
"Kalian pasti kaget kan melihat aku di sini? Hah, kalian pikir dengan menolak ku datang ke sini aku tidak bisa datang? Kalian salah besar. Selama aku mau, aku bisa datang atau tidak. Umu dan Abah tidak akan menolak diriku karena mereka menghormati Ayah." Gumam Aira bangga.
Dia tersenyum angkuh melihat punggung-punggung kurus itu masuk ke dalam rumah.
"Tapi ngomong-ngomong," Kepalanya menoleh ke sana ke mari,"Kapan habib Thalib datang ke sini? Umi bilang acara hari ini juga dihadiri oleh habib Thalib."
Kedua tangannya saling meremat pertanda bahwa dirinya sangat gugup. Dia tidak sabar bertemu lagi dengan habib Khalid. Rindunya selama 1 bulan habib Khalid menghilang belum tercurahkan hingga hari ini. Ditambah lagi prasangka dan kecemburuan kemarin, rasa di dalam hati sudah jenuh dan ingin segera dilepas.
Syukurlah otaknya cerdas.
"Bersabarlah Aira. Sebentar lagi... Pasti sebentar lagi habib Thalib datang. Kamu harus bersabar sebentar saja." Bisiknya menenangkan suasana hati yang tengah merindu.
Cinta memang virus yang berbahaya. Tidak perlu meminum alkohol untuk membuat mabuk, karena ketika sedang jatuh cinta perasaan mabuk itu datang dengan sendirinya. Membuat hati dilema juga tidak sabar hingga lupa bagaimana cara berpikir rasional.
...*****...
Setelah pulang ke asrama untuk mandi dan berganti baju, mereka bertiga langsung pergi menuju rumah Umi. Jaraknya tidak terlalu jauh ataupun dekat. Tapi dengan cuaca panas dan terik siang hari ini membuat mereka enggan berjalan.
Sepanjang jalan mereka berbicara, mengobrol dan bahkan bercanda. Tidak terasa mereka hampir sampai di tempat tujuan. Dari beberapa meter jauhnya mereka melihat rumah Umi agak ramai. Beberapa santriwati sedang bekerja membersihkan pekarangan. Ada yang bertugas menyiram halaman untuk membasahi tanah yang berdebu, ada juga yang bertugas menyapu dan mencabut rumput halaman. Semua orang bekerja keras. Tidak ada yang duduk malas-malasan dan suasana cukup menyenangkan.
Di depan rumah Umi mereka bertemu dengan Nasha dan berbicara sebentar sebelum masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah tidak seramai diluar. Malah terkesan sepi karena mereka tidak melihat siapapun. Sampai akhirnya wajah tampan habib Khalid memasuki pandangan mereka bertiga. Habib Khalid keluar dari sebuah ruangan yang berjarak beberapa ruangan dari dapur.
"Kak Khalid?" Sebuah senyuman langsung merekah di bibir ranum Aish seiring wajahnya mulai mengembangkan rona merah.
__ADS_1
"Ck, kita akan jadi obat nyamuk di sini." Ejek Dira di samping.
Entah Aish berpura-pura tidak mendengar atau dia memang tidak mendengar ejekan Dira, karena dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa sementara mata serta pikiran fokus kepada habib Khalid seorang.
"Udahlah mending kita duluan ke dapur daripada jadi obat nyamuk di sini." Gisel menarik tangan Dira berbelok menuju ke arah dapur.
Di dapur sudah banyak sayuran tertata rapi di atas meja yang belum disentuh ataupun dibersihkan. Selain sayuran ada juga beberapa ikan tawar hidup di dalam ember. Sekilas mereka tahu bahwa masakan yang akan mereka buat hari ini mungkin sama dengan masakan yang mereka buat beberapa bulan yang lalu ketika datang membantu.
