
Di malam harinya keluarga gempar karena kakek tiba-tiba mengumumkan kepada semua orang bahwa sang Habib dan Aish akan datang berkunjung. Berita ini datang begitu dadakan dan semua orang diliputi kesenangan. Mereka yang kemarin bersitegang karena masalah rumah kini dipenuhi perasaan bahagia. Wajah mereka menunjukkan senyum cerah seolah-olah mereka akan diberikan banyak uang oleh Aish.
Memangnya siapa yang tidak senang membangun koneksi dengan Aish?
Sekarang Aish kaya raya. Suami maupun keluarga mamanya berasal dari keluarga yang tidak dapat mereka singgung. Aset kekayaan keluarga Aish ada di mana-mana. Jadi mau tak mau mereka tergiur dan sangat menantikan kedatangan Aish.
"Kapan Aish datang?" Bibi bertanya kepada saudaranya yang lain.
Sikap Bibi yang terlalu antusias seolah lupa bahwa dia dulu sering memojokkan Aish dan memarahinya di depan banyak orang. Seakan Aish memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dia.
"Kakak bilang lusa. Kita tunggu saja. Ngomong-ngomong, haruskah kita membeli makanan untuk menyambut kedatangan Aish dan Habib Thalib?" Bibi yang lain menjawab tak kalah antusiasnya.
Jika ingin membeli makanan maka otomatis mereka harus mengeluarkan uang. Jika sebelumnya, mereka mungkin tidak akan ragu mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Tapi sayang sekali, selama 2 bulan ini dompet mereka telah terombang-ambing untuk melunasi hutang perusahaan. Dan yang paling menjengkelkan adalah banyak investor yang mundur dari perusahaan sehingga mereka merugi di mana-mana. Alhasil pendapatan yang dulunya melimpah kini tersendat-sendat dan membuat mereka semua depresi.
Sangat mudah dari hemat menjadi boros, namun sangat sulit dari boros menjadi hemat. Mereka kesusahan mengendalikan diri mereka untuk tidak terlalu mengeluarkan uang atau membelanjakannya.
Ditambah lagi mereka terancam terusir dari rumah ini. Jika mereka angkat kaki dari rumah ini maka, mereka harus mulai bersiap untuk hidup mandiri dan pengeluaran semakin membukit.
Mereka tidak mau hal ini terjadi. Karena itulah mereka sangat senang mendengar Aish dan Habib Thalib akan datang berkunjung setelah pulang umroh. Mereka berharap kedua pasangan itu dapat membantu kesulitan mereka. Misalnya mengizinkan mereka bekerja di perusahaan KR, atau memberikan mereka posisi penting di dalam perusahaan. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga. Jadi memang sewajarnya mereka diberikan posisi yang baik.
"Kalau kita mau beli makanan, otomatis kita harus mengeluarkan uang. Saranku sih lebih baik kita membuat makanan sendiri. Lebih irit." Kata bibi tidak setuju.
Uang terlalu sensitif untuk mereka.
"Menurutku membuat makanan juga menghabiskan banyak uang. Kita harus membeli tepung ini, tepung itu, gula, minyak, susu dan segalanya. Terlalu menghabiskan uang. Daripada membuat lebih baik kita membeli saja. Tapi kalau kita mau hemat, beli saja makanan tradisional. Habib Thalib dibesarkan di Timur Tengah dan belum lama menghabiskan waktu di sini. Dia pasti jarang menyentuh makanan tradisional. Jadi sediakan dia makanan tradisional dengan dalih untuk Habib Thalib yang dibesarkan di luar negeri. Bukankah ini lebih irit?" Saran salah satu paman kepada semua orang.
Ide Paman sangat bagus untuk mereka yang sedang terjepit masalah keuangan.
"Bagus. Kalau begitu aku akan memesan makanan di sebuah toko makanan depan komplek. Kalian tenang saja, harganya tidak terlalu tinggi dan kita bisa mendapatkan berbagai macam jenis makanan dengan modal sedikit."
Akhirnya disepakati bahwa mereka akan membeli makanan tradisional saya yang lebih murah. Sekarang mereka bisa lebih tenang.
