanya menangkap senyuman lembut di wajah tampan itu, dia tidak bisa mempertahankan kepura-puraan nya lagi. Di bawah pengawasan mata gelap itu, wajah merah Aish meleleh malu tergoda ingin menyembunyikannya dari mata sang habib. Dan dia menyalahkan kepada rembulan malam ini. Mengapa rembulan malam ini bersinar sangat terang sehingga sang habib dapat melihat wajah merahnya yang memalukan. Entah seperti apa wajahnya sekarang, tapi dia yakin itu tidak cantik. Pasalnya dia baru saja bangun tidur!


"Aku bukannya suka bermain rahasia, hanya saja kamu masih belum cukup umur untuk mengetahuinya."


Aish spontan memutar bola matanya tidak percaya,"Belum cukup umur gimana, kak, umur aku sekarang aja udah 18 tahun. Masa iya udah tua begini masih belum cukup?"


Aish mencoba tawar-menawar.


Ekspresi sang habib tiba-tiba berubah, matanya bersinar aneh, memberikan ilusi bahwa Aish bagaikan mangsa di depannya. Aish mengecilkan lehernya takut, kelopak mata aprikotnya bergetar ringan karena gugup. Sudah dua kali dia merasakan perasaan ini ketika bersama sang habib. Dan tiap kali ini terjadi alarm di kepalanya pasti langsung berbunyi, memperingatkannya agar segera berlari- aneh, berlari dari apa?

__ADS_1


"Umur 18 tahun sekarang?" Suara sang habib terdengar serak.


Tangan yang kini sedang menyentuh pipinya tidak lagi memiliki sentuhan halus. Jari jemari itu berubah arah, meremas pipi kanannya hingga meninggalkan rasa sakit.


"Ya-ya, kak. Tahun depan umur aku 19 tahun." Jawabnya terbata-bata.


Dia nggak tahu kenapa sang habib tiba-tiba begini. Jujur, Aish takut.


Mendengar jawaban Aish, habib Khalid tiba-tiba tidak bersuara lagi. Matanya hanya tertuju kepada Aish, diam membisu namun tangannya tidak pernah berhenti meremas pipinya. Kesunyian ini membuat suasana menjadi ambigu. Manis, lembut dan mencekam. Perasaan ini campur aduk di dalam hati Aish. Dia takut dan bertanya-tanya, apa yang sedang habib pikirkan sekarang?


Mengapa dia tidak mengatakan apa-apa lagi?


Apakah ada sesuatu yang salah dari jawabannya tadi? Atau apakah umurnya terlalu tua untuk sang habib?


"Sudah sangat dekat ternyata. Harusnya tidak apa-apa. Tapi masih beberapa bulan lagi." Habib Khalid mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti Aish.


Lagi-lagi apa yang habib Khalid membuatnya bingung. Apa yang dimaksud oleh habib Khalid?


"Kak Khalid ngomongin apa?" Tanya Aish ragu-ragu.


Habib Khalid memiringkan kepalanya menatap Aish,"Kamu." Singkat dan tidak jelas sama sekali.


Mengapa apa yang habib Khalid bicarakan tidak nyambung dengan dirinya?

__ADS_1


"Ada apa sama aku, kak?" Duh, Kak Khalid makin tampan deh kalau udah pakai ekspresi datar begini. Apalagi kalau udah senyum miring, gantengnya makin berlipat ganda. Batin Aish terlena.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku. Aku dengar kamu ada masalah tadi malam di asrama. Masalah ini, tidakkah kamu ingin menceritakannya kepadaku? Atau aku harus mencari tahu dari orang lain baru bisa mengetahuinya daripada mendengarnya langsung darimu?" Menutup matanya dan menghela nafas panjang, sedetik kemudian dia membuka mengangkat kelopak matanya dan menatap Aish dalam dengan mata gelapnya sambil berbicara,"Wahai Aisha Rumaisha, apa kamu bersungguh-sungguh ingin mengejar ku?"


Buk


Buk


Buk


Suara degup jantung Aish di dalam dada. Aish awalnya berniat ingin menutupi masalah ini, namun melihat reaksi keras sang habib, dia langsung membuang jauh-jauh pikiran itu.


Baginya habib Khalid jauh lebih penting dari apapun.


"Enggak, kak, jangan salah paham. Aku nggak bermaksud nutupin masalah ini dari kak Khalid. Tapi menurutku masalah ini sangat sepele sehingga aku tidak ingin menceritakannya kepada kak Khalid." Aish buru-buru berbicara, menepis prasangka sang habib kepadanya.


Tapi habib Khalid tidak bereaksi apa-apa. Dia menatap Aish tanpa senyum. Mungkin marah, tangan yang meremas pipi Aish pun perlahan ditarik pergi. Aish tidak mengizinkannya pergi, dengan panik dia segera meraih tangan sang habib mencegahnya pergi.


