
Perih rasanya melihat sang pujaan hati bersedih karena mengingat masa lalu. Dia memang belum pernah melihat bagaimana Aish menjalani hidup di rumah itu. Tapi dia tahu aku bahwa kekasihnya seringkali terluka karena di kesampingkan oleh keluarga itu. Beberapa bulan yang lalu ketika dia datang berkunjung ke rumah itu untuk mencari Kakek sebagai pengingat bahwa sudah waktunya mengirim Aish pergi, dia melihat perhatian semua orang hanya tertuju kepada Aira. Mereka berbicara lembut dan manis tentang Aira untuk menarik perhatiannya agar tertarik kepada Aira. Waktu itu dia tidak bisa menyebutkan bagaimana perasaan isi hatinya. Dia hanya berpikir bahwa beginilah keluarga yang pilih kasih dan terlalu mempercayai kedatangan orang baru. Terlalu mempercayai Bunda Aira membuat mereka lupa bahwa Aish juga pernah memiliki seorang Ibu yang pernah mereka dorong secara perlahan dengan jurang kehancuran.
Habib Khalid tidak mengatakan bahwa semua Ibu tiri orang jahat, tapi rata-rata Ibu tiri tidak pernah memiliki sikap yang baik kepada anak sambungnya. Mereka cenderung menyakiti atau mengabaikan anak yang lain dan lebih menjunjung anak sendiri. Ini adalah fakta yang tidak pernah menjadi rahasia di dalam masyarakat. Seorang Ayah yang baik tidak akan mengedepankan rasa egois untuk memuaskan hasrat. Seorang Ayah yang baik akan berpikir keras apakah wanita baru yang dia pilih masuk ke dalam kehidupannya adalah Ibu yang baik untuk anak-anaknya?
Terkadang seorang Ayah tidak tahu bahwa wanita yang mereka cintai dan bawa pulang ke rumah adalah sumber luka untuk anak-anak yang terlahir dari wanita lain.
"Kak Khalid... Bukan begitu. Aku memang mengenang masa lalu... Tapi aku tidak sedih. Seperti yang kak Khalid bilang aku tidak akan sedih selama ada kakak di sini. Justru aku merasa bahwa semua ini bagaikan mimpi untukku. Laki-laki yang diidolakan oleh banyak wanita dan juga disukai oleh adikku ternyata memendam perasaan kepadaku. Sudah begitu dia sangat perhatian lagi, semuanya terasa bagaikan mimpi. Oh ya, ngomong-ngomong aku menemukan proposal dari adikku semalam. Pernahkah kak Khalid membaca proposalnya?" Ketika menyebut nama Aira, dia tiba-tiba teringat dengan proposal yang dia baca semalam.
Proposalnya ditulis dengan rapi dan tulisan yang santun. Kelebihan dan prestasinya ditulis dengan runtut untuk menunjukkan bahwa dia adalah gadis yang baik. Lalu ada juga kekurangan yang menurut Aish terkesan dibuat-buat. Pasalnya sebagai seorang pengamat dan pernah hidup lama dengannya, Aish merasa bahwa dia memiliki banyak kekurangan tapi tidak ditulis.
Secara garis besar dia merasa lucu dengan tulisan adiknya tersebut. Aneh saja dia melihat Aira menginginkan kekasihnya.
"Tidak, aku malah tidak tahu kalau dia mengirim proposal. Sejujurnya aku tidak pernah membuka satupun proposal yang dikirimkan kepadaku. Dan yang lebih anehnya lagi aku tidak menunggu proposal dari kamu karena aku tahu jika kamu bukanlah tipe gadis yang seperti itu, kamu tidak suka terlalu formal." Jawab habib Khalid dengan ekspresi tidak perduli di wajah. Lain halnya ketika tentang Aish, dia tersenyum geli. Bagian apapun yang bersangkutan dengan Aish selalu memiliki rasa manis dan lucu, dia tidak tahu mengapa dia memiliki perasaan ini setiap kali memikirkan Aish.