"Ngomong-ngomong, aku ingin meminta Aish memberikan posisi kepada suamiku di perusahaan KR. Karena kita adalah keluarga, seharusnya Aish memberikan posisi yang bagus untuk suamiku. Ini jauh lebih menjanjikan daripada perusahaan kakak yang sudah diambang bangkrut." Ucap Bibi tidak tahu berterima kasih.
Dulu dia selalu menyanjung-nyanjung perusahaan Ayah, mengatakan bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih baik daripada perusahaan ayah. Tapi setelah berusaha mengalami masalah dan bibi melihat peluang dari kedatangan Aish, dengan mudahnya dia memalingkan wajah dan mengatakan kalau terus bertahan di perusahaan Ayah tidak akan menghasilkan apa-apa.
"Aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Aku juga berencana meminta posisi untuk suamiku kepada Aish. Lagian bertahan di perusahaan kakak juga tidak ada gunanya. Gaji kita tersendat-sendat sedangkan kebutuhan kita ada di mana-mana. Daripada bertahan dalam kesakitan, jadi kenapa tidak pergi saja dan menemukan tempat yang lebih baik? Kebetulan Aish datang besok ke sini bersama Habib Thalib. Sebagai keluarga mertua, Habib Thalib tentu tidak menolak permintaan kita. Toh, kita adalah mertuanya. Jika sampai habib Thalib menolak, aku akan mengadu kepada Aish. Mengatakan kalau suaminya sangat pelit." Bibi yang lain ikut menimpali dan memiliki rencana yang sama.
Dengan penuh percaya diri, mereka berbicara seolah-olah Aish dan Habib Thalib akan mempedulikan mereka.
"Paman dan bibi, tolong jangan terlalu banyak bermimpi. Kakakku tidak mungkin memberikan kalian tempat untuk menimbulkan masalah. Apalagi kalian semua memiliki catatan kriminalitas di mata kakakku. Yakinlah, dia tidak akan perduli dengan permintaan kalian semua." Aira yang sedari tadi mendengar mereka bernyanyi saling menyahuti tidak tahan lagi dan dengan terus terang menyindir mereka semua.
Aira mengenal bagaimana cara kakaknya berpikir. Mungkin kakaknya tidak akan mengungkit masa lalu di keluarga ini tapi bukan berarti kakaknya mau berdamai dengan mudah di rumah ini. Apalagi sampai memberikan orang-orang ini tempat untuk membuat masalah, kakaknya tidak sebodoh itu.
Selain itu Habib Khalid pasti berpikir panjang saat memutuskan apakah mereka bisa bekerja di sana atau tidak, namun Aira lebih percaya, dengan gaya Habib Khalid, mereka semua tidak memiliki kesempatan untuk bekerja di perusahaan KR.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Dulu adalah dulu, dan sekarang adalah sekarang. Aish tidak mungkin mengungkit masa lalu dengan kami, para tetuanya. Selain itu kami adalah saudara Ayahmu, mana mungkin dia menolak permintaan kami." Bibi dengan nada bangga membantah apa yang Aira katakan.
Dia sangat percaya bila Aish akan tunduk kepadanya karena identitas mereka. Oh, kalaupun Aish tidak mau tunduk, maka mereka bisa melobi habib Khalid agar mendengarkan ucapan mereka.
Memangnya siapa menantu yang tidak mau merebut hati mertuanya?
"Terserah bibi dan paman. Bermimpi lah sepuas yang kalian mau. Tapi ketika kalian terjatuh nanti, jangan bilang kalau aku belum menasehati kalian. Oh ya sekedar informasi, Ayah sudah mendengar apa yang kalian katakan ketika menjelek-jelekkan perusahaan Ayah, dan kabar baiknya kalian semua akan dipecat dari perusahaan Ayah, selamat." Aira dengan murah hati mengingatkan.
