
"Pondok pesantren sangat keterlaluan! Bagaimana mungkin kamu diberikan hukuman sekeras ini hanya untuk masalah sepele? Bibi juga kok aneh banget main setuju-setuju aja sama keputusan ini?! Harusnya Bibi kan belain kamu dan membersihkan nama kamu di sini!" Ucap dokter Ira masam.
Siang ini dokter Ira menerima seorang pasien yang membutuhkan perawatan serius dan betapa terkejutnya dia ketika melihat pasien itu adalah adik sepupunya sendiri, Khalisa. Adik sepupunya memang lemah tapi bukan orang yang penyakitan dan jarang sakit. Namun sekalinya jatuh sakit pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihan. Oleh karena itu dokter Ira cukup panik saat melihat Khalisa digotong masuk ke dalam klinik pondok oleh teman-teman kamarnya yang lain.
"Kak Ira jangan ngomong begitu, Bibi juga cukup sulit di kantor. Jika memang bisa, aku pasti tidak akan mendapatkan hukuman ini." Suara Khalisa lemah.
Khalisa sekarang berbaring di atas ranjang klinik dengan selang infus di pergelangan tangan kirinya. Setiap detik yang berlalu sebuah cairan bening akan dialokasikan ke dalam tubuhnya sebagai penunjang cairan tubuhnya yang kekurangan.
"Aku tahu. Aku hanya marah saja melihat kemalangan kamu." Kata dokter Ira melunak.
Sejujurnya dokter Ira tidak benar-benar marah melihat kemalangan adik sepupunya. Justru ada rasa kelegaan di dalam hatinya melihat Khalisa jatuh ke posisi ini. Dia sendiri bukan orang yang jahat, tapi memiliki ambisi yang cukup tinggi.
Sesungguhnya dokter Ira seringkali dibanding-bandingkan dengan Khalisa oleh keluarga besar. Padahal dia jauh lebih tua dari Khalisa tapi keluarganya seolah enggan tutup mulut dan menjadikannya sebagai topik pembicaraan.
Khalisa sejak lulus sekolah dasar dikirim ke pondok pesantren dan menerima pendidikan agama yang dalam. Selain itu Khalisa juga terlahir cantik dan cerdas, sering dielu-elukan orang di sekelilingnya. Dan posisi Khalisa di hati semua orang semakin tinggi saat dia digadang-gadang akan mendapatkan beasiswa full ke Mesir atau Yaman untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Seketika, nilainya di hati keluarga sangat berharga dan tinggi.
Sedangkan dokter Ira sendiri, karirnya memang bagus sebagai dokter, tapi dia hanya dokter swasta yang terlihat sangat biasa di mata keluarga. Sekalipun dia cantik dan cerdas di karirnya sendiri, tapi di mata kelurga dia memiliki ilmu agama yang dangkal. Salahkan dirinya memang yang lebih memilih mengejar karir daripada mengikut jejak kelurga yang lain untuk sekolah di pondok pesantren.
__ADS_1
Tapi lihatlah sekarang, seberapa hancurnya kalian melihat bintang harapan kalian telah jatuh ke posisi ini. Khalisa telah dikeluarkan dari staf kedisiplinan asrama dan dengan nama baik yang rusak, dia kemungkinan besar tidak akan mendapatkan beasiswa itu. Hah... salahkan adik sepupuku yang terlalu ceroboh. Batin dokter Ira dalam suasana hati yang rumit.
"Kak Ira, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Habib Thalib pasti berpikir bila aku adalah gadis yang nakal." Bingung Khalisa sedih.
Dia memang sedih dikeluarkan dari staf kedisiplinan asrama dan harus kehilangan beberapa poin nilai, tapi kesedihannya ini tidak sedalam kesedihan yang dia rasakan ketika melihat tatapan acuh tak acuh habib Khalid kepadanya waktu itu.
