Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.12


__ADS_3

Turun dari masjid setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah, Aish duduk termenung menatap kalung liontin kupu-kupu bertahtahkan taburan berlian yang ada di telapak tangannya. Kalung ini tiba-tiba muncul begitu saja di lehernya dan dia tidak pernah tahu jika kedua sahabatnya tidak bertanya tadi malam. Seperti mereka berdua, dia juga bingung dari mana datangnya kalung ini. Bukan dari Ayah ataupun dari


Ibu tirinya, bahkan dirinya tidak pernah memiliki kalung yang seindah ini. Jika bukan dari mereka berdua, maka sudah pasti ini dari habib Khalid. Tapi kapan habib Khalid memasangkan kalung ini di lehernya?


"Apakah saat aku menangis di dalam pelukannya?" Mengingat pelukan semalam, pipi Aish langsung bersemu merah.


Ugh, kedatangan habib Khalid sungguh tak disangka-sangka. Dan cerobohnya, habib Khalid melihat sisi di dalam dirinya yang paling lemah. Dia menangis dan menangis lebih keras lagi di pelukan sang habib sampai membuat baju depannya basah. Ais sungguh malu tapi tidak mungkin kan dia menawarkan diri untuk mencuci baju sang habib?


"Kalung liontin nya cantik yah? Lihat deh taburan berlian di sayap kupu-kupu nya, warnanya langsung terpantul indah di bawah cahaya lampu." Diraba seru kagum melihat kalong liontin yang ada di atas telapak tangan Aish.


Aish terkejut. Karena terlalu asik merenung dan menatap kalung liontin yang ada di tangannya, dia tidak menyadari bila Dira sudah duduk di samping.


Tersenyum bangga, Aish langsung memamerkan kalung liontin itu di depan mata Dira.


"Cantik, kan? Kalung siapa dulu dong?"


Dira langsung memutar bola matanya malas tapi tangan kanannya yang sudah gatal dari keinginan menyentuh kalung itu akhirnya bergerak juga mengambil kalung itu dari Aish. Dia menaruh kalung itu di atas telapak tangan kirinya dan menelusuri kalung liontin itu dengan hati-hati menggunakan jari tangan kanannya. Kalung ini sungguh indah. Dan harganya pasti tidak bisa rendah juga. Lihatlah taburan berlian di sayap kupu-kupu liontin kalung ini, sekilas dia tahu bahwa kalung ini mungkin dikeluarkan oleh perusahaan perhiasan ternama.


"KR?" Gumamnya membaca guratan yang sengaja digaris di belakang kupu-kupu.


"Apakah ini nama brand dari perusahaan perhiasan tempat kalung ini diproduksi?" Tanya Dira bingung, karena dia belum pernah mendengar nama brand ini sekalipun.


Dira dulu suka keluar masuk toko perbelanjaan di pusat kota jadi dia cukup tahu brand-brand ternama perhiasan atau pakaian mahal yang biasanya digunakan oleh orang kaya. Dan diantara brand-brand itu kebanyakan mereka berasal dari luar negeri, Dira jarang menemukan brand lokal yang mampu menembus pasar internasional. Dan jujur saja brand international asal luar negeri lebih diminati oleh masyarakat daripada brand-brand lokal. Mungkin kualitas brand dari luar negeri lebih menjanjikan daripada brand-brand lokal yang masih belum mendunia.


"KR?! Kalung liontin ini dari perusahaan KR?" Gisel ikut bergabung dengan obrolan. Dia baru saja kembali dari kamar mandi.


Matanya lalu melirik kalung liontin yang sedang dipegang oleh Dira. Kalung ini sangat cantik dan bersinar indah, rantainya yang sengaja dibuat setipis mungkin tampak sangat romantis dengan mahkota kupu-kupu yang sedang membentangkan sayapnya selebar mungkin. Kupu-kupu itu seolah memiliki ilusi bahwa dia sedang mengudara terbang menjelajahi cakrawala yang luas.


"Coba deh kamu lihat. Kedua huruf ini dicetak di belakang kupu-kupu ini." Dira membalik kupu-kupu dan menunjukkannya kepada Gisel yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Apa kamu tahu perusahaan mana KR itu?" Aish juga tak kalah penasaran.