Tadi Ayah berdiri bersamanya mendengarkan nyanyian mereka semua. Aira sangat sedih melihat tampang kecewa Ayah. Kebaikannya kepada adik juga iparnya ternyata tidak dihargai. Ayah kecewa dan langsung pergi tanpa menyela angan-angan adik juga iparnya. Biarkan mereka berhalusinasi pikirnya. Nanti saat mereka semua tahu bahwa itu hanya sekedar angan-angan mereka saja, Ayah tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk kembali masuk ke dalam perusahaannya. Cukup sudah pikirnya.
Toh, iparnya juga bekerja tidak bersungguh-sungguh di perusahaannya. Mentang-mentang mereka memiliki hubungan kekeluargaan, mereka dapat melakukan apa saja di perusahaan.
Tapi sekarang tidak. Dia tidak akan memberikan mereka kesempatan meskipun mereka menangis darah.
"Apakah kakak tadi ada di sini?" Paman merasa tidak nyaman mendengarnya.
Mau bagaimanapun juga Ayah adalah kakak iparnya, dan dia juga pernah bekerja di perusahaan Ayah. Bisa dibilang Ayah adalah dermawannya di masa-masa sulit ketika dia tidak memiliki pekerjaan.
"Benar, dan dia baru saja pergi." Kata Aira menyindir.
__ADS_1
Sama seperti paman, Bibi juga merasa bersalah. Tapi perasaan bersalah ini hanya datang sebentar saja. Karena dia memikirkan keuntungan yang akan didapatkan selama bekerja di perusahaan milik Habib Khalid akan jauh lebih besar daripada perusahaan kakaknya.
"Jika dia di sini lalu kenapa? Memang benar kok perusahaannya hampir saja bangkrut. Kakak juga tahu sendiri dengan sumber daya yang kecil, dia tidak bisa menghidupi kita lagi. Jadi apa salahnya mencari tempat yang lebih baik? Memaksakan diri di tempat kecil milik kakak tidak akan memiliki keuntungan apapun dan malah akan menyiksa diri sendiri. Jadi lebih baik mundur dan pergi mencari pekerjaan ke perusahaan Aish." Bibi membenarkan sendiri alasannya.
Dia sudah bermimpi hari-harinya akan menjadi lebih baik setelah suaminya bekerja di perusahaan KR. Bukan hanya menjadi lebih baik, tapi dia juga akan memiliki berbagai macam perhiasan milik perusahaan KR yang digilai oleh banyak wanita. Bisa dibayangkan betapa cemburunya orang-orang yang pernah merendahkan dulu ketika melihat leher dan tangannya dipenuhi oleh perhiasan.
"Huh, teruslah bermimpi." Setelah mengatakan itu, dia kembali ke kamarnya tidak mau melihat para parasit yang mulai menebar ilusi di mana-mana.
"Kita lihat saja besok, seberapa malu kalian dihadapan kakakku. Aku yakin kalian akan menyesal karena telah merendahkan Ayah." Ucap Aira mendendam.
Dia akan menunggu hari wajah mereka semua ditampar oleh kenyataan. Pada saat hari itu terjadi, jika mereka kembali mengemis kepada ayahnya, dia tidak akan pernah membiarkan mereka menggerogoti ayahnya lagi. Sudah cukup pikirnya. Dia sudah lelah dengan para lintah darat ini.
...****...
"Ayah, apa benar Aish akan datang ke rumah?" Menghilangkan kekecewaan di dalam hatinya, ayah masuk ke dalam kamar kakek.
Di dalam kamar kakek tengah mengobrol bersama nenek. Sejak tadi pagi ketika bangun dari tidurnya, kakek memiliki sikap yang sangat lengket kepada nenek. Ketika bertemu nenek di harus memegang tangan nenek dan tak pernah melepaskannya lagi.
"Aish bilang akan datang. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya." Kata kakek sambil tersenyum lebar, terlihat begitu damai.
Ayah senang mendengarnya. Tapi ketika memikirkan rencana adik-adiknya untuk meminta posisi di perusahaan KR kepada Aish dan Habib Khalid, dia tiba-tiba merasa murung. Keluarganya benar-benar payah. Tanpa malu-malu ingin menjilat putrinya yang telah mereka sia-siakan, sungguh tidak tahu malu.
