
Kami berdua berjalan pulang sambil bergandengan tangan. Hampir pukul 10.00 malam, dan orang-orang pondok sudah mulai berpatroli di sana-sini. Saat kami bertemu dengan satu atau dua orang yang berpatroli, mereka menyapa kami dengan sikap yang sangat ramah juga terbuka. Ada juga beberapa orang yang sangat penasaran dengan hubungan kami, mungkin bertanya-tanya alasan kenapa kak Khalid memutuskan untuk menikah dengan ku, hingga tidak bisa menahan diri untuk menatap ke arah ku. Dan yang sangat lucu adalah, kak Khalid merasa risih dengan tindakan mereka. Dia pasti akan menarik ku ke belakang dan menghalangi mereka untuk melihat ku. Um, suamiku kalau sudah cemburu memang imut.
"Lho, kita mau ke mana, kak?"
Kami baru saja melewati jalan setapak menuju asrama laki-laki. Tepatnya, kak Khalid tidak membawaku ke ruangan pribadinya seperti malam sebelumnya. Aku bingung kenapa kami tidak lewat jalan itu, apakah kak Khalid punya jalan pintas?
Ataukah kak Khalid ingin membawaku jalan-jalan dulu sebelum kembali ke ruangan pribadinya?
Um, biar bagaimanapun rasanya canggung berduaan saja di satu ruangan. Jika kami kembali nanti, apa yang harus kami lakukan?
__ADS_1
Mungkinkah kami akan mencoba ke tahap...itu?
"Anterin kamu ke asrama." Jawabnya langsung membuatku cengok.
Ke asrama?
Bukannya kami...
Kak Khalid menoleh ke arah ku. Mulutnya berkedut seolah menahan sesuatu yang mencurigakan, tak sampai satu detik kemudian, dia tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. Apa yang dia tertawakan?
__ADS_1
"Kamu...kamu.." Dia tidak mampu melanjutkan perkataannya karena tertawa.
"Apa yang kak Khalid tertawakan?" Tanyaku takut, menyentuh pipiku yang masih panas,"Mungkinkah ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Gumamku gelisah sembari mengusap wajah.
"Tidak ada yang aneh dari wajahmu...tapi Aish," baru berbicara sepatah kata, dan dia kembali tertawa terbahak-bahak seakan itu sangat lucu.
"Kamu...kenapa kamu sangat manis?" Sambungnya berbicara.
Ketika mendengar pertanyaannya, suhu wajahku langsung naik. Bibirku otomatis membentuk senyuman tanpa sempat untuk ku tahan.
__ADS_1
"Kak Khalid ngomong apa sih? Nggak nyambung deh." Ucapku pura-pura merajuk padahal hatiku sedang berbunga-bunga sekarang.
"Apa yang nggak nyambung, emang benar kok kamu manis. Tahu enggak, kita sebenarnya memang sudah sah. Sudah halal untuk saling menyentuh ataupun melakukan hal-hal intim yang lain. Ini sudah mutlak sah, tak ada bantahan dan keraguan di dalam hubungan kita. Namun, meskipun sah aku merasa kurang afdol karena saat menikah waktu itu kamu sedang sakit di rumah sakit. Kamu tak sadarkan diri dan melihat dengan kedua mata kepala kamu sendiri bagaimana aku menghalalkanmu di hari itu. Ini sungguh tidak adil bagiku. Sebagai seorang laki-laki yang telah mendambakan kamu, mengangumi kamu secara diam-diam, telah ku pikirkan banyak sekali pernikahan luar biasa yang takkan pernah kamu lupakan seumur hidup. Aku ingin memberikan kamu pernikahan yang indah, mengundang banyak sanak saudara dan kerabat, untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa kamu adalah milikku. Dan aku juga ingin menunjukkan bahwa kamu merupakan wanita yang sangat berharga untuk ku, jadi ku ingin membuat pernikahan yang luar biasa untuk dirimu. Pada hari itu terjadi, aku tidak akan ragu lagi melakukan kewajiban dan hak yang dimiliki oleh sepasang suami istri kepada mu. Sungguh, aku hampir gila menantikan hari itu. Tapi ku mencoba bertahan sampai kamu berhasil ku bawa pulang dengan cara yang sangat gemilang. Dan tepat sekali, aku berencana untuk menikahi kamu kembali secara hukum negara dan agama satu bulan kemudian, ketika kamu selesai ujian nasional. Sebelum hari itu tiba, kupertimbangkan untuk menahan diri dan tak menyentuh kamu. Meskipun berat, tapi bertahan sebentar saja tidak seburuk itu. Bagaimana, apakah kamu kecewa dengan keputusan yang ku buat?"