Melihat cetakan dua huruf itu dibalik badan kupu-kupu, Gisel langsung berdecak iri. Bagaimana mungkin brand perhiasan ternama yang sudah menjadi impian banyak wanita kini juga dimiliki oleh Aish. Dan yang lebih mencengangkan adalah Aish sama sekali tidak tahu dari mana kalung ini berasal. Tahu tahu kalau ini sudah ada di lehernya.

__ADS_1


"Kalian tidak tahu tentang perusahaan perhiasan ini?" Tanya Gisel tak percaya sembari mengalihkan perhatiannya dari kalung tersebut.


Aneh saja melihat Aish dan Dira tidak tahu apa-apa tentang perusahaan perhiasan ini.


Aish dan Dira saling memandang, sedetik kemudian mereka menggelengkan kepala dengan kompak. Mereka berdua bukan hanya tidak tahu, tapi mereka juga sama sekali tidak pernah mendengar tentang perusahaan ini.


"Kalian berdua aneh, ya? Kaya kok nggak tahu apa-apa." Gisel menggelengkan kepalanya tidak berdaya dan mendudukkan dirinya di samping Aish.


"Perusahaan KR adalah perusahaan perhiasan ternama asal Qatar. Perusahaan ini awal-awalnya dibuka di Dubai lalu merambat ke negara-negara timur tengah lainnya. Aku kira perusahaan ini milik orang timur tengah atau Qatar, karena awal berdirinya aja di negara Qatar. Tapi baru-baru ini tersiar kabar bahwa perusahaan perhiasan KR sebenarnya milik seorang warga negara Indonesia yang menetap di timur tengah. Aku tidak tahu siapa orangnya karena identitasnya sengaja disembunyikan dan aku juga tidak tahu seperti apa rupa orang tersebut. Aku sebelumnya ragu dengan rumor ini karena jarang sekali warga Indonesia membangun usahanya di luar negeri apalagi di timur tengah yang notabene pasarnya agak berbeda dengan pasar-pasar internasional lainnya. Tapi setelah aku tahu perusahaan ini kini didirikan di Indonesia, aku akhirnya percaya. Perusahaan ini nggak sebooming perusahaan perhiasan lainnya karena setiap perhiasan yang mereka keluarkan memiliki edisi tertentu dan dengan stok terbatas pula. Setiap kali meluncurkan barang tidak sampai sehari barang mereka pasti langsung habis. Kamu tahu Aish, kamu sangat beruntung memiliki salah satu perhiasan dari perusahaan mereka. Apalagi jika kulihat-lihat perhiasan ini sepertinya salah satu barang edisi terbatas. Jika wanita-wanita itu tahu kamu memilikinya, mereka pasti akan sangat cemburu." Terang Gisel menjelaskan secara singkat asal muasal perusahaan KR ini.


Dira memiringkan kepalanya,"Kamu tahu banyak."


Gisel malu.


"Sebelum kejadian itu aku pernah menemani sepupuku pergi ke mall untuk membeli salah satu perhiasan perusahaan ini. Tapi karena kami datang terlambat, barang yang dia inginkan sold out dalam waktu yang singkat." Dan gara-gara itu sepupunya memarahinya habis-habisan dan menumpahkan kesalahan kepadanya. Sepupunya berkata bahwa jika dia tidak membuang banyak waktu maka dia pasti bisa membeli perhiasan itu.


Namun Gisel tidak berniat menceritakan masalah ini kepada kedua sahabatnya karena menurutnya ini tidak terlalu penting.


"Oh, maka perhiasan ini sangat berharga. Tidak heran sih, taburan berliannya juga tidak pelit." Dira membalik-balik kalung liontin ini sebelum mengembalikannya kepada Aish.


"Aku tahu." Dia menggenggam kalung liontin itu dengan erat.


"Tidak ada yang lebih aman selain memakainya sendiri Aish. Jika kamu menyimpannya di lemari atau di koper, kalung ini pasti tidak akan aman. Ingat Aish, kalau ini nilainya bukan hanya 5 juta atau 10 juta, tapi lebih dari ini dan bahkan mungkin 100 kali lipat. Jadi jika kamu kehilangannya maka kamu akan sangat rugi. Oleh karena itu tempat teraman menyimpan barang berharga ini adalah dengan menggunakannya. Jika kamu menggunakannya orang-orang yang berniat buruk tidak akan mudah mengambilnya." Pesan Gisel serius setelah belajar dari pengalamannya ketika kehilangan uang beberapa waktu yang lalu.