"Tapi ayah, mereka masih berbulan madu. Dan rencananya mereka akan kembali satu bulan lagi. Kenapa rencananya berubah begitu cepat?" Katanya Ayah tak mengerti.
"Itu karena Ayah ingin bertemu dengan Aish dan Habib Thalib. Ayah kangen sama mereka berdua, Ayah ingin berbicara dengan mereka. Membicarakan banyak hal. Ayah yakin mereka beda punya banyak cerita setelah menikah." Kata kakek masih dengan senyum yang sama.
Itu karena kakek yang menelpon Aish, memintanya untuk segera pulang karena dia ingin bertemu. Dan kakek sama sekali tidak memberikan Aish waktu untuk memikirkannya. Dia terus-menerus mendesak Aish agar segera pulang karena hatinya sudah sangat rindu.
Mendengar desakan kakek, sejujurnya Aish merasa aneh. Dia punya banyak jadwal bulan madu selama satu bulan ke depan. Namun kakek terus-menerus mendesaknya untuk segera pulang. Berulang kali mengatakan bahwa dia sangat merindukan dan ingin bertemu dengannya. Aish jadi tak tega. Dia kasihan kepada kakek. Karena setelah menikah, mereka baru bertemu sekali dan itu sebentar saja. Jadi kerinduan kakek harusnya bisa dimaklumi.
"Kenapa ayah melakukan itu? Ayah tau sendiri kan kalau Aish dan Habib Thalib sedang pergi berbulan madu? Kalau Ayah memintanya pulang ke sini, maka itu artinya Ayah mengacaukan liburan mereka berdua." Kata Ayah tak berdaya.
Memangnya siapa yang tidak rindu dengan Aish, Ayah pun berharap kalau Aish segera pulang agar mereka bisa bertemu. Tapi Ayah juga mengerti posisi Aish dan habib Khalid. Mereka adalah pasangan pengantin baru, mereka sedang menikmati waktu manis-manisnya pernikahan dan ingin kesana kemari untuk menyebarkan cinta. Karena Ayah mengerti posisi mereka, makanya dia tidak pernah mengambil inisiatif untuk bertanya kapan mereka kembali atau kapan mereka datang menemuinya di rumah.
"Tapi, Nak. Jika mereka tidak segera pulang, aku takut tidak bisa bertemu mereka lagi." Kata kakek membuat ayah langsung terdiam.
Menahan rasa sakit di hati, ayah lalu bertanya kepada kakek.
"Kenapa ayah tidak bisa bertemu dengan mereka? Memangnya Ayah mau ke mana?"
Kakek tersenyum. Mata tuanya berkedip ringan dengan perasaan nostalgia.
"Bukankah kalian ingin membawaku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan? Dokter bilang dengan kondisi seperti ini, aku harus melakukan operasi. Setelah operasi pula aku tidak langsung bangun. Mungkin aku akan koma dan entah kapan bisa bangun lagi." Jawab kakek menjelaskan kepada mereka.
Setelah mendengar penjelasan dari kakek, barulah mereka berdua bisa menghela nafas lega. Memang benar kakek akan melakukan pemeriksaan di rumah sakit untuk memutuskan apakah kakek akan melakukan operasi atau tidak. Melihat usia kakek yang sudah lanjut usia, sebenarnya Ayah tidak tega membiarkan operasi. Tapi ada juga tidak tahan melihat kakek tersiksa dalam kesakitan setiap hari jadi mau tak mau dia membuat keputusan untuk mengoperasikan kakek.
"Jangan terlalu dipikirkan, Ayah. Operasi Ayah pasti berjalan lancar dan Ayah pasti bangun secepat mungkin. Setelah Ayah merasa lebih baik kan, aku akan mengajak Ayah bertemu dengan Aish dan Habib Thalib. Kalau perlu kita semua akan pergi umroh bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan Ayah kepada Allah. Ayah mau kan kita pergi umroh?" Ayah berusaha menghibur hati kakek agar tidak cemas.
Kakek menganggukkan kepalanya bersemangat.
"Ayah mau ikut pergi umroh. Insya Allah, Ayah ingin ikut umroh bersama kalian." Kata kakek bersemangat.