"Kamu akhirnya datang. Tadinya aku mau pergi mencari kamu ke asrama." Habib Khalid tersenyum lebar saat melihat gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Tanpa ragu dia berjalan cepat menghampiri Aish hingga mereka berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Hati Aish berdegup kencang antara panik juga senang. Dia panik karena jarak mereka terlalu dekat, bisa bahaya kalau ada orang yang melihat.
"Kak Khalid jangan bercanda. Mana bisa kak Khalid masuk ke dalam asrama, kak Khalid kan laki-laki." Ucap Aish tidak percaya.
"Selain itu kak... Tidakkah jarak kita terlalu dekat? Bagaimana kalau ada orang yang melihat kita?" Aish tidak takut namanya menjadi buruk karena dia sudah terbiasa dengan prasangka buruk orang lain.
Tapi tidak dengan habib Khalid. Dia tidak ingin mencemari nama sang kekasih di mata orang-orang yang mengaguminya.
"Jawabanku sama untuk kedua kasus ini. Itu karena kamu, kenapa aku tidak bisa masuk ke asrama dan kenapa aku takut dilihat oleh orang lain? Kedua hal ini sama sekali tidak berlaku untukku selama itu tentang kamu." Habib Khalid tidak terlalu rumit dalam masalah ini. Dia tidak mau membawa pusing hal-hal sepele yang tidak perlu diperhatikan.
"Oh..." Aish dibuat kagum mendengarnya.
Sedalam itukah perasaan habib Khalid kepadanya hingga dia berani melanggar aturan di pondok maupun secara agama. Ini salah, tapi mengapa dia merasa ini wajar? Seolah semuanya memang harus berjalan seperti ini.
__ADS_1
"Ayo pergi." Habib Khalid tiba-tiba meraih tangan kanan Aish dan menggenggamnya lembut.
Dia terkejut, otaknya langsung menjadi tumpul. Untuk sesaat dia tenggelam dalam keterkejutan sampai akhirnya dia tersadar bahwa kini mereka sudah berpindah tempat dan sedang berdiri di sebuah pintu. Seingat Aish, kekasihnya keluar dari pintu ini.
"Kita mau ngapain, kak?" Jantungnya kembang kempis dengan kecepatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya sementara otaknya mulai bekerja keras memikirkan berbagai macam skenario bila dia masuk ke dalam ruangan ini.
Semua isi pikiran di kepala Aish tertulis langsung di wajahnya. Habib Khalid tidak tahu harus bereaksi apa melihat sirkuit otak kekasihnya yang agak lain.
Tersenyum geli, dia mencubit puncak hidung Aish. Hatinya seperti di gelitikin oleh bulu-bulu halus melihat betapa mengemaskan wajah konyol sang kekasih.
Dia bertanya-tanya mengapa pikiran kekasihnya mudah dibaca?
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kita tidak akan melakukan hal 'itu' sekarang. Tapi ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu di dalam."
"Oh.." Aish tersadar, tapi sedetik kemudian kepalanya mulai berdengung memikirkan apa yang habib Khalid maksud dengan 'itu'?
Apakah 'itu' yang habib Khalid maksud sama dengan 'itu' yang Aish pikirkan tadi?
Tidak...ini terlalu vulgar, mereka berdua belum menikah dan belum hapal jadi tak sewajarnya memikirkan masalah...em, itu. Aish bingung dengan habib Khalid. Dia pikir kekasihnya ini tipe orang yang 'bersih' dalam artian tidak mungkin memikirkan hal yang aneh-aneh. Namun barusan habib Khalid menyebutkan hal yang sangat....pribadi-
Ugh, apa yang kamu pikirkan? Sadarlah Aish dan jangan berpikir macam-macam! Batinnya menegur diri sendiri.
"Bengong lagi." Kali ini habib Khalid tidak bisa mengendalikan tangannya untuk tidak meremas pipi gembil nan merah sang kekasih.
"Ouh, kak Khalid!" Pipinya sakit.
__ADS_1
"Sudah dibilang berapa kali kalau sama aku jangan memikirkan hal yang lain-lain. Cukup fokus sama aku." Ucap habib Khalid merasa bersalah.