Habib Khalid adalah orang yang selalu mengumbar senyum kemampuan dia pergi dan kepada siapapun yang dia temui. Tak pernah sekalipun Khalisa mendengar kabar jika habib Khalid juga memiliki sisi yang dingin dan acuh, tapi setelah melihat tatapan terasingnya hari itu, Khalisa langsung panik dan sedih. Dia sangat takut kesan habib Khalid kepadanya berubah menjadi jelek sehingga pengejarannya akan mendapatkan jalan buntu.
Dia tidak mau itu terjadi.
"Apa yang harus dilakukan, kakak juga tidak bisa memberikan solusi untuk saat ini. Lagian kenapa sih kamu begitu ceroboh? Ketiga anak baru itu tidak mudah disinggung, mereka adalah orang yang sangat keras kepala dan pemberontak, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa saat menggangunya kecuali sebuah kerugian. Sekarang lihat kan, bukanya dapat untung kamu malah dapat kerugian besar!"
Muka Khalisa cemberut,"Aku enggak pernah ganggu mereka. Tapi aku cuma ngasih mereka pelajaran sedikit aja agar jangan membuat masalah lagi." Elaknya membantah.
Niatnya memang ingin memberikan pelajaran kepada Aish agar jangan bertingkah lagi di pondok pesantren dan membuat banyak masalah.
Mendengar alasan asal-asalan adik sepupunya, dokter Ira tidak bisa menahan diri untuk memutar bola matanya mengejek,"Sekarang siapa yang ngasih pelajaran dan siapa yang yang diberi pelajaran, Khalisa, kamu sangat mampu." Ejeknya samar.
__ADS_1
Khalisa semakin cemberut. Kakak sepupunya ini bukannya membantu malah semakin menambah luka di dalam hatinya.
"Siapa yang tahu akhirnya akan seperti ini..." Gumamnya sedih dan menyesal.
Dia sangat impulsif waktu itu gara-gara mendengar rumor dari adik kelasnya bila Aish menyukai habib Khalid dan sengaja membuat banyak masalah untuk mendapatkan perhatian habib Khalid. Khalisa pikir itu masuk akal karena selama ini Aish, Dira, dan Gisel sering membuat masalah di pondok, dan jika diperhatikan lagi orang yang selalu menangani mereka adalah habib Khalid, atau lebih tepatnya selalu habib Khalid.
Khalisa cemburu dan marah, dia merasa bila Aish terlalu tercela menggunakan cara tercela untuk mengejar habib Khalid. Dan kecemburuan di dalam hatinya kian membengkak saat memikirkan perhatian habib Khalid seringkali ditarik oleh Aish dalam beberapa momen.
Maka terjadilah hari itu dia memohon kepada Nasha untuk menjadi pengawas Aish, Dira, dan Gisel saat menjalankan hukuman. Rencananya ingin memberikan pelajaran kecil akan tetapi akhirnya dialah yang mendapatkan kerugian paling besar.
"Kamu sekarang merasakan akibatnya!"
Khalisa sedih,"Aku tahu dan aku menyesalinya. Aku terbawa emosi saat mendengar Aish membuat masalah di sini hanya untuk menarik perhatian habib Thalib dan tanpa sadar hal ini menjerumuskan diriku sendiri dalam masalah yang lain. Kak Ira, ayo pikirkan cara. Aku tidak ingin habib Thalib marah kepadaku karena aku...aku sangat menyukainya. Kakek dan nenek bilang hubungan ini bisa dibicarakan selama aku fokus belajar...tapi setelah masalah ini, aku takut...habib Thalib menolak ku." Ucapnya memohon.
Matanya sudah berkaca-kaca karena sedih dan menyesal. Bila waktu bisa diputar kembali, maka dia berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
Kakek dan nenek akan membantumu bicara? Bermimpi lah! Bagaimana mungkin habib Thalib menyukai gadis serendah kamu? Kamu masih belum cukup mampu Khalisa. Batinnya menggerutu.
__ADS_1
Dia juga sempat mendengar pembicaraan ini dan hanya menganggapnya angin lalu. Hell, tipe seorang habib umumnya sangat tinggi dan istimewa, jadi bagaimana mungkin Khalisa memiliki kehormatan untuk berdiri di posisi itu?