
"Tak ada gunanya mengeluh, salahkan dirimu sendiri yang kepo." Ucap Gisel mencibir.
Sekarang tugas mereka bertambah lagi. Dia marah tapi tidak ada gunanya menyalahkan Dira, karena dia juga mengerti bahwa ini adalah kecelakaan yang tidak diinginkan.
"Aku juga nggak tahu..." Mata Dira memerah.
"Jangan sedih, seperti yang aku bilang kalian bertiga benar-benar beruntung. Selama aku tinggal di pondok pesantren ini dan menjabat sebagai ketua kedisiplinan asrama putri, belum pernah aku lihat ataupun mendengar bahwa pondok pesantren meringankan hukuman seseorang yang sudah disepakati. Dan yang membuatku paling kaget adalah kalian bertiga merupakan orang pertama yang dibantu oleh habib Thalib. Padahal habib Thalib memiliki reputasi guru killer di pondok pesantren karena saya memberikan hukuman dia tidak pernah main-main apalagi sampai meringankannya. Jadi bersyukurlah karena habib Thalib mau membantu kalian bertiga." Ucap Nasha diliputi oleh rasa cemburu dan iri.
Tak henti-hentinya dia merasa masam hari ini. Bukan ingin berniat jahat, rasa asam di hatinya ini pure merupakan kecemburuan. Cemburu karena mereka diperlakukan dengan baik oleh sang habib, dan bahkan lebih cemburu melihat Aish mendapatkan perhatian yang sangat lembut dari sang habib.
Dia cemburu.
"Baiklah habib Thalib mungkin benar-benar baik." Ucap Dira lesu.
Aish menghala nafas panjang diam-diam menekan tawa di mulutnya. Sebenarnya kasihan juga melihat kedua sahabatnya murung seperti ini, tapi apalah daya soalnya dia juga menginginkan ini terjadi kepada kedua sahabatnya. Ugh, tapi dia...
Dia bukan tipe-tipe teman laknat'kan?
Toh, tugas ini menyerukan pada kebaikan dan meninggalkan kebatilan, jadi dia harusnya baik, kan?
"Sudah..sudah...sudah, jalani saja. Ambil hikmah dari tugas ini. Toh, ini juga tugas yang baik dan tidak buruk untuk melakukannya. Anggap saja diri kita sedang berinvestasi kepada Allah subhanahu wa ta'ala untuk masa depan kita di akhirat kelak." Dia menghibur kedua sahabatnya yang murung.
Meskipun tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi kata-kata Ais terbukti menghibur hati mereka. Ketika mereka teringat akan dunia akhirat, hati yang tadinya berat perlahan mulai ringan. Bila dipikir-pikir dengan baik, menghafal Al-Qur'an merupakan salah satu tiket yang sangat berharga di akhirat kelak dan sangat dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ya, ini tidak seberapa yang terlihat kok dibandingkan dengan penghargaan yang akan mereka terima suatu hari nanti.
"Apa yang teman kalian katakan itu benar. Menghafal Al-Qur'an itu berat pada awalnya, namun lambat laun hati kalian akan merindukannya dan tanpa sadar kalian merasa rugi jika tidak menghafal Al-Qur'an. Yakinlah, tidak rugi kok bersusah payah menghafal Al-Qur'an sebab ini adalah investasi kalian kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Anehnya, Nasha sekarang sedikit mengerti mengapa sang habib tertarik kepada Aish.
Rupanya Aish mau berbeda dari gadis lainnya.
"Baiklah, jangan berbicara terus di sini dan segera kembali ke asrama untuk membersihkan diri kalian." Nasha mendesak mereka untuk segera kembali ke asrama. Di sawah terlalu panas, badannya sudah gerah sedari tadi mengawasi mereka bertiga bekerja di sawah.
Dan pakaiannya juga sudah basah oleh keringat. Dia sangat bersyukur saat sang habib menghentikan pekerjaan ini, kalau tidak, dipastikan dia akan mengganti baju tiga kali hari ini.