"Kalau begitu tenangkan pikiran Ayah dan jangan memikirkan yang macam-macam sampai hari operasi. Ayah bersedia?"
Kakek tersenyum lebar, tampak begitu meneduhkan,"Insya Allah."
...*****...
Dua hari kemudian aku dan suamiku berkunjung ke rumah Ayah. Sebenarnya kami masih memiliki beberapa hari lagi di Mekkah, tapi kakek tiba-tiba meneleponku dan meminta kami untuk pulang ke rumah. Katanya dia sangat merindukanku.
Awalnya aku ingin menolak karena sayang sekali kalau kami langsung pulang tanpa sempat menyelesaikan umroh. Tapi mas Khalid menasehati ku agar mendengarkan kakek saja. Takut bila aku satu hari menyesalinya.
Aku merasa ada sesuatu yang aneh, yang coba disampaikan oleh suamiku. Namun aku tidak tahu dan saat aku bertanya, suamiku bilang bahwa dia tidak bermaksud apa-apa.
Setelah memutuskan untuk pulang, kami segera membeli tiket dan di malam itu juga kami terbang dan baru pulang kemarin sore. Tapi karena kami baru saja sampai dan agak kelelahan karena perjalanan jauh, kami memutuskan untuk datang besok pagi.
__ADS_1
Sekarang di sinilah kami. Berdiri di depan rumah yang telah ku tinggali selama 18 tahun lamanya. Rumah yang menjadi saksi penderitaan mamaku, rumah yang menjadi saksi ketidakadilan yang pernah kudapatkan di dalam keluarga ini, dan rumah yang menjadi saksi bahwa di saat kesepian aku masih memiliki kakek sebagai pelita penghangatku.
Sudah 10 bulan lamanya aku meninggalkan rumah ini. Hanya dalam waktu yang singkat itu aku merasa bahwa rumah ini sedikit berubah. Tanaman di halaman depan agak layu, mungkin karena yang jarang di siram dan warna cat gerbangnya juga sudah diganti.
"Aish!" Seseorang berteriak dari dalam.
Saat aku menoleh, wajahku ingin sekali berpaling karena orang yang memanggil adalah bibi.
Hubunganku dengannya sungguh sangat buruk. Tidak hanya menjelek dan merendahkan ku selama tinggal di sini, tapi dia juga ingin mengambil tabungan mamaku dengan alasan urusan bisnis. Hah, dia masih saja sama. Lihat saja sekarang, sikap antusiasnya membuatku curiga.
"Aish dan Habib Thalib, kalian akhirnya datang. Mari masuk, semua orang sudah menunggu kalian." Dia meraih tanganku dan menarik ku masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah semua anggota keluarga sudah menunggu termasuk ayah dan bunda. Sementara Aira, aku tidak melihat sosoknya. Mungkin saja dia malu kepadaku karena pertikaian panjang kami?
Aku harap hubungan di antara kami berdua dapat diperbaiki. Karena meskipun kami berasal dari ibu yang berbeda, tapi di dunia ini aku hanya memiliki dirinya seorang sebagai saudara.
"Assalamualaikum, ayah, bunda, nenek dan semuanya. Maaf karena kami baru datang sekarang. Soalnya kami baru mendarat kemarin sore dan tidak bisa langsung datang ke sini karena kami agak capek. Lalu di mana kakek?" Tanyaku tanpa berbasa-basi.
Aku ke sini karena panggilan kakek jadi aku harus segera menemuinya, selain itu kakek juga mengatakan bahwa dia sangat merindukanku.
"Waalaikumsalam. Jangan terlalu buru-buru, Aish. Ini masih pagi. Kalian belum sarapan' kan? Kebetulan sekali, kami sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua. Selain sarapan, kami juga telah menyiapkan beberapa jajanan tradisional khusus untuk habib Thalib. Kami tahu kalau Habib Thalib tumbuh dan besar di luar negeri jadi dia mungkin belum pernah memakan makanan tradisional, makanya kami sengaja menyiapkan makanan tradisional khusus untuknya." Bibi menarikku pergi menuju ruang makan tanpa menunggu kami berbicara.
