
Sementara Aish tenggelam dalam pikirannya sendiri, Dira, sosok manusia yang hidup, bernafas, dan nyata tiba-tiba meragukan hidupnya sendiri. Mata dan telinganya baru saja dibutakan oleh virus aneh yang mengundang jiwa gosipnya semakin membara.
Hei, dia sudah sebesar ini tapi baik habib Khalid maupun Aish tidak menyadari sama sekali keberadaannya!
Dia selalu berdiri di samping, okay! Dan dia juga telah menonton dan mendengarkan sepanjang adegan ini berlangsung.
Bahkan tak satupun dari mereka berdua yang berinisiatif untuk berbicara dengannya. Sekedar menyapa mungkin biar posisinya enggak terlalu ngenes banget.
Dan yang paling Dira heran adalah,
Melihat ke seberang meja, Umi tidak bereaksi apa-apa dengan kejadian langka tadi. Melihat ke sisi wastafel, si muka tembok datar banget melihat lele tak berdaya di atas talenan, Dira yakin jika dia tidak memperhatikan pergerakan dunia. Lalu ke sisi yang lainnya lagi, Gisel seolah tenggelam dalam dunia sendiri, um, lebih tepatnya dia seperti bersembunyi dari seseorang.
Tak satupun dari mereka yang menyadari bila habib Khalid pernah ke sini untuk membuang virus merah muda dan tak satupun yang melihat pemandangan langka ini.
Tak berdaya, Dira membawa mata kosongnya menatap langit-langit dapur sambil berpikir.
Ya Allah, ada apa dengan dunia ini? Mengapa aku selalu terjebak di antara mereka berdua dan mengapa selalu aku yang menjadi penonton diantara mereka, ah!
Hidup ini sangat sulit!
...****...
Gisel sebenarnya tidak tenggelam dalam pikirannya. Dia malah sangat gugup saat ini sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana tidak gugup bila orang yang dia taksir ternyata berada di ruangan yang sama dengannya. Apalagi sarungnya masih belum Gisel kembalikan karena tidak punya waktu luang untuk mengembalikan- nyatanya, dia masih ingin menahan sarung itu pada awalnya. Tapi karena pemiliknya sudah meminta, maka dia harus segera mengembalikan sarung itu!
Dia kesulitan mengontrol reaksi tubuhnya yang terlalu gugup!
Apa yang harus dilakukan sekarang?
"Tolong, garamnya."
"Ya-ya..kenapa, kak?" Kaget Gisel terbata-bata.
Pasalnya Danis tiba-tiba mengajaknya bicara-oh, lebih tepatnya Danis hanya ingin mengambil sesuatu darinya. Tapi dia tidak mendengar dengan baik sebelumnya!
Mata almond Danis berkedip ringan melihat wajah merah Gisel. Lalu dia mengalihkan pandangannya menatap toples garam di atas meja dapur.
"Garam. Aku ingin mengambil sedikit." Kata Danis mengulangi permintaannya lagi.
__ADS_1
Namun anehnya Gisel merasa bila nada suara Danis jauh lebih lunak dari sebelumnya. Apakah ini karena perasaannya saja yang terlalu condong menyukai Danis atau mungkinkah ini bukan perasaannya saja?
Iya, kah?
"Oh, garam." Gisel buru-buru mengambil toples garam dan mendorongnya ke sisi meja depan Danis.
"Ini, kak. Aku minta maaf tadi enggak dengar jelas omongan kakak." Kata Gisel gugup.
Danis menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa."
Melihat toples garam tepat berada dihadapannya, Danis tidak langsung mengambilnya. Anehnya dia masih berdiri di tempat dengan mata tertuju pada toples tapi pikirannya telah mengambang entah kemana.
Gisel semakin tidak fokus berada sedekat ini. Dia ingin bersembunyi tapi pada saat yang sama tidak mau. Pasalnya dia jarang bertemu dengan orang yang dia sukai, jadi dia ingin sekali memanfaatkan momen ini. Tapi Gisel takut bila terlalu lama di sini Danis akan menyadari ada sesuatu yang salah dengannya. Mungkin saja dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang!
"Apakah kamu suka makan ikan lele?" Tiba-tiba Danis bertanya.