__ADS_1
Aish sudah menduga jawaban ini dan dia selalu bahagia setiap kali mendengarnya. Tapi dia juga merasa lucu karena habib Khalid ternyata mengenal dirinya dengan baik. Sama seperti yang habib Khalid katakan, dia bukan tipe orang yang seperti itu. Dia tidak akan mengirimkan proposal kepada habib Khalid.
"Aku senang mendengarnya. Hahaha... Bisa dibayangkan betapa kagetnya dia kalau mengetahui kakak adalah kekasihku. Astaga, aku sudah lama ingin menanyakan ini kepada kakak!" Dia menepuk pahanya keras.
Habib Khalid mengernyit tidak suka. Dia menarik tangan Aish menjauh dari paha dan tidak melepaskannya.
"Ada apa?"
Aish tersenyum malu, pipinya terasa membengkak saking malunya.
Dia sangat berharap mereka memiliki status hubungan. Tanpa status dia tidak akan merasa aman seakan habib Khalid bisa pergi kepada wanita lain kapan saja.
Mengerti harapan di hati sang kekasih, hati habib Khalid melunak. Dia memegang erat tangan sang kekasih sambil menatapnya lembut,"Aku tidak suka pacaran, tapi kamu harus tahu bahwa hubungan kita melebihi kata 'pacaran'. Pacaran tidak bisa menunjukkan status hubungan kita jadi kamu bisa menyebut hubungan kita sebagai pasangan 'kekasih'. Satu hal yang harus kamu tahu wahau kekasihku, kamu akan selalu menjadi penguasa di dalam hati ini. Bukankah semalam aku mengatakan bahwa aku yang pertama kali mencintai kamu? Maka artinya sejak aku jatuh cinta kepada kamu, di hati ini selalu tentang dirimu saja. Ini tidak pernah berubah sampai dengan detik ini yang menunjukkan bahwa posisi kamu tidak tergoyahkan. Dan kamu harus tahu perasaanku ini sangatlah besar nan dalam, bila dunia dan seisinya meninggalkan kamu maka ketahuilah aku adalah satu-satunya orang yang akan mendatangi kamu. Hanya aku... mengerti?" Habib Khalid tidak bisa menjelaskan betapa besar perasaannya kepada Aish. Itu terlalu sulit untuk dijelaskan. Namun dia berjanji dengan sepenuh hati bahwa dia adalah orang terakhir di dunia ini yang akan selalu menjaga, mencari, dan melindunginya.
__ADS_1
Sebut saja perasaan ini sudah mendarah daging sampai pada tahap di mana orang lebih suka menyebutnya sebagai 'monster' atau semacamnya. Habib Khalid sama sekali tidak peduli. Karena perasaan di hatinya tidak menduakan Allah, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat Allah cemburu, dan dia juga berusaha untuk membuat Allah ridho terhadap perasaan ini. Dia hanya mengingat hal ini dan melupakan pandangan orang lain. Sebab restu dari Allah sudah mencukupi segalanya.
"En, mengerti." Bisik Aish lemas.
Hanya mendengarkan pengakuan habib Khalid saja membuat dirinya lemas, bagaimana bila mereka sudah masuk ke tahap yang lebih serius lagi?
Aish tidak bisa membayangkannya.
Menundukkan kepalanya malu, dia berpura-pura fokus mengaduk bubur di depannya sementara habib Khalid membantu mengupas telur puyuh dan mengirimnya ke atas bubur ayam Aish satu persatu. Setelah pembicaraan itu mereka terdiam, rasanya canggung tapi juga manis, bagaikan segenggam madu yang tumpah ruah ke dalam hati masing-masing. Manisnya tak terkira.
"Enak?" Habib Khalid merendahkan kepalanya untuk bertanya kepada sang kekasih.
Aish mengangguk malu-malu.
__ADS_1
"Ini enak. Tapi nasi kuning yang kak Khalid bawakan kepada aku beberapa kali jauh lebih enak daripada bubur ini." Mengingat nasi kuning itu, air liur Aish langsung banjir di dalam mulutnya. Dia berdecak rindu ingin memakannya lagi.