Sebenarnya kami berdua sudah sarapan dan untuk diriku pribadi, aku sedang tidak berselera makan. Bukannya lapar melihat makanan di atas meja, aku malah merasa enek karena makanan itu terlalu berminyak.
"Bibi berhenti, kami berdua sudah sarapan dan mas Khalid masih belum lapar jadi lupakan saja soal makan. Aku ingin bertemu dengan kakek, tolong tunjukkan aku di mana kakek?" Kataku kepada bibi.
Namun bibi sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkanku.
"Astaghfirullah, Aish. Kamu mungkin tidak lapar, tapi bagaimana dengan suami kamu? Dia pasti lapar pengen mencicipi kue-kue yang telah kami siapkan khusus untuknya." Katanya keras kepala ingin menyentuh suamiku.
Tapi suamiku langsung mengelak menghindari sentuhan bibi.
"Maaf bibi, aku masih berwudhu. Selain itu aku juga sudah sarapan bersama istriku di rumah, untuk saat ini kami masih belum lapar." Tolak suamiku tidak mau menyentuh makanan.
Wajah bibi berubah. Biar ku tebak, apakah dia akan berteriak seperti dulu untuk memarahiku atau menyalahkan ku karena tidak tahu berterima kasih?
"Oh... Kalau masih belum lapar. Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kalian. Kenapa kita tidak mengobrol saja di ruang tamu?" Aku pikir dia akan marah tapi ternyata, dia masih bisa tersenyum setelah aku dan mas Khalid menolaknya.
Aku agak jengkel gara-gara bibi. Berkali-kali aku mengatakan ini bertemu kakek, tapi kenapa bibi selalu saja menahan kami agar tidak segera pergi.
"Bibi tolong, aku ingin bertemu dengan kakek. Di mana kakek?" Tanyaku tak sabar.
Bibi cemberut,"Aish, bersabarlah. Kenapa kamu tidak bisa seperti suami kamu, dia selalu diam dan bersikap tenang di depan kami. Lagi pula untuk apa kamu terburu-buru, Ayah tidak akan lari sekalipun kamu kejar." Dia mulai lagi.
Dari penampilannya hari ini, dia pasti menginginkan sesuatu dari ku ataupun dari mas Khalid. Aku tidak heran melihatnya. Hanya saja, aku masih agak terkejut melihat sikapnya yang tidak tahu malu. Di pondok pesantren dia mengatakan secara langsung di depan banyak orang kalau aku bukanlah keponakannya, lalu sekarang mengapa dia bersikap sok dekat kepadaku?
Seolah-olah hubungan kami pernah baik saja.
"Aish dan Habib Thalib, Kakek sedang mandi di kamarnya. Sementara kakek selesai mandi, kalian bisa menunggunya di ruang tamu." Ucap suami bibi kepadaku.
Mau tak mau aku dan mas Khalid pergi ke ruang tamu bersama yang lain. Di ruang tamu ayah, bunda dan nenek pergi entah ke mana. Selain para bibi dan paman, aku tidak menemukan sosok mereka.
"Di mana Ayah dan yang lainnya?" Tanyaku kepada mereka.
Author POV
"Mereka ada di kamar kakek. Sebentar lagi mereka pasti keluar." Ucap seorang Paman menjawab.
Aish lagi lagi mengernyit heran karena Ayah, Bunda, dan nenek sibuk mengurus kakek di kamar, lalu apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini di sini?
"Kenapa bengong terus, ayo minum kopi kalian?" Kata bibi sebari mendorong cangkir kopi ke depan sang Habib.
Sang Habib tersenyum tanpa menyentuh kopi di atas meja.
"Terima kasih, bibi. Tapi suamiku tidak suka minum kopi." Kata Aish menjelaskan perilaku suaminya yang tidak menyentuh kopi di atas meja.
__ADS_1
Bibi dan paman saling memandang. Mereka merasa malu karena setiap suguhan yang mereka berikan kepada Aish dan Habib Khalid selalu ditolak dengan berbagai macam alasan. Belum lapar lah atau tidak suka kopi lah, entah alasan apa lagi yang akan mereka katakan nanti.