"Masalah ini.... Sungguh memalukan, kak. Seperti yang kak Khalid tahu adikku sekarang sudah pindah ke pondok pesantren. Dia lahir dari Ibu tiriku, wanita yang telah membuat Mamaku jatuh depresi. Dan karena kelahirannya di dunia ini, Mamaku shock dan semakin down. Dia meninggal tak lama kemudian. Karena hal ini aku selalu merasa rumit dengan adikku. Hatiku sangat kecewa sejujurnya. Sejak aku tahu adikku adalah sumber rasa sakit dari Mamaku, sejak itu pula aku berusaha membentengi diriku darinya. Kami tidak rukun. Karena dia sangat menyebalkan. Karena kak Khalid yang meminta aku akan berkata jujur bahwa aku pernah menyakitinya dan dia pun pernah menyakitiku, karena hubungan parasitisme ini kami tidak pernah benar-benar akur. Tapi aku selalu jujur dengan tindakanku sendiri bahwa aku tidak menyukainya. Sedangkan dia selalu bersikap palsu seolah sangat menyayangiku namun faktanya dia diam-diam menyakitiku. Seperti tadi malam, tiba-tiba datang ke kamarku sambil menangis dan bertanya apakah aku membencinya di hadapan banyak orang, bagaimana mungkin aku membiarkan itu terjadi. Jadi aku.... Aku membuatnya malu di hadapan banyak orang dan kupikir masalah ini pasti akan dibicarakan oleh banyak orang besoknya. Kak Khalid, demi kamu, aku berusaha menjadi gadis yang banyak. Gadis yang tidak mudah marah, pemaaf, pemberani membela kebenaran, dan suka berbagi. Aku berusaha untuk tetap istiqomah menjalankannya, tapi di hadapan orang yang menjadi sumber rasa sakit hidupku bertahun-tahun lamanya, tak mengapa luka hatiku seolah dihidupkan kembali. Aku tidak membencinya, tidak, bagaimanapun dia juga adikku. Kami berasal dari Ayah yang sama. Hanya saja aku kecewa, ya...aku sangat kecewa. Makanya aku tidak bisa menahan amarahku. Apa yang aku lakukan tadi malam memang salah...jadi...aku..." Aish menundukkan kepalanya tidak berani menatap sang habib.


Apa yang dilakukan memang salah terlepas seburuk apapun niat jahat Aira kepadanya. Aish mengetahuinya dengan baik karena itulah dia tidak berani menatap langsung ke arah sang habib. Dia takut melihat reaksi marah sang habib.


"Aisha Rumaisha, kamu memang salah. Tapi aku tidak memintamu untuk diam saja jika diperlakukan salah oleh orang lain. Kamu bisa melawannya tanpa harus menjatuhkan martabatnya jika kamu memang orang yang benar. Sama seperti masalah tadi malam, ya, kamu marah, tapi tidak perlu mengungkit identitas adikmu. Dengan mengungkit identitas adikmu sama artinya kamu telah menjatuhkan martabat adikmu di depan banyak umum. Ingat, kamu bukan dia. Dan kalaupun kamu marah, kamu tidak harus menjadi dia. Cukup jadilah dirimu sendiri. Lawan dengan terhormat agar adikmu juga merasa malu dan tidak mengganggumu lagi. Bila kamu enggan mengurusnya, maka ku sarankan untuk diam saja, diam jauh lebih baik daripada berbicara banyak tapi tidak bermanfaat. Sakit memang, tapi tidak ada salahnya bersabar. Orang yang bersabar selalu dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala, apakah kamu meragukan janji Allah? Jika tidak, maka bersabarlah. Sisanya biarkan Allah yang mengaturnya. Dia tidak mungkin diam melihat hamba-Nya terluka. Allah subhanahu wa ta'ala tidak mungkin mengecewakan hamba yang dicintai-Nya. Ingatlah Aish, akan ada hari di mana mereka semua menyesali apa yang telah mereka perbuat kepadamu. Dan di saat hari itu terjadi, kamu akhirnya menyadari banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk memarahi mereka. Padahal hasil akhirnya sudah Allah tentukan, loh. Jadi mulai dengan hari ini aku harap kamu harus menenangkan hatimu. Bila adikmu membuat masalah lagi maka pergi dan abaikan saja dia. Ingat, marah kepadanya adalah buang-buang waktu. Paham?" Berbeda dari apa yang Aish takutkan, sang habib tidak marah sama sekali kepadanya. Bukan merasa marah, malah sang habib memberikannya nasehat yang lembut. Dengan kelembutan ini Aish tidak merasa tersinggung atau kesal karena disalahkan, tapi dia justru merasa sangat malu.

__ADS_1


__ADS_2