
"Hemh..." Aish merasakan beban di tubuhnya hingga membuat bernapas aja rasanya sulit. Hanya saja yang membuatmu merasa aneh adalah wangi familiar yang telah memenuhi indera penciumannya.
Apakah ini mimpi?
Allah sangat baik sampai-sampai memenuhi seluruh rongga dadanya dengan wangi milik sang pujaan hatinya. Tapi, tidakkah ini terlalu berlebihan?
Hidungnya seolah disumpal oleh seember parfum yang mencekik- tidak-tidak, ada yang salah.
Risih, dia melenguh tertahan sembari menggeliat tidak nyaman mencari pasokan udara.
"Um.." Kelopak mata besarnya terbuka. Gelap. Ini adalah hal pertama yang menyambut indera penglihatannya.
Berkedip bingung, kepalanya yang mengantuk perlahan mulai jernih. Dia tidak tahu sejak kapan asrama memiliki bantal guling dan bantal guling ini bukan sembarang bantal karena ada nafas kehidupan- nafas?
Panik, Aish segera menjauhkan kepalanya dari bantal guling- ah, dada bidang seseorang!
"Astagfirullah!" Kedua tangannya mengepal bersiap mengamuk untuk melepaskan diri dari kekangan tangan kuat orang yang sedang memeluknya.
Tapi, semua perlawanannya segera menguap entah kemana ketika dia menghirup wangi familiar yang langsung merasuk kedalam jiwanya.
Kepanikannya segera berubah menjadi gugup,"Kak Khalid?" Panggil Aish seraya mengangkat kepalanya mendongak ke atas.
__ADS_1
Deg
Mata mereka berdua bertemu. Entah sejak kapan habib Khalid bangun. Akan tetapi jelas dia lebih dulu bangun daripada Aish. Dibangunkan oleh suara di masjid yang menandakan waktu sholat tahajud akhirnya datang, dia menyadari bila Aish belum bangun. Awalnya dia ingin membangunkan Aish dari tidur lelap, tetapi hatinya segera melembut tatkala bertemu dengan wajah damai Aish yang ada di dalam pelukannya. Berdebar kencang, dia tidak mampu menahan godaan di dalam hati sampai-sampai tidak sadar memegang Aish terlalu kuat. Aish tidak bisa bernafas karenanya oleh karena itu dia terbangun secara memperihatinkan.
"Bangun?" Suara serak menyapa.
Pipi Aish langsung bersemu merah.
"Hem." Memalingkan matanya beralih melihat dagu kuat sang habib, hati yang berdetak kuat diam-diam melayangkan sebuah pertanyaan. Mengapa dia tiba-tiba di atas kasur karena seingatnya dia sedang bekerja di sofa? Lalu, mengapa dia tidur di kasur yang sama dengan habib Khalid?
Sudah begitu, habib Khalid memeluknya lagi, apakah ini tidak apa-apa?
Apakah ini bukan dosa?
"Kenapa?" Habib Khalid sengaja merendahkan kepalanya sampai kening mereka berdua bertemu.
Aish terbelalak kaget, bukankah jarak ini terlalu dekat?
"Kita bukan mahram, kan?" Dia tiba-tiba curiga kalau habib Khalid adalah saudaranya dari Ayah yang berbeda.
Pasalnya dia adalah seorang habib, sungguh tak pantas memiliki perilaku intim dengan Aish ataupun wanita manapun.
__ADS_1
Em, anehnya dia baru panik sekarang setelah banyak kelembutan intim yang pernah habib Khalid lakukan kepadanya.
"Tebak?" Habib Khalid tersenyum miring.
Aish bingung,"Kita bukan mahram."
Habib Khalid tertawa kecil.
"16 tahun yang lalu, dihari berduka. Aku tak heran kamu melupakannya. Tapi 5 tahun yang lalu, mengapa kamu melupakannya?"
Aish kian bingung. Ada apa dengan angka-angka tahun ini, apakah dia telah melewatkan sesuatu yang penting?
Jadi, mereka pernah bertemu sebelumnya 5 tahun yang lalu?
Kapan dan dimana, Aish tidak memiliki kesan sedikitpun.
"Apa yang terjadi-"
"Bangun." Habib Khalid mengusap wajah kebingungan Aish sembari bangun dari acara rebahannya.
"Ayo segera mandi dan sholat tahajud. Kita tidak boleh melewatkannya." Lanjut sang habib sambil turun dari kasur dengan tawa terselubung menatap lucu ekspresi lucu Aish.
__ADS_1
"Aku...aku masih.." Kata-katanya belum selesai tapi sang habib sudah masuk ke dalam ruangan lain yang diyakini Aish sebagai kamar mandi.
"Padahal aku masih ingin membicarakannya.." Bisik Aish tidak berdaya.