__ADS_1
"Iya, kak. Terima kasih untuk waktu kakak hari ini. Maaf membuat kakak repot." Sambil berjalan tidak lupa mereka mengucapkan rasa terima kasih kepada Nasha karena sudah mau menyisihkan waktunya untuk mengawasi mereka bekerja.
Nasha sangat mudah diajak bicara dan ramah. Sikapnya tidak palsu seperti Khalisa, dan yang lebih penting lagi dia tidak pernah sok-sok memerintah mereka saat bekerja tadi.
"Apa yang merepotkan? ini memang sudah tugasku sebagai ketua kedisiplinan asrama putri. Aku juga senang bekerja sama dengan kalian." Dan karena mengawasi mereka dia juga mendapatkan manfaat. Dia yakin ketika rumor ini tersebar lagi pasti akan mendapatkan banyak pro dan kontra.
Karena masalah ini menyangkut idola pondok pesantren mereka.
...*****...
Pulang dari sekolah dalam keadaan lesu, Aira dibawa oleh ketua kelas langsung ke asrama untuk melihat tempat tinggalnya selama mondok di sini. Dan mulai malam ini dia akan tidur di sana, bergabung dengan gadis-gadis lainnya. Besar harapannya agar para gadis itu tidak menyusahkannya selama mondok.
"Ini adalah kamar Melati, kamar paling ujung di gedung lantai 1. Di kamar ini kamu akan tidur bersama kami, tepatnya ada 41 santriwati yang tinggal di kamar. Dan ditambah dengan kedatangan kamu maka jumlah santriwati yang tinggal adalah 42 orang. Di dalam kamar ini terdapat kasur tidur sebanyak 21. Setiap ranjang akan ditempati dua orang dengan masing-masing lemari di samping tempat tidur. Setiap lemari memiliki satu pintu, meja belajar, dan rak susun kecil. Jadi kamu tidak perlu lagi bingung akan menaruh barang-barangmu di mana karena pondok pesantren sudah menyiapkan lemari untuk masing-masing santriwati. Dan kamu juga tidak perlu bingung menaruh barang-barangmu di mana karena pondok pesantren menyiapkan rak susun kecil di atas meja belajar agar barang-barangmu tidak tertukar dengan santriwati yang lainnya. Apakah kamu membutuhkan pertanyaan?" Ketua kelas menjelaskan dengan rapi dan lambat kepada siswa baru yang akan tinggal di kamar tempatnya memimpin.
Sementara itu Aira masih terpaku kaget memandangi kamar yang akan dia tinggali mulai malam ini. Ruangannya memang luas, tapi untuk ukuran 42 orang santriwati, ruangan ini cukup kecil. Dan lihatlah ranjang yang ditiduri, ukurannya agak sempit untuk dua orang dan Aira adalah tipe orang yang tidak suka tidur dengan orang lain. Dia merasa risih.
"Apakah aku tidak boleh tidur di ranjang sendiri?" Akhirnya berusaha untuk tidak kehilangan senyumnya.
"Ini adalah aturan pondok pesantren dan bahkan jika kamu ingin memiliki ranjang sendiri, pondok pesantren tidak akan menyediakannya. Kecuali... Kamu bersedia tidur di atas lantai." Jawabnya dengan nada mengejek yang tersamarkan.
Aira ini menarik. Menurutnya dia tidak sesederhana yang terlihat. Dan mungkin saja apa yang dikatakan di kelas tadi memiliki indikasi tertentu. Maka dari itu dia tidak bisa mempercayai Aira sepenuhnya dan bertekad ingin mengujinya.
"Tidur di lantai? Aku nggak mau. Kalau gitu nggak apa-apa deh aku gabung sama yang lain asal teman tidurku tidak suka membuat masalah saat tidur." Aira langsung menolak gagasan untuk tidur di lantai.
Hei yang benar saja, bahkan di rumah dia tidak pernah memaksakan dirinya untuk tidur di lantai.
Gadis itu menggelengkan kepalanya heran,"Jangan terlalu pilih-pilih, karena pondok pesantren sudah memutuskan akan dengan siapa kamu tidur."
