
Aish menatap punggung tegap itu perlahan menghilang dari pandangannya. Ada rasa kecewa dan sedih yang memenuhi hatinya sekarang. Harapannya seketika menjadi redup, menertawakan diri sendiri karena terlalu percaya diri mengganggap habib Khalid sebagai penolongnya. Lagi-lagi pertanyaan ini bergema di dalam hatinya, memang siapa dia dan apa haknya sampai habib Khalid harus mendengarkan keluhan hatinya. Toh, semua orang pondok sama saja. Mereka pasti akan lebih memilih sesama anak pondok daripada mendengarkannya.
"Aish, Dira, dan Gisel. Aku sudah membawa pakaian ganti kalian." Kata Gadis tiba-tiba muncul dari kerumunan.
Dia datang bersama seorang gadis asing dengan pakaian dan peralatan mandi di tangan.
"Terima kasih." Kata Dira seraya mengambil gamis dan peralatan nadinya.
"Terima kasih untuk kalian." Gisel juga mengambil barang-barangnya.
Aish mengambil barang-barangnya juga, dan baru menyadari bila ini bukan gamisnya.
"Ini bukan pakaian ku." Kata Aish sambil menunjukkan gamis biru langit di tangannya.
Gamis ini tidak kotor dan tampak terawat dengan baik, tapi tetap terlihat usang di depan Aish. Gadis mungkin telah mengambil pakaian yang salah di kamar.
Gadis tersenyum malu.
"Maaf, Aish. Aku sudah mencari pakaian di dalam lemari mu tapi tidak menemukan apa-apa selain dua pakaian kotor. Karena tidak punya pilihan lain aku mengambil pakaian ku untuk kamu pinjam. Pakaian ini masih bersih kok dan masih baru. Aku jarang menggunakannya di sini." Karena pakaian ini lebih sering dia gunakan saat ada acara di pondok pesantren atau menggunakannya saat pulang ke kampung.
Dia anak desa jadi pakaiannya tidak banyak dan murah, kualitas kainnya agak buruk karena ini didapatkan dari pasar. Tapi Aish mengapresiasi kebaikan Gadis. Dia tidak sungkan mengambilnya.
"Terima kasih, aku akan mengembalikannya nanti." Kata Aish berjanji.
Dia baru ingat Nasifa pernah mengajaknya keluar dari pondok pesantren untuk membeli pakaian gamis karena dia hanya punya 3 gamis di sini. Tapi Aish langsung menolak karena mengira dia hanya tinggal sebentar di sini.
__ADS_1
"Jika kalian mau, aku bisa menemani kalian membeli gamis dan kebutuhan pribadi besok?" Tawar Gadis mengajukan bantuan.
"Kemana?" Tanya Gisel lemas.
"Ke depan pondok pesantren. Di sana ada banyak sekali toko yang menjual segala kebutuhan santri dan santriwati, kalian tidak akan kecewa." Gadis berusaha menarik fokus Aish karena dia terlihat agak sendu.
"Terima kasih, kita bisa pergi besok jika ada kesempatan." Kata Aish tersenyum kecil.
"Assalamualaikum, apa kalian sudah siap pergi ke kamar mandi? Kita tidak punya banyak waktu lagi jadi aku harap kalian bisa bekerja sama sesuai dengan arahan habib Thalib." Nasha mengambil inisiatif menengahi pembicaraan mereka.
Aish melirik Nasha dan beberapa gadis yang telah berjasa memojokkannya tadi. Tersenyum muram, dia langsung pergi memimpin jalan ke arah kamar mandi bersama Dira dan Gisel. Mereka secara alami akan diikuti oleh Nasha dan anggota kedisiplinan asrama putri lainnya. Menyebalkan memang, tapi Aish lebih memilih diam karena tidak memiliki tenaga untuk berdebat lagi.
Saat sampai di kamar mandi, Aish, Dira, dan Gisel langsung berpisah ke kamar mandi individu. Mereka tidak gila mandi di kamar mandi yang sama walaupun mereka telah menjalin bisnis.