Ditambah lagi ini adalah pemberian seseorang dan harganya sungguh tak terkira, bila hilang, maka penyesalan tidak ada artinya.


"Gisel benar, kamu harus menggunakannya. Tapi Aish, ngomong-ngomong siapa yang memberikanmu kalung ini? Jujurlah kepada kami, apakah dia adalah habib Thalib?" Dira punya intuisi jika orang itu adalah habib Thalib dan alasan keterlambatan Aish pulang semalam mungkin saja karena bertemu dengan sang habib di jalan.


Wajah Aish langsung memerah dan suhunya naik beberapa derajat lebih hangat dari sebelumnya.


"Itu.... Aku tidak bisa memastikannya." Aish tidak yakin.


Dira dan Geisha langsung menghela nafas, mereka akhirnya mendapatkan jawaban dari keterlambatan Aish semalam.

__ADS_1


"Baiklah, kami sangat mengerti." Kata Gisel bijaksana.


Aish tahu bila kedua sahabatnya sedang salah paham, dia ingin menjelaskan tapi suara lembut nasa menginstruksi suaranya.


"Assalamualaikum? Orang-orang yang ditugaskan ke sawah nanti tolong ikut aku keluar."


Wajah mereka bertiga langsung ngeri karena matahari baru saja terbit dan mereka belum pergi sarapan tapi sudah digiring pergi ke TKP tempat hukuman eksekusi dilaksanakan. Tapi mereka bertiga tidak membantah atau membuat pengelakan apapun agar tidak menambah hukuman lainnya. Sudah bersyukur mereka hanya dihukum satu hari kerja sedangkan Khalif harus menjalani dua hari hukuman ditambah 30 cambuk dari pondok pesantren.


"Baik kak, kami akan pergi." Mereka bertiga keluar di bawah tatapan prihatin teman-teman di kamar.


Teman-teman di kamar banyak yang menyemangati mereka dan berjanji akan datang membantu setelah pulang sekolah nanti. Perhatian mereka semua membuat hati terasa begitu hangat.


...*****...


Aku, Dira, dan berjalan di belakang kak Nasha. Hari ini karena mengawasi kami selama bekerja di sawah, kak Nasha tidak bisa hadir di kelas. Dia terpaksa izin sehari dan ikut melewatkan waktu sarapan bersama kami. Aku sejujurnya malu karena masalah ini telah membuatnya terbebani. Selain itu karena saya adalah tipe orang yang tidak mau ikut campur terhadap urusan kami bertiga. Dan kak Nasha juga orang yang sangat lembut dan baik hati, selama aku tinggal di pondok pesantren aku belum pernah sama sekali mendengarnya menghakimi kami pindahan kota yang minim ilmu. Dia adalah orang langka di pondok pesantren yang cukup ku segani.


"Lho, habib Thalib kenapa ada di sini?" Dira menyikut lenganku sambil menunjuk ke arah depan.


Aku spontan mengikuti arah jari telunjuknya. Di pinggir sawah aku melihat kak Khalid berdiri dengan beberapa laki-laki yang cukup familiar. Aku taksir mereka adalah staf kedisiplinan asrama putra yang ditugaskan oleh Abah untuk mengawasi Khalif bekerja.


"Jangan grogi, kalian akan bekerja di petak sawah yang berbeda." Kata kak Nasha sambil melirik kami di belakang.


Aku mengangguk ringan sebagai sapaan sopan.


"Iya, kak."


"Dia ikut ngawas ya di sini?" Bisik Gisel kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku tidak tahu. Semalam kak Khalid tidak mengatakan apa-apa soal ini.


"Ck, di manapun ada Aish dan di situlah ada habib Thalib, dunia ternyata hanya selebar daun bidara." Olok Dira menggunakan nada menyebalkannya.


"Daun kelor, meong." Ralat Gisel gemas.

__ADS_1


"Iya...iya, daun kelor."


__ADS_2