Baru disinggung masalah tidur di lantai saja Aira langsung kehilangan kendali dirinya. Sebelumnya dia selalu memasang wajah gadis yang lembut dan tampak rapuh. Kesannya tidak terlalu nyata tapi palsu. Dan sekarang sisi lembut dan rapuh di wajahnya seketika meluap digantikan oleh ekspresi cemberut, terlihat enggan tapi pada saat yang sama juga jijik.
Ini adalah kejutan, dia tahu bahwa Aira tidak sebaik yang terlihat.
__ADS_1
Aira menggertakan giginya tidak sabar,"Kenapa Umi tidak mengatakan ini tadi pagi? Dan kenapa aku tidak diizinkan memilih? Bisa jadi kan bila pasangan tidurku itu suka membuat masalah?" Gumamnya sebel.
Gadis itu mendengarkan apa yang Aira gumamkan tapi berpura-pura tuli dan diam-diam menantikan pertunjukan selanjutnya besok pagi.
"Ayo masuk dan letakkan barang-barang mu di lemari."
Aira enggan tapi tetap membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar. Bersama dengan ketua kelasnya, Aira membawa barangnya menuju ranjang yang akan ditempati selama tinggal di pondok pesantren. Saat membawa barang Aira langsung disambut oleh teman-teman kelasnya yang lain. Mereka tanpa disuruh mengambil alih barang-barang Aira dan membantunya menyusun barang-barang itu di dalam lemari Aira. Sikap perhatian mereka cukup memuaskan Aira.
Setelah membereskan barang-barangnya, Aira lalu berkenalan dengan teman ranjangnya. Mereka berdua kemudian berdiskusi sebentar dan memutuskan untuk mengganti sprei serta bantal guling dengan yang baru. Untungnya pondok pesantren tidak mencegah bantal gulingnya kemarin sehingga dia tidak menggunakan barang bekas orang lain. Oh, itu pasti sama menjijikan.
"Di mana kamar, kakakku?" Tanya Aira santai kepada teman ranjangnya yang bernama Fani.
Fani menjawab dengan ramah,"Aish tinggal di kamar paling tengah lantai 1, jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar kita jika kamu ingin berkunjung. Tapi kalau kamu ingin berkunjung aku sarankan sebaiknya kamu datang nanti malam saja karena Aish pasti masih sibuk menjalani hukuman di sawah."
Menjalani hukuman di sawah?
Aira tiba-tiba teringat dengan percakapan Ayah di kantor pondok kemarin saat mengurus berkas-berkas kepindahannya. Memang dia sempat mendengar dari Ayah jika Aish melakukan kesalahan dan harus dihukum membajak sawah selama 1 hari tanpa penundaan. Dia lupa dan untung saja Fani membahasnya.
"Apakah kesalahan kak Aish sangat serius?" Tanyanya dengan nada polos yang dibuat-buat.
Fani mengangkat pundaknya tidak tahu tentang masalah kemarin karena dia tidak terlalu peduli. Dia hanya mendengar sepatah dua patah dari teman-teman kamar yang lain dan tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula masalah ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Sebenarnya ini tidak terlalu serius karena Aish dan dua temannya dikatakan bermasalah saat keluar tanpa izin dari pengawas pondok. Hanya saja poin yang paling memberatkan adalah mereka nekat naik motor orang hingga mengalami kecelakaan. Kalau tidak naik motor orang, kemungkinan besar hukuman yang dijalani tidak akan seberat ini." Seorang gadis menimpali, kebetulan dia mengikuti masalah ini dengan baik sampai-sampai bertanya ke teman-teman kamar Aish untuk mengetahui jalan cerita secara pastinya.
Aira tersenyum tipis,"Bukankah ini namanya pencurian?"
Gadis lainnya langsung membantah.
"Mereka tidak mencuri."
"Kalau begitu kenapa mereka nekat mengambil motor orang?" Tanya Aira menekankan.
__ADS_1