Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.13


__ADS_3

"Kamu lagi mikirin apa, Gis?" Gisel menoleh ke belakang.


Dira keluar dengan sebungkus gorengan hangat di tangan. Malam-malam begini memang enaknya makan gorengan. Dan akan lebih enak lagi kalau mereka bertiga kumpul.


Tersenyum tipis,"Aku lagi mikirin, Aish. Kangen aja sama dia."


Dira menghela nafas. Menyerahkan gorengan yang dia bawa ke Gisel untuk dimakan bersama-sama. Mereka berdua adalah penggila gorengan, tapi khusus di pondok pesantren karena rasanya sangat enak. Aish juga suka, tapi tidak terlalu. Dia biasanya makan satu atau dua biji dan sudah merasa cukup.


"Tadi belanja sama siapa?" Gisel menyomot satu.

__ADS_1


Sambil mengunyah Dira berbicara,"Aku nggak pergi belanja ke kantin, tapi aku nitip ke temen yang lain. Oh ya ngomong-ngomong, ngomongin soal Aish kayaknya nggak ada habis-habisnya. Kaget banget waktu tahu kalau dia ternyata keturunan seorang Syarifah meskipun dia tidak bisa memiliki gelar itu karena Ayahnya adalah laki-laki biasa. Tapi tetap aja itu ngagetin."


Gisel mengangguk pelan. Rasanya sedikit lucu membayangkan bila Aish berasal dari kalangan terhormat sementara kelakuan Aish sendiri suka nyeleneh.


"Aku juga masih enggak nyangka. Apalagi kalau ingat kelakuannya di pondok pesantren, jangankan orang lain, aku aja nggak percaya kalau dia itu berasal dari kalangan orang yang sangat dihormati. Rasanya itu kayak....mimpi tahu enggak? Ibaratnya nih, tiba-tiba teman main lumpur kita di sawah diangkat menjadi seorang putri raja. Padahal dari segi manapun dia tidak memiliki kesan bangsawan di dalam dirinya. Aneh, kan?" Katanya di selingi tawa kecil.


"Aneh banget sih. Tapi jujur aja aku juga bangga dengan sahabat kita itu. Allah telah mengangkat derajatnya setelah dia melalui banyak masa-masa kesulitan. Hanya satu hal yang aku khawatirkan sekarang, mungkinkah dia masih mau berteman dengan kita atau mungkinkah dia masih memiliki waktu berteman dengan kita di saat dia sudah memiliki suami, dan suaminya adalah master mawar berduri!"


"Ah iya! Habib Thalib adalah suami Aish. Satu pondok pesantren gempar gara-gara itu. Dan kamu tahu sendiri kan teman-teman di kamar banyak yang patah hati dan bahkan menangis karena habib Thalib ternyata sudah memiliki istri. Yang lebih mengenaskan lagi istrinya tiada lain dan tiada bukan adalah sahabat kita, Aisha Rumaisha. Sebenarnya dari awal kita mulai sering bersinggungan dengan habib Thalib, aku udah curiga sih kalau habib Thalib ada apa-apa sama Aish. Coba deh kamu perhatikan, di antara kita bertiga satu-satunya orang yang selalu diajak bicara sama habib Thalib cuma Aish doang. Aku udah ngeh kalau habib Thalib ada apa-apa sama Aish, tapi aku sama sekali nggak nyangka kalau ikatan mereka sudah sedalam ini."

__ADS_1


Dira diam-diam mengelus dada, bersyukur waktu itu Aish tidak mendengarkan sarannya untuk mendekati Dimas. Kalau sampai Aish menuruti, bisa habis dia di babat sama habib Khalid.


"Jangankan kamu, aku aja shock berat. Tapi kalau dipikir-pikir sekarang semuanya dapat dimengerti kenapa habib Thalib tidak sungkan memegang ataupun menyentuh Aish dan bersikap dingin kepada gadis lain. Jujur sih, aku turut bahagia dengan sahabat kita karena impiannya telah diwujudkan oleh Allah. Dia mendapatkan suami yang diharapkan."


Gisel tersenyum tipis, menepuk pundak sahabatnya.


"Kalau sekarang giliran kita. Apakah kita mampu atau memiliki takdir bertemu dengan laki-laki yang mau menerima kita apa adanya, dan menyukai kita setulus mungkin, sama seperti sahabat kita?"


Dira mengangkat kepalanya menatap hamparan langit di atas sana. Bibirnya yang berminyak menarik garis senyuman tipis.

__ADS_1


"Entahlah." Bisiknya tak tahu.


__ADS_2