Ugh, pertanyaan ini terlalu 'luar biasa', kan?
Tapi Gisel sangat senang ditanyai Danis!
Danis mengangguk ringan. Diam lagi. Gisel pikir Danis akan seperti ini. Butuh beberapa menit untuk memulai pembicaraan lagi. Tapi untungnya Danis kembali berbicara setelah diam beberapa detik.
"Lalu, sarung itu-"
Ah, perkara sarung lagi! Batin Dira bersorak.
Dira kebetulan lewat dan mendengar percakapan mereka. Ketika topik Danis tiba-tiba mengungkit masalah sarung kolor hijau yang telah melegenda di kamar mereka, dia hampir saja tersandung meja yang dia lewati!
Namun untungnya pertahanan psikologisnya cukup tinggi jadi dia baik-baik saja!
Heis, anak muda jaman sekarang... Batinnya mendesah tidak berdaya.
"...kapan kamu akan mengembalikannya?" Sementara itu percakapan masih berlanjut.
Mereka berdua sama sekali tidak menyadari Dira baru saja lewat dan menguping percakapan mereka. Dira hanya mengambil sesuatu sebentar dan langsung pergi. Hatinya yang selalu mengobarkan jiwa gosip diam-diam bertanya, apakah kehadirannya terlalu kecil di dunia ini?
__ADS_1
Kalau tidak mengapa tak satupun diantara mereka yang menyadarinya?!
"Itu kak...aku awalnya ingin mengembalikannya kepada kak Danis. Tapi...kita tidak pernah bertemu dan aku juga tidak nyaman menitipkannya kepada orang lain. Takutnya... orang-orang akan salah paham." Gisel berusaha tidak menyinggung perasaan Danis.
Danis adalah salah satu orang yang cukup terkenal di pondok baik dikalangan santri maupun santriwati. Selama tinggal di sini, sudah banyak gosip yang dia dengar tentang Danis. Entah itu mengenai prestasi ataupun masalah asmara, dia telah mendengarnya berkali-kali. Danis orangnya memang populer, jadi Gisel tidak heran mendengar bila ada banyak gadis yang menyukainya.
Namun hatinya selalu merasa tak nyaman.
"Aku mengerti." Kata Danis tenang,"Dan sejujurnya kamu juga tidak diperbolehkan menitipkannya kepada orang lain karena itu adalah tanggungjawab mu. Maka sudah seharusnya kamu sendiri yang mengirim kembali sarungku."
Yah, ini juga terdengar masuk akal.
Ugh, bukankah ini terdengar agak aneh?
Gisel menggelengkan kepalanya menampik,"Nah aku juga berpikir begitu, kak." Padahal tidak.
"Dan hari ini aku sama sekali tidak menduga akan bertemu kak Danis di sini jadi aku tidak membawa sarungnya." Bisik Gisel malu dengan suara rendah.
Danis menggelengkan kepalanya. Tersenyum lebar, dia mengambil toples garam itu di atas meja seraya berkata,"Jangan terburu-buru. Bila sudah waktunya, aku sendiri yang akan mengambilnya kembali." Dan kemudian pergi kembali ke wastafel untuk mengurus kembali ikan lele yang masih belum diproses.
"Ah..." Memegang pipinya yang menghangat, pikiran Gisel mau tak mau berselancar memikirkan yang tidak-tidak.
"Apa yang aku pikirkan!" Bisiknya panik.
Hatinya panik tapi pada saat yang bersamaan dia juga mengharapkannya. Tapi mungkinkah ini bisa terjadi disaat dirinya sendiri tak layak bersanding dengan orang-orang yang lebih dekat dengan Allah?
Pasalnya,
"Aku pernah mendengar bila orang yang baik untuk orang yang baik pula, dan orang yang buruk akan dipasangkan dengan orang yang buruk pula. Maka harusnya aku tak punya jalan, kan?" Bisiknya sendu.
Suasana manis tadi seketika menguap entah kemana hanya karena satu pemikiran kecil ini.
Dia tidak layak untuk orang yang dicintai Allah, tapi meskipun begitu fakta menyakitkan ini tidak bisa membuat harapannya surut, ironisnya.
Bersambung...
Lagi enggak?
__ADS_1
Kalau lagi up lagi, nih.