Melihat mereka masuk, Nasha dan yang lainnya menepi di depan kamar mandi. Mereka duduk di kursi kayu sambil melantunkan zikir ataupun kalimat-kalimat suci lainnya untuk memuji Allah serta kekasih-Nya.
Khalisa tidak pergi ke masjid karena teman-teman yang lainnya memilih untuk mengikuti Nasha ke kamar mandi.
"Iya, kak?" Sapa Khalisa ramah.
"Duduklah di sini." Kata Nasha seraya menepuk kursi kayu di sampingnya.
Khalisa segera duduk di kursi kayu tersebut.
"Apa kakak ingin membicarakan sesuatu?" Tanya Khalisa sopan.
__ADS_1
Nasha merenung sebentar sebelum menganggukkan kepalanya.
"Khalisa tujuan kamu memang baik menghentikan langkah mereka bertiga masuk ke dalam asrama dan aku sangat menghormati pilihan mu. Namun dalam masalah ini posisi mu juga tidak dibenarkan karena langsung menghentikan mereka bertiga. Jika kamu mau, harusnya kamu membawa mereka ke tempat yang sepi dan membicarakannya dengan baik, dan bukannya langsung menghentikan mereka di depan gerbang asrama putri. Ini tidak baik, Khalisa. Karena langkah yang kamu ambil ini, kamu menyeret banyak santriwati untuk menonton perdebatan kalian. Di tambah lagi menegurnya di tempat umum sama saja mempermalukan mereka bertiga, tidakkah kamu memikirkan ini sebelumya?" Tegur Nasha dengan suara yang lembut dan ramah.
Ada nada ketegasan di dalam suaranya yang tidak bisa ditutupi. Apa yang Nasha katakan tadi adalah kebenarannya. Jujur, dia tidak setuju dengan langkah Nasha tadi tapi dia tidak bisa memperpanjang masalah ini karena ada habib Khalid dan para ustad yang mengawasi mereka. Faktanya, melihat kedatangan habib Khalid dan para ustad ke asrama putri saja sudah membuat Nasha cemas karena dengan begitu posisinya sebagai ketua kedisiplinan asrama putri dipertanyakan.
Sungguh tidak enak rasanya masalah santriwati ditangani langsung oleh orang-orang penting pondok pesantren padahal masih ada dia di sana.
"Maaf, kak Nasha. Aku benar-benar impulsif dan telah membuat kakak cemas. Insya Allah lain kali aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Kata Khalisa sambil tertunduk malu.
Dia juga tahu bahwa langkahnya kali ini benar-benar salah.
"Kamu harus tahu dek, masalah ini mungkin membuat habib Thalib dan para ustad tadi berpikir bila kedisiplinan asrama putri kita memiliki kesan yang buruk." Kata Nasha masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah dan nada suara habib Khalid tiba-tiba menjadi dingin.
Perubahan ini sangat langka dan pada saat yang sama membuat Nasha cemas.
"Aku.. aku akan meminta maaf kepada habib Thalib nanti." Kata Khalisa berjanji.
"Jangan hanya kepada habib Thalib, tapi kepada ustad yang lainnya juga." Tekan Nasha merasa ada sesuatu yang salah di sini.
Tapi dia tidak bisa menebak tentang apa itu dan secara alami mengesampingkan perasaan itu.
"Ya kak Nasha, aku akan meminta maaf kepada mereka juga." Kata Nasha seraya menundukkan kepalanya.
Dalam kepalanya yang tertunduk, muncul sebuah garis senyuman tertahan. Suhu wajahnya bahkan naik beberapa derajat, terasa panas dan penuh akan aroma musim semi. Kesalahannya ini memang agak buruk tapi karena kesalahan ini pulalah dia bisa bertemu dengan habib Khalid secara dekat. Masih teringat jelas bagaimana jantungnya berpacu saat itu, rasanya manis dan candu. Dan jantungnya kian berdebar dengan liar tatkala habib Khalid menyampaikan pembelaannya tadi.
__ADS_1
Sungguh pengalaman yang indah. Khalisa berjanji untuk tidak melepaskan kesempatan ini lagi. Karena dia bisa bertemu lagi dengan habib Khalid dengan dalih meminta maaf.