
"Di sini enak juga. Coba aja ada tikar biar kita bisa tidur di sini." Kata Gisel berandai-andai membayangkan betapa nyamannya tidur di sini.
Dan mungkin rasanya lebih nyaman jika ponsel mereka tidak disita oleh pihak pondok. Main ponsel di sini sambil rebahan, bukankah ini adalah nikmat dunia?
"Sandaran di batu juga enak, kok." Kata Dira santai.
Aish juga menikmati suasana nyaman di sini. Duduk berteduh di pinggir sungai sambil menatap luasnya langit, Aish tiba-tiba merindukan keluarganya. Bahkan walaupun dia tidak diterima dengan baik, Aish masih menganggap mereka adalah keluarganya.
"Kalian... tidak mau menelpon ke rumah?" Tanya Aish ragu-ragu.
Diingatkan tentang rumah, suasana hati mereka langsung mengalami perubahan secara halus.
"Aku rasa paman dan bibi tidak suka aku hubungi." Ucap Gisel melankolis.
Memberikan uang belanja ataupun bekal saat datang ke sini saja tidak, jadi bagaimana mungkin paman dan bibinya mau merindukannya?
Itu hanya ilusi dan Gisel tidak mau terlalu berharap. Lagipula dia bukanlah putri mereka jadi mereka tidak seharusnya terlalu mengkhawatirkannya.
"Hah...aku sendiri tidak tahu apakah bisa menghubungi kedua orang tuaku. Soalnya mereka terlalu sibuk dengan karir masing-masing." Kata Dira acuh tak acuh, tampak cukup kesepian.
Mungkin dia sudah terbiasa ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang terlalu sibuk mengejar karir.
Mereka berdua sudah berbicara tapi Aish tidak kunjung membuka mulutnya.
Dira melirik Aish yang terlihat sangat kesepian,"Bagaimana dengan mu?" Tanyanya ragu.
Aish berkedip.
__ADS_1
"Aku?" Tanyanya pada diri sendiri.
Tersenyum tipis,"Aku juga tidak tahu. Mungkin mereka tidak suka aku hubungi dan mengirim ku ke pondok adalah cara yang bagus untuk mengusirku." Kata Aish datar.
Namun matanya yang jernih tak dapat menyembunyikan betapa kesepiannya dia selama ini.
"Aish.." Dira menggeser duduknya dan mengangkat tangannya untuk menepuk-nepuk pundak Aish pelan guna menghiburnya.
Gisel juga tidak tinggal diam. Dia ikut bergeser dan mengelus punggung Aish dengan pelan.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki sosok Ayah yang hangat, paman dan bibi yang perhatian, serta kerabat yang penyayang." Ucap Aish datar mulai menceritakan tentang kehidupannya yang menyedihkan.
"Mamaku menikahi Ayah dengan cinta yang sangat tulus tapi sayangnya Ayahku mencintai Ibu tiri ku. Tanpa sepengetahuan Mama, Ayah menikah dengan Ibu tiri ku di bawah persetujuan keluarga, Mamaku sangat menyedihkan." Bisiknya mengenang kesakitan Mamanya.
Dira dan Gisel tidak menggangu Aish berbicara. Mereka berdua diam saja mendengarkan Aish mengeluarkan kesakitan terdalamnya setelah sekian tahun tertanam di dalam hati.
Dia sakit dan tanpa sadar mulai menangisi masa lalu kembali.
Memikirkan penderitaan Mamanya, pengkhianatan yang dirasakan Mamanya, dan cinta tak terbalas yang membuatnya jatuh sampai ke titik down, Aish sangat sedih!
Menangis saja rasanya tidak cukup.
"Aish..." Gisel juga ikut menangis.
Dia merasa sangat bersalah karena terlalu menjujung egonya sendiri dan mengkhianati kepercayaan Aish padanya saat itu. Dia telah melakukan kesalahan yang besar kepada Aish. Harusnya Aish tidak akan pernah memaafkan dirinya mengingat Mamanya hancur karena pengkhianatan dari sahabat dan Ayahnya. Harusnya Aish tidak akan memberikannya kesempatan tapi..tidak, Aish memiliki hati yang lembut dan pemaaf!
Aish mau memaafkannya dan malah memberikannya kesempatan untuk dekat lagi.
__ADS_1
Padahal dia sudah pernah mengkhianati Aish, mengambil pacar Aish dan bahkan tidur bersamanya. Tapi setelah semua ini Aish masih membuka pintu maaf untuknya...
Dia sangat malu dan sedih.
"Sejak itu kehidupan ku di rumah selalu dibayang-bayangi oleh Aira. Semua orang membandingkan kami dan bahkan paman serta bibiku pun tidak menyukaiku. Aku tidak tahu awalnya karena apa sampai aku mendengar kebenarannya dari kakek, Papa Mamaku. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dan aku langsung mengerti karena apa. Mereka tidak menyukai ku bukan karena aku bodoh atau kurang berprestasi, akan tetapi mereka tidak menyukaiku karena aku lahir dari rahim Mama. Rahim wanita yang tidak Ayah cintai. Ketika aku tahu semua kebenaran itu aku sangat marah namun tidak bisa membenci karena mereka semua adalah Ayah dan keluargaku...aku tidak bisa membenci mereka semua yang telah mendorong Mamaku ke dalam jurang keputusasaan. Aku sungguh tidak bisa..." Bisik Aish terisak sedih.
Di depan orang lain, belum pernah dirinya terlihat sesedih ini. Kecuali Dira dan Gisel, tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya menangis sehancur ini.
Karena lukanya begitu besar, lukanya terlalu besar dan menyakitkan Aish malu menampakkan kesedihannya. Takutnya dia akan berakhir seperti sekarang, menangis keras tanpa bisa ditahan.
"Enggak apa-apa, Aish... sesakit apapun yang kamu rasakan suatu hari nanti Allah yang akan membayarnya untukmu. Maka dari itu Allah mungkin melindungi hatimu agar jangan membenci sebab Allah yang akan menebusnya untukmu. Dia tidak ingin kamu jatuh dan lebih menderita lagi dari semua ini..." Bisik Dira menghibur.
Aish juga pernah berpikir seperti ini. Dia berpikir bahwa mungkin Allah enggak mau dia menjadi orang yang jahat dan durhaka kepada orang tuanya, karena itulah hatinya tidak menghitam setelah apa yang Ayah lakukan. Allah mungkin yang akan membalas rasa sakit ini, sekalipun Aish tidak meminta, Allah lebih tahu apa yang dia rasakan dan apa yang dia keluhkan.
Seperti yang Dira katakan sebelumnya, Allah mungkin telah menyiapkan skenario yang tidak disangka-sangka untuknya.
"Aish, maafkan aku.."
Aish tertegun. Dia mengusap wajah basahnya dan menoleh ke samping. Gisel entah sejak kapan sudah menangis pilu di sampingnya tanpa suara.
"Betapa bodohnya aku mengkhianati kepercayaan mu..." Bisik Gisel malu dan menyesal.
Mendengar kata-kata ini Aish langsung mengerti apa yang telah membuat Gisel menangis.
"Aku tidak marah padamu, Gisel, namun aku kecewa. Saat itu bila aku tahu kamu menyukai Iyon, maka tanpa diminta pun aku akan melepaskannya..." Kata Aish tulus kepada Gisel.
Bersambung...
__ADS_1
Mahram Untuk Azira udah menunggu lho😊