Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.14


__ADS_3

"Jadi apakah kalung itu cantik?" Habib Khalid mengulangi pertanyaan yang sama.


Untungnya, tidak ada lagi yang tersedak. t


Tanpa sadar telinga semua orang langsung berdiri menanti jawaban. Terutama untuk Nasha sendiri. Dia sangat penasaran kalung mana yang habib Khalid maksud. Sayang sekali dia tidak bisa melihat pemberian sang habib.


Aish lalu menunduk malu-malu sambil mengaduk-aduk bubur di kotak makannya. Diam-diam dia mengganggukan kepalanya pelan memberikan sebuah jawaban. Dan bibir ranum merahnya bergerak ringan membuat suara.


"Sangat cantik kak, aku menyukainya. Tapi hadiah itu terlalu mahal, aku tidak bisa menjangkaunya." Hadiah habib Khalid ini memang indah dan sangat berharga, saking berharganya Aish takut menerimanya.


Sejujurnya, dialah yang mengejar habib Khalid. Tapi mengapa orang yang dikejar selalu memberikan hadiah banyak hadiah kepadanya? Bukankah normalnya harus Ais lah yang mengeluarkan banyak hadiah kepada sang habib? Soalnya orang yang mengejar bukanlah habib Khalid tapi Aish.


"Baguslah jika kamu menyukainya. Dan jangan mengeluh apakah hadiah itu terlalu mahal atau tidak, cukup terima saja karena setiap pemberian datangnya dari hati." Kata habib Khalid acuh tak acuh.


Seketika, jantung Aish langsung berdebar kencang. Setiap hadiah datangnya dari hati maka baik kalung, tasbih atau apapun yang pernah habib Khalid berikan kepadanya pasti datangnya dari hati.


Aish meremas sendok makannya tanpa sadar dan tidak menyadari mata-mata iri dari tiga orang lainnya. Dia sepenuhnya tenggelam oleh rasa manis yang meluap dari dalam hatinya.


"Kak Khalid, bukankah aku yang mengejarmu? tapi mengapa kamu yang ku kejar selalu memberikan hadiah-hadiah kepadaku?" Bisik Aish dengan suara kecil.


Nasha, Dira dan Gisel sontak mengerutkan kening mereka. Suara Aish terlalu kecil dan mereka penasaran apa yang dikatakan Aish pada habib Khalid sehingga membuat habib Khalid tertawa kecil.

__ADS_1


Benar, habib Khalid tiba-tiba tertawa mendengar apa yang Aish katakan. Menurut sang habib, Aish terlalu lucu dan terkesan lugu. Apalagi melihat ekspresi seriusnya itu saat ini. Tangannya gatal ingin menyentuh pipi Aish, meremasnya lembut hingga membuat pipi itu merona kemerahan lebih terang lagi. Dia menduga bila pipi itu lebih merah lagi, pasti wajah cantik Aish akan lebih menawan lagi.


"Sangat cantik." Gumam sang habib serak.


"Kenapa, kak?" Aish sontak mendekatkan telinganya ke arah sang habib.


Habib Khalid tertegun. Mata hitamnya menatap puncak kepala Aish yang berjarak beberapa centimeter saja darinya. 1 detik kemudian dia merendahkan kepalanya lebih dekat lagi dengan puncak kepala Aish, merendah hingga bibirnya tepat berada di puncak kepala Aish dan berbicara,"Kamu sangat cantik."


Wajah Aish langsung menjadi panas. Pipinya terasa berat dan berwarna terang. Dia sudah seperti balon saja yang mulai mengembang dan sewaktu-waktu terbang ke awan terbawa angin. Tidak, jelas-jelas dia sekarang sedang terbang ke awan. Apalagi saat merasakan sapuan singkat di atas puncak kepalanya, dia tidak berani berpikir apakah sang habib baru saja mencium puncak kepalanya.


Bom


Bom


Bom


"Katakan padaku apa yang baru saja kalian lihat?!" Nasha bertanya kepada Gisel dan Dira.


Jantungnya malah berdebar kencang meragukan apa yang baru saja dilihat oleh matanya. Jika dia tidak salah habib Khalid baru saja mengecup puncak kepala Aish. Tapi bukankah itu terlalu intim?


Atau matanya saja yang salah lihat.

__ADS_1


Dira tersenyum tipis,"Apa yang kakak lihat itulah yang kami lihat. Tidak apa-apa, kak. Yang jomblo di sini bukan cuma kakak, tapi kami berdua juga jomblo. Jadi jangan merasa sendirian."


Dira menghibur jomblo lainnya tapi orang yang dihibur tidak merasa terhibur sama sekali.


Nasha menghela nafas panjang. Matanya sesekali melirik ke arah habib Khalid yang sudah mulai makan dengan serius lalu beralih menatap Aish yang tenggelam dalam kesunyiannya. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat betapa merah wajah Aish sekarang. Sekarang dia merasa iri dan cemburu, bahwa Aish ternyata disukai oleh sang habib dan diperlakukan dengan baik pula. Dia takut, bila santriwati di pondok pesantren tahu bahwa sang habib ternyata memiliki hubungan yang dengan Aish, entah apa reaksi mereka semua. Tapi yang pasti mungkin ada beberapa orang yang akan menangis diam-diam. Hei, meskipun habib kali baru setengah tahun di pondok pesantren tapi jangan remehkan para pengagum yang diam-diam melambungkan harapan kepadanya. Ada banyak, banyak sekali santriwati yang memendam rasa kepada sang habib. Dan salah satu orang itu adalah dirinya, Nasha. Tapi untungnya perasaannya kepada sang habib tidak sedalam itu sehingga hatinya tidak terlalu sakit melihat sang habib bersama dengan wanita pilihannya.


Hah, jatuh cinta tidak semanis yang dibayangkan. Batin Nasha mengatur suasana hatinya.


...*****...


Hari ini Aira pergi sekolah dengan wajah cemberut. Dia dikirim ke sekolah pagi-pagi sekali dan bertemu dengan teman-teman sekelasnya. Bosan rasanya, teman-teman kelasnya memiliki hati yang sederhana dan lugu, tapi bukan berarti mereka bodoh. Dan inilah letak sulitnya, setelah dia mati baik-baik para santriwati ini terkesan tidak ingin terlalu mengurusi kehidupan orang lain. Mereka akan bergosip, katanya dosa. Dan mereka juga tidak suka bertengkar atau bermusuhan, katanya Mereka tidak mau memutuskan hubungan silaturahmi, antara suka dan tidak suka biar dipendam saja di dalam hati, cukup Allah yang tahu agar hubungan silaturahmi tidak terputus. Melihat Ini, akhirnya tiba-tiba merindukan teman-teman di kelasnya. Mereka semua peduli kepadanya dan selalu menjunjungnya tinggi, dan mereka selalu mendukungnya ketika berhadapan dengan Aish. Bersikap seolah Aish adalah momok di sekolah.


Aira benar-benar jengkel. Seharusnya hari baru dilalui dengan sebuah senyuman lebar, ya seharusnya. Tapi dia sungguh tidak bisa karena semalam saat pergi shalat tahajud berjamaah ke masjid dia menemukan bahwa imam shalat bukanlah habib Khalid, melainkan seseorang yang tidak dikenal dan tidak diharapkan. Saat dia iseng bertanya kepada salah satu santriwati, orang itu menjawab bahwa habib Khalid jarang menjadi imam di masjid dan hanya mengambil tugas satu kali atau dua kali karena dia sangat sibuk di kantornya.


Aira langsung masam mendengarnya. Jadi apa yang Umi katakan semalam itu bohong?


"Kapan kita mendapatkan kelas habib Thalib?" Aira bertanya kepada teman duduknya.


Teman duduknya melihat Aira bingung,"Kita tidak akan mendapatkan kelas dari habib Thalib karena pengajar lawan jenis tidak diizinkan masuk ke sekolah." Jawabnya polos.


"Apa?" Aira terkejut.

__ADS_1


"Habib Khalid hanya mengajar di sekolah santri laki-laki." Kata teman duduknya memperjelas